Menuju konten utama
Horizon

Erling Haaland Rela Membeli Buku Sejarah Viking Seharga 2 Miliar

Buku Heimskringla yang dibeli Haaland merupakan cetakan tahun 1594. Isinya dianggap sebagai sumber penting untuk membangun identitas nasional Norwegia.

Erling Haaland Rela Membeli Buku Sejarah Viking Seharga 2 Miliar
Timnas Norwegia menjalani sesi pemotretan berdandan ala orang Viking sebelum berangkat ke Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat. (Instagram/@herrelandslaget)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ribuan suporter Timnas Norwegia duduk berjajar di atas aspal Times Square, peron stasiun kereta bawah tanah Boston, hingga di dalam stadion. Tanpa komando, mereka duduk berbaris memanjang ke belakang, memegang sebilah dayung imajiner, lalu mengayunkan tubuh secara serempak. Setiap hentakan diakhiri teriakan "Ro!" atau "Row!", disusul gerakan mendayung. Aksi ini dikenal sebagai Viking Row, dan segera mencuri perhatian publik.

Aksi tersebut merupakan gaya para pelaut Viking ketika mendayung kapal melintasi lautan Atlantik. Ide menghidupkan kembali ritual ini muncul dari Ole Frøystad, anggota kelompok suporter Oljeberget.

Ia terinspirasi dari pendukung klub Rosenborg saat memainkan pertandingan kandang. Mereka memiliki nyanyian yang memecah kata Rosenborg menjadi tiga suku kata, Ro-sen-borg, yang diteriakkan berulang-ulang oleh para suporter.

Semangat kolektif itu kemudian terbawa ke lapangan hijau saat mendukung Erling Haaland di Piala Dunia 2026. Ia mencetak dua gol ke gawang Irak, menyarangkan dua gol tambahan saat melawan Senegal, dan menjadi penentu kemenangan atas Pantai Gading pada fase gugur.

Dengan tubuh jangkung, rambut pirang panjang, dan gaya bermain yang eksplosif, ia tampak seperti pejuang Nordik masa kini. Namun, di balik citranya, tersimpan sisi lain Erling Haaland. Pada Desember 2025, ia mengeluarkan 1,3 juta kroner Norwegia atau sekitar 2 miliar rupiah, untuk membeli sebuah buku cetakan abad ke-16.

Lelang itu memecahkan rekor sebagai penjualan buku termahal dalam sejarah Norwegia.

Mengapa Erling Haaland rela merogoh kocek besar untuk sebuah buku berusia lebih dari 400 tahun? Apakah sekadar hobi, atau ada motivasi lain di balik pilihannya itu?

Viking Row di Piala Dunia 2026

Erling Haaland (nomor punggung 9) dari Norwegia dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan bersama para penggemar setelah pertandingan Babak 32 Besar Piala Dunia FIFA 2026 yang berakhir dengan skor 2-1 antara Pantai Gading dan Norwegia di Stadion Dallas pada 30 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Photo by Lars Baron/Getty Images via AFP)

Bukan Koleksi, tetapi Warisan Kampung Halaman

Akhir 2025, rumah lelang Scandinavian Art & Rare Book Auctions yang berbasis di Oslo menawarkan sebuah koleksi langka. Koleksi itu berasal dari Johan Fredrik Odfjell, seorang pengusaha sekaligus kolektor yang gemar mengumpulkan buku-buku tentang sejarah kutub, ornitologi, hingga naskah kuno.

Di antara karya ekspedisi Roald Amundsen dan Ernest Shackleton, terselip sebuah buku historiografi Nordik cetakan tahun 1594. Nilai awalnya diperkirakan 800 ribu hingga 1,2 juta kroner. Namun, lelang berakhir di angka 1,3 juta yang melampaui semua perkiraan, dan dimenangkan oleh sosok misterius.

Identitas pembeli terungkap ke publik lewat siaran pers pemerintah kota Time (Time kommune), sebuah munisipalitas di wilayah Jæren, Norwegia. Erling Braut Haaland, bersama ayahnya Alf-Inge Haaland—yang juga mantan pemain sepak bola—adalah pembeli sah naskah bersejarah tersebut.

Tak lama kemudian, buku itu diserahkan ke kota Bryne, kampung halaman Haaland, dengan syarat khusus.

"Saya bukan pembaca yang rajin, tetapi saya ingin buku ini selalu terbuka sehingga orang-orang dapat membaca tentang mereka yang berasal dari tempat saya, dari Bryne dan Jæren," kata Haaland. "Dengan begitu, akan lebih mudah menumbuhkan minat membaca, ketika Anda dapat mengenali diri Anda sendiri dalam diri orang-orang yang ditulis dalam buku tersebut," sambungnya.

Jæren adalah dataran rendah pesisir di barat daya Norwegia, berhadapan langsung dengan Laut Utara. Berbeda dari lanskap Norwegia yang penuh pergunungan dan fyord, Jæren berupa hamparan tanah datar berbatu, sisa endapan zaman es. Alamnya keras, kerap diterpa angin serta curah hujan yang tinggi.

Penulis terkenal Arne Garborg lahir di Jæren, dan sepanjang hidupnya menulis tentang identitas masyarakat Jæren. Melalui novelnya berjudul Fred (1892), Arne menggambarkan kehidupan masyarakat agraris Jæren yang bergulat dengan tanah, perubahan ekonomi, dan tekanan religius. Lanskap keras serta kerja fisik yang berat menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.

Banyak warga Norwegia mengenal stereotipe Jærbuen sebagai pribadi pekerja keras, dan tahan menghadapi kesulitan. Sifat-sifat itulah yang kerap dilekatkan pada gaya bermain Haaland di lapangan yang ngotot, lugas, dan efisien.

Meski lahir di Inggris dan kini membela klub-klub besar Eropa, ikatan psikologisnya tak pernah luntur. Keluarga besar Haaland pun lahir dan tumbuh di wilayah ini. Kakek-neneknya adalah guru di sekolah lokal, sementara Alfie dan Erling sama-sama menempuh pendidikan dasar di Bryne.

Kini, buku sumbangan tersebut ditempatkan di Time folkebibliotek, perpustakaan yang berdiri sejak 1853. Awalnya lahir dari perkumpulan membaca paroki Lye pada 1831, perpustakaan ini berpindah-pindah hingga akhirnya menetap di gedung modern yang menyatu dengan Nasjonalt Garborgsenter di Bryne sejak 2010.

Di sanalah warga Bryne menjadikannya sebagai ruang publik untuk diskusi, kegiatan budaya, hingga membaca berbagai literatur. Berkat Haaland, mereka kini dapat melihat langsung salah satu naskah paling penting dalam sejarah Norwegia.

Erling Haaland

Erling Haaland (nomor punggung 9) dari Norwegia merayakan kemenangan 2-1 dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Pantai Gading dan Norwegia di Stadion Dallas pada 30 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Photo by Stacy Revere / Getty Images via AFP)

Mengapa Buku Viking Ini Sangat Berharga?

Karya yang ditebus Erling Haaland merupakan edisi cetak tahun 1594 dari Heimskringla, karya penting sejarah Nordik. Nilainya melonjak karena diyakini sebagai satu-satunya salinan utuh yang masih dimiliki kolektor pribadi. Sebagian besar salinan lain tersimpan di perpustakaan nasional maupun koleksi universitas.

Kondisinya sangat terawat untuk ukuran buku berusia lebih dari empat abad, meski tampak noda lembap, beberapa lubang kecil di lembaran awal, dan anotasi tinta dari abad ke-19.

Naskah asli Heimskringla pada awalnya ditulis sekitar tahun 1230 oleh Snorri Sturluson, seorang sejarawan, penyair, dan politikus berpengaruh asal Islandia. Nama Heimskringla bukan berasal dari judul yang diberikan Snorri sendiri. Sebutan itu diambil dari dua kata pembuka manuskrip, Kringla heimsins (lingkaran dunia), yang kemudian digunakan para filolog sebagai nama karya tersebut.

Snorri merangkum tradisi lisan, puisi skaldik, dan silsilah turun-temurun menjadi kronik sejarah yang sistematis. Heimskringla memuat saga Ynglinga yang penuh mitos, kisah Harald Fairhair yang menyatukan Norwegia, hingga epos Olaf Tryggvason. Selain mengisahkan pergantian para raja secara kronologis, Heimskringla juga memuat strategi perang, perebutan kekuasaan, diplomasi, hingga gambaran kehidupan masyarakat Skandinavia abad pertengahan.

Buku yang dibeli Haaland merupakan hasil terjemahan dan rangkuman Mattis Størssøn, hakim sekaligus pemikir humanis di Bergen abad ke-16. Ia menerjemahkan saga bahasa Nordik Kuno ke Denmark pada 1540-an, memakai manuskrip kuno seperti Kringla dan Codex Frisianus.

Setelah Mattis wafat pada 1569, naskahnya sampai ke tangan historiografer Denmark Arild Huitfeldt. Setelah disunting Jens Mortensen, karya ini dicetak di Kopenhagen pada 1594 dengan judul Norske Kongers Krønicke. Nama Mattis tak tercantum, baru diungkap sejarawan Gustav Storm pada 1873.

Pada abad ke-19, ketika nasionalisme Norwegia tumbuh dan negara itu berusaha melepaskan diri dari dominasi Denmark serta Swedia, karya Snorri Sturluson kembali dibaca sebagai sumber penting untuk membangun identitas nasional.

Sandra Ballif Straubhaar (1999) menyebut edisi yang disunting Gustav Storm pada 1899 sebagai "narasi kejadian" bagi nasionalisme Norwegia, yakni teks lama yang memberi bangsa muda itu asal-usul, silsilah, dan masa lalu heroik untuk dibayangkan bersama.

Straubhaar juga menyebut bahwa penerbitan edisi 1899–1900 membuat Parlemen Norwegia ikut mensubsidi agar buku tersebut bisa dijual murah dan menyebar luas. Karena itulah, bagi banyak orang Norwegia, Heimskringla merupakan salah satu karya yang membantu menjelaskan asal-usul bangsanya. Di titik inilah pilihan Haaland memperoleh makna yang berbeda dibanding sekadar membeli barang koleksi.

Timnas Norwegia Ala Viking

Timnas Norwegia menjalani sesi pemotretan berdandan ala orang Viking sebelum berangkat ke Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat. (Instagram/@davidyarrow)

Viking dari Lapangan Hijau

Dalam dunia olahraga modern, aksi filantropi dari atlet papan atas sudah menjadi hal lumrah. Sebagian mendirikan yayasan, membangun sekolah atau rumah sakit, serta mendanai riset medis. Ada pula yang mengoleksi karya seni atau membangun museum pribadi untuk menyimpan trofi sepanjang kariernya.

Namun Haaland memilih jalan lain dengan membeli sebuah buku berusia lebih dari empat abad, lalu menyumbangkannya ke perpustakaan di kampung halamannya. Haaland mengakui bahwa ia hidup dalam mimpi yang jarang dimiliki orang lain.

"Buku memberi lebih banyak orang kesempatan untuk bermimpi besar, melihat kemungkinan-kemungkinan baru dan menemukan jalan mereka sendiri," ungkapnya.

Sepak bola membawa Haaland menjadi salah satu pesepak bola paling terkenal di dunia. Ia mencetak gol di stadion-stadion besar Eropa, meraih kekayaan, sekaligus menjadi wajah sepak bola Norwegia.

Citra Viking bukan hal baru dalam perjalanan Haaland. Pada 2023, ia berkolaborasi dengan fotografer David Yarrow dalam pemotretan amal yang menampilkan dirinya sebagai sosok pejuang Nordik lengkap dengan pedang, perisai, dan balutan bulu.

"Jika Anda harus memilih satu olahragawan di dunia yang tidak membutuhkan banyak rambut dan riasan agar terlihat seperti Viking, itu adalah Erling Haaland," ujar Yarrow.

Meski tidak berkaitan langsung dengan Heimskringla, citra tersebut menunjukkan bagaimana simbol-simbol sejarah Nordik terus hadir dalam representasi publik dirinya. Donasi buku langka itu pun terasa selaras dengan upaya menjaga warisan budaya yang sama.

Lebih jauh, aksi nyata juga ia tunjukkan lewat EH9 Foundation, yang bekerja sama dengan Time kommune dan perpustakaan Bryne untuk menggelar kompetisi membaca bagi pelajar sekolah menengah dan kejuruan mulai tahun ajaran 2026/2027.

Formatnya adalah kelas yang membaca buku terbanyak akan dihadiahi pengalaman istimewa, misalnya menonton langsung pertandingan tim nasional Norwegia di Stadion Ullevaal, Oslo, dan bertemu Haaland beserta rekan setimnya.

Dengan cara itu, daya tarik sepak bola akhirnya mendorong minat baca pelajar, menjadikan sastra dan olahraga saling melengkapi dalam ruang yang sama.

Jika Viking Row menghidupkan kembali semangat para pelaut Norse di stadion, Heimskringla menjaga kisah mereka tetap hidup di perpustakaan Bryne. Sementara Haaland terus mencetak gol di lapangan, warisannya di kampung halaman mungkin justru akan dikenang lewat halaman-halaman tua yang membantu generasi baru di Bryne memahami dari mana mereka berasal.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi