Menuju konten utama

Survei BI: Likuiditas Perusahaan Melambat Jadi 15,03% di Q2/2026

Likuiditas, laba, dan akses kredit dunia usaha melambat pada triwulan II 2026, namun aktivitas bisnis tetap meningkat ditopang sektor riil.

Survei BI: Likuiditas Perusahaan Melambat Jadi 15,03% di Q2/2026
Gedung Bank Indonesia di Solo. Flickr/Aditya Darmasurya
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) melalui survei Kegiatan Dunia Usaha mengungkapkan kondisi keuangan perusahaan masih dalam kondisi baik, meskipun likuiditas perusahaan melambat pada triwulan II 2026. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih (SB) Likuiditas triwulan II 2026 yang tercatat sebesar 15,03 persen, turun dari triwulan sebelumnya yang masih sebesar 17,05 persen.

“Persentase responden yang menjawab kondisi likuiditas pada triwulan II 2026 naik sebesar 22,78 persen, lebih rendah dibandingkan 23,98 persen pada triwulan sebelumnya,” tulis bank sentral dalam hasil survei tersebut, dikutip Jumat (17/7/2026).

Sejalan dengan itu, kondisi rentabilitas atau kemampuan perusahaan untuk mencetak laba juga mengalami penurunan. Per akhir Juni 2026, SB Rentabilitas perusahaan hanya tumbuh sebesar 11,87 persen, lebih rendah dibanding periode akhir Maret 2026 yang masih sebesar 14,87 persen.

“Persentase responden yang menjawab kondisi rentabilitas pada triwulan II 2026 ‘lebih baik’ sebanyak 22,34 persen, menurun dibandingkan 24,04 persen pada triwulan sebelumnya,” kata Bank Indonesia.

Tidak hanya itu, meskipun responden menilai akses kredit perbankan untuk dunia usaha pada triwulan II 2026 tetap mudah, namun pinjaman yang disalurkan turut melambat. Hal ini tercermin dari SB Akses Kredit yang hanya tercatat sebesar 2,45 persen pada triwulan II 2026, lebih rendah dibandingkan SB Akses Kredit 4,84 persen pada triwulan I 2026.

“Persentase responden yang menjawab ‘lebih mudah’ sebesar 7,03 persen, lebih rendah dibandingkan 8,77 persen pada triwulan sebelumnya,” demikian bunyi hasil survei Bank Indonesia.

Namun demikian, Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha meningkat pada triwulan II 2026, tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,97 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan SBT pada triwulan sebelumnya sebesar 10,11 persen. Meningkatnya kegiatan usaha tersebut didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama.

“Antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada triwulan II 2026,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Ramdan Denny Prakoso.

Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 73,80 persen, meningkat dibandingkan dengan realisasi pada triwulan I 2026 sebesar 73,33 persen. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik. Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek Likuiditas maupun Rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah.

Dengan berbagai kondisi tersebut, kegiatan usaha pada triwulan III 2026 diperkirakan terjaga dengan SBT sebesar 11,75 persen. Tidak hanya itu, kinerja lapangan usaha juga diramal meningkat, terutama pada LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.

“Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diperkirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan,” tutup Ramdan.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana