tirto.id - Xavi Hernandez resmi ditunjuk menjadi pelatih Timnas Belanda pada 12 Agustus 2026 lalu. Ia datang untuk menggantikan posisi Ronald Koeman yang mundur, selepas De Oranje tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Xavi merupakan salah satu sosok pelatih muda, 46 tahun, yang dianggap punya potensi besar. Sepanjang kariernya menakhodai tim, Xavi terbukti sanggup menghadirkan gelar juara. Salah satunya trofi LaLiga 2022/2023 bersama Barcelona.
Xavi sejatinya bukan calon pelatih tunggal yang diproyeksikan oleh Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB), karena kabarnya ada kandidat lain, seperti: Arne Slot, Ruud van Nistelrooy, Erik ten Hag, juga Robin van Persie. Tapi pilihan KNVB akhirnya jatuh kepada Xavi Hernandez.
Penunjukan Xavi boleh dibilang tidak terlalu mengejutkan, karena sejatinya ia dikenal sudah lekat dengan gaya permainan tiki-taka Barcelona. Gaya permainan yang mengutamakan kolektivitas tersebut dianggap sebagai salah satu turunan gaya total football yang menjadi ciri sepak bola Belanda sejak awal 1970-an.
Asal-Usul Total Football: Dari Belanda ke Catalonia
Gaya total football lahir di Belanda, yang dipopulerkan oleh Ajax Amsterdam serta Timnas Belanda pada awal 1970-an. Rinus Michels menjadi sosok juru taktik yang menelurkan gaya bermain tersebut. UEFA dalam website resmi mereka menulis bahwa Michels adalah arsitek terbentuknya total football.
Rinus Michels awalnya terinspirasi terhadap gaya bermain pelatih Jack Reynolds pada era 1940-an. Melatih Ajax tahun 1945-1947, Reynolds memberikan gelar juara Liga Belanda bagi Ajax musim 1946-47. Saat itu Michels adalah salah satu pemain di tim Ajax Amsterdam.
Ketika berkarier sebagai pelatih, Rinus Michels mencoba melakukan modifikasi gaya bermain Reynolds, hingga terlahir gaya permainan total football.
Mulai melatih Ajax Amsterdam sejak 1965, Rinus Michels sukses besar dengan raihan 4 trofi Liga Belanda (1965-66, 1966-67, 1967-68, 1969-70), 3 trofi Piala KNVB (1966-67, 1969-70, 1970-71), serta 1 gelar Liga Champions (1970-71).

Taktik total football bentukan Michels mulai naik daun ketika ia melatih Timnas Belanda di Piala Dunia 1974. Memang, saat itu Belanda hanya jadi runner-up usai kalah dari Jerman Barat di final. Tapi permainan total football ala Michels benar-benar menyita perhatian publik.
"Dia (Michels) mengubah sepak bola. Kami layaknya Clockwork Orange (di Piala Dunia 1974). Dia mengubah mentalitas, kami tidak hanya sekumpulan pemain yang bergerak dari belakang dan ke depan," kata Wim Rijsbergen, salah satu pemain Timnas Belanda saat itu, di laman resmi UEFA.
"Kami memberikan tekanan hebat pada lawan, dan mengambil banyak risiko di lini belakang. Bek kami bergerak maju dan penyerang kami mundur. Dia bahkan menyuruh kiper sebagai libero, bermain di luar wilayahnya," imbuh Rijsbergen, yang sempat pula melatih Timnas Indonesia era 2011-2012.
Untuk menerapkan total football dengan sempurna, latihan keras menjadi menu wajib para pemain. Sjaak Swart, mantan pemain Ajax dan Timnas Belanda, menyebut sesi latihan bersama Michels layaknya militer!
"Kami banyak berlatih dengan bola. Pada awal musim, kami menjalani latihan yang sangat berat dalam sepekan, 5 sesi latihan dalam sehari. Rasanya seperti kamp militer," ucap Swart.
Michels menghendaki timnya bermain spartan sepanjang laga. Pemain dengan gaya permainan soft di lapangan, bakal sulit masuk ke dalam skuad besutan Michels.
"Sepak bola itu seperti perang. Jika Anda bermain terlalu sopan, Anda kalah," demikian salah satu kutipan Michels yang cukup terkenal.
Total Football turut dibawa masuk oleh Michels ke Barcelona. Tepatnya dalam 2 periode saat ia melatih di klub Catalan tersebut pada musim 1971-1975 atau di tengah-tengah jabatan bersama Timnas Belanda, serta tahun 1976-1978.
Seperti Reynolds yang menginspirasi Michels ketika melatih Ajax, kali ini giliran Michels yang menjadi inspirator bagi pemain besar lain, Johan Cruyff. Michels dan Cruyff pernah bekerja sama di Barcelona dan Timnas Belanda. Michels sebagai pelatih lalu Cruyff jadi pemain kunci.
Di Barcelona, gaya total football turut berjasa membawa beberapa gelar juara. Termasuk juara Liga Spanyol 1973-74 serta Copa del Rey 1977-78.
Total Football Menjelma Jadi Tiki-Taka di Barcelona
Johan Cruyff sangat paham cara kerja total football berkat polesan Rinus Michels. Ketika akhirnya menjadi pelatih, Cruyff turut menerapkan gaya bermain tersebut terutama ketika melatih Barcelona.
Cruyff tercatat menukangi Barcelona pada periode 1988-1996. Hasilnya tidak main-main, Barca di bawah arahan Cruyff sanggup mengumpulkan total 11 gelar juara!
Mereka menyabet 4 gelar LaLiga (1990-91, 1991-92, 1992-93, 1993-94), 1 Copa del Rey (1989-90), dan 3 Supercopa de España (1991, 1992, 1994).
Di kompetisi antarklub Eropa, Barcelona asuhan Johan Cruyff sukses merebut 1 gelar juara Liga Champions (1991-92), 1 gelar Piala Winners (1988-89), dan 1 gelar Piala Super Eropa (1992).

Estafet ilmu dan gaya permainan sepak bola kembali terjadi. Dari Reynolds kepada Michels, Michels kepada Cruyff, lalu Cruyff kepada Pep Guardiola. Sebelas gelar juara Cruyff sebagai pelatih Barcelona, 9 di antaranya diraih ketika Guardiola menjadi bagian dalam skuad Barcelona.
Pada akhirnya Guardiola kemudian memodifikasi Total Football menjadi gaya tiki-taka. Tipe gaya permainan kolektif ball possession yang lantas melejitkan nama Guardiola sebagai salah satu pelatih muda tersukses kala itu.
Menukangi tim utama Barcelona pada era 2008-2012, Guardiola sukses membawa 14 gelar juara bagi tim kebanggaan Catalan. Jumlah trofi tersebut bahkan melebihi prestasi sang guru, Johan Cruyff.
Salah satu kunci sukses permainan tiki-taka ala Guardiola, adalah keberadaan trio lini tengah tim yang diisi Xavi Hernandez, Andres Iniesta, serta Sergio Busquets. Kemudian di depan ada sang bintang Lionel Messi yang menyempurnakan skema Guardiola.
Menanti Racikan Tiki-Taka & Total Football ala Xavi di Belanda
Kini tantangan bagi Xavi Hernandez adalah menerapkan gaya permainan kolektif tiki-taka, di tanah yang pernah melahirkan total football. Tugas Xavi tidak mudah, tetapi berbekal pengalaman dan pemahaman yang baik soal pola tersebut, Xavi berpeluang meraih keberhasilan di Belanda.
Xavi merupakan salah satu otak permainan tiki-taka Barcelona era kepelatihan Guardiola. Di bawah arahan Guardiola, Xavi tercatat memainkan total 208 pertandingan, dengan koleksi 36 gol dan 82 assists. Rata-rata Xavi punya 1 kontribusi gol tiap 1,7 laga.
Statistik lain menurut Transfermarkt, Xavi bermain sebagai starter dalam 189 laga, lalu masuk sebagai pemain pengganti untuk 19 laga. Secara total, Xavi sudah melahap 16.538 menit bermain dalam 208 pertandingan, dengan gaya permainan tiki-taka Guardiola.
Ketika masih aktif bermain, Xavi total mengoleksi 33 gelar juara. Dari jumlah tersebut 29 gelar ia berikan untuk Barcelona, dan sebanyak 14 gelar di antaranya diraih saat dilatih Guardiola.
Xavi juga sukses saat bermain untuk Timnas Spanyol. Bersama La Furia Roja, Xavi meraih gelar Piala Dunia 2010, kemudian Piala Eropa 2008 dan 2012, serta FIFA World Youth Championship 1999 bersama Spanyol U20.

Kenyang pengalaman sebagai pemain, Xavi memutuskan terjun di dunia kepelatihan mulai tahun 2019. Ia menukangi klub Al Sadd di Liga Qatar.
Melatih di Qatar sampai 2021, Xavi sukses merebut rentetan gelar juara, yakni 1 gelar Qatar Stars League (2020-21), 2 gelar Qatar Cup (2020, 2021), 1 gelar Sheikh Jassim Cup (2019), 2 gelar Emir of Qatar Cup (2020, 2021), lalu 1 trofi Qatari Stars Cup (2019-20).
Rentetan prestasi tersebut membawa Xavi terpilih sebagai Pelatih Terbaik Liga Qatar 2020-2021. Xavi juga tercatat 5 kali meraih gelar Pelatih Terbaik periode bulanan.
Selepas hijrah melatih Barcelona, Xavi menyabet juara LaLiga 2022-23, serta trofi Supercopa de España tahun 2023. Berhasil mendatangkan 2 trofi dalam 3 musim melatih Blaugrana jelas bukan capaian buruk.
Lalu apakah Xavi bisa sukses bersama Timnas Belanda?
Kini masa adaptasi bakal menjadi periode krusial bagi Xavi bersama Timnas Belanda. Akan tetapi keyakinan datang dari Nigel De Jong, eks gelandang Timnas Belanda yang kini menjabat Director of Elite Football KNVB.
"Setiap siklus baru mengharuskan kami mengevaluasi tujuan kami, apa yang dibutuhkan agar sampai ke sana, dan siapa pelatih yang paling cocok. Sebagai pemain, Xavi sangat berpengalaman dan memenangi segalanya, dengan trofi Piala Dunia, berbagai gelar domestik, dan gelar Liga Champions," kata De Jong, dikutip dari laman resmi Timnas Belanda.
"Sebagai pelatih, Xavi dibentuk oleh pengalaman bertahun-tahun bekerja bersama para pelatih top, dengan visi sepak bola yang selaras seperti yang ingin kami terapkan di Timnas Belanda: mengambil inisiatif, sepak bola dominan dan menarik, dipadu dengan fleksibilitas yang dibutuhkan dalam sepak bola modern. Xavi percaya dengan prinsip dasar itu, merangkul visi itu, dan membuatnya sendiri," imbuh De Jong.
Xavi tentu berharap kiprahnya menggantikan posisi Ronald Koeman di kursi pelatih kembali berbuah manis. Pasalnya ketika menerima tawaran melatih Barcelona lalu, Xavi juga datang menggantikan Koeman.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id































