Menuju konten utama
Edusains

Nike Mind: Antara Neurosains dan Efek Plasebo

Inovasi Nike sering kali diiringi oleh kontroversi. Setelah Alphafly, kali ini Nike Mind, yang diklaim mampu meningkatkan fokus. Benarkah ada efek sains?

Nike Mind: Antara Neurosains dan Efek Plasebo
Sepatu Nike Mind 001. foto/Dok. Nike
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Usai memecahkan rekor maraton pada 2019, dengan catatan waktu 1 jam 59 menit, Eliud Kipchoge langsung dihadapkan pada kontroversi. Puja-puji tentu datang menghampiri. Akan tetapi, ada sesuatu di kaki pelari asal Kenya itu yang membuat pencapaiannya juga dipandang sebagai bentuk kecurangan.

Kipchoge memecahkan rekor tersebut di Wina, Austria, dalam sebuah eksperimen terkontrol yang diselenggarakan oleh Nike, yang jadi sponsor sepatunya. Yang digelar di ibu kota Austria itu bukanlah perlombaan, melainkan pembuktian dari atlet kelas dunia bahwa menyelesaikan maraton di bawah dua jam bukanlah hal mustahil, asalkan dengan syarat-syarat tertentu.

Dalam konteks pencapaian Kipchoge, syarat yang dimaksud adalah Nike. Meski tak ada yang meragukan kemampuan Kipchoge, sokongan teknologi dari Nike yang diberikan kepadanya dalam ajang tersebut dianggap problematik.

Sepatu yang dikenakan Kipchoge, Nike Alphafly, memang bukan sepatu resmi, melainkan purwarupa. Fiturnya pun tidak umum. Ketebalan solnya melebihi 40 milimeter dan memiliki tiga plat karbon. Itulah yang kemudian membuat sepatu tersebut dicap ilegal oleh World Athletics, meski akhirnya dibalas kecaman dari komunitas atletik.

Kipchoge merasa bahwa tindakan World Athletics tidak adil. "Tidak ada masalah dengan sepatu itu. Aku berlatih keras dan teknologi terus berkembang. Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi," ujarnya, usai putusan World Athletics dibuat.

Di satu sisi, Kipchoge tidak salah. Progres adalah progres dan bukan salah Nike apabila mereka mampu menciptakan sepatu yang jauh lebih unggul dibanding para kompetitornya. Akan tetapi, di sisi lain, World Athletics pun memiliki pertimbangan tersendiri. Tidak semua atlet, khususnya di level top, disponsori oleh Nike dan punya akses pada teknologi Alphafly. Artinya, penggunaan Alphafly bisa menjadi keunggulan tak adil (unfair advantage) bagi para atlet Nike.

Berlin Marathon 2023

Berlin Marathon 2023. wikimedia/Igorcalzone01

Enam tahun setelah kontroversi Alphafly, Nike kembali mencuri tajuk utama pemberitaan. Kali ini, sepatu yang mereka luncurkan bukan cuma mampu menambah kecepatan, tetapi diklaim memiliki basis neurosains dan bisa langsung memengaruhi kinerja otak seorang atlet. Oleh Nike, sepatu-sepatu itu diberi nama Mind 001 dan Mind 002.

Mind 001 dan 002 punya desain sol sama, yaitu 22 foam nodes oranye terang yang dirancang untuk ikut bergerak saat pemakainya melangkah. Bulatan-bulatan itu berperan seperti piston dan engsel kecil yang mengirimkan “rasa” tekstur permukaan tanah langsung ke ribuan ujung saraf di telapak kaki. Bedanya, Mind 001 adalah mule tanpa penutup tumit yang mudah dilepas-pakai, sedangkan Mind 002 adalah sneakers bertali.

Namun, keduanya sama sekali tidak dirancang untuk berolahraga. Menurut Chloe Speed, Vice President sekaligus General Manager Nike Training, dalam wawancara dengan Man of Many, sepatu tersebut didesain untuk dikenakan sebelum dan sesudah berolahraga. Ide besarnya, dengan mengaktifkan reseptor sensorik di telapak kaki, sepatu itu membantu atlet masuk ke kondisi mental lebih fokus dan sadar secara penuh.

"Tiap langkah yang diambil kaki Anda tak ubahnya sebuah percakapan dengan otak. Tiap kali kaki melangkah, ia akan mengirimkan pesan. Nike Mind mengamplifikasi percakapan tersebut," ujar Speed.

Teknologi tersebut merupakan hasil kerja Mind Science Department Nike melalui laboratorium-bergerak untuk pemindaian otak dan tubuh. Selama satu dekade, tim itu mengembangkan sesuatu yang mereka sebut "peta sensorik telapak kaki". Hasilnya adalah 22 nodes yang ditempatkan pada bagian kaki paling sensitif terhadap sentuhan.

Nike tampak sangat bangga dengan pencapaiannya. Mereka menyebut keduanya sebagai sepatu yang "terbukti secara saintifik mampu mengaktifkan area sensorik kunci pada otak melalui stimulasi telapak kaki." Nike pun berani mengklaim bahwa neurosains telah menjadi "third core competency" milik mereka, setara biomekanika dan fisiologi. Dengan kata lain, Mind 001 dan 002 merupakan fondasi masa depan perusahaan.

Sepintas, menilik reputasi Nike sebagai produsen sepatu, pakaian, dan alat olahraga yang tak pernah sepi terobosan, Mind 001 dan 002 terlihat seperti barang yang bonafide. Bahkan, menurut laporan The Athletic, pemain-pemain Tim Nasional Inggris, seperti Marcus Rashford dan Ezri Konsa, sudah mulai mengenakan sepatu tersebut dalam sesi rapat tim karena dianggap mampu meningkatkan fokus. Hal tersebut disampaikan oleh pelatih The Three Lions, Thomas Tuchel.

Meski demikian, ada pernyataan lain dari Tuchel yang sedikit menyentil keabsahan teknologi Nike tersebut. "Mungkin, hal paling bermanfaat dari [mengenakan sepatu] itu adalah mereka percaya akan manfaatnya. Saya tidak mengerti sains di baliknya tetapi semua orang mengenakannya. Mereka juga menyuruhku untuk mulai mengenakannya," ucapnya.

Tuchel, kala diwawancarai pada November 2025 lalu—dua bulan sebelum Mind 001 dan 002 dirilis resmi pada Januari 2026—mengaku belum pernah mencoba teknologi terbaru Nike tersebut. Namun, ada indikasi bahwa mantan juru taktik Borussia Dortmund itu melihat efek yang ditimbulkan Mind 001 dan 002 hanyalah efek plasebo.

Dugaan Tuchel tersebut, meski tak pernah diucapkannya dengan eksplisit, ternyata tidak beda jauh dengan temuan para ilmuwan.

Efek Plasebo dari Embel-Embel Sains Produk Nike

Faktanya, telapak kaki manusia memang memiliki struktur sensorik luar biasa. Setiap telapak kaki mengandung ratusan ribu ujung saraf, termasuk mechanoreceptors, yang mendeteksi tekanan, getaran, tekstur, dan gerakan. Sinyal dari reseptor-reseptor tersebut berjalan melalui saraf perifer ke sumsum tulang belakang, lalu naik ke somatosensory cortex (area otak yang memetakan seluruh permukaan tubuh).

Artinya, telapak kaki berperan penting mengatur keseimbangan, postur, maupun gerak tubuh. Umpan balik sensorik sekecil apa pun dari kaki bakal berpengaruh terhadap semua itu. Sebuah tinjauan komprehensif terbitan Neurophysiologie Clinique menegaskan hal itu, sekaligus menunjukkan bahwa stimulasi telapak kaki memiliki aplikasi klinis menjanjikan, terutama bagi pasien dengan gangguan keseimbangan, neuropati, dan lansia yang berisiko jatuh.

Nike pun bukan satu-satunya merek yang menangkap peluang. Vivobarefoot sudah lama membangun identitas mereknya di atas premis yang sama, bahwa koneksi antara telapak kaki dan otak adalah sesuatu yang bisa dioptimalkan lewat desain alas kaki.

Sepatu Nike Alphafly

Sepatu Nike Alphafly. foto/Dok. Nike

Jadi, memang benar, kaki dan otak senantiasa menjalin komunikasi. Namun, apa, sih, isi komunikasi mereka sebenarnya?

Menurut Atom Sarkar, profesor bedah saraf Drexel University, realitas neurosains jauh lebih rumit dibanding klaim Nike. Ia membenarkan adanya koneksi kaki-otak itu. Namun, yang dipermasalahkan olehnya: memengaruhi gerakan tidak sama dengan meningkatkan kemampuan kognitif.

Bukti kaitan antara stimulasi pasif pada telapak kaki dan peningkatan konsentrasi sangatlah minim. Fokus, atensi, dan fungsi eksekutif, bergantung pada jaringan yang tersebar luas di otak (prefrontal cortex, parietal lobe, thalamus) serta hormon-hormon, seperti dopamin dan norepinefrin. Semua itu tidak diaktifkan oleh stimulasi telapak kaki.

Bahkan, ada temuan lain yang menyebut bahwa lebih banyak stimulasi sensorik tidak otomatis berarti lebih baik. Studi terbitan jurnal Sensors meneliti konektivitas otak dalam berbagai kondisi alas kaki menggunakan fNIRS, teknologi pencitraan otak yang katanya juga digunakan oleh Nike.

Hasilnya memang menunjukkan peningkatan konektivitas otak pada kondisi alas kaki tertentu dibanding berjalan tanpa alas. Akan tetapi, kondisi yang menghasilkan konektivitas tertinggi bukanlah sepatu yang paling optimal, melainkan sandal flat dan sandal baji (wedges) medial yang sulit dipakai. Konektivitas tertinggi itu menunjukkan kondisi otak bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan, bukan membuat otak lebih tajam atau lebih fokus.

Studi yang dilakukan Nike sampai sekarang belum dipublikasikan, apalagi melewati proses peninjauan sejawat. Maka, sulit membandingkan antara hasil temuan internal mereka dan pengetahuan dimiliki para ilmuwan.

Meski demikian, kalaupun efek yang dihasilkan Mind 001 dan 002 hanyalah efek plasebo, bukan berarti sepatu-sepatu itu lantas tidak berguna.

Efek plasebo sejatinya bermanfaat. Ia merupakan fenomena nyata, terukur, dan terdokumentasi dengan baik dalam neurosains. Ketika seseorang percaya bahwa sebuah produk meningkatkan fokus atau performa, kepercayaan itu sendiri bisa mengubah persepsi dan perilaku untuk menghasilkan efek terukur. Karena itu, ucapan Tuchel tadi tak bisa dikategorikan sebagai cemoohan; ia lebih kepada harapan agar pemain-pemainnya bisa terbuai plasebo positif semacam ini.

Selain efek plasebo, ada pula konsep bernama embodied cognition, seperti dituliskan oleh Sarkar dalam kolomnya. Itu adalah gagasan bahwa kondisi fisik tubuh memengaruhi proses mental. Artinya, sepatu yang mengubah cara seseorang berdiri atau bergerak mungkin secara tidak langsung memengaruhi kekuatan fokusnya, meski sepatu itu sendiri tak mampu secara langsung meningkatkan kognisi.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN SAINS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Fadli Nasrudin
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin