Menuju konten utama

Tekanan Likuiditas Dua Arah Hantui Perbankan di Semester II

Likuiditas perbankan tertekan dari sisi domestik dan eksternal, berpotensi meningkatkan biaya dana bank pada semester II 2026.

Tekanan Likuiditas Dua Arah Hantui Perbankan di Semester II
Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Rudy Basyir Ahmad (kiri) serta Chief Economist Permata Bank Josua Pardede (kanan) dalam kegiatan Permata Bank Public Expose 2026, Jakarta, Kamis (12/3/2026). tirto.id/Dok: Merlina Arayanti
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan likuiditas perbankan Indonesia menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus pada semester pertama tahun ini. Kondisi ini berpotensi membuat biaya dana perbankan semakin menantang pada semester II 2026.

Dari sisi domestik, tekanan tersebut terlihat dari meningkatnya likuiditas berlebih perbankan yang ditempatkan pada instrumen Bank Indonesia, terutama melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hingga akhir Juli atau awal Agustus 2026, penempatan tersebut naik sekitar Rp328 triliun.

Pada saat yang sama, total monetary operation—yang tercermin dari pergeseran kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN)—turun Rp153 triliun.

Kepemilikan perbankan turun hampir Rp257 triliun, sementara Bank Indonesia bertambah Rp98 triliun dan sektor asuransi serta dana pensiun naik Rp143 triliun. Investor asing juga menambah kepemilikan sekitar Rp18 triliun.

“Artinya memang kalau kita lihat memang tidak melemah signifikan, struktur pembelinya saja yang mungkin ada sedikit perubahan,” kata Josua dala alam Permata Institute for Economic Research (PIER) economic review kuartal II 2026 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (11/8/2026).

Josua menuturkan, penempatan ekses likuiditas pada instrumen BI tersebut tak lepas dari imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang SBN.

Dalam lelang SRBI terakhir, tingkat imbal hasil tenor 12 bulan mencapai 7,59 persen, tenor 9 bulan 7,4 persen, dan tenor 6 bulan 7,9 persen. Meski mulai melandai dalam beberapa lelang terakhir, menurutnya, tingkat imbal hasil SRBI masih lebih tinggi dibandingkan awal tahun, dengan kenaikan lebih dari 200 basis poin.

Kondisi ini membuat porsi pembelian SBN yang pada tahun lalu lebih banyak ditopang perbankan, kini mulai didominasi asuransi, dana pensiun, dan Bank Indonesia.

Sementara itu, di sisi eksternal, tekanan likuiditas berasal dari penurunan net foreign asset (NFA) akibat arus keluar dari pasar modal. Josua mencatat NFA mengalami kontraksi 3,2 persen pada Juni 2026, menjadi kontraksi pertama dalam siklus tersebut.

“Artinya memang likuiditas ini mengetat dari dua sisi sekaligus,artinya ini tadi akan menciptakan lingkungan cost of fundyang juga cukup challenging bagi perbankan di semester kedua tahun ini,” jelas Josua.

Baca juga artikel terkait LIKUIDITAS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana