tirto.id - Tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) tengah melakukan program pengabdian masyarakat di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Kegiatan ini berfokus pada pengembangan identitas visual dan branding bagi UMKM kembang goyang, kuliner khas Betawi yang masih dilestarikan secara turun-temurun.
Menurut Nabila, salah satu dosen yang terlibat, pemilihan lokasi di Setu Babakan berangkat dari ketertarikan terhadap budaya lokal yang ternyata masih belum banyak dikenal, bahkan oleh warga sekitar Jakarta.
“Kami ingin meningkatkan awareness masyarakat, bahwa di sini ada pusat budaya Betawi yang tidak hanya tradisi, tapi juga kuliner. Salah satunya kembang goyang yang dijaga resepnya secara turun-temurun,” jelasnya.
Kegiatan yang telah berlangsung sejak awal Juli ini melibatkan tiga dosen dan sejumlah mahasiswa. Mereka membuat logo untuk 10 UMKM, merancang label kemasan, mengelola akun Instagram Pusat Kembang Goyang, hingga melukis mural di dinding rumah warga.
“Identitas visual penting untuk mendukung pemasaran. Kami berharap dengan logo, kemasan, dan promosi digital, UMKM bisa lebih dikenal luas,” tambah Nabila.
Proses kegiatan dilakukan bertahap setiap akhir pekan, dengan fokus pada kolaborasi dan edukasi. Tantangan terbesar justru ada pada tahap riset dan sosialisasi.
“Tidak semua pelaku UMKM memahami pentingnya branding dan kemasan. Jadi kami juga banyak mengedukasi, supaya mereka paham manfaatnya,” katanya.
Meski begitu, masyarakat menyambut kegiatan ini dengan antusias. Dukungan datang baik dari RT setempat maupun pemilik UMKM. Bahkan warga secara sukarela mengizinkan tembok rumah mereka dijadikan media mural.
“Alhamdulillah, semuanya positif. Mereka sangat ramah, terbuka, bahkan sering memberi oleh-oleh kembang goyang setiap kali kami berkunjung,” tutur Nabila.
Saat ini, kegiatan sudah mencapai 80 persen. Tahap akhir berupa serah terima desain logo dan kemasan ditargetkan selesai pada pekan ketiga September. Nabila berharap hasil kegiatan ini tidak berhenti pada proyek mural atau kemasan, melainkan terus dikembangkan oleh warga.
“Harapannya, setelah ini masyarakat bisa melanjutkan promosi melalui media sosial dan memperkuat branding. Dengan begitu, kembang goyang dari Setu Babakan bisa lebih dikenal, termasuk oleh generasi muda seperti Gen Z,” tutupnya.
Selain memperkuat branding, program ini juga bertujuan menghidupkan kembali potensi wisata kuliner Betawi di Jakarta Selatan. Dengan adanya mural warna-warni dan identitas visual baru, tim berharap kawasan kampung kembang goyang bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun luar daerah.
Keberadaan kembang goyang sebagai ikon kuliner Betawi juga menjadi simbol kekuatan budaya turun-temurun. Resep yang diwariskan dari ibu ke anak hingga kini dijaga ketat oleh warga, sehingga memiliki nilai autentik yang membedakan dari produk serupa di luar Setu Babakan.
Mahasiswa yang terlibat dalam program ini pun mendapat pengalaman berharga. Selain mengasah keterampilan desain, mereka juga belajar berinteraksi dengan masyarakat dan memahami kebutuhan UMKM.
“Ini pengalaman lapangan yang langsung terasa manfaatnya, baik untuk mahasiswa maupun warga,” kata Nabila.
Tak hanya itu, program ini diharapkan bisa membuka peluang kolaborasi lebih luas antara kampus dan masyarakat. PNJ menargetkan agar kegiatan pengabdian serupa dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, dengan menjangkau lebih banyak sentra budaya dan UMKM.
Dengan dukungan penuh dari masyarakat, branding kampung kembang goyang ini diproyeksikan mampu meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memperkuat citra Setu Babakan sebagai pusat budaya Betawi. Pada akhirnya, masyarakat diharapkan bukan hanya menjadi pelestari tradisi, tetapi juga penerima manfaat ekonomi dari kearifan lokal yang mereka jaga.
Masuk tirto.id

































