Menuju konten utama

Membaca Film The Elixir dan Pergeseran Bahasa Sinema di Era OTT

Film original Netflix The Elixir memperlihatkan bagaimana logika OTT menekan dan membentuk bahasa sinema, dari ritme cerita hingga cara zombie dikonstruksi.

Membaca Film The Elixir dan Pergeseran Bahasa Sinema di Era OTT
Proses lahirnya zombie di The Elixir, film original Netflix, merupakan hasil kolaborasi lintas departemen. Mulai dari visi penyutradaraan Kimo Stamboel, transformasi tata rias oleh Astrid Sambudiono dan tim, hingga koreografi Boby Ari Setiawan. Foto/Netflix/Kolase/Yulaika
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saya kira setiap generasi sineas memiliki kegelisahannya masing-masing. Hollywood pernah takut televisi akan membunuh bioskop di tahun 1950-an. Tiga dekade setelahnya, video rumahan yang ganti dituduh menghilangkan pengalaman kolektif menonton film.

Kecemasan serupa terus berlanjut dari tahun ke tahun. Di era 2000-an misalnya, David Lynch terang-terangan mewanti-wanti, menonton film lewat ponsel sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sinema. Martin Scorsese di tahun 2010-an gelisah sambil mengelus dada melihat sinema semakin bergerak mengikuti logika franchise dan pasar, alih-alih keberanian artistik.

Hampir semua kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Tetapi bukan dengan cara yang dibayangkan para sineas tersebut. Yang terjadi justru lebih rumit. Sinema tidak mati. Bioskop tidak hilang. Film tetap dibuat dan ditonton. Tetapi bahasa film itu sendiri yang berubah untuk menyesuaikan diri dengan cara baru orang menonton.

Abadi Nan Jaya (atau The Elixir, judul yang dibawa Netflix ke penonton global) karya Kimo Stamboel lahir tepat di titik ketika seluruh kecemasan itu bertemu.

Kimo menggambarkan The Elixir sebagai, "Film zombie lokal Indonesia yang menceritakan dysfunctional family yang mencoba bertahan hidup di hari terburuk mereka”.

Di permukaannya, memang begitulah The Elixir. Berlatar di Desa Wanirejo, cerita berpusat pada keluarga pemilik usaha jamu yang sedang berada di ambang perpecahan. Yakni ketika Sadimin, sang kepala keluarga (Donny Damara), menemukan jamu yang menjanjikan awet muda dan harapan baru bagi bisnis keluarganya. Namun eksperimen tersebut justru memicu wabah zombie yang melanda seluruh desa.

Di tengah kekacauan tersebut, keluarga yang telah lama retak—terutama setelah Sadimin menikahi Karina (Eva Celia), sahabat putrinya sendiri, Kenes (Mikha Tambayong)—harus bertahan menyelamatkan diri dari wabah zombie sambil menghadapi konsekuensi dari ambisi yang mereka bangun sendiri.

Film Abadi Nan Jaya

Berdasarkan daftar mingguan Top 10 Global Netflix (20 - 26 Oktober 2025), Abadi Nan Jaya menduduki peringkat 1 di lima negara serta masuk dalam jajaran Top 10 di 75 negara termasuk Jepang, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Jerman, Perancis, Afrika Selatan, Turki, Republik Dominika, Kanada, dan Brazil. FOTO/netflix

Pada 23 Oktober 2025, The Elixir ditonton lebih dari 11,4 juta orang dalam sepekan pertama penayangannya, dan masuk Top 10 di 75 negara.

Dalam narasi industri, angka-angka tersebut adalah alasan yang cukup untuk perayaan potong tumpeng nasi kuning. Saya pun ingin memperlakukannya sebagai kemenangan yang sesederhana itu. Tapi saya lebih tertarik pada aturan main apa saja yang sedang dipatuhi oleh pencapaian itu, dan apa-apa saja yang mungkin harus dibayar untuk mematuhinya.

Di The Elixir, Kimo Stamboel dan timnya membuat banyak keputusan yang bisa dibaca dalam dua arah sekaligus, yakni sebagai pilihan arsitik yang genuine, sekaligus sebagai respons terhadap kondisi distribusi yang dalam praktiknya kerap beririsan dengan logika algoritma Over-The-Top (OTT) Netflix.

Kritik ini akan membaca efek yang terbaca dalam filmnya, yang mana lahir dari ketegangan dua pembacaan tersebut.

Menilik Ekosistem yang Melahirkan Film

The Elixir sendiri bukan film bioskop yang mencari distribusi OTT setelah melalui jalur layar lebar. Film ini lahir dari logika OTT, dirancang dan diproduksi sejak awal sebagai konten Netflix.

Kimo Stamboel sendiri turut mengamininya. Dalam sebuah wawancara, ia menceritakan bahwa awalnya, konsep film zombie-nya jauh lebih kecil dari apa yang pada akhirnya kita tonton.

"Konsep yang pertama [The Elixir] itu lebih kecil, setelah diskusi dengan tim Netflix [mereka bilang] ‘Kim bisa enggak, konsepnya kita coba perbesar lagi. Kita elevated konsep awal kamu ini. Oh kurang nih, Kim. Kita tambahin lagi. Kita develop lagi’. Cukup lama memang diskusinya. Jadi lumayan banyak diskusinya antara tim Netflix dengan tim penulis kita. Sampai satu titik di mana semuanya ketemu, nah di titik yang pas itu kita jalan.”

Kalimat terakhir itu menarik, ‘satu titik di mana semuanya ketemu.’ Bukan titik di mana visi sineas dimenangkan, bukan pula titik di mana platform mendominasi. Titik pertemuan negosiasi yang ‘cukup lama’ inilah yang menarik untuk dibaca.

Pernyataan Kimo tersebut adalah gambaran proses kreatif yang lebih jujur dari pernyataan pers mana pun yang jelas menggarisbawahi bahwa The Elixir adalah produk kompromi yang disengaja. Terbentuk dari tarik ulur ambisi artistik dan pertimbangan platform.

Artinya, The Elixir bukan hanya ‘didanai Netflix’, film ini dikembangkan bersama Netflix. Perbendaan ini fundamental. Sejak pengumuman proyek ini pada Juni 2024, posisinya sebagai produksi Netflix Asia Tenggara sudah ditentukan. The Elixir sejak awal diciptakan dengan kodrat kreatif yang terikat pada logika platform OTT.

Ekosistem yang menjadi konteks negosiasi ini berukuran besar. Netflix menutup 2024 dengan 301 juta pelanggan global. Indonesia mencatat 26,9 juta akun berbayar pada 2025 dan proporsi jam tayang terbesar di Asia Tenggara, menurut laporan Media Partners Asia yang dikutip oleh Variety.

Angka-angka itu penting dicatat bukan untuk menempatkan satu platform OTT mengungguli yang lain. Yang perlu direnungkan adalah data ini menunjukkan semakin banyak film yang kini pertama kali bertemu penontonnya melalui layar yang berada dalam genggaman.

Sutradara Abadi Nan Jaya

Sutradara Abadi Nan Jaya, Kimo Stamboel. Netflix

Setiap kali sebuah film berhasil di dalam sebuah sistem, saya selalu bertanya lebih dari apa yang dimenangkannya, tetapi juga aturan main banal apa saja yang sedang film itu patuhi.

Semakin banyak layar, semakin luas distribusi, dan itu tentu bukan kabar buruk. The Elixir tidak bersaing dengan jadwal bioskop. Ia bertempur habis-habisan dengan seluruh isi internet, notifikasi, media sosial, atau ribuan judul lain yang hanya berjarak satu sentuhan.

Dalam kondisi seperti itu, tantangan terbesar film bukan lagi membuat penonton mau membeli tiket. Ada tugas berat lain, yakni membuat penonton bertahan terus menonton. Dan saya sendiri yakin, perubahan ini akan melahirkan persoalan dan kemungkinan baru.

The Elixir lahir di tengah logika platform dan ambisi artistik sineas yang bertemu, bernegosiasi, dan kadang-kadang terbaca saling melemahkan. Celah-celah di antara hal-hal problematis itulah yang menjadikan film ini layak untuk didedah lebih jauh.

Empat Logika yang Terbaca dalam Teks Film

Proses negosiasi yang Kimo gambarkan sebagai ‘konsep yang diperbesar, dikembangkan, dielevasi’ adalah cara platform ikut mendefinisikan dominasinya. Empat logika yang akan saya jabarkan adalah bagaimana dominasi itu terbaca dalam teks filmnya. Serta bagaimana, pada akhirnya, melemahkan filmnya sendiri.

Logika Retensi

Perbedaan terbesar antara bioskop dan OTT adalah soal kontrol. Di bioskop, penonton sudah terlanjur berkomitmen: tiket dibayar, kursi diduduki, lampu dipadamkan, dan tak ada jalan keluar yang sopan sebelum kredit bergulung. Di OTT, komitmen itu nyaris tidak ada. Penonton bisa pergi kapan saja.

The Elixir merespons kondisi ini dengan lima menit pertama film yang bekerja sangat keras ‘menjaga’ penonton. Kimo langsung melempar penonton ke hajatan warga, ranah komunal tempat orang-orang berkumpul tanpa pandang kelas. Tenda hajatan khitanan, kursi plastik, bapak-bapak sebat, dan anak-anak yang berlarian meriuhkan adegan awal.

Musik pun langsung tegang, sebuah mobil melaju dari arah yang salah, kekacauan meledak. Dan sebelum penonton sempat berpikir “ini film apa?” zombie pertama sudah muncul di sana, di pinggir sawah, dan menyerbu hajatan.

Dalam bahasa konten, lima menit pertama yang heroik itu disebut hook. Kail yang bertugas menangkap penonton sebelum mereka memutuskan untuk pergi bergeser ke konten lain. Sementara itu, dalam industri OTT, seberapa lama penonton bertahan di menit-menit pertama sebelum beralih ke konten lain ini diistilahkan sebagai retention rate.

Hook hajatan ini bisa dibaca melalui dua kemungkinan. Pertama, Kimo Stamboel memilih cold open tersebut karena kebutuhan retensi: konflik harus segera hadir sebelum perhatian penonton berpindah ke tempat lain. Kedua, karena ia memang menganggap hajatan sebagai pintu masuk paling organik untuk memperkenalkan dunia Wanirejo.

Kedua pembacaan itu sama-sama valid. Namun efek yang terbaca adalah The Elixir nyaris tidak memberi banyak jeda penonton. Sejak menit pertama, film ini terus bergerak untuk memastikan perhatian penonton tetap tertambat pada layar.

Bandingkan dengan Train to Busan (2016). Sutradara Yeon Sang-ho memberi hampir 20 menit bagi penonton untuk mengenal karakter Seok-woo (Gong Yoo) sebelum wabah zombie benar-benar pecah. Kita melihatnya bekerja, mengabaikan anaknya, membelikan hadiah ulang tahun yang salah, dan perlahan memahami seperti apa dirinya tanpa perlu ada karakter lain yang menjelaskannya. Film memberi ruang bagi penonton untuk mengamati dan menyimpulkan sendiri.

Namun Yeon Sang-ho membuat film untuk bioskop, yang mana penonton sudah terlanjur duduk dalam gelap. The Elixir tidak punya asuransi semacam itu.

film Zombie Korea, Train to Busan

Sutradara Yeon Sang-ho membangun karakter bapak dan anak, antara Kim Su-an and Gong Yoo di film Zombie Korea, Train to Busan (2016). FOTO/IMDB

Logika Universalitas

Konten OTT yang ingin sukses global harus dapat diterjemahkan oleh penonton dari berbagai latar budaya. Ini mendorong eksplisitasi narasi atau upaya keras menceritakan apa yang seharusnya cukup diperlihatkan.

Jamu adalah pilihan yang cerdik sebagai pusat cerita. Namun untuk penonton Seoul atau Berlin yang tidak pernah mendengar jamu, semuanya harus dijelaskan dalam dialog.

Ketika satu budaya lokal diarahkan untuk menjangkau audiens internasional, tantangannya adalah lokalitas yang paling spesifik seringkali harus dieksplisitkan hingga kadang kehilangan kedalaman implisitnya.

Tekanan inilah yang membuat The Elixir lebih mengimani kata-kata daripada kepada gambar. Efek lanjutannya terbaca di seluruh struktur narasi.

Karakterisasi dibangun melalui dialog yang terus berisik, alih-alih melalui ruang yang diberikan untuk tiap tokohnya bergerak dan diamati. Di film tampak saat sineas memperkenalkan Sadimin dari tokoh-tokoh lain yang banyak cakap tentang siapa sosok itu, apa ambisinya, dan mengapa ia menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitarnya.

Ketegangan Kenes dan si ibu tiri, Karina juga disampaikan melalui pertengkaran, pengakuan, atau dialog yang secara eksplisit hadir, alih-alih tersimpan terlalu lama dalam tatapan, jeda, atau detail visual yang halus. Sineas memilih memastikan penonton segera memahami apa yang sedang dipertaruhkan.

Ini bisa dibaca sebagai kelemahan naskah, bisa juga sebagai respons terhadap penonton OTT yang menonton sambil membalas pesan atau membuka medsos. Di sinilah logika dan tekanan OTT mulai terasa pada level bahasa sinema.

Apa yang sebenarnya dapat disampaikan melalui satu adegan hening, di film OTT ini didorong habis-habisan. Para lakonnya jadi lebih cerewet dan rewel untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Pada kondisi ini, tekanan untuk "bisa diikuti" oleh penonton global telah mengorbankan kedalaman yang bisa dicapai melalui gambar dan keheningan visual.

Logika Layar Kecil

Laporan Jakapat edisi Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends

Laporan Jakapat edisi Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends

Berdasarkan survei Jakpat pada semester pertama 2025, sebanyak 85% penonton OTT mengakses layanan tersebut melalui ponsel. Angka-angka tersebut tentu bukan sekadar catatan distribusi, ini adalah fakta yang mengubah cara gambar harus bekerja. Layar ponsel 6 inci tidak memberi ruang bagi komposisi yang membutuhkan keluasan untuk dinikmati.

Patrick Tashadian, sinematografer The Elixir, mengerjakan banyak adegan dengan cara yang sesungguhnya sangat sinematik. Ia mengambil sudut rendah pada adegan-adegan aksi dan pencahayaan remang pada malam yang berhasil menciptakan tekstur kuat.

Namun color grading pada adegan-adegan siang yang justru perlu dicermati secara khusus: desa Wanirejo divisualkan dengan cahaya terang, hijau daun yang hampir bersinar, udara yang tampak bersih seperti dalam iklan pariwisata.

Pilihan estetika sineas ini nyatanya bekerja baik di layar ponsel. Warna-warna jenuh terlihat vivid, memberikan kesan produksi yang mahal, mengundang, dan bisa buat penonton bertahan. Namun pilihan ini juga punya efek lain yang nyatanya dirasakan: visual kehancuran yang mencekam jadi benar-benar berjarak dari penontonnya.

Film Zona Merah

Film Zona Merah. FOTO/IMDB

Bandingkan kondisi ini dengan visual di Zona Merah (Sidharta Tata, 2024) yang membiarkan pembusukan meresap ke dalam tekstur gambar itu sendiri. Sineas series zombie di platform Vidio ini lebih memilih warna-warna eksterior yang berat, atmosfer yang lembap, yang seolah lingkungan sudah sakit sebelum mayit (istilah zombie di semesta film ini) pertama bangkit. Di series ini, penonton dipaksa masuk ke dalam pembusukan, bukan menikmatinya dari kejauhan seperti di The Elixir.

The Elixir memilih keindahan. Dan keindahan itu, disadari atau tidak, adalah jaminan implisit bahwa dunia dalam film ini bisa dipulihkan pada akhirnya. Sebuah janji yang sangat sesuai dengan logika kepuasan platform.

Layar kecil mungkin saja mencabut kekuatan wide shot, hanya saja layar ponsel juga memberikan satu hadiah yang tidak kecil: detail permukaan sebagai kekuatan naratif. Di sinilah keputusan tata rias The Elixir yang katanya mengesankan itu harus dibaca bukan hanya sebagai pencapaian artistik, melainkan sebagai keputusan sinematik yang sadar terhadap medium distribusinya.

Tim tata rias Astrid Sambudiono mengerjakan lebih dari 200 aktor zombie dengan prostetik yang dirancang dari logika biologis kantong semar: kulit yang melepuh dengan pola yang konsisten, pembuluh darah yang menonjol dan menggelap, cairan yang meresap ke dalam lipatan tubuh yang tidak pernah terlihat sama antara satu zombie dan zombie lainnya.

Koreografer Boby Ari Setiawan menambahkan dimensi gerakan: tremor dari kerusakan saraf, olah vokal yang merepresentasikan sensasi terbakar dalam tenggorokan, kepala yang memiringkan diri pada sudut tidak wajar.

Hasilnya adalah zombie yang pada layar ponsel 6 inci, terasa mengisi seluruh bidang pandang, detail tekstur kulit yang tidak akan terbaca dari kursi baris ke-15 bioskop menjadi sepenuhnya kasat mata, bahkan terasa terlalu dekat untuk diabaikan.

Film Abadi Nan Jaya

Film Abadi Nan Jaya. FOTO/Netflix Indonesia

Ini adalah perbedaan mendasar dari cara zombie dirancang untuk bioskop. Zombie dalam Night of the Living Dead (Romero, 1968) atau bahkan Train to Busan dirancang untuk dibaca dari jarak, yakni sebagai massa yang bergerak, sebagai ancaman yang datang dari kejauhan. Detail tata rias hadir, namun fungsinya mendukung pergerakan dan postur, bukan menjadi aspek utama yang ditonjolkan.

Zombie The Elixir dirancang sebaliknya: mereka adalah kreatur yang paling menakutkan justru ketika kamera mendekat, ketika close-up memperlihatkan detail yang tidak bisa kita hindari. Ini adalah zombie yang didesain untuk layar kecil. Dan detail tata rias yang katanya luar biasa itu bukan hanya bekerja di dalam film. Ia bekerja ‘sebelum’ film ditonton. Baik di poster atau pun trailer.

Logika Suara

Ada satu lagi dimensi penting yang memengaruhi kelahiran zombie di OTT: suara.

Zombie yang lahir di layar lebar bioskop mampu menciptakan ketakutan yang dirasakan bersama satu ruangan melalui sound. Suara tubuh zombie yang berubah, bunyi tulang yang bergeser pada sudut yang salah, dan sound penting lainnya yang bekerja dengan kekuatan penuh dalam sistem surround yang memenuhi ruangan. Efeknya diciptakan untuk dirasakan bersama-sama, sebagai ancaman yang hadir dalam dimensi ruang.

Penonton bioskop yang duduk dalam kegelapan bersama ratusan orang asing lainnya dipaksa untuk ikut berdiam diri. Kebersamaan dalam kebisuan itu menghasilkan ketegangan bersama. Ketakutan yang dialami secara komunal ini efektif melipatgandakan ketakutan individual.

Pengalaman komunal inilah bahan bakar yang hilang ketika horor pindah ke layar ponsel di kamar tidur yang ditonton sambil rebahan, sendirian pula.

