tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah melobi FIFA untuk mencabut sanksi larangan bermain striker utama timnas AS, Folarin Balogun. Tak lama setelahnya, FIFA menangguhkan sanksi Balogun, membuatnya bisa dimainkan dalam laga babak 16 besar melawan Belgia pada Selasa (7/7/2026).
Seturut The Guardian, lobi Trump itu dilakukan lewat tiga kali teleponnya ke Presiden FIFA Gianni Infantino. Percakapan Trump dan Infantino itu terjadi antara Kamis (2/7) hingga Minggu (5/7).
Trump disebut meminta Infantino untuk membatalkan sanksi larangan bermain Balogun yang terkena kartu merah pada laga babak 32 besar melawan Bosnia & Herzegovina pada Kamis lalu. Pasca-laga, Trump kemudian menelepon Presiden FIFA itu.
Kemudian, pada Minggu, Komisi Disiplin FIFA mengeluarkan keputusan kontroversial untuk menangguhkan sanksi larangan bermain Balogun. Komdis FIFA menyebut sanksi telah ditangguhkan untuk satu tahun ke depan, dan akan dikenakan kepada Balogun jika sang pemain melakukan “pelanggaran lain yang serupa sifat dan tingkat keparahannya" dalam kurun waktu tersebut.
“Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar, dan membalikkan ketidakadilan yang besar!” tulis Trump di media sosial miliknya.
Pelatih AS Mauricio Pochettino memuji langkah FIFA untuk menangguhkan sanksi Balogun. Menurutnya kartu merah yang diterima anak asuhnya itu tidak adil sejak awal.
“Kami sudah cukup dihukum saat melawan Bosnia-Herzegovina dengan bermain dengan 10 pemain selama 30 menit dalam keputusan yang sama sekali tidak adil,” katanya, dikutip dari AP.
Balogun sejauh ini memainkan peran kunci dalam pola serangan skuad asuhan Mauricio Pochettino. Tiga kali ia jadi starter dalam Piala Dunia 2026 dan striker AS Monaco itu telah mencetak tiga gol.
Ditangguhkannya sanksi atas Balogun kini jadi keuntungan besar bagi timnas AS. The Stars and Stripes kini melenggang ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dan tinggal satu kemenangan lagi untuk menyamai rekor impresif mereka sampai babak perempat final seperti pada Piala Dunia 2002 silam.
FIFA sendiri, dalam keterangan resminya, menyebut bahwa penangguhan tersebut dilakukan berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. Pasal tersebut memungkinkan penangguhan sanksi kartu merah selama tidak terkait dengan kasus pengaturan skor.
Asosiasi Sepak Bola Belgia Kritik FIFA Tangguhkan Kartu Merah untuk Folarin Balogun
Meski begitu, keputusan ini dikritik keras oleh banyak pihak, terutama Belgia yang akan jadi lawan tanding AS pada Selasa. Pelatih Belgia Rudi Garcia bahkan mengejek keputusan ini dengan menyamakannya dengan lelucon April mop.
“Saya tidak tahu bahwa di kantor FIFA tanggal 5 Juli adalah tanggal 1 April di Eropa,” kata Garcia melalui penerjemah dalam perbandingan Hari April Mop.
“Federasi Belgia tidak membela diri, tidak melindungi tim nasional. Mereka membela sepak bola secara umum, mereka membela integritas dan etika mereka. Saya pikir ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia ada keputusan seperti ini,” tambah Garcia.
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) juga menyatakan bahwa mereka terkejut dengan keputusan ini. RBFA juga menyebut akan mengkaji opsi-opsi yang bisa mereka lakukan untuk melawannya.
“Untuk melindungi hak-hak sah semua tim yang berpartisipasi dan untuk melindungi prinsip-prinsip dasar fair play dalam olahraga kita, baik di Piala Dunia FIFA ini maupun di edisi turnamen mendatang, RBFA sedang menyelidiki semua opsi yang mungkin,” kata federasi Belgia dalam sebuah pernyataan.
Tak hanya dari Belgia, pelatih Norwegia Ståle Solbakken juga turut berkomentar terkait hal ini. Menurutnya, keputusan untuk menangguhkan sanksi Balogun adalah keputusan yang buruk.
“Bagaimana dengan kartu merah berikutnya? Apa yang akan terjadi?” kata Solbakken. “Apakah akan ada komite di suatu tempat yang akan mencabut kartu itu? Itu keputusan yang sangat buruk yang akan merugikan Piala Dunia.”
Sementara itu, terkait lobi yang dilakukan Trump, Mauricio Pochettino membela tindakan tersebut. Menurutnya hal itu lumrah dalam budaya sepak bola.
“Saya berasal dari budaya, Argentina atau Eropa, yang menganggap sepak bola sebagai agama, lebih dari sekadar agama,” katanya.
“Jika kita terus maju, mungkin satu langkah lagi besok Anda akan melihat bahwa olahraga ini ajaib, olahraga ini luar biasa, sangat kuat, menyatukan orang, menyatukan negara seperti kita,” tambahnya.
Meskipun penerapan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA menjadi kontroversi, asosiasi sepak bola dunia itu telah menggunakannya berkali-kali. Salah satunya adalah untuk mencabut sanksi Cristiano Ronaldo dan membuat mega bintang Portugal itu bisa dimainkan dalam dua laga awal Piala Dunia 2026.
Hal serupa juga diterapkan untuk bek Argentina Nicolás Otamendi dan gelandang Ekuador Moisés Caicedo pada bulan April lalu. Sanksi kartu merah keduanya ditangguhkan dan dapat dimainkan dalam laga pembuka Piala Dunia 2026.
Editor: Ilham Choirul Anwar & Rizal Amril Yahya
Masuk tirto.id
































