Menuju konten utama
Horizon

Jatuh dan Bangun Lagi, Potret Petani Muda di Lumajang

Lelah mengadu nasib di kota besar, sejumlah anak muda akhirnya pulang kampung dan menjadi petani. Namun, mereka dihajar keterbatasan dana dan pengetahuan.

Jatuh dan Bangun Lagi, Potret Petani Muda di Lumajang
HEADER HORIZON anak-anak muda yg memutuskan pulang kampung dan menggarap lahan pertanian
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Akif tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi petani. Sama seperti banyak generasi Z lainnya, ia melihat dirinya di masa depan sebagai pekerja kerah putih. Berangkat pagi, pulang sore, menerima gaji bulanan, pergi vakansi di akhir pekan atau libur panjang, serta pulang kampung saat musim mudik.

Dan sebenarnya itu sudah pernah coba ia jalani. Setelah makan bangku kuliah selama lebih kurang tujuh tahun di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, pemuda berusia 28 tahun itu sempat mencoba melamar ke sana ke mari. Berbulan-bulan. Tapi, tak kunjung hadir hasil yang diharap-harapkan itu.

"Akhirnya aku magang di Pelindo ...," cetusnya, pada Rabu (6/5/2026) sore yang cerah berangin, di lahan garapannya yang terletak di Desa Sumberjo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Bekerja selama sekitar sembilan bulan, meski hanya sebagai pemagang, ia akhirnya merasakan gaji rutin yang didamba-dambakannya, dan pulang kampung saat senggang.

Namun, lambat laun, ia merasa ada yang janggal. Perasaan itu bukanlah aforisme belaka; bahwasanya manusia tidak pernah puas dan selalu merasa kurang. Ketidaknyamanan itu muncul ketika suatu waktu ia melihat curhatan rekan kerjanya yang sudah paruh baya.

Bapak-bapak yang bekerja di kantornya rerata bekerja sampai usia nyaris pensiun, lalu mengundurkan diri atau dipecat. Setelah itu, mereka akan pulang dan membuka bisnis di kampung halaman, bermodal dari gaji yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.

Mendengar itu, Akif mulai ragu dengan dirinya sendiri--lebih tepatnya makin ragu dengan pilihannya. Dan tak lama setelah itu ia akhirnya berubah pikiran, 180 derajat.

"Ngapain kerja di kota besar yang keras bertahun-tahun kalau ujung-ujungnya pulang kampung? Kenapa nggak bekerja di kampung halaman sejak awal?" ujarnya, sembari mencampur pupuk organik dan perekat yang hendak disemprotkan ke padi garapannya, dengan intonasi menggebu-gebu.

Sejak itu, Akif berkaul pada dirinya sendiri bahwa ia bakal pulang kampung dan membangun sesuatu, tanpa menunggu renta dan "berjudi" dengan uang yang dikumpulkan hanya untuk hari tua.

Di kampung, Akif sempat bergabung dengan sebuah partai politik selama hampir setahun, membangun relasi, membantu pemenangan salah satu pasangan calon di Pemilu 2024, juga kawannya yang mencalonkan diri di Pilkada 2024.

Sialnya, setelah berjibaku "mempromosikan" jagoannya lewat tongkrongan, juga menggagas berbagai acara kampanye, ia tak mendapat suatu apa. Kawan-kawan seperjuangannya berangsur-angsur tercerai-berai, mencari penghidupan masing-masing. Yang ia punya tinggal dirinya sendiri.

"Bapakku sudah menawarkan berkali-kali untuk menggarap sawah warisan, tapi aku menolak. Awalnya," akunya.

Lama kelamaan, keuangannya menipis, hingga akhirnya tiba pada titik kritis. Ia pun mau tak mau terjun bergelut dengan lumpur.

Sebagaimana keputusan yang tergesa, terpaksa, dan setengah-setengah, mula-mula garapan sawahnya hancur sama sekali. Ia belum memahami teknik—apalagi politik—pertanian. Ia masih nol belaka.

Misalnya, karena tak diawasi, semprotan pestisida yang dilakukan oleh buruhnya tak maksimal. Pupuk urea yang dijadwalkan berantakan. Hasil panennya pun jauh dari untung, mentok hanya cukup balik modal.

Setelah melihat hasil panen tak memuaskan itu, Akif meninggalkan lahannya sampai berbulan-bulan. Merajuk.

Sama seperti tuannya, tanah garapannya pun ogah-ogahan, atau bisa dibilang bebas tumbuh liar. Di sana sini tumbuh belukar; di berbagai sisi dihinggapi ular; di sudut-sudut dipenuhi dedaunan liar.

"Tingginya hampir seperti lahan di sana itu," terangnya, sembari menunjuk lahan di sebelah barat sawahnya; jaraknya hanya beberapa petak dari sawah miliknya. Terlihat begitu kentara lahan tersebut tertutup samun, dihidupi rumput gajah di mana-mana, tanaman liar tumbuh centang perenang, hingga nyaris dua meter tingginya.

petani muda menggeluti hidroponik

Akif di lahan pertanian yang ia garap. tirto.id/Fadli Nasrudin

Bagai gayung bersambut, ketika ia mulai berpikir bahwa dirinya tak bisa terus-menerus bersungut-sungut, tawaran untuk menggunakan pupuk organik datang. Orang tuanya mengenalkan Akif dengan pupuk organik lokal berjenama Sari Luhur.

Setelah menimbang dan bertanya-tanya ke sana ke mari, ia akhirnya menyetujuinya, tentu dengan iming-iming hasil panen lebih bagus, masa depan tanah pertanian yang subur ke depannya, serta ditambah bumbu spiritual dari gurunya (kiai) dan cerita si pembuat pupuk.

Perlahan ia mulai rajin belajar bagaimana menjadi petani, menggunakan pupuk organik, serta mengembangkan ekosistem bisnis beras dan padi.

Saat ini, Akif sudah merasakan dua kali panen lahannya. Dan hasilnya memuaskan, cukup untuk memutar roda produksi, juga menopang hidupnya sehari-hari.

"Yang terakhir memang tidak terlalu bagus," ujarnya. "Tapi itu karena kondisi cuaca yang tak menentu. Beberapa bulan kemarin kan banyak hujan, sangat sedikit matahari sehingga padi nggak bisa tumbuh maksimal,” kilahnya, buru-buru.

"Tapi dibanding yang lain [yang pakai kimia sintetis] punyaku jauh lebih baik," ia menambahkan. Gabah hasil panennya dibeli tengkulak dengan harga Rp6.500 per kilo, sedangkan lainnya Rp6.100. Jumlah karungannya pun lebih banyak, begitu dia mengakui.

Tak Apa Memulai dari yang Sedikit

Pada awal-awal, Akif hanya berani menggarap lahan warisan yang luasnya tak sampai satu hektare. Namun, usai melihat hasil panennya yang lumayan bagus serta seiring menguatnya tekad untuk mengikuti "ajaran" produsen pupuk organik lokal, ia berani menyewa lahan.

Toh, tak susah mencari mitra kerja sama pertanian di Lumajang. Ia tergolong orang yang mudah bergaul. Nyaris setiap hari ia kongko di tempat yang juga kerap jadi "markas" para petani muda.

Apalagi, penyumbang Produk Domestik Regional Bruto mayoritas di Kabupaten Lumajang adalah pertanian. Sebagai lulusan ekonomi, ia tahu betul soal potensi wilayah tempatnya tinggal. Dan itu tentu saja berbanding lurus dengan pegiatnya, meskipun tentu saja lebih kebanyakan lahan, yang luasnya berpuluh-puluh hektare, hanya dikuasai oleh segelintir tuan tanah.

"Mbah Kerto itu, di [Desa] Ranupani, lahannya luas banget, mungkin sampe puluhan hektare," Akif mengawali ceritanya soal kakek-kakek, tuan tanah di daerah lereng Gunung Semeru, yang menguasai lahan palawija. Sosok yang katanya sudah berusia lebih dari 100 tahun itu pernah viral beberapa waktu lalu lantaran membeli mobil Pajero Sport secara tunai, dengan berbondong-bondong membawa karung berisi picis nominal seratus ribuan. Begitu Akif mengisahkan.

Urusan pertanian, Lumajang memang potensial. Akif mengakui itu. Dinas Pertanian setempat pun demikian.

"Iya, Mas, sektor pertanian jadi penyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terbesar di Kabupaten Lumajang. 20-an persen angkanya," ujar Retno Wulan Andari, Kepala Dinas Pertanian Lumajang—sekarang namanya bersulih jadi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian—saat ditemui di kantornya pada Senin (25/5).

Pernyataan Retno cukup memvalidasi ungkapan Akif soal PDRB lumajang, meskipun angkanya salah. Jika Retno bersikukuh bahwa dominasi sumbangan sektor pertanian untuk PDRB Lumajang hanya sekitar 20 persen, menurut data BPS terbaru angkanya jauh lebih tinggi, yakni 31,82 persen. Selama lima tahun terakhir persentasenya konsisten berkisar di 30-an.

***

Sejak mengetahui potensi kampung halamannya, Akif memutuskan untuk menemui Shafry, kawannya waktu di sekolah menengah. Perawakan Shafry jangkung juga kekar, putih bersih, sama sekali tak tampak seperti petani. Namun, itu wajar karena ia lebih banyak mengawasi daripada terjun langsung ke lahan.

Sama seperti Akif, ia mengolah lahan orang tuanya, yang tentu saja membuatnya tak bisa bebas menerapkan apa yang ia yakini, termasuk soal pupuk organik.

"Ibuku nggak percaya sama Sari Luhur. Pada periode penanaman kemarin aku memakainya di tengah-tengah [periode], dan hasilnya tidak maksimal, sehingga dia makin nggak suka" tuturnya, menjelaskan alasan mengapa ia memilih berpartner dengan Akif. Mereka bersepakat menyewa lahan 1 hektare selama 5 tahun, dengan biaya sewa dan produksi dibagi rata.

Lahan yang mereka garap terletak di Desa Kabuaran, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang. Lima tahun mereka menyewa lahan seluas satu hektare tersebut, sudah tentu dengan harapan bisa balik modal dan beroleh untung sebelum itu.

Modal yang dipakai Shafry tentu saja bukan uang pribadinya, bukan pula hasil menabung. Uang puluhan juta itu ia pinjam dari orang tuanya.

"Nanti aku kembalikan kalau sudah balik modal," ungkapnya di selasar peristirahatan lahan hidroponiknya, Senin (11/5), sembari menyemai biji selada, satu demi satu, di media tanam pertama berupa spons.

petani muda menggeluti hidroponik

Safri, petani muda yang juga menggeluti hidroponik. tirto.id/Fadli Nasrudin

Selain berusaha menghidupi dirinya dengan pertanian konvensional di sawah, Shafry juga menggeluti hidroponik.

Senin pagi, saat saya berkunjung ke lahannya yang terletak di Gombleh, Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, berbagai macam buruh ramai berseliweran di jalan raya; berangkat kerja, mencari kerja, atau agar tampak bekerja. Tak sedikit yang memacu pelan kendaraannya, tampak memasang air muka mengerut, seolah tak terima Senin datang begitu cepat selepas akhir pekan.

Sama seperti manusia yang menampakkan emosi tak keruan di jalan raya, tanaman hidroponik milik Shafry pun lesu pada pagi menjelang siang itu. Kepanasan. Air yang mengaliri pipa media tanamnya pun tak jauh beda, menghangat.

"Sudah waktunya mendinginkan air. Ayo bantuin!" kata Shafry, sembari mengusap keringat yang menyembul dari pori-pori dahinya.

Untuk mendinginkan air media tanam, kami mesti menjebloskan beberapa botol es batu ke kolam sumber aliran air yang terletak di bawah pipa-pipa hidroponik. Setidaknya perlu 10 botol es batu berukuran 1,5 liter untuk mendinginkan air di tengah panas terik pancaroba akhir-akhir ini.

Alih-alih menggunakan plastik sekali pakai, Shafry memilih memanfaatkan botol bekas.

"Biar nggak perlu buang-buang plastik. Jadi, kalau sudah mencair, langsung tinggal dimasukin ke kulkas lagi," jawabnya.

Setiap hari, ia mesti mendinginkan air media tanam hidroponiknya sebanyak dua kali. Masing-masing pukul 11.00 dan 13.00. Lalu, pada awal perkembangan, ia menyemprotnya dengan enzim, protein yang berfungsi mempercepat proses metabolisme tanaman dan penguraian unsur hara.

Lahannya sudah ia desain sedemikian rupa agar tahan cuaca, setidaknya agar tak terempas diterpa hujan deras dan tanamannya tak loyo didera panas terik.

Untuk mengurangi panas pada media tanamnya, ia menggunakan es batu. Sementara itu, guna menjaga sirkulasi, ia menempatkan dua buah kipas angin di tembok bagian atas lahannya.

"Idealnya pake blower, agar udara dari dalam keluar, sehingga sirkulasi lebih lancar. Tapi, nanti aja, nunggu uangnya," ujarnya.

Lantaran metode pertanian hidroponik membutuhkan cukup cahaya matahari--tetapi tak boleh berlebihan--Shafry menggunakan plastik UV sebagai atap lahan. Dengan begitu, terik tak langsung menyengat ke daun dan air, tetapi kebutuhan cahaya tetap terpenuhi.

Ia sendiri yang mendesain bangunan lahan hidroponik tersebut. Semua dipelajarinya ketika mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK).

"Secara teori masih kepakai sedikit-sedikit," kata pemuda berusia 28 tahun itu yang juga lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, sama seperti Akif.

Tapi, petaka tak jauh-jauh dari pemula. Teori kerja yang hanya dipelajari selama sebulan itu bisa dibilang mentah. Di masa-masa awal merintis, lahannya sempat diterpa hujan badai. Desain awal atap lahannya datar, dan itu sangat tidak ramah terhadap hujan, apalagi deras diiringi angin. Alhasil, semuanya amburadul. Atapnya ambruk. Beberapa pipa yang menjadi wadah media tanamnya rusak.

Belajar dari kesalahan, ia membangun ulang atap lahannya dengan desain pelana. Dengan begitu, akunya, hujan yang turun tidak akan menggenang di atap sebab bakal langsung turun ke bawah.

Sekarang, semuanya sudah mulai stabil. Setidaknya ada lima petak wadah tanam yang tegak berdiri di lahannya. Omzetnya lumayan, cukup untuk memutar roda produksi dan hidup sehari-hari. Toh, ia juga masih punya lahan sewaan, hasil kemitraannya dengan Akif.

petani muda menggeluti hidroponik

Safri di lahan hidriponik-nya. tirto.id/Fadli Nasrudin

Setengah Tuan Tanah, Sepenuhnya Penggarap Lahan

Namun, tak semua cerita kehidupan anak muda yang terjun ke pertanian berbumbu manis. Shafry dan Akif terbilang beruntung. Keduanya memang bukan seorang bohir sebab sesekali juga terjun sendiri menggarap sawahnya, dan kalaupun meminta tolong buruh, mereka mencari sendiri orangnya. Yang jelas, mereka berdua menggarap lahan warisan orang tuanya, yang secara otomatis hasil panennya dinikmati sendiri.

Lain halnya dengan Enggar (29). Hasil panen padi dari sawah warisan mbahnya tak bisa sepenuhnya ia nikmati sendiri. Ia masih harus membagi hasil keuntungan itu dengan saudara-saudaranya, yang juga masih berhak atas tanah tersebut—luas lahannya sekitar 8000 meter persegi. Walakin, katanya, profit itu setidaknya subsisten.

Awalnya, setali tiga uang dengan Akif, Enggar juga menggarap lahan karena tak ada lagi yang bisa memenuhi kebutuhannya. Sebelum nekat bertani, ia jungkir-balik memenuhi keperluannya sehari-hari dengan mengandalkan upah dari proyek dosen kampusnya dulu.

"Kalau nggak ada [proyek dosen], ya, nggak ada [penghasilan]," katanya, dibarengi dengan sunggingan senyum lebar, seolah ia sudah berdamai dengan kondisi serba susah waktu itu, atau mencoba menutup-nutupi getirnya masa lalu.

Lebih dari setahun ia mengirim lamaran kerja ke berbagai tempat. Tapi, tak ada yang menerima. Pernah ia menemukan lowongan pekerjaan di Bali. Namun, setelah bertanya-tanya kepada kawan-kawannya di Pulau Dewata soal biaya hidup di sana, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan tempatnya melamar tidaklah cukup.

Setidaknya, menurut pengakuannya, hasil bertani lebih besar daripada hidup dengan gaji pas-pasan di kota orang.

"Cukuplah untuk sehari-hari," katanya, sembari menyulut sebatang rokok yang sudah terapit cukup lama di jemarinya. Kamis (7/5) siang itu, ia bersedia ditemui di sebuah warung kopi langganannya, yang juga merupakan tempat berkumpulnya anak-anak muda, dan beberapa di antaranya adalah petani.

Sebagaimana orang yang memulai semuanya dari nol, Enggar juga tak luput dari kegagalan penggarapan. Keuntungannya sangat mepet di periode pertama panen, waktu ia baru terjun jadi petani.

Ia juga masih meraba-raba bagaimana cara menjadi petani saat itu. Apalagi, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), yang sejatinya bertugas mendampingi dan mengedukasi kelompok tani di lahan, tidak pernah ia lihat batang hidungnya.

Pengakuan serupa juga diungkapkan oleh Akif, yang katanya tak pernah melihat PPL di sawah tempatnya menggarap padi selama dua tahun terakhir menggarap lahan. Wibi (30) juga mengungkapkan hal sama, bahwa dulu ketika ia nekat bertani di lahan sewaan, tak pernah melihat PPL menemui dan mendampinginya, apalagi membimbing.

"Iya, sebenarnya aku butuh banget PPL, terutama untuk edukasi soal obat, masa tanam, dan cuaca. Karena kan aku nggak tau apa-apa awalnya. Hasilnya, ya, gitu [karena tidak dibimbing PPL], hancur panenku, nggak untung sama sekali, cuma balik modal," sesalnya, saat ditemui di tempat yang sama dengan ketika saya mewawancarai Enggar, di warung kopi kecil di tengah kota, sebelah barat alun-alun, Rabu (20/5).

Peran PPL, kata mereka, begitu krusial bagi petani, terutama petani pemula dan muda. Begitu juga kata Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 23 Tahun 2024: penyuluh pertanian mengemban tugas melaksanakan kegiatan penyuluhan, evaluasi, dan pengembangan metode penyuluhan pertanian.

Sebagaimana namanya, penyuluh bertanggung jawab menerangkan kepada para petani mengenai hal-hal seputar tanaman, pemupukan, pencegahan dan penanganan hama, serta penggunaan teknologi pertanian. Merujuk pada regulasi sebagaimana disebut di atas, mereka juga bertanggung jawab mengevaluasi kerja-kerja serta metode-metode yang diaplikasikan oleh para petani.

"Sekarang kewenangan PPL tidak lagi di dinas [pertanian]. Per Januari 2026 kemarin, PPL bertanggung jawab langsung pada Kementerian Pertanian," kilah Retno Wulan Andari, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lumajang, ketika ditanyai soal keluhan petani bahwa PPL tidak pernah turun ke lapangan.

Retno tak membantah keluh kesah petani ihwal ketidakhadiran PPL di lapangan (sawah). "PPL itu memang tupoksinya ke kelompok [tani]. Jadi, petani-petani muda itu sebaiknya mau gabung ke kelompok tani," tambahnya, mencoba menafsirkan sendiri bahwa tugas PPL bukan di lapangan, di sawah, di lahan, melainkan hanya di kelompok tani.

Walakin, ketika mengonfirmasinya kepada Enggar, yang juga tergabung dalam kelompok tani di daerah lahannya, jawabannya berlainan.

"Selama ini, sih, aku nggak pernah lihat," lugas Enggar, yang sudah menghabiskan tiga tahun bertani, sejak 2023. Ia sebenarnya cukup rajin tugur di lahan, melihat-lihat, barangkali ada kondisi tertentu yang mengharuskannya menyemprot pestisida atau obat lainnya.

"Mungkin aku aja yang nggak pernah lihat. Mungkin juga mereka (PPL) kunjungannya cuma di kelompok tani," tambahnya, "menyapu" sendiri pernyataan yang ia lontarkan sebelumnya.

Alhasil, petani-petani muda di Lumajang terpaksa belajar autodidak, utamanya Akif dan Shafry, yang tak punya basis pengetahuan soal pertanian sama sekali. Enggar, sebagai lulusan Fakultas Pertanian Universitas Jember, mengaku masih punya serpihan-serpihan pengetahuan soal pertanian.

Namun, bekal di perkuliahan saja tak cukup. Oleh karena itulah mereka menganggap para penyuluh pertanian masih tetap dibutuhkan. Jika tidak, bisa-bisa berakhir bangkrut dan tak mau lagi mengambil risiko.

Baca juga artikel terkait PETANI MUDA atau tulisan lainnya dari Fadli Nasrudin

tirto.id - Horizon
Penulis: Fadli Nasrudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi