tirto.id - Kontra Bosnia-Herzegovina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, penyerang timnas AS Folarin Balogun diganjar kartu merah langsung pada menit ke-64. Intervensi Video Assistant Referee (VAR) menjadi pertimbangan matang wasit utama mendepaknya.
Wasit mengusir Balogun keluar lapangan karena menginjak pergelangan kaki kanan bek Bosnia, Tarik Muharemovic. Meski bermain dengan 10 orang, AS tetap menang dua gol tanpa balas dan memantapkan tiket ke babak 16 besar.
Dalam situasi normal, mestinya Balogun otomatis dihukum larangan bermain ketika bersua Belgia di fase berikutnya, 16 besar. Namun, berkat lobi Presiden Donald Trump, skorsing Balogun ditangguhkan sehingga ia tetap merumput dan mengenakan seragam kebesaran Negeri Abang Sam sejak menit pertama.
Desas-desus lobi itu mencuat ketika Donald Trump dilaporkan menghubungi langsung Presiden FIFA, Gianni Infantino, via telepon untuk meminta peninjauan ulang terhadap kartu merah Balogun. Percakapan mereka terjadi antara Kamis (2/7/2026) hingga Minggu (5/7).
Secara mengejutkan, berkat lobi itu, Komite Disiplin (Komdis) FIFA menetapkan keputusan kontroversial: sanksi untuk Balogun dicabut penuh. Penyerang yang hanya “menumpang” lahir di AS itu diberikan penangguhan hukuman dengan masa percobaan satu tahun. Mengacu Pasal 27 Kode Disiplin, jika Balogun kedapatan melakukan pelanggaran dengan tingkat keparahan serupa dalam periode tersebut, hukumannya bisa diberlakukan kembali atau berpotensi lebih ngeri.
Tak cukup di situ. Siaran resmi FIFA untuk penangguhan skorsing Balogun hanya berjarak sehari sebelum berduel dengan Belgia. Trump merayakan keputusan FIFA dengan mencuit di media sosial, meski tanpa terang mengklaim keberhasilan lobi teleponnya.
"Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan apa yang benar dan membalikkan ketidakadilan besar," tulisnya, sebagaimana dilaporkan The New York Times.
Kendati skorsing untuk Balogun ditangguhkan dan Balogun bermain hampir sepanjang pertandingan—sebelum digantikan Haji Wright pada menit ke-90+2—timnas AS tak dapat berbicara banyak. Belgia menggilas mereka dengan skor telak 1-4. Satu-satunya gol The Stars & Stripes dicetak oleh Malik Tillman pada menit ke-31.
Kontroversi Pasal 27 Kode Disiplin FIFA
Pandit sepak bola, Tommy Desky, menyoroti penggunaan pasal 27 Kode Disiplin sebagai akar polemik. Minimnya transparansi menjadi soal karena seluruh hasil keputusan rapatnya diambil dari rapat tertutup.
"Secara aturan memang ada, jadi FIFA punya dasar hukumnya. Cuma pasal ini tergolong sangat jarang dipakai, bahkan disebut baru dipakai lagi sejak kasus Garrincha pada 1962. Jadi pertanyaannya bukan apakah pasalnya ada atau tidak, tapi kenapa dipakai di kasus Balogun dan apa pertimbangannya," ujar Tommy kepada Tirto, Selasa (7/7/2026).
Pasal 27 Kode Disiplin FIFA adalah bab yang mengatur mengernai penangguhan pelaksanaan tindakan disipliner. Namun, tidak dijelaskan secara rinci tindakan disipliner yang dimaksud. Satu-satunya tindakan disipliner yang tidak dapat ditangguhkan berkaitan dengan manipulasi pertandingan.
Pihak yang dapat memberikan penangguhan tersebut adalah badan peradilan, termasuk Komdis FIFA dan Komite Banding. Komdis FIFA terdiri dari tiga anggota: ketua, wakil ketua, dan anggota tambahan. Mereka harus memiliki latar belakang pengacara.
Saat ini, Mohammad Al Kamali dari Uni Emirat Arab menjabat ketua Komite Disiplin. Komdis FIFA dipilih oleh kongres FIFA dengan syarat telah menjabat di organisasi selama empat tahun, dengan jabatan maksimal menjadi Komdis selama tiga tahun.
Ketika Kode Disiplin diperbarui pada 2019, Pasal 27 termasuk ke dalam Pasal 26. Lalu, pada 2023, pasal tersebut berdiri sendiri.
Pasal 26 menyangkut poin residivisme. Seorang pemain sepak bola yang terjerat kasus pidana dengan tingkat keseriusan tertentu boleh jadi diberikan hak kembali menyepak si kulit bundar. Itu termasuk soal pengulangan pelanggaran untuk pemain yang ketahuan menyalahi ketentuan doping, sesuai Regulasi Anti-Doping FIFA.
Secara teknis dan historis regulasi, penangguhan skorsing untuk Balogun dianggap aneh. Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA), yang kena dampak langsung dari penangguhan kartu merah langsung Balogun, geram.
Menurut RBFA, langkah Komdis FIFA mengabulkan banding kartu merah Balogun itu mengangkangi Pasal 66,4 Kode Disiplin yang menyebut bahwa kartu merah langsung akan otomatis menjatuhkan skorsing untuk pemain di pertandingan berikutnya; semestinya itu mutlak.
Tak cukup di situ, keputusan tersebut juga bertentangan dengan Regulasi Piala Dunia FIFA 2026 yang tertera dalam pasal 10,5.
Regulasi tersebut mengatakan: “Jika pemain atau ofisial tim dkeluarkan dari lapangan karena kartu merah langsung atau tidak langsung [kartu kuning kedua], mereka secara otomatis dilarang bertanding dalam pertandingan berikutnya. Selain itu, sanksi tambahan dapat dijatuhkan.”
Kartu Merah Garrincha di Piala Dunia 1962
Secara historis regulasi, ini adalah kali perdana pengambilan keputusan dengan latar belakang hukuman untuk Piala Dunia, sejak pasal 27 Kode Disiplin FIFA ditetapkan. Akan tetapi, dalam sejarah Piala Dunia, Balogun bukanlah pemain pertama yang hukumannya ditangguhkan akibat diganjar kartu merah langsung.
Sosok lain yang pernah menikmati kontroversi itu adalah Garrincha, legenda Brasil yang sebenarnya bernama lengkap Manuel Francisco dos Santos.
Kala itu, di laga semifinal, Brazil tampil gemilang. Garrincha juga tampil beringas dengan menyumbang dua dari total empat gol yang bersarang ke gawang Cile.
Kekurangan fisik pada panjang kakinya yang tak sama itu tidak memengaruhi kemampuan Garrincha. Dia memang beken dengan kemampuan menggiring bola yang mampu mengobrak-abrik pertahanan tim lawan.
Kemenangan atas Cile yang mengantarkan Brasil ke partai puncak itu harus dibayar mahal. Laga panas kontra Cile membuat emosi Garrincha tak stabil. Di menit-menit akhir, Garrincha terpergok menendang Eladio Rojas karena tensi pertandingan memanas. Dia kehilangan kesabaran akibat beragam pelanggaran dan tekel keras dari pemain Cile untuk menjatuhkan dirinya.
Wasit Utama Arturo Yamasaki Maldonado dari Peru memang tak melihat insiden penendangan Garrincha kepada Eladio Rojas. Namun asisten wasit, Esteban Marino, yang berdiri di samping lapangan sebagai hakim garis, melihatnya, lalu melapor kepada Yamasaki.
Masalahnya, Garrincha adalah tumpuan utama di lini serang Brasil. Bintang muda andalan mereka lainnya, Pele, yang kala itu berusia 21 tahun, harus menepi lantaran cedera.
Pengusiran dan kartu merah itu membuat Garrincha sangat terpukul. Dia mengatakan kepada wartawan, “Mungkin saya salah, tetapi saya siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.”
Sudah sejak masa itu, ketika kartu merah langsung menghunjam pemain, ia dipastikan tidak dapat bermain di laga berikutnya. Namun, tidak demikian bagi Garrincha.
Dikutip dari laman resmi FIFA, ribuan rakyat Cile yang dipimpin oleh presiden, Jorge Alessandri, membuat petisi agar FIFA mencabut larangan skors untuk Garrincha. Harapannya, rakyat Cile dapat sekali lagi melihat aksi Garrincha “menari-nari” di laga puncak final.
Meski Garrincha adalah biang kerok kekalahan negaranya pada laga semifinal, rakyat Cile tak peduli. Mereka terlanjur tergila-gila dengan lihai magis Garrincha.

Begitu klaim sebagaimana diceritakan FIFA.
Akan tetapi, lebih dari itu, ada dugaan lain yang melibatkan upaya lobi dari delegasi besar Brasil di Cile, pun keterlibatan dari berbagai duta besar Amerika Selatan, perdana menteri Brasil Tancredo Neves, dan Presiden FIFA Sir Stanley Rous.
Walhasil, Garrincha diizinkan dan tersedia untuk bermain. Ia pun membawa Brasil menang atas Cekoslowakia dengan skor 3-1 sehingga berhak menjadi juara lagi, setelah pada edisi sebelumnya (Piala Dunia 1958) berhasil menumbangkan Swedia dengan skor telak 5-2.
Sekalipun Garrincha tak mencetak gol di laga final, dialah top skor gelaran Piala Dunia 1962, dan terpilih menjadi pemain terbaik. Sebutan Alegria do Povo (Kegembiraan Rakyat) serasa pantas disematkan kepada Garrincha.
Kehebatan Garrincha di Piala Dunia 1962 itu sampai membikin surat kabar El Mercurio dari Cile menulis tajuk utama, “Garrincha, What Planet Are You From?”
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































