tirto.id - 30 Juni 2017, Como tenggelam. Badai finansial musim 2016/17 menyeret I Lariani ke jurang kepailitan dan memaksa klub masuk meja lelang. Sempat ada upaya akuisisi oleh Akosua Puni Essien, istri Michael Essien. Namun, FIGC menolaknya. Alhasil, status profesional klub dicabut, kontrak pemain hangus, dan entitas baru yang kini bernama Como 1907 harus memulai ulang dari kompetisi amatir Serie D.
Berselang sembilan tahun, seiring datangnya Hartono bersaudara sebagai pemilik baru klub, I Lariani berganti nasib. Musim 2025/26 ini, klub yang bermarkas di tepi Danau Como itu berpotensi merebut tiket Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, di bawah komando pelatih muda, Cesc Fabregas.
Como adalah klub senior pertama yang dilatih olehnya. Perjalanan itu dimulai sejak musim 2024/25. Tantangan awalnya jelas sangat besar, karena itu adalah musim pertama Como di Serie A setelah dua dasawarsa.
Debut Fabregas di Serie A pun berujung kekalahan telak 3-0 dari Juventus. I Lariani cuma punya penguasaan bola 42,2 persen, melepaskan 3 tembakan (berbanding 13 milik Juve), dan rata-rata rapor pemain hanya 5,84, versi WhoScored.
Namun, Como di bawah komando Fabregas cepat bangkit. Como sudah bisa meraih tripoin pada giornata 5, dengan menundukkan Atalanta, sang juara bertahan Liga Europa, dengan skor 2-3 di Bergamo.
Kemenangan itu menjadi pembakar mentalitas tim. Total, hingga akhir musim, Como meraup 12 kemenangan lagi. Salah satunya di giornata 26, saat menjatuhkan Napoli 2-1—menjadi satu-satunya tim yang bisa mengalahkan Napoli pada paruh kedua musim 2024/25. Como akhirnya menutup musim promosi itu dengan finis di 10 besar klasemen.
Statistik musim itu pun terbilang bagus untuk ukuran tim promosi. Secara penguasaan bola, Como menempati rangking 6 di Serie A dengan rata-rata 54,6 persen. Mereka hanya di bawah Inter, Bologna, Juventus, Atalanta, dan Lazio.
Musim berikutnya (2025/26), performa Como lebih mentereng lagi. Hingga giornata ke-30, I Lariani duduk di peringkat keempat (zona Liga Champions). Mereka bisa mengalahkan Juventus, Lazio, dan Torino, baik dalam laga kandang maupun tandang. Di samping itu, hingga artikel ini ditulis, mereka mampu mencapai semifinal Coppa Italia.
Keberhasilan Como bersaing di papan atas Liga Italia 2025/26 lahir dari setidaknya dua faktor utama. Pertama, kalkulasi transfer pemain yang presisi. Kedua, taktik racikan Cesc Fabregas.
Meski baru pertama kali menangani klub senior, Fabregas sudah memiliki bekal yang diwarisinya dari tiga "guru besar".
Fabregas di Antara Warisan Taktik Wenger, Guardiola, dan Mourinho
Saat menjadi pemain, Cesc Fabregas dibina oleh banyak pelatih. Namun, yang paling mencolok, seperti dalam tuturannya untuk Coaches’ Voice, adalah Arsene Wenger (ketika bermain di Arsenal pada usia muda), Pep Guardiola (kala dirinya kembali ke Barcelona), serta Jose Mourinho di Chelsea (dalam pengembaraan kedua Fabregas ke Liga Inggris).
Di bawah Wenger, Fabregas berkembang dalam sistem yang menekankan kebebasan kreatif sekaligus pentingnya intensitas pemindaian lapangan. Saat bersama Wenger, ia mengaku dibentuk dengan doktrin selalu melihat ke depan. Ia belajar bahwa kontrol permainan dimulai dari kemampuan membaca ruang secara instingtif, sebelum melakukan sirkulasi bola dengan cair.
Saat kembali ke Barcelona di bawah Pep Guardiola, Fabregas menyadari bahwa koneksi teknis yang intens dalam penguasaan bola adalah hal vital. Pep mengandalkan positional play—strategi penempatan posisi para pemain untuk menciptakan keunggulan jumlah dari lawan, sekaligus memastikan setiap pemain ada di titik tepat untuk saling terhubung.
Di sisi lain, sisi pragmatis taktik Fabregas diperoleh dari José Mourinho. Fabregas mengakui, dari The Special One ia belajar bahwa efisiensi, kemampuan memanfaatkan momen transisi, dan mentalitas pemenang, merupakan aspek yang tak kalah berharga.
Visi progresif Wenger, struktur posisi Guardiola, dan pragmatisme Mourinho, membentuk pendekatan Fabregas sebagai juru taktik. Ia tidak sepenuhnya idealis untuk mengandalkan penguasaan bola, tetapi juga tidak sepenuhnya pragmatis. Ia menggabungkan ketiga pengaruh itu dalam sistem fleksibel yang memberikan keunggulan Como dibandingkan lawan.
Pengaruh Wenger dan Guardiola pada taktik Fabregas terlihat jelas melalui statistik penguasaan bola Como yang dominan (rata-rata 54,6 persen pada musim 2024/25 dan 61,8 persen pada musim 2025/26). Namun, itu tetap dibarengi dengan ketajaman serangan balik.

I Lariani adalah tim yang mampu mendikte permainan layaknya tim asuhan Guardiola, dan memiliki insting "pembunuh" dalam momen transisi yang menjadi ciri khas taktik Mourinho. Como tidak hanya ingin mendominasi, tetapi yang utama, ingin menang dengan cara paling cerdas.
Falsafah bertanding Fabregas menemukan bentuknya dalam statistik yang tergolong apik untuk klub papan tengah. Dominasi bola dan efisiensi transisi yang ia terapkan menjadi faktor utama Como bisa bersaing di papan atas klasemen Serie A.
Apa yang Membuat Como Asuhan Fabregas Istimewa?
Jika mengacu pada aspek penguasaan bola, di Serie A 2025/26, Como paling mumpuni, dengan rata-rata 61,8 persen. I Lariani ada di atas Inter (60,2 persen), Napoli (58,3 persen), Juventus (57,0 persen), juga AS Roma (56,5 persen). Namun, bukan berarti dominasi itu harga mati. Di waktu lain, mereka bisa saja lebih sedikit menguasai bola daripada lawan, beralih ke mode efisiensi ala Mourinho, tetapi mematikan.
Contohnya adalah ketika I Lariani menjatuhkan Juventus dengan angka kembar, yaitu 2-0 di Giuseppe Sinigaglia (19 Oktober 2025) dan 0-2 di Turin (21 Februari 2026). Dalam kedua laga itu, Como kalah dari Juve soal ball possession, yaitu 45,2 persen banding 54,8 persen di putaran pertama, dan 48,2 persen lawan 51,8 persen di putaran kedua. Namun, penyelesaian akhir yang lebih klinis jadi pembeda.
Jika membedah statistik Serie A, rata-rata penguasaan bola Como yang tinggi dibarengi dengan akurasi umpan yang apik pula, yaitu 87,3 persen, sejajar dengan Inter, dan hanya kalah dari AC Milan (87,7 persen). Urusan operan ke sepertiga akhir lapangan, I Lariani punya 74,1 persen, terbaik ke-5 di Serie A. Soal umpan terobosan, mereka melakukan 60 through ball, terbanyak di kompetisi. Ini berarti para pemain Como secara aktif terus mencari cara untuk menembus struktur pertahanan lawan.
Prinsip penguasaan bola Cesc Fabregas tidak berdiri sendiri. Dalam analisis The Purist Football, prinsip ini berkelindan dengan dua prinsip lain. Pertama, bertahan dengan cara menarik garis pertahanan setinggi mungkin. Kedua, langsung agresif ketika pemain kehilangan bola.
Jika melihat zona aksi Como sepanjang musim 2025/26, sesuai data WhoScored, I Lariani hanya memainkan bola sebanyak 26 persen di wilayah sendiri. Selebihnya adalah 44 persen di sepertiga lapangan dan 30 persen di wilayah lawan.

Data The Analyst tentang pressing jadi pembuktian prinsip ketiga Fabregas soal agresivitas. Como menjadi tim dengan Passes Per Defensive Action (PPDA) terendah di Serie A sebesar 9,1. I Lariani di atas Roma (9,8), Inter (10,4), Bologna dan Genoa (11,1) hingga Juventus (11,9).
PPDA adalah metrik yang digunakan untuk mengukur intensitas tekanan (pressing) sebuah tim saat tidak menguasai bola. Makin rendah angka PPDA sebuah tim, makin agresif dan tinggi intensitas pressing yang dilakukan. Dalam konteks ini, pressing Como berfungsi sebagai kelanjutan dari fase menyerang.
Karena sebagian besar permainannya berlangsung di wilayah lawan, Como hampir selalu berada dalam posisi ideal untuk melakukan counter-pressing. Begitu kehilangan bola, mereka langsung menekan dengan beberapa pemain sekaligus. Hasilnya, lawan jarang punya waktu untuk membangun serangan.
Pressing ampuh Como juga membantu tim dalam urusan pertahanan. Hingga giornata 30, I Lariani hanya kebobolan 22 gol dari xG conceded sebesar 26,97. Jumlah tembakan yang mereka hadapi hanya 273 kali. Cuma Inter (252 kali) yang lebih rendah. Itu menunjukkan bahwa Como tidak sering terjebak dalam tekanan.
Efektivitas pertahanan Como terukur dari data tembakan lawan. Meski 64,8 persen tembakan lawan Como berasal dari dalam kotak penalti, conversion rate-nya hanya 8,06 persen. Artinya, meskipun mampu masuk ke area berbahaya, lawan jarang mendapatkan ruang tembak ideal. Tekanan cepat dan organisasi defensif I Lariani yang baik membuat kualitas peluang lawan menurun.
Como tidak bertahan dengan cara konvensional. Mereka tidak menunggu di blok rendah, melainkan mengontrol permainan untuk mencegah lawan berkembang. Mereka bertahan dengan bola, ruang, dan waktu. Kombinasi taktik defensif tersebut, dengan strategi ofensif yang cair, membuat Como menjadi salah satu tim paling sulit diatasi di Serie A saat ini: I Lariani baru kalah 5 kali dari 30 laga. Cuma AC Milan (3 kali) yang punya jumlah kekalahan lebih sedikit.
Namun, sistem Fabregas tidak akan berjalan tanpa profil pemain yang sesuai. Di sinilah kebijakan transfer Como memainkan peran tak kalah krusial.
Transformasi Identitas: Dari Klub Lokal ke Proyek Global
Sejak musim panas 2025 lalu, berdasarkan data Transfermarkt, I Lariani sudah menghabiskan uang sebesar 126,89 juta euro (Rp2,2 triliun) untuk mendatangkan penggawa baru. Jumlah itu ada di atas Inter (96,6 juta euro), dan hanya di bawah empat klub elite lain, yaitu AC Milan, Atalanta, Napoli, serta Juventus.
Meski menggelontorkan dana besar, transfer Como terbukti efektif. Statistik WhoScored menunjukkan, Jacobo Ramon (dari Real Madrid Castilla), Martin Baturina (Dinamo Zagreb), dan Diego Carlos (Fenerbahce, berstatus pinjaman), masuk dalam tujuh pemain Como dengan rapor tertinggi di Serie A. Mereka beradu performa apik dengan Nico Paz, Lucas da Cunha, Maximo Perrone, dan Jean Butez, yang sudah lebih dulu "mengabdi" di Como.
Per Maret 2026, nilai pasar Como versi Transfermarkt mencapai Rp6,1 triliun. I Lariani ada di posisi ke-7 di antara klub Serie A lain, di bawah Inter, Juve, AC Milan, Roma, Napoli, dan Atalanta. Meskipun tidak dapat dijadikan tolok ukur utama, setidaknya, itu menggambarkan bahwa Como, dengan pembelian pemain yang ideal musim panas sebelumnya, memang punya skuad yang bisa bersaing di papan atas Liga Italia.
Jika Como terus konsisten hingga delapan pekan terakhir Serie A 2025/26, I Lariani akan melampaui rekor finis terbaik, yaitu peringkat 6 musim 1949/50. Tidak hanya itu, Liga Champions, kompetisi yang sembilan tahun lampau tak terjangkau pikiran kubu Giuseppe Sinigaglia, sudah di depan mata.
Namun, ujian kesetiaan dan tantangan baru segera menyapa Fabregas. Apakah ia masih setia dengan klub yang memberinya panggung pertama? Ataukah ada tempat lain yang lebih menggiurkan daripada stadion di tepi Danau Como, yang bisa jadi mulai terasa sempit bagi ambisi besarnya?
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































