Menuju konten utama

Prabowo: Tunjukkan Mana Negara yang Berhasil tapi Elitenya Ribut

Menurut Prabowo, bangsa yang berhasil dalam sejarah selalu ditandai dengan sinergi kuat antarelemen elite.

Prabowo: Tunjukkan Mana Negara yang Berhasil tapi Elitenya Ribut
Pertemuan pengurus Kadin se-Indonesia dengan Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026). tirto.id/M Fajar Nur
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sinergi antarkelompok elite dalam proses pembangunan bangsa. Ia menantang siapa pun untuk menunjukkan bila ada negara yang berhasil di tengah perpecahan di kalangan elitenya.

"Tinggal dibuka saja, tunjukkan kepada saya negara mana yang berhasil kalau elitenya ribut terus," kata Prabowo dalam pertemuan dengan pengurus Kadin se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Prabowo menyampaikan hal itu saat membahas proses nation building atau pembangunan bangsa yang menurutnya merupakan proses panjang dan berat.

Ia menyebut sejarah peradaban manusia mengajarkan bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, budaya, bahkan agama, sehingga pembangunan suatu bangsa memerlukan kerja sama lintas sektor.

"Semua negara yang gagal, elitenya ribut. Apa yang kita sebut dengan elite? Elite adalah unsur pimpinan. Elite ekonomi, elite intelektual, elite agama, elite budaya, elite seni, elite produsen, elite buruh," ujarnya.

Ia menambahkan, bangsa yang berhasil dalam sejarah selalu ditandai dengan sinergi kuat antarelemen elite, sementara negara yang gagal atau failed state umumnya justru memiliki sumber daya melimpah, namun gagal memanfaatkannya akibat perpecahan di kalangan pemimpinnya.

Prabowo menyampaikan pandangan itu sembari mengapresiasi kehadiran pengurus Kadin dari 38 provinsi yang menurutnya menunjukkan semangat kerja sama dengan pemerintah sejak awal masa kepemimpinannya.

Indonesia Negara Terbesar di ASEAN, Harus Netral

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo turut menyoroti situasi geopolitik di kawasan Asia Tenggara yang menurutnya semakin tidak stabil, termasuk konflik di Myanmar serta ketegangan antara Thailand dan Kamboja.

Ia menegaskan Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan, harus bersikap arif dan netral dalam menyikapi dinamika tersebut.

"Tapi tetap saya sadar bahwa Indonesia adalah negara yang paling besar. Karena itu kita harus lebih arif, lebih sabar. Kita tidak boleh diprovokasi. Jadi itu yang kita warisi. We are neutral," kata Prabowo.

Ia menjelaskan sikap netral tersebut merupakan warisan para pendiri bangsa berupa politik luar negeri bebas aktif atau nonblok, yang berarti Indonesia tidak bergabung dengan blok atau pakta militer mana pun.

Prabowo menyebut dirinya berupaya menjadikan Indonesia sebagai tetangga yang baik bagi negara-negara di sekitarnya, termasuk membantu proses rekonsiliasi atas sengketa perbatasan yang menurutnya banyak diwariskan dari era kolonial.

Ia turut mencontohkan hubungan baik Indonesia dengan berbagai negara besar, mulai dari Amerika Serikat, Cina, Rusia, Jepang, India, hingga Australia, sebagai bukti konsistensi sikap netral tersebut.

Prabowo mengingatkan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia kerap menjadikannya sasaran kepentingan pihak luar sepanjang sejarah, mulai dari era perdagangan rempah-rempah hingga persaingan geopolitik saat ini.

Ia menyebut fenomena adu domba bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sesuatu yang nyata dan masih relevan hingga kini.

"Saudara-saudara, jadi divide et impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah. Itu nyata. Nyata. Divide et impera nyata," kata Prabowo.

Baca juga artikel terkait PRABOWO SUBIANTO atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Bayu Septianto