Menuju konten utama
Mozaik

Skandal Gijon 1982 dan Dendam Aljazair pada Laga Settingan

Aljazair membawa misi balas dendam di laga kontra Austria, meski akhirnya berujung seri. Dendam itu berkaitan dengan laga settingan 1982 di Gijon, Spanyol.

Skandal Gijon 1982 dan Dendam Aljazair pada Laga Settingan
Skandal Disgrace of Gijon 1982. wikimedia/Elgrafico
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Duel Austria vs. Aljazair di jadwal laga terakhir Grup J Piala Dunia 2026 berlangsung alot. Pertandingan tersebut menjadi salah satu yang paling sengit, dibanding laga lain sepanjang fase grup, dengan skor akhir 3-3.

Pertemuan yang terjadi pada Minggu (28/6) dini hari waktu Indonesia itu memang "sewajarnya" berjalan ketat, terutama bagi Aljazair. Sebab, sejak awal mereka membawa misi balas dendam.

Aljazair pernah kalah lawan Austria dengan skor 2-0 di Piala Dunia 1982 yang digelar di Spanyol. Tapi, dendam mereka bukan tersebab itu, melainkan karena di ajang tersebut, Austria dan Jerman Barat terlibat skandal Disgrace of Gijón, yang akhirnya menyingkirkan Aljazair dari fase grup.

Hilangnya Sportivitas di Gijon

Musim panas 1982 di Spanyol, negara peserta Piala Dunia bertambah dari 16 menjadi 24 tim. Grup 2 mempertemukan Jerman Barat, Austria, Cile, dan tim debutan: Aljazair. Di atas kertas, Jerman Barat, yang kala itu baru saja menjadi juara Eropa, merupakan tim unggulan. Mereka datang dengan skuad bertabur bintang (seperti Karl-Heinz Rummenigge, Paul Breitner, Felix Magath, dan Uli Stielike) serta rekor kualifikasi nyaris sempurna.

Sang pelatih, Jupp Derwall, sempat sesumbar dirinya akan melompat ke kereta pertama untuk pulang ke Munich jika timnya sampai kalah di laga pembuka melawan Aljazair. Begitu juga sejumlah pemainnya, yang berkelakar di hadapan media bahwa mereka bakal mendedikasikan gol ketujuh untuk istri dan gol kedelapan untuk anjingnya—saking kelewat yakinnya mereka bakal mampu menang banyak dan mencetak lebih dari 7 gol.

“Seorang pemain bahkan mengatakan bahwa dia akan bermain melawan kami dengan cerutu di mulutnya,” kata bek Aljazair, Chaabane Merzekane.

Aljazair, yang baru dua dekade merdeka, datang membawa misi mengangkat martabat bangsa. Skuad berjuluk Rubah Gurun itu solid terbentuk karena aturan domestik yang menahan pemain tetap di liga lokal hingga usia 28 tahun. Dalam laga pemanasan, mereka sudah membuktikan dengan menaklukkan tim kuat, seperti Republik Irlandia, Real Madrid, dan Benfica.

Pada 16 Juni, di Stadion El Molinón, Gijón, kesombongan Jerman Barat dibayar lunas oleh Aljazair. Skuad Rubah Gurun menundukkan Jerman Barat dengan skor 2-1. Keesokan harinya, giliran Austria yang memenangkan duel kontra Cile 1-0.

Kemenangan Aljazair itu mengejutkan banyak pengamat; Jerman Barat dipermalukan; dan janji Derwall menjadi bahan olok-olok.

“Empat hari kemudian, Jerman Barat kembali ke performa terbaiknya—Rummenigge mencetak hat-trick—dalam kemenangan telak 4–1 atas Chili di Gijón,” tulis Clemente A. Lisi dalam The FIFA World Cup: A History of the Planet's Biggest Sporting Event (2022:152).

Di sisi lain, Aljazair kalah 2-0 di laga kedua melawan Austria. Meski begitu, mereka berhasil menang tipis 3-2 di partai akhir melawan Cile.

Saat itu, angka tiap kemenangan masih bernilai dua poin. Artinya, Aljazair dan Austria sudah mengumpulkan empat poin, sedangkan Jerman Barat baru mengantongi dua poin.

Selisih poin itu bisa terjadi karena jadwal laga saat itu tidaklah serentak. Beberapa tim bisa saja bermain tiga kali lebih dulu, sedangkan yang lain baru dua kali. Jadwal acak itulah yang membuka celah dan akhirnya dimanfaatkan Jerman Barat dan Austria pada 25 Juni 1982.

Perhitungannya, jika Jerman Barat menang dengan selisih satu atau dua gol, kedua tim Eropa itu lolos bersama; jika selisihnya lebih dari dua gol, Aljazairlah yang lolos; dan jika Jerman kalah atau seri, Austria dan Aljazair yang akan maju.

Awalnya pertandingan tampak berjalan normal. Jerman Barat langsung keluar menyerang. Menit ke-10, Horst Hrubesch membuka skor, memanfaatkan umpan silang Pierre Littbarski dari sisi kiri pertahanan Austria.

Namun, sejak itulah kejanggalannya terlihat. Setelah skor berubah 1-0, intensitas permainan menurun. Tidak ada tekel, tidak ada sprint, tidak ada usaha mencetak gol. Selama 15 menit terakhir babak pertama, permainan benar-benar berubah menjadi sesi latihan operan pendek monoton. Kiper Jerman Barat, Harald Schumacher, dan kiper Austria, Friedl Koncilia, menghabiskan waktu dengan santai di areanya masing-masing tanpa ancaman tembakan sama sekali. Sesama pemain dari kedua tim pun mulai saling berbisik.

Data statistik menyebut hanya dua tembakan yang terjadi di babak kedua dan selama 40 menit terakhir, tidak ada satu pun tembakan ke gawang. Bahkan, hanya ada 0,9 persen sentuhan bola terjadi di kotak penalti lawan.

Memicu Kemarahan Publik

Suasana stadion memanas. Empat puluh ribu lebih penonton bersiul dan mencemooh. Suporter lokal asal Spanyol dan Aljazair mengejek dengan teriakan “Fuera! fuera! [Keluar! keluar!]” dan “Que se besen, que se besen! [Suruh mereka berciuman!]”. Mereka mengangkat uang kertas ke udara, lalu tampak hendak menggeruduk lapangan, tetapi polisi mencegahnya.

Skandal Disgrace of Gijon 1982

Jerman vs. Austria (Gijón, Spanyol). Piala Dunia FIFA 1982; Jerman (DFB) vs. Austria (1–0). Suporter Aljazair mengibarkan uang kertas dan memprotes kolusi antara kedua tim terkait hasil pertandingan. Foto/Reuters

Skor tipis 1-0 berakhir hingga laga berakhir. Namun, celaan itu tidak berhenti setelah peluit panjang.

Reaksi juga datang dari pejabat dan tokoh sepak bola. Kemarahan pun meluas ke siaran televisi. Robert Seeger, komentator olahraga asal Austria, bahkan meminta penonton mematikan televisinya.

“Saat itu saya tidak memikirkan konsekuensinya. Tapi ada keributan besar setelahnya. Beberapa pemain bahkan menyerukan pengunduran diri saya, tetapi orang-orang Austria sepenuhnya mendukung saya,” kenang Seeger.

Koran El Comercio, lewat keterangan wartawan Carlos Garcia, memutuskan untuk memindahkan laporan pertandingan Jerman Barat versus Austria dari halaman olahraga ke seksi berita kriminal dan menuduh publik telah ditipu. Ia juga menjadi saksi mata ketika bus tim Jerman Barat dilempari telur.

Penggemar Jerman Barat terlibat insiden ketika mereka kembali ke hotel. Mereka merespons cemooh dari penggemar sepak bola dengan cara menjatuhkan kantong plastik berisi air dari jendela lantai delapan ke kerumunan di bawahnya.

“Massa membalas dengan melemparkan kembali tomat,” tulis The Cayman Compasscetakan 28 Juni 1982.

Akibat peristiwa itu, muncul komentar bernada rasis dari pejabat Austria, Hans Tschak, yang meremehkan protes suporter Aljazair dengan menyebut mereka “putra gurun” dan “syekh dari oasis” yang tidak pantas bersuara.

FIFA tidak menghukum Jerman Barat maupun Austria. Tanpa ketegasan dan efek jera bagi tim pelaku, federasi sepak bola sejagat itu langsung memikirkan untuk mengubah sistem jadwal agar laga terakhir grup dimainkan serentak.

Satu Skandal yang Mengubah Turnamen

“Kami telah mengajukan protes resmi kepada FIFA yang menuntut diskualifikasi Jerman Barat dan Austria karena mereka melanggar prinsip sportivitas dengan kurangnya ambisi dan semangat juang,” ujar Benali Sekkal, presiden Federasi Sepak Bola Aljazair, dikutip dari surat kabar Eugene Register-Guard, 26 Juni 1982.

FIFA merespons melalui laporan wasit Bob Valentine dan perangkat pertandingan. Bahwasanya tidak ada pasal yang melarang tim bermain pasif atau mengoper bola ke belakang; tidak ada kewajiban tertulis untuk terus menyerang.

Meski begitu, tekanan publik tidak bisa diabaikan. Citra turnamen dikritik dan kemarahan meluas. FIFA akhirnya mengakui akar masalah ada pada format fase grup. Selama jadwal laganya bergantian, selalu ada peluang bagi tim yang belum bertanding untuk menghitung hasil paling menguntungkan dan berbuat culas.

Dengan begitu, mengubah jadwal menjadi serentak membuat peluang itu hilang. Setiap gol yang tercipta di stadion lain bisa mengubah posisi klasemen dalam hitungan detik. Sebuah tim tidak bisa bermain bermain aman karena mereka tidak pernah benar-benar tahu hasil yang sedang dipertahankan masih cukup untuk lolos atau tidak.

FIFA pun mengubah aturan penjadwalan, dimulai pada Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 1986. Semua laga terakhir grup wajib dimainkan bersamaan. Karena dianggap cukup efektif, aturan tersebut diadopsi luas, menjadi standar di Copa America, Piala Asia, Liga Champions, hingga liga domestik.

Meski begitu, kasus serupa tetap muncul setelahnya, walau lain bentuk. Pada Euro 2004, Swedia dan Denmark sudah tahu, skor imbang 2-2 atau lebih besar akan meloloskan keduanya ke perempat final dan menyingkirkan Italia, tak peduli seberapa besar skor kemenangan Italia atas Bulgaria.

Pertandingan berjalan sangat ketat hingga menit-menit akhir. Denmark sempat unggul 2-1, sebelum disamakan jadi 2-2 pada menit ke-89. Setelahnya, kedua tim mendadak berhenti menyerang di sisa waktu.

Karena kondisi itulah, Italia, meski di laga lain menang melawan Bulgaria, tetap tersingkir di fase grup.

Di Italia, fenomena itu dikenal dengan istilah biscotto, merujuk pada es krim yang dijepit oleh dua buah biskuit yang tidak saling bersentuhan atau menyerang. Namun, keduanya secara bersamaan menjepit dan memeras keluar es krim di tengahnya. Dalam sepak bola, es krim di tengah melambangkan tim ketiga yang menjadi korban eliminasi.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin