Menuju konten utama
TirtoEco

Piala Dunia 2026, Pesta Sepakbola yang Paling Merusak Lingkungan

Format 48 negara peserta dan 104 pertandingan yang digelar di 3 negara, membuat Piala Dunia 2026 berpotensi menghasilkan total emisi sekitar 15 juta ton. 

Piala Dunia 2026, Pesta Sepakbola yang Paling Merusak Lingkungan
Logo Piala Dunia 2026. X/@FIFAWorldCup
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wajahnya hampir selalu terlihat tatkala kamera menyorot sisi tribune kehormatan. Biasanya, dia duduk berdekatan dengan perwakilan dari negara-negara yang tengah bertanding di lapangan hijau. Tak peduli di mana pertandingan dihelat, mulai dari Guadalajara di Meksiko hingga Vancouver di Kanada, dari San Francisco Bay Area di California sampai Boston di Massachusetts, dia nyaris selalu ada. Dan ini membuat orang bertanya-tanya, "Bagaimana bisa orang ini berada di dua tempat yang berjauhan dalam waktu demikian singkat?"

Gianni Infantino, itulah sosok yang dimaksud. Presiden FIFA ini menjadi salah satu manusia paling sibuk di dunia sepanjang perhelatan Piala Dunia 2026. Dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta dan digelar di tiga negara berbeda, Piala Dunia 2026 memberi tuntutan berbeda bagi Infantino untuk selalu tampil. Apalagi, pada Piala Dunia 2022, pria asal Swiss ini nyaris selalu hadir dalam 64 pertandingan.

Namun, sekali lagi, tuntutan kali ini berbeda. Qatar adalah negara kecil di mana jarak terjauh antara dua venuehanya 46 mil atau 74 km. Sementara, Kanada, Amerika Serikat (AS), dan Meksiko yang menjadi trio tuan rumah edisi 2026 merupakan negara-negara dengan area yang luas. Jadi, bagaimana bisa Infantino melakukan apa yang dilakukannya di Qatar pada Piala Dunia 2026 ini?

Jawabannya adalah jet pribadi.

Pencemaran dan Isu Sponsor

Jet yang digunakan Infantino adalah Gulfstream G650ER, pesawat jet bisnis kelas atas yang dioperasikan oleh Qatar Executive, anak perusahaan premium dari Qatar Airways. Pesawat ini memiliki kecepatan hampir 1.000 km/jam dan jangkauan terbang hingga 13.900 km, dengan kabin yang didesain layaknya kantor sekaligus ruang istirahat pribadi. Jet ini tidak disewa secara pribadi oleh Infantino, melainkan bagian dari kesepakatan sponsorship Qatar Airways dengan FIFA; semacam kompensasi dalam bentuk barang dan jasa.

Tim BBC Verify melacak pergerakan jet ini sepanjang fase grup dan menemukan bahwa pesawat itu telah melakukan 27 penerbangan untuk mengantar Infantino ke 24 pertandingan berbeda. Total jarak yang ditempuh setidaknya 50.122 km, dengan lebih dari 66 jam dihabiskan di udara. Media investigasi Sporting Intelligence bahkan mencatat jarak tempuh Infantino selama fase grup melebihi keliling bumi.

Dari segi emisi, BBC memperkirakan penerbangan jet pribadi ini menghasilkan sekitar 516 ton setara karbon dioksida (CO2e) hanya dalam fase grup saja. Angka itu kurang lebih setara dengan emisi tahunan yang dihasilkan oleh 78 orang biasa. Ironisnya, semua ini terjadi di tengah komitmen FIFA untuk memangkas emisi 50 persen pada 2030 dan mencapai net-zero pada 2040.

Pernyataan Presiden FIFA jelang Piala Dunia 2026

Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan pada sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Gianni mengapresiasi kesiapan pemerintah Meksiko dalam mempersiapkan Piala Dunia 2026 dan menanggapi sejumlah isu yang berkembang seperti keikutsertaan Timnas Iran hingga persoalan VISA. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd

Tapi jelas, jet pribadi sang presiden hanyalah puncak gunung es. Jauh sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, para peneliti sudah memprediksi turnamen ini bakal menjadi yang paling mencemari sepanjang sejarah kompetisi ini digelar. Riset dari Scientists for Global Responsibility (SGR) bersama sejumlah lembaga lain memperkirakan total emisi turnamen mencapai 9,02 juta ton CO2e, hampir dua kali lipat rata-rata historis edisi 2010-2022 yang hanya 4,71 juta ton.

Penyebab utamanya cukup jelas, yakni penerbangan. Format baru dengan 48 negara peserta dan 104 pertandingan membuat perjalanan udara menyumbang 7,72 juta ton dari total emisi tersebut. Forbes bahkan mencatat skenario terburuk bisa membuat emisi dari penerbangan saja menyentuh 13,7 juta ton, sementara Euronews melaporkan total emisi turnamen berpotensi mencapai 15 juta ton.

Masalahnya bukan cuma soal jumlah pertandingan yang bertambah. Lokasi tuan rumah yang tersebar di tiga negara besar, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, membuat tim, ofisial, dan para suporter harus terbang jarak jauh untuk pergi dari satu venue ke venue lain. Berbeda dengan Eropa atau Asia, Amerika Utara tidak memiliki jaringan kereta cepat yang bisa menjadi alternatif transportasi rendah emisi.

Di atas semua itu, ada isu soal sponsor. FIFA menggandeng Aramco, perusahaan minyak milik Arab Saudi sebagai mitra energi resmi sejak 2024 dengan nilai kesepakatan dilaporkan mencapai 100 juta dolar AS per tahun. Aramco, yang 98,5 persen sahamnya dimiliki Pemerintah Arab Saudi, bertanggung jawab atas lebih dari 4 persen emisi global sejak 1965, sekaligus menjadikannya salah satu korporasi pencemar terbesar dalam sejarah.

SGR memperkirakan kemitraan sponsorship dengan Aramco berpotensi memicu tambahan emisi sekitar 29,95 juta ton CO2e, jauh melampaui emisi operasional turnamen. Lebih dari 100 pemain sepak bola perempuan profesional bahkan pernah menandatangani surat terbuka mengecam kemitraan ini karena dianggap bertentangan dengan komitmen iklim FIFA. Selain itu ada pula Qatar Airways, sponsor lain yang menurut inisiatif Play the Game dari Danish Institute for Sports Studies turut menyumbang emisi tidak langsung hingga 70 juta ton.

Upaya FIFA

Meski begitu, FIFA sebenarnya tidak tinggal diam. Salah satu langkah nyata adalah kemitraan dengan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) untuk Piala Dunia 2026, yang mencakup empat area fokus.

Pertama, pengurangan limbah makanan lewat partisipasi FIFA dalam inisiatif Feed It Onward milik EPA. Kedua, pemantauan kualitas udara menggunakan data dari monitor regulasi yang sudah ada di sekitar kota-kota tuan rumah. Ketiga, bantuan teknis untuk pengelolaan limbah padat dan ekonomi sirkular. Keempat, dukungan untuk edukasi lingkungan yang disesuaikan dengan kepentingan tiap kota.

FIFA juga memiliki strategi lingkungan sendiri yang cukup rinci, terbagi dalam tujuh tujuan besar mulai dari infrastruktur berkelanjutan, pengukuran emisi gas rumah kaca, pengurangan polusi udara lokal, pengelolaan limbah sirkular, efisiensi air, hingga perlindungan keanekaragaman hayati. Amy Hopfinger, Chief Strategy and Planning Officer FIFA26 Inc., menyebut kota-kota tuan rumah bukan sekadar mitra penyelenggara, melainkan juga warisan yang bisa memastikan dampak positif bertahan bertahun-tahun setelah turnamen usai.

Di level venue, kemajuannya lebih kentara. Salah satu keputusan besar yang diambil FIFA adalah tidak membangun stadion baru sama sekali untuk edisi ini, cukup memanfaatkan yang sudah ada. Langkah ini terbukti signifikan, karena riset SGR menunjukkan emisi dari konstruksi stadion baru untuk 2026 tercatat nol, dibandingkan rata-rata historis 1,89 juta ton pada edisi-edisi sebelumnya.

Timnas Meksiko kalahkan Ekuador

Sejumlah pesepakbola Timnas Meksiko berselebrasi sambil menyapa suporter mereka usai mengalahkan Timnas Ekuador pada pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026 di di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Timnas Meksiko menang dengan skor 2-0 atas Ekuador dan memastikan langkah ke babak 16 besar. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/tom.

Hal ini diperkuat dengan penggunaan venue seperti Mercedes-Benz Stadium di Atlanta. Stadion ini dilengkapi lebih dari 4.000 panel surya yang menghasilkan sekitar 1,6 juta kWh energi terbarukan per tahun. Impaknya, konsumsi listrik 29 persen lebih rendah dan konsumsi air 47 persen lebih kecil dibanding stadion konvensional.

Upaya keberlanjutan juga merambah ke perlengkapan pertandingan. Nike, misalnya, memproduksi jersey timnas untuk Piala Dunia 2026 dengan teknologi Aero-FIT yang terbuat seluruhnya dari tekstil daur ulang melalui proses daur ulang kimia canggih. Ini menjadi yang pertama kalinya pakaian performa elite Nike terbuat 100 persen dari limbah tekstil.

Tantangan di Masa Depan

Sayangnya, semua upaya ini terasa seperti menambal kapal yang sudah mengalami kebocoran besar. Dengan format dan skala yang ada sekarang, sulit membayangkan Piala Dunia bisa benar-benar jadi turnamen yang berkelanjutan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, tren ini tampaknya akan berlanjut, bahkan mungkin memburuk, di dua edisi mendatang.

Piala Dunia 2030 memang akan dipusatkan di Spanyol, Portugal, dan Maroko, tapi karena edisi ini menandai satu abad sejarah turnamen, tiga pertandingan pembuka akan digelar di Uruguay, Argentina, dan Paraguay, menjadikannya turnamen yang tersebar di enam negara sekaligus. SGR memproyeksikan edisi 2030 nanti akan menghasilkan sekitar 6,09 juta ton CO2e, jumlah yang tetap jauh lebih tinggi dari rata-rata historis sebelum 2026.

Lalu ada Piala Dunia 2034 yang akan digelar di Arab Saudi, negara asal Aramco. SGR memproyeksikan edisi ini akan menjadi yang paling mencemari kedua setelah 2026, dengan estimasi emisi mencapai 8,55 juta ton CO2e, didorong oleh ketergantungan tinggi pada penerbangan sekaligus pembangunan stadion baru. Sebelas stadion yang direncanakan untuk turnamen itu bahkan belum satu pun mulai dibangun.

Jadi, pertanyaannya kini, bisakah industri sepak bola modern benar-benar jadi industri berkelanjutan? Ada satu contoh yang kerap dijadikan rujukan dalam perdebatan ini, yaitu Forest Green Rovers, klub asal Inggris yang oleh FIFA pernah dijuluki sebagai klub sepak bola terhijau di dunia. Sejak 2010, klub yang bermarkas di Gloucestershire ini menjalani perjalanan menjadi klub sepak bola netral karbon pertama di dunia, lengkap dengan panel surya, titik pengisian kendaraan listrik, pitch organik, dan menu yang seluruhnya vegan bagi pemain maupun suporter.

Namun, Forest Green Rovers adalah klub kecil dengan basis suporter lokal yang terbatas, jauh berbeda dari skala Piala Dunia yang melibatkan jutaan penonton lintas benua. Apa yang berhasil diterapkan di satu stadion kecil di Nailsworth tidak serta-merta bisa diskalakan ke turnamen yang melibatkan 48 negara dan 104 pertandingan. Skala besar semacam inilah yang justru menjadi akar masalah, karena semakin besar dan tersebar sebuah turnamen, semakin sulit pula dampak lingkungannya dikendalikan.

Maka, seraya mendorong praktik berkelanjutan di level individu dan kelompok, FIFA harus memberikan contoh, misalnya dengan menunjuk tuan rumah dengan lebih bijak dan lebih selektif dalam memilih sponsor. Turnamen seperti ini bukan mustahil digelar. Buktinya, pada Euro 2024 lalu Jerman sudah sukses mewujudkan itu. Bahkan, gelaran Euro 2024 di Jerman sampai disebut layak dijadikan contoh bagi seluruh perusahaan di dunia dalam mewujudkan target ESG mereka.

Memang, ada risiko di mana turnamen bakal digelar di situ-situ saja karena, harus diakui, tak banyak negara yang punya tingkat kesiapan seperti Jerman. Akan tetapi, justru dari situlah mungkin FIFA harus berpijak. Semua calon tuan rumah harus sudah memiliki apa yang dipunyai Jerman sebagai prasyarat sehingga, sebelum bidding sekalipun, negara-negara itu sudah melakukan segala upaya untuk mewujudkan keberlanjutan. Dan kemudian, menjadi tuan rumah Piala Dunia bakal hadir sebagai hadiah atas segala proses tersebut.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi