tirto.id - Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, mengingatkan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menaruh perhatian serius terhadap kondisi psikologis anak dari pencuri ayam yang tewas diamuk massa di Bali.
Menurutnya, peristiwa tragis tersebut berpotensi meninggalkan trauma mendalam yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak apabila tidak segera ditangani secara profesional.
Marinus mengatakan, anak yang masih duduk di bangku kelas 1 SD itu tidak hanya kehilangan sosok ayah, tetapi juga harus menyaksikan secara langsung peristiwa yang sangat traumatis.
"Saya sangat prihatin karena seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SD harus menyaksikan secara langsung ayahnya meninggal dunia akibat tindakan kekerasan tersebut. Peristiwa ini meninggalkan luka psikologis yang sangat dalam. Dampaknya bisa memengaruhi perkembangan mental, emosional, bahkan masa depannya apabila tidak segera mendapatkan pendampingan yang memadai," ujar Marinus dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026) dilansir dari Antara.
Ia menegaskan negara memiliki kewajiban memberikan perlindungan dan pemulihan kepada anak yang menjadi korban, termasuk korban tidak langsung dari suatu tindak pidana.
Hal tersebut kata Marinus telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menjamin setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan serta mendapatkan rehabilitasi dan pendampingan.
Karena itu, Marinus meminta pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait, bersama pemerintah daerah, segera memberikan layanan pendampingan psikologis kepada anak korban agar proses pemulihan dapat dilakukan sedini mungkin.
"Pendampingan psikologis tidak boleh ditunda. Anak ini membutuhkan perhatian khusus agar trauma yang dialaminya tidak berkembang menjadi gangguan yang berdampak pada kehidupan dan masa depannya. Negara harus hadir memastikan hak-haknya terlindungi," tegasnya.
Marinus menambahkan, perlindungan terhadap korban tidak boleh berhenti pada korban yang meninggal dunia.
Menurutnya, keluarga korban, khususnya anak-anak yang mengalami trauma akibat menyaksikan langsung tindak kekerasan, juga harus menjadi fokus dalam sistem perlindungan korban.
"Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perlindungan korban harus mencakup keluarga, terutama anak-anak yang mengalami trauma. Mereka membutuhkan pendampingan, rehabilitasi, dan jaminan agar dapat kembali menjalani kehidupan secara sehat, aman, dan bermartabat," ucap Marinus.
Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menambahkan negara tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat.
“Fenomena ini merupakan peringatan serius, bahwa negara tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Rieke.
Dia menegaskan, penyelesaian setiap persoalan di negara hukum harus dilakukan melalui mekanisme hukum yang adil, bukan melalui tindakan balas dendam, atau penghukuman oleh massa.
Ia mengingatkan, ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap proses hukum, ruang bagi kekerasan akan semakin terbuka yang pada akhirnya mengancam persatuan bangsa.
Penegakan hukum yang berkeadilan, penguatan solidaritas sosial, serta kehadiran negara yang berpihak pada rakyat, kata dia, diperlukan, di tengah tekanan ekonomi, meningkatnya kerentanan sosial, dan ketidakpastian global, serta stabilitas nasional yang terjadi saat ini.
Sebelumnya, seorang pria berinisial KD yang diduga mencuri ayam di Tabanan, Bali, tewas usai dikeroyok massa. Sebelum tewas, KD dituduh mencuri ayam dan kemudian diamuk massa yang kemudian marah. Berikut sejumlah fakta insiden kematian KD hingga nasib anak-anaknya.
Peristiwa pengeroyokan berujung maut itu terjadi pada Jumat (24/7/2026) lalu. KD tewas dikeroyok di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.
Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik setelah videonya juga viral di media sosial. Tak sedikit pihak yang menyayangkan aksi main hakim sendiri tersebut.
Kini, kasus ini turut diproses oleh polisi. Sementara korban pengeroyokan tewas meninggalkan istri dan anak-anaknya.
Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyiapkan pendampingan psikososial untuk anak dan keluarga dari terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa di Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
“Kami akan melakukan pendampingan psikososial dan bantuan-bantuan yang dibutuhkan sesuai hasil asesmen,” ucap Gus Ipul ketika ditemui setelah konferensi pers terkait rancangan Perpres Tata Kelola Penyelenggaraan KDKMP yang digelar di Jakarta, Selasa (28/7/2026) dilansir dari Antara.
Gus Ipul menyampaikan tim Kementerian Sosial sudah berkunjung ke rumah duka dan sudah menjalin dialog dengan keluarga dari terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa.
Ia pun menawarkan kepada anak dari terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa untuk sekolah di Sekolah Rakyat.
“Karena memang memenuhi syarat untuk bisa berkenan sekolah di Sekolah Rakyat,” ucap Gus Ipul.
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































