Misbar

Kingdom & Wabah yang Dijadikan Alat Politik Pemerintah

Poster Film Kingdom Season 2. netflix/rilis getcraft
Oleh: Yulaika Ramadhani - 22 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Intrik feodal di tengah wabah zombie. Apa yang baru dari Kingdom?
Fakta bahwa Kingdom Season 1 berakhir di tengah klimaks meninggalkan pertanyaan besar: kenapa zombie tidak berhenti menyerang di pagi hari? Bukankah selama musim pertama mereka digambarkan takut suhu di bawah sinar matahari?

Musim kedua Kingdom hadir di Netflix salah satunya untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Usai setahun lebih menunggu, akhirnya penikmat drama seri Korea Selatan ini bisa menyaksikan kembali aksi Putra Mahkota Lee Chang (diperankan Ju Ji-hoon) mengungkap wabah misterius sekaligus konspirasi pelik di Kerajaan Joseon.

Sutradara Kim Seong-hun kembali menggarap musim kedua Kingdom bersama Park In-jae. Kingdom adalah mini seri yang mereka angkat dari adaptasi komik Burning Hell Shinui Nara karya Kim Eun-hee yang juga menulis skenario di versi film ini.

Musim pertama Kingdom adalah thriller politik yang mengisahkan perjalanan si anak selir, Putra Mahkota Lee Chang, untuk mencari kebenaran tentang penyakit sang ayah yang tak lain adalah Raja Joseon. Perjalanan ini kemudian menggiringnya pada kisah tragis wabah misterius.


Wabah itu berupa mayat hidup yang haus darah manusia dan menular melalui gigitan penderita. Mayat hidup atau zombie ini mulanya muncul di daerah Dongnae, tepat saat Putra Kerajaan tiba di sana untuk menemui tabib Lee He-sung, dokter yang menghidupkan kembali Raja Joseon dengan tanaman pembangkit.

Yang menarik dari wabah ganas ini adalah asal mulanya penyebarannya. Wabah dalam film tidak mendadak hadir dan menyebar begitu saja. Wabah menyebar karena puluhan pasien di klinik Jiyuheon di Dongnae tidak sadar bahwa sup yang ia makan berisi daging manusia yang terinfeksi.

Dongnae adalah daerah kekuasaan Joseon. Ada banyak orang miskin yang hampir mati kelaparan di sana. Bisa memakan sup daging adalah kemewahan. Tapi dari sinilah wabah menyebar.

Penulis naskah Kim Eun-hee menempatkan penggalan kisah ini sebagai kritik terhadap pemerintahan korup Joseon. Dengan gamblang ia menggambarkan bagaimana keserakahan dan ketidakadilan penguasa telah nyata menciptakan kemiskinan dan kelaparan sehingga memicu malapetaka yang lebih besar: wabah zombie.

Wabah zombie sebagai Alat Politik

Dalam Kingdom, wabah bukan perkara kesehatan semata, tapi juga alat untuk mempertahankan kekuasaan.

Ratu dan klan Cho dikisahkan belum bisa menerima kematian raja. Sang ratu masih menunggu kelahiran bayi laki-lakinya, sementara keluarganya (klan Cho) tidak sudi mengangkat si anak selir Putra Mahkota Lee Chang naik takhta. Hingga akhirnya Ratu menghidupkan kembali Raja dengan tanaman pembangkit, yang sialnya justru membuat Raja menjadi zombie.

Para pembuat film dengan detail menuturkan bagaimana wabah zombie sengaja diciptakan oleh keluarga kerajaan untuk mempertahankan garis keturunan (klan Cho) dan menjegal pengangkatan putra mahkota.

Di musim kedua, wabah zombie dikembangkan menjadi lebih politis. Wabah dikisahkan mampu menciptakan ‘tentara’ untuk melawan penjajahan Jepang. Cho Hak-ju (ayah Ratu), mengubah masyarakat sekampung menjadi zombie dengan tanaman pembangkit. Meski berhasil memukul mundur Jepang, namun praktik ini rupanya melukai rasa kemanusiaan banyak pejuang.

Menariknya, wabah zombie yang digambarkan begitu politis ini juga mampu menyentuh persoalan subtil lain: penentuan sikap Putra Mahkota Lee Chang.

“Aku berbeda dari mereka (keluarga kerajaan),” kata sang putra mahkota berulang kali sepanjang dua musim Kingdom.

Dari kacamata sang putra mahkota, wabah zombie adalah ajang untuk membuktikan bahwa ia bukan termasuk warga kerajaan yang abai terhadap rakyatnya. Ia bahkan terjun ke medan perang, melawan zombie, mencari solusi wabah, dan akhirnya merelakan jabatan sebagai putra kerajaan.


"Blood Will Spill"

Tema besar musim kedua Kingdom kali ini adalah “Blood will spill” atau darah akan terus tumpah. Usai mendedah tema kemiskinan, penyebaran wabah, dan keserakahan pemerintah di musim pertama, kini Kingdom berfokus pada darah.

Penonton memang disajikan banyak sekali adegan pertumpahan darah, mulai dari perang zombie melawan warga Joseon, pembunuhan para istri dan bayi-bayi perempuan, hingga pembunuhan yang dilakukan ratu. Namun, ada juga upaya mempertahankan garis keturunan di balik kisah.



Karakter-karakter perempuan Kingdom terasa kuat. Anda bisa melihatnya pada diri ratu dan tabib Seo-bi (diperankan Bae Doona).

Seperti banyak film tentang intrik kekuasaan feodal lainnya, kita menemukan pesan "hanya anak laki-laki yang boleh jadi Raja". Namun, yang menarik, karakter ratu mendapat banyak porsi untuk menyuarakan ketidaksepakatannya pada aturan tersebut. Hingga akhir film, ia membuktikan pada ayahnya bahwa ia pantas menempati posisi tertinggi Joseon.



Karakter perempuan lainnya, tabib Seo-bi, digambarkan sebagai satu-satunya perempuan yang punya keinginan kuat mempelajari wabah. Berulang kali Kingdom menempatkan Seo-bi untuk duduk sejajar dengan Hakim Beom-pal. Berkali-kali pula hidup Beom-pal diselamatkan oleh Seo-bi di tengah wabah zombie.

Akhir musim kedua Kingdom ini memang menarik, namun, terburu-buru dan meninggalkan lubang. Tak ada penjelasan bagaimana nasib zombie yang masih hidup. Tak terjawab pula kenapa wabah tiba-tiba menghilang. Adegan akhir justru melompat ke keadaan Joseon tujuh tahun kemudian, ketika wabah telah lenyap.

Baca juga artikel terkait FILM KOREA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Film)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight