tirto.id - Musim kemarau belum mencapai puncaknya, namun dampaknya sudah mulai dirasakan warga di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Puluhan kepala keluarga kembali kesulitan memperoleh air bersih setelah debit air tanah menurun dan sumur-sumur warga mulai mengering.
Pemerintah setempat mencatat sedikitnya 35 kepala keluarga (KK) di dua rukun warga (RW) terdampak kekeringan. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, melainkan persoalan yang hampir berulang setiap musim kemarau.
Camat Setu, Erwin Gemala Putra, mengatakan wilayah terdampak berada di RW 01 sekitar 15 KK dan RW 02 sebanyak 20 KK. Menurutnya, posisi geografis Keranggan yang berada di dataran tinggi membuat cadangan air tanah lebih cepat menyusut saat kemarau.
"Berdasarkan hasil pendataan kami di lapangan, ada dua wilayah yang terdampak cukup parah, yakni di RW 01 dengan perkiraan 15 KK dan RW 02 sekitar 20 KK. Total sementara ada 35 KK yang mengalami krisis air," kata Erwin, Senin (13/7/2026).
Mayoritas warga selama ini mengandalkan sumur bor atau jet pump sebagai sumber air bersih. Ketika musim kemarau datang, debit air tanah turun sehingga pompa tidak lagi mampu mengalirkan air secara normal.
"Kondisinya memang wilayah tersebut dataran tinggi. Kalau sudah masuk musim kering, air tanahnya pasti langsung surut," ujarnya.
BPBD Kirim Bantuan Air Bersih
Untuk memenuhi kebutuhan warga, Pemerintah Kecamatan Setu berkoordinasi dengan BPBD Kota Tangerang Selatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) Serpong.
Pada Senin (13/7/2026), sebanyak 5.000 liter air bersih kembali didistribusikan ke lokasi terdampak.
"Hari ini kami kembali menyalurkan bantuan air bersih sekitar 5.000 liter untuk warga. Kami bekerja sama dengan BPBD, DLH, serta PDAM TKR Serpong," kata Erwin.
Sebelumnya, Sekretaris BPBD Kota Tangerang Selatan, Essa Nugraha, menyatakan pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau.
BPBD juga menyiagakan mobil tangki dan tandon air agar distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat ketika ada laporan dari masyarakat.
Belum Ada Jaringan Air Bersih
Di balik distribusi bantuan air, terdapat persoalan yang belum terselesaikan. Hingga kini, Kelurahan Keranggan belum terlayani jaringan pipa air bersih.
Meskipun dekat dengan Aliran Sungai Cisadane yang menjadi sumber air bersih untuk beberapa perusahaan air minum milik daerah, hingga kini warga kelurahan Keranggan terutama Kampung Koceak belum memiliki jaringan air bersih. Sekalipun jadi langganan kekeringan setiap musim kemarau.
Direktur Umum PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS), Agus Supadmo, membenarkan jaringan perpipaan belum masuk ke wilayah tersebut.
"Belum ada," katanya saat dikonfirmasi, Minggu (12/7/2026).
Menurut Agus, pembangunan jaringan belum dapat dilakukan karena sumber air baku untuk menyuplai kawasan tersebut belum tersedia.
"Sumber airnya belum ada. Biasanya PITS bantu air tangki," ujarnya.
PT PITS menargetkan pasokan air bersih ke Keranggan baru dapat direalisasikan setelah proyek penyediaan air baku dari Cisadane beroperasi.
"Tahun 2027 rencana disuplai dari proyek Cisadane," kata Agus.
Dengan kondisi tersebut, setiap musim kemarau warga Keranggan masih bergantung pada sumur bor yang rentan mengering dan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.
Selama jaringan perpipaan belum tersedia, bantuan darurat menjadi satu-satunya penopang kebutuhan air bersih masyarakat.
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































