tirto.id - Mimpi buruk Italia benar-benar datang. Gli Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026 usai kalah adu penalti dari tuan rumah Bosnia & Herzegovina dalam laga playoff di Bilino-Polje, Zenica, pada akhir Maret lalu. Ini kegagalan ketiga secara beruntun setelah edisi 2018 dan 2022.
“Italia kini benar-benar sudah menjadi bahan olok-olok di sepak bola dunia. Tiga kali berturut-turut gagal ke Piala Dunia jelas memalukan dan sangat sulit diterima,” ucap Alessandro Del Piero, dikutip dari Tribuna, Kamis (2/4/2026)
“Bayangkan, negara seperti Italia seperti kehilangan satu generasi untuk tampil di Piala Dunia. Dulu, Italia dikenal sebagai gudangnya pemain kelas dunia, namun sekarang tidak lagi, kualitasnya biasa-biasa saja,” imbuh legenda hidup Juventus dan Timnas Italia ini.
Sinyal Runtuhnya Kedigdayaan Italia
Berselang dua hari usai kegagalan Italia melaju ke Piala Dunia 2026, Gabriele Gravina mengundurkan diri dari posisinya sebagai Presiden Federazione Italiana Giuoco Calcio (FIGC).
Gianluigi Buffon, mantan kiper utama yang usai pensiun menjabat Ketua Delegasi (Head of Delegation) Timnas Italia mundur pula. Disusul kemudian oleh sang pelatih Gennaro Gattuso yang juga meletakkan jabatannya.
Gli Azzurri menciptakan hattrick gagal lolos ke Piala Dunia sekaligus melanjutkan tren buruk yang dimulai pada edisi 2018 dan 2022. Bahkan, Italia menjadi tim pertama yang pernah meraih gelar juara Piala Dunia, namun gagal lolos untuk ketiga kali secara berturut-turut.
Jika mau diingat, sang legenda Roberto Baggio sebenarnya pernah memberi peringatan. Pada Desember 2011 atau tak lama setelah Italia tersingkir di fase grup Piala Dunia 2010, Baggio ditunjuk sebagai Kepala Teknis FIGC.
Oleh FIGC, mantan bintang Juventus, AC Milan, Inter Milan, dan Brescia, ini ditugaskan untuk menelaah gagalnya Italia melaju lebih jauh di Piala Dunia 2010 dan apa saja yang harus dilakukan demi kemajuan ke depannya.
Baggio pun membentuk tim yang melibatkan 50 orang dari berbagai kalangan, termasuk pelatih, periset, ahli, hingga konsultan. Hasilnya, tim yang dipimpin oleh peraih Ballon d'Or edisi 1993 ini berhasil merumuskan laporan setebal 900 halaman!

Isi laporan tersebut antara lain, diusulkan kepada FIGC agar dilakukan perombakan besar-besaran terhadap metode pelatihan federasi dan pengembangan bakat pemain muda, termasuk membangun fasilitas olahraga terbaik dan 100 pusat Latihan.
Baggio juga berharap ada perubahan terkait pendekatan yang dilakukan FIGC dalam menangani para pelatih dan manajer. Rekomendasi lainnya adalah memprioritaskan pelatih yang berpendidikan bagus, lulusan perguruan tinggi, memiliki beragam pengalaman profesional, serta tidak harus di bidang sepak bola.
Tak hanya itu, pengemas 56 caps dan 27 gol untuk Gli Azzurri ini ingin membikin sebuah tim yang mencakup anggota FIGC dan peneliti dari kalangan akademis, hingga pengumpulan data pemain pemuda Italia.
Akan tetapi, rekomendasi yang diberikan 15 tahun silam itu sama sekali tidak digubris oleh oleh FIGC hingga Baggio akhirnya mengundurkan diri dari posisinya pada 2013.
"Tujuan saya adalah membangun kembali tim dari dasar, baik dalam pengembangan pemain maupun pembentukan karakter,” ucap Baggio kala itu, dilansir Football Italia.
“Saya telah mengajukan proposal komprehensif setebal 900 halaman pada Desember 2011, namun rencana tersebut sayangnya tidak pernah ditindaklanjuti," imbuhnya.
Sinyal-sinyal runtuhnya sepak bola Italia sebenarnya bahkan sudah terlihat sejak sebelum Baggio tergerak. Dalam 20 warsa terakhir, sepak bola Italia setidaknya mengalami dua kali anomali.
Pertama, saat Fabio Cannavaro dan kawan-kawan merengkuh gelar juara Piala Dunia 2006 justru pada waktu sepak bola Italia dalam situasi sulit lantaran dihantam skandal Calciopoli.
Calciopoli menjadi awal kehancuran Liga Italia yang mulai ditinggalkan bintang-bintang top dunia. Kejayaan Serie A yang sempat menjadi primadona mulai runtuh seiring kian naik daunnya Premier League Inggris dan La Liga Spanyol.
Hal tak biasa kedua, ketika Italia jadi kampiun Piala Eropa atau EURO 2020, yang digelar tahun 2021 karena pandemi COVID-19. Uniknya, dua tahun sebelum dan sesudah capaian prestisius itu, yakni 2018 dan 2022, La Nazionale gagal lolos ke putaran Piala Dunia.
Anomali 2006 dan 2020 sejatinya bukan sinyal baik, sebaliknya justru menjadi pertanda keruntuhan sepak bola Italia.
Usai juara pada 2006, Gli Azzurri selalu kandas di fase grup Piala Dunia 2010 dan 2014, lanjut tiga kali beruntun gagal lolos ke putaran final yakni 2018, 2022, serta yang terbaru 2026.
Apakah Italia akan Jadi Legenda Semata?
Italia pernah menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola dunia. Gli Azzurri adalah pemilik 4 titel Piala Dunia (1934, 1938, 1982, dan 2006), sama dengan Jerman (1954, 1974, 1990, dan 2014), serta cuma kalah dari Brasil dengan 5 gelarnya (1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002).
Di Piala Dunia, La Nationale pernah pula 2 kali jadi runner-up (1970 dan 1994) serta 2 kali finis sebagai semifinalis (1978 dan 1990). Jangan lupa, Italia juga punya 2 trofi jawara Piala Eropa (1968 dan 2020).
Liga Italia juga sempat amat digdaya. Serie A menjadi sentral bintang-bintang top dunia peraih Ballon d'Or dari Omar Sívori, Gianni Rivera, Paolo Rossi, lalu era Michel Platini, Ruud Gullit, Marco van Basten, Lothar Matthäus, juga Roberto Baggio, George Weah, Ronaldo Nazario, Zinedine Zidane, Pavel Nedvěd, Andriy Shevchenko, Fabio Cannavaro, hingga Kaka.
Di level klub, ada AC Milan, Inter, Juventus, AS Roma, Lazio, Parma, serta Fiorentina yang pada masanya dikenal sebagai “The Magnificent 7". Dulu, jajaran klub elite Serie A ini amat disegani dan berprestasi di persepakbolaan Eropa.
Data International Federation of Football History & Statistics (IFFHS) mencatat, Serie A adalah liga terpopuler dan terkuat di dunia sepanjang dekade 1980-an hingga menjelang milenium baru berdasarkan performa klub-klubnya di kancah internasional.
AC Milan masih menjadi tim terbanyak kedua yang menjuarai Liga Champions dengan 7 gelar, meskipun masih agak jauh dari raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan 15 titelnya. Inter Milan punya 3 trofi si Kuping Besar, sedangkan Juventus pernah 2 kali jadi kampiun.

Sumbangsih Italia dalam senarai taktik sepak bola dunia pun tidak main-main. Ingat pertahanan gerendel alias Catenaccio? Ya, sepak bola Italia pernah lekat dengan seni bertahan dan mengukir tinta emas dengan pola bermain semacam itu.
Bahkan, John Foot dalam Calcio: A History of Italian Football (2010) menyebut bahwa Catenaccio adalah kombinasi antara “kelicikan” dan “kebrutalan”. Pelanggaran taktis, lanjut Foot, sudah menjadi gaya hidup bagi para bek Italia.
Kejayaan, kedigdayaan, popularitas, sumbangsih, hingga pengaruh Italia itu kini mulai luruh. Kian turunnya pamor Serie A beserta klub-klubnya di belantika Eropa, ditambah absennya Squadra Azzurra tampil di Piala Dunia sebanyak 3 kali beruntun, menjadi anomali yang barangkali akan dinormalisasi.
Menurut pelatih kawakan Carlo Ancelotti, semakin kurangnya daya tarik Serie A sehingga tidak banyak pemain bintang yang datang, membuat para pemain muda Italia seolah kehilangan arah, tanpa panutan, yang bisa jadi menyebabkan kurang jalannya regenerasi.
“Dulu, ada Maradona, Platini, Krol, Rummenigge, Ronaldo, Ronaldinho, dan banyak pesepakbola hebat lainnya dari era silam. Kini, tiada lagi pemain-pemain internasional top di Serie A. Lantas, dari siapa para pemain muda Italia bisa belajar?" keluh Don Carlo kepada Il Giornale.

Persoalan regenerasi di Italia inilah yang juga disorot oleh Jurgen Klinsmann, mantan striker andalan dan pelatih top Jerman yang pernah bermain untuk Inter Milan dan Sampdoria pada dekade 1990-an.
Menurut Klinsmann, kegagalan Italia tampil di Piala Dunia tiga kali berturut-turut disebabkan karena kurangnya sosok pemimpin, mulai tergerusnya skill dan kepercayaan diri para pemainnya, serta kurangnya kepercayaan kepada pemain muda.
"Jika (Lamine) Yamal dan (Jamal) Musiala adalah orang Italia, mereka mungkin akan dipinjamkan ke klub Serie B untuk memperoleh pengalaman [akibat kurangnya kepercayaan klub kepada pemain muda],” sindir Klinsmann dilansir Corriere dello Sport.
Ruud Gullit, yang pernah lama membela AC Milan, turut berkomentar dengan menyiratkan bahwa sepak bola Italia masa kini telah kehilangan jati diri, bahkan dari segala lini.
"Italia harus kembali ke DNA-nya, yaitu punya barisan bek yang tangguh (catenaccio), para penjaga gawang yang hebat, serta para penyerang yang cerdas dan lihai memaksimalkan peluang," sebut eks pesepakbola kebanggaan Belanda ini, dikutip dari Football Italia.
Apabila pada edisi-edisi berikutnya Italia masih terseok-seok di kualifikasi, harus ikut play-off, bahkan gagal lolos ke Piala Dunia lagi, bukan tidak mungkin La Nazionale semakin dianggap sepele. Publik akan menganggap bahwa Piala Dunia tanpa Italia mulai terasa biasa saja.
Dahulu kala, Uruguay pernah punya nama besar di level Piala Dunia dengan koleksi 2 gelar juaranya dan 3 kali sebagai semifinalis. Kini, membayangkan Uruguay menjadi kampiun agak sulit meskipun tentunya tidak ada yang tidak mungkin. Akankah Italia bakal bernasib sama dan nantinya hanya sekadar menjadi legenda saja?
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































