tirto.id - Dampak musim kemarau yang beriringan dengan El Nino tahun ini mulai dirasakan warga di sejumlah daerah di Sumatera Selatan. Tak hanya terancam gagal panen, masyarakat juga kini kesulitan mendapatkan air bersih.
Lama tak diguyur hujan menyebabkan sumur-sumur warga mengering. Jangankan untuk minum, warga pun kesulitan air untuk untuk memasak.
Kondisi ini, misalnya, dialami warga Pagaralam. Di kota ini, setidaknya ada dua kecamatan yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih, yakni Kecamatan Dempo Selatan dan Dempo Tengah.
Warga di hampir seluruh desa di kecamatan itu kini mesti bersusah payah untuk mencari air beraih. Mereka harus menempuh perjalanan sejauh 5 kilometer ke sumber air yang masih tersedia.
Di kawasan itu, masih ada Sungai Lematang dan mata air umum yang masih mengalir dan dapat diambil. Setiap hari, warga terpaksa membawa derigen dari rumah ke lokasi, jalan kaki atau menggunakan sepeda motor.
Untuk mendapatkan air bersih dari mata air umum yang berada di desa tetangga, terbilang tidaklah mudah. Mereka harus berdesak-desakan dan rebutan dengan warga asal kampung lain.
Maka tak jarang terjadi adu mulut dan gesekan antarwarga karena sama-sama ingin mendapatkan air lalu cepat pulang untuk melanjutkan aktivitas bertani. Emosi muncul seketika akibat pengaruh lelah menunggu lama dan cuaca yang terik.
Situasi yang cukup merepotkan mau tidak mau dijalani warga demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika pun sudah dapat air, mereka juga harus lebih menghemat agar bisa mencukupi kebutuhan seharian sebelum mengambil kembali keesokan harinya.

Warga mengaku kondisi ini terjadi setiap musim kemarau. Mereka pun terpaksa mengonsumsi air Sungai Lematang di saat sumur-sumur sudah kering.
"Andalan kami sekarang cuma Sungai Lematang, tiap hari ambil ke sana, jaraknya sekitar 5 kilo dari kampung," ungkap Marpangi (54), warga Tanah Pilih, Dempo Selatan, Pagaralam, Senin (3/8/2026).
Sementara Zuhairi (55), warga Dusun Darang Dalo, Dempo Tengah, mengatakan sebenarnya di kampungnya telah terpasang pipa PDAM sejak belasan tahun lalu. Hanya saja, layanan air bersih itu tidak dapat dinikmati lantaran hingga kini pipanya tidak dialiri air.
"Pipanya sudah lama ada, tapi airnya tidak ada. Padahal, mestinya saat kemarau begini bisa dimanfaatkan," kata Zuhairi.
Kondisi yang sama juga dialami warga Kecamatan Karang Jaya, Musi Rawas Utara (Muratara). Sumur yang kering membuat warga desanya terpaksa menggunakan air sungai yang dangkal dan keruh untuk kebutuhan sehari-hari.
Air yang tidak layak minum itu tak jarang membuat warga mengalami sakit perut dan mengidap penyakit kulit. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak karena ketiadaan akses air bersih yang memadai.
"Mau bagaimana lagi, air bersih tidak ada, sumur sudah kering, terpaksa pakai air sungai. Walaupun keruh karena sudah surut, tetap kami pakai daripada tidak minum sama sekali," kata Mugiono (55), warga Desa Embacang Baru Ilir.
Warga melalui pemerintah desa telah berupaya mengajukan pembangunan sarana air bersih di setiap desa. Sayangnya, masyarakat hingga kini belum menikmati layanan air bersih yang mestinya menjadi prioritas.
"Kami tidak tahu apa alasannya tidak dibangun-bangun. Padahal, setiap tahun kami merasakan langsung dampak musim kemarau," kata dia.
Sementara itu, Wali Kota Pagaralam, Ludi Oliansyah, mengakui ada beberapa wilayah yang mulai mengalami kekeringan. Untuk mengatasinya, pemerintah menyalurkan air bersih menggunakan truk tangki berkapasitas 16 ton ke titik-titik paling terdampak.
"Kami upayakan setiap hari disalurkan satu unit truk tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat," kata Ludi.
Sementara program jangka panjang, Pemko Pagaralam telah mengalokasi anggaran sebesar Rp1 miliar untuk pembangunan dan rehabilitssi pengolahan air minum di Dusun Bandar. Infrastruktur ini diproyeksikan mampu menjawab persoalan yang telah bertahun-tahun dialami warga saat musim kemarau.
"Tahun ini proyeknya sudah mulai jalan dan insyaallah dalam waktu dekat sudah bisa dinikmati warga," kata Ludi.

Sekretaris Daerah Sumsel, Edward Chandra, pun mengakui beberapa desa di Kecamatan Karang Jaya, Muratara, tengah kesulitan mendapatkan air bersih. Pada dasarnya, di wilayah itu telah dibangun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Hanya saja, program itu belum sepenuhnya menjangkau ke seluruh desa.
Dengan kondisi ini, pihaknya segera mengajukan usulan penambahan dan perluasan Pamsimas ke Kementerian Pekerjaan Umum.
"Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Sumsel sudah meninjau lokasi dan segera kita usulkan ke pusat agar Pamsimas diperluas biar tidak ada lagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih," kata Edward.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis menjelaskan, BMKG memantau seluruh wilayah Sumsel saat ini telah berstatus mengalami kekeringan meteorologis akibat minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, wilayah Lahat dan Ogan Ilir sisi barat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 40 hari berturut-turut yang membuat muka sumber air menyusut dan mengalami kekeringan hidrologis.
Sementara beberapa wilayah lainnya masuk kategori 6-10 HTH. HTH cukup lama dan berturut-turut memperburuk keadaan sehingga sumber air mulai sulit didapatkan.
"Seluruh wilayah Sumsel sudah alami kekeringan. Sumur, danau, dan sungai mulai surut," kata Wandayantolis.
Wandayantolis menyebut fenomena El Nino telah aktif pada kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi kategori sangat kuat dalam beberapa hari ke depan. Ini menyebabkan Agustus-September 2026 merupakan puncak musim kemarau dan diperkirakan hingga pertengahan Oktober 2026.
Meski pada Juli 2026 masih terdapat hujan, namun tercatat secara akumulasi curah hujan selama itu di bawah normal atau lebih rendah dari rata-rata. Hal ini menunjukkan musim kemarau tahun ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Kemarau tahun ini cukup parah, tapi kami prediksi tidak seekstrem pengaruh El Nino pada 1997 dan 2015 lalu," tutup Wandayantolis.
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id