Di layar ponsel, separuh kekuatan itu hilang. Speaker ponsel atau televisi cenderung meratakan kedalaman spasial suara, dan horor yang bekerja sebagian besar melalui pendengaran, kehilangan senjatanya.

Mesin Promosi sebagai Perpanjangan Bahasa Sinema OTT

Ada dimensi dari pergeseran bahasa sinema di era OTT yang hampir tidak pernah masuk dalam pembahasan kritik film, namun sesungguhnya adalah bagian integral dari cara sebuah film OTT bekerja: mesin promosinya.

Film OTT harus menjemput penonton di dalam ekosistem media sosial yang sudah mereka huni. Ini yang menarik.

Panji Mukadis tahu betul cara kerja ekosistem ini. Sebagai Social Media Specialist dan Founder Infoscreening (sebuah platform ulasan dan kurasi film Indonesia), ia mengamati dari dalam bagaimana konten promosi film bermigrasi dari format satu arah ke ekosistem percakapan yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.

"Bioskop itu barang mahal, dan orang tuh pasti milih-milih film dengan hati-hati," kata Panji saat wawancara dengan Tirto. "Bahkan yang udah punya Netflix pun dia juga masih pilih-pilih."

Dalam kondisi seperti itu, para "kliper" (akun-akun yang menggunting potongan film dan mengunggahnya ke media sosial) menjadi mesin referensi yang tidak bisa diabaikan.

"Klip-klip, materi promosi itu jadi menarik," katanya. "Makanya ada BTS fotografer, ada BTS make-up sendiri. [Konten] make-up jadi satu konten sendiri. Proses perjuangan si artisnya gitu. Itu bikin orang penasaran."

Yang ia gambarkan bukan sekadar strategi pemasaran. Ini adalah cara film OTT memperpanjang eksistensinya ke dalam ekosistem konten yang lebih luas, di mana setiap frame bisa menjadi pintu masuk.

Promosi The Elixir di YouTube

Promosi The Elixir di YouTube menjadi bagian dari strategi distribusi konten berjenjang yang dirancang untuk menjangkau perilaku konsumsi audiens di berbagai platform media sosial. FOTO/tangkapan layar Youtube

Di luar trailer utama, Netflix Indonesia merilis konten promosi berjenjang yang mencerminkan logika ekosistem media sosial yang berbeda-beda. Teaser berdurasi 15–30 detik dirancang untuk format Instagram Reels dan TikTok yang tidak bercerita, tidak menjelaskan apa pun, hanya memperlihatkan satu adegan yang cukup mengganggu untuk memancing penasaran.

Format ini memanfaatkan estetika yang sudah dikenali oleh penonton muda dari konten keseharian mereka.

Behind the scenes dalam ekosistem promosi OTT adalah konten promosi primer, bukan lagi konten bonus. Konten BTS The Elixir memperlihatkan proses tata rias zombie secara rinci: bagaimana prostetik ditempelkan lapis demi lapis, bagaimana warna kulit dibuat tampak membusuk, bagaimana aktor dilatih kelonjotan dan trengginas sebagai zombie Indonesia.

Ini bekerja dengan logika yang cerdik: memperlihatkan kerja keras di balik layar membangun apresiasi terhadap kualitas produksi, yang mengonversi apresiasi itu menjadi keputusan untuk menonton.

"Makin sering akun-akun itu bikin klip film yang kayak gitu, jadi makin gampang naik filmnya. Orang tuh butuh referensi, makin ke sini makin butuh referensi," kata Panji. Ia menyebut fenomena ini bukan sekadar tren konten, melainkan respons terhadap kebutuhan nyata penonton yang sudah terlatih untuk tidak menyerahkan waktu mereka tanpa jaminan.

Foto close-up wajah zombie, kulit yang melepuh dalam detail yang hampir terlalu nyata, sarung dan seragam polisi yang menciptakan disonansi antara yang familiar dan yang mengerikan adalah konten yang bekerja apik dalam logika viral.

Film OTT menjual konten yang bisa dipotong-potong pada semua titiknya. Inilah cara film OTT memahami bahwa setiap frame bisa menjadi pintu masuk dan undangan untuk menonton versi utuhnya.

Apa yang Hilang ketika Zombie Pindah dari Bioskop ke Ponsel?

Film Abadi Nan Jaya

Film Abadi Nan Jaya. FOTO/Netflix Indonesia

Platform OTT memang tidak menciptakan bahasa sinema yang sepenuhnya baru, melainkan merekonfigurasi prioritas dari perangkat bahasa sinema yang telah lama berkembang dalam tradisi perfilman.

Unsur-unsur fundamental sinema secara garis besar tetap dipertahankan, namun mengalami penyesuaian dalam praktik naratif dan estetik sebagai respons terhadap karakteristik distribusi digital dan pola konsumsi penonton yang berbeda dari pengalaman menonton di bioskop.

Zombie The Elixir juga punya tugas yang nyatanya sangat berat, yakni menjemput penonton di mana mereka berada, di kasur, di ruang tamu, di perjalanan commuter line, dan terus-menerus memberikan konfirmasi bahwa ada alasan untuk tetap bertahan menonton.

Konfirmasi itu berbentuk set piece aksi yang teratur, dialog yang selalu informatif, dan klimaks emosional yang datang dengan cukup sering. Ini adalah ritme yang berbeda secara fundamental dari ritme film bioskop, dan ritme itu membentuk cara zombie bekerja sebagai gambar.

Ketegangan keluarga Sadimin dan zombie selalu dilepaskan, cerita selalu bergerak. Karena jika cerita berhenti bergerak terlalu lama, penonton mungkin bergerak berpindah lebih dulu.

Di sinilah pergeseran terjadi. Dalam keputusan-keputusan besar tentang plot atau karakter, pun dalam akumulasi pilihan-pilihan yang masing-masing terlihat masuk akal secara individual: hook yang cepat karena algoritma memintanya, color grading yang indah karena layar ponsel membutuhkannya, eksposisi verbal karena penonton global tidak bisa dibiarkan bingung, dan resolusi yang memuaskan karena rating platform mengharapkannya.

Tidak ada satu keputusan pun yang salah secara terpisah. Namun secara kumulatif, keputusan-keputusan itu membentuk bahasa yang berbeda dari bahasa film zombie yang lahir dari kegelapan bioskop.

Sinema Indonesia membutuhkan ekosistem yang cukup luas untuk menampung kedua bahasa sekaligus. OTT memberi peluang yang tidak bisa diabaikan: anggaran yang memungkinkan tata rias kelas dunia, distribusi yang membawa film Indonesia ke 75 negara, visibilitas yang membuka pintu bagi sineas-sineas berikutnya.

Namun jika bahasa OTT menjadi satu-satunya bahasa yang kita tahu cara berbicara, kita kehilangan sesuatu yang tidak mudah diukur dalam angka penonton: kemampuan untuk membuat film yang tidak menyelesaikan sesuatu, yang membiarkan penonton pergi dalam keadaan terguncang, yang mempercayai keheningan dan ambiguitas sebagai instrumen naratif yang sah.

Pada akhirnya, masa depan sinema Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang menang antara bioskop dan OTT. Yang lebih penting adalah apakah para pembuat film masih memiliki cukup ruang untuk memilih bagaimana mereka ingin bercerita. Sebab begitu pilihan itu hilang, yang tersisa bukan lagi bahasa sinema, melainkan standar produksi belaka.

**

Saya mendedah film The Elixir atau Abadi Nan Jaya dalam dua pembacaan tentang bagaimana bahasa sinema yang dibentuk oleh algoritma Netflix di artikel ini, dan bagaimana bahasa kekuasaan yang dibentuk oleh dinasti di tulisan Kerja-Kerja Sineas Mengekalkan Politik Dinasti di Abadi Nan Jaya.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Misbar
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Dipna Videlia Putsanra