tirto.id - Pemerintah merespons maraknya kasus main hakim sendiri yang belakangan terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah kasus maling ayam di Lampung hingga terduga pelaku pencurian meninggal dunia dan pertikaian di daerah Jalan Tambak, Jakarta Pusat.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Polkam), Djamari Chaniago, menyebut pemerintah sudah melakukan sejumlah upaya guna mencegah peristiwa kasus main hakim sendiri terulang. Pada saat peristiwa terjadi pun, penanganan dilakukan dengan cepat dan melibatkan instansi terkait.
"Kami akan turun bersama-sama dengan masyarakat juga untuk membatasi ini. Dan supaya tidak terjadi juga di daerah lain," kata Djamari dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).
Langkah Pencegahan dan Patroli Bersama TNI-Polri
Djamari menegaskan, dari peristiwa yang telah terjadi, dia mencontohkan seperti konflik di Jalan Tambak, Jakarta Pusat, telah dilakukan patroli oleh kepolisian pada malam, sore, dan pagi hari. Saat peristiwa terjadi pun dilakukan penambahan personel dari TNI untuk melokalisir kejadian agar tidak berkembang di tempat lain.
Dia pun menilai, peristiwa tersebut adalah rentetan dari kejadian awal yang seharusnya bisa diselesaikan.
"Tahap berikutnya adalah menyelesaikannya itu, secara kekeluargaan. Dan sudah berhasil. Upaya yang paling penting adalah pencegahan. Nah pencegahan ini yang dilakukan lewat pemerintah daerah memberikan pemahaman kepada masyarakat kita dan mencegah terjadinya persoalan yang besar sekali.
Kronologi Bentrok Jalan Tambak Dipicu Knalpot Bising
Sebelumnya, seorang warga bernama Agus (nama disamarkan), menceritakan awal mula bentrok di Jalan Tambak. Pedagang di sekitar lokasi kejadian ini, menjelaskan bahwa keributan murni bermula dari rasa tersinggung akibat suara bising knalpot sepeda motor.
"Bukan karena enggak bayar, awalnya beli bubur, udah beli, motor digeber-geber kan knalpotnya gede. Ada yang menegur. Udah pulang, balik lagi teman bawa teman-temannya kira-kira ada 10 orang datang dan mengumpat-umpat," kata Agus.
Kemudian, Pengurus Masjid Jami’ Matraman, Rino Prabowo, meluruskan informasi keliru yang sempat memicu ketegangan lanjutan, sekaligus menegaskan bahwa bangunan masjid sama sekali tidak menjadi sasaran perusakan.
"Pokoknya tidak ada perusakan masjid. Dan bukan karena enggak bayar makan, dia habis makan bubur dan bayar. Awalnya sempat berisikan motor, karena tak terima ditegur, akhirnya datang lagi membawa pasukan," jelas Rino saat ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026).
Aparat Berhasil Redam Aksi Solidaritas Massa
Rino mengungkapkan bahwa pada malam setelah kejadian awal, kelompok massa sempat kembali mendatangi lokasi dengan membawa senjata tajam dan busur panah.
Kedatangan mereka dipicu oleh rasa kecewa dan solidaritas atas rekan mereka yang mengalami luka parah hingga meninggal dunia di rumah sakit. Namun, aksi balasan tersebut berhasil digagalkan sebelum membesar.
"Mereka datang untuk menunjukkan kekecewaan, tetapi semua berhasil dihadang, diredam, dan diberikan pengertian oleh pihak Polri dan TNI. Kedua belah pihak bisa sama-sama menahan diri sehingga terkendali dan tidak terjadi apa-apa lagi," tutur Rino.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































