Menuju konten utama

Ratusan Hektare Sawah di Subang Kekeringan, Petani Terancam Rugi

Modal jutaan rupiah yang dikeluarkan petani untuk biaya membajak kini terancam hangus karena tanah kembali mengeras akibat tidak ada air.

Ratusan Hektare Sawah di Subang Kekeringan, Petani Terancam Rugi
Ratusan hektar lahan pertanian di kawasan Pantura Subang, Jawa Barat, hingga kini belum bisa digarap. Kondisi ini dipicu oleh minimnya pasokan air irigasi yang membuat para petani tak bisa tanam. foto/Suabng info
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ratusan hektare lahan pertanian di kawasan Pantura Subang, Jawa Barat, mengalami kekeringan, sehingga lahan belum bisa digarap hingga saat ini. Kondisi ini dipicu oleh minimnya pasokan air irigasi yang membuat para petani tidak bisa tanam.

Kekeringan salah satunya terlihat di persawahan Blok Tongkor, Desa Rawamekar, Kecamatan Blanakan, Subang. Sekitar 100 hektare areal persawahan di wilayah ini sama sekali belum bisa ditanami padi akibat pasokan air dari saluran irigasi yang sangat minim.

Dampak dari krisis air ini membuat masa tanam mundur total. Bahkan, benih padi yang sudah telanjur disemai kini mulai menguning dan terancam mati. Kondisi tersebut membuat para petani dihantui bayang-bayang gagal tanam.

"Sawahnya alami kekeringan padahal bibit sudah siap tanam. Karena tidak ada air, bibit belum bisa ditanam," ujar Ucim petani Rawamekar, Rabu(23/6/2026)

"Tentunya kita rugi nyata karena sudah telanjur mengeluarkan modal untuk membajak sawah," lanjut Ucim.

Modal jutaan rupiah yang dikeluarkan untuk biaya membajak kini terancam hangus karena tanah kembali mengeras akibat tidak ada air.

Menurut penuturan petani tersebut, masalah klasik ini selalu berulang setiap kali memasuki musim kemarau.

"Sulitnya mendapatkan pasokan air bahkan mulai memicu konflik di lapangan. Sesama petani terpaksa saling berebut air demi menyelamatkan lahan mereka masing-masing," katanya.

Berbagai upaya mandiri telah dilakukan, termasuk menyedot sisa-sisa air dari saluran yang masih basah menggunakan mesin pompa.

"Namun, debit air yang terlalu kecil membuat area persawahan tetap tidak terairi secara merata, sehingga sebagian besar lahan tetap telantar.Kini, para petani hanya bisa pasrah sambil berharap Pemerintah Kabupaten Subang segera turun ke lapangan untuk memberikan bantuan pompa darurat agar sektor pertanian di Rawamekar tidak lumpuh total," tandasnya.

Kondisi yang sama juga terjadi areal pertanian Desa Sumur Gintung Kecamatan Pagaden Barat, sekitar 260 hektaree juga mengalami kekeringan, tanaman padi yang terancam mati.

Kepala Desa Sumurgintung, Aas Aswati, merinci bahwa wilayah pertanian yang terdampak kekeringan tersebar di empat titik yakni Blok Maja 100 hektaree, Blok Sumur Waru 80 hektaree, Blok Cigondok 50 hektaree, dan Blok Sawah Bangreung 30 hektaree.

"Pasokan air ke sawah-sawah tersebut saat ini sudah benar-benar terhenti. Jika tidak ada tindakan darurat dalam waktu dekat, ratusan hektaree tanaman padi yang menjadi tumpuan hidup warga dipastikan akan mati," kata Kades Atas Aswati, Rabu(24/6/2026)

Kades Aas berharap Pemerintah Kabupaten Subang, Dinas Pertanian, serta pihak Perum Jasa Tirta (PJT) II segera turun tangan memberikan solusi nyata.

"Tolong pihak terkait terjun langsung ke lokasi, untuk segera ambil langkah kongkrit agar padi para petani di desa kami bisa terselamatkan guna mencegah kerugian besar para petani," katanya.

Aas selaku pihak desa sangat mengharapkan adanya bantuan pompa air darurat, normalisasi saluran irigasi, serta pembagian debit air yang adil agar sisa air yang ada bisa menjangkau sawah-sawah warga yang kian mengering.

"Semoga pihak terkait bisa segera mengatasi kekeringan ratusan hektaree sawah di desa kami, demi menyelamatkan padi agar tidak mati dan mencegah kerugian para petani," katanya.

===============

Subang Info adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait PERTANIAN atau tulisan lainnya dari Subang Info

tirto.id - Flash News
Kontributor: Subang Info
Penulis: Subang Info
Editor: Andrian Pratama Taher