tirto.id - Setiap generasi sineas memiliki kegelisahannya masing-masing. Di tahun 1950-an, Hollywood pernah takut televisi akan membunuh bioskop. Tiga dekade setelahnya, video rumahan ganti dituduh menghilangkan pengalaman kolektif menonton film. Pada tahun 2000-an, David Lynch bahkan terang-terangan bilang, menonton film lewat ponsel sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sinema. Sementara, Martin Scorsese gelisah melihat sinema semakin bergerak mengikuti logika franchise dan pasar, alih-alih keberanian artistik.
Hampir semua ketakutan itu terbukti. Tetapi bukan dengan cara yang dibayangkan para sineas tersebut. Yang terjadi justru lebih rumit. Sinema tidak mati. Bioskop tidak hilang. Film tetap dibuat dan ditonton. Tetapi bahasa film itu sendiri yang berubah untuk menyesuaikan diri dengan cara baru orang menonton.
Abadi Nan Jaya–atau The Elixir, judul yang dibawa Netflix ke penonton global–karya Kimo Stamboel lahir tepat di titik ketika seluruh kecemasan itu bertemu.
Kimo menggambarkan The Elixir sebagai, "Film zombie lokal Indonesia yang menceritakan dysfunctional family yang mencoba bertahan hidup di hari terburuk mereka.”
Di permukaannya, memang begitulah The Elixir. Berlatar di Desa Wanirejo, cerita berpusat pada keluarga pemilik usaha jamu yang sedang berada di ambang perpecahan.
Sadimin (Donny Damara) menemukan jamu yang menjanjikan awet muda dan harapan baru bagi bisnis keluarganya. Namun eksperimen tersebut justru memicu wabah zombie di Wanirejo. Di tengah kekacauan, keluarga yang telah lama retak—terutama setelah Sadimin menikahi Karina (Eva Celia), sahabat putrinya sendiri, Kenes (Mikha Tambayong)—harus bertahan menyelamatkan diri dari wabah zombie sambil menghadapi konsekuensi dari ambisi yang mereka bangun sendiri.

Pada 23 Oktober 2025, The Elixir ditonton lebih dari 11,4 juta orang dalam sepekan pertama penayangannya, dan masuk Top 10 di 75 negara.
Dalam narasi industri, angka-angka tersebut adalah alasan yang cukup untuk perayaan potong tumpeng nasi kuning. Saya pun ingin memperlakukannya sebagai kemenangan yang sesederhana itu. Tapi saya lebih tertarik pada aturan main apa saja yang sedang dipatuhi oleh pencapaian itu, dan apa-apa saja yang mungkin harus dibayar untuk mematuhinya.
Dalam The Elixir, Kimo dan timnya membuat banyak keputusan yang bisa dibaca dalam dua arah sekaligus, yakni sebagai pilihan artistik yang genuine, sekaligus sebagai respons terhadap kondisi distribusi yang dalam praktiknya kerap beririsan dengan logika algoritma. Kritik ini akan membaca efek yang terbaca dalam filmnya, yang mana lahir dari ketegangan dua pembacaan tersebut.
Alih-alih membaca OTT sebagai satu sistem yang seragam, tulisan ini menempatkan The Elixir sebagai satu kasus yang spesifik.
Menilik Ekosistem yang Melahirkan Film
The Elixir sendiri bukan film bioskop yang mencari distribusi OTT setelah melalui jalur layar lebar. Film ini lahir dari logika OTT, dirancang dan diproduksi sejak awal sebagai konten Netflix.
Kimo Stamboel sendiri turut mengamininya. Dalam sebuah wawancara, ia menceritakan bahwa awalnya, konsep film zombie-nya jauh lebih kecil dari apa yang pada akhirnya kita tonton.
"Konsep yang pertama [The Elixir] itu lebih kecil, setelah diskusi dengan tim Netflix [mereka bilang] ‘Kim bisa enggak, konsepnya kita coba perbesar lagi. Kita elevated konsep awal kamu ini. Oh kurang nih, Kim. Kita tambahin lagi. Kita develop lagi’. Cukup lama memang diskusinya. Jadi lumayan banyak diskusinya antara tim Netflix dengan tim penulis kita. Sampai satu titik di mana semuanya ketemu, nah di titik yang pas itu kita jalan.”
Kalimat terakhir itu menarik, ‘satu titik di mana semuanya ketemu.’ Bukan titik di mana visi sineas dimenangkan, bukan pula titik di mana platform mendominasi. Titik pertemuan negosiasi yang ‘cukup lama’ ini menarik untuk didedah.
Pernyataan Kimo tersebut adalah gambaran proses kreatif yang lebih jujur dari pernyataan pers mana pun yang jelas menggarisbawahi bahwa The Elixir adalah produk kompromi yang disengaja. Terbentuk dari tarik ulur ambisi artistik dan pertimbangan platform. Artinya, The Elixir bukan hanya ‘didanai Netflix’. Film ini ‘dikembangkan bersama’ Netflix. Perbedaan ini fundamental. The Elixir sejak awal diciptakan dengan kodrat kreatif yang terikat pada logika platform.
Ekosistem yang menjadi konteks negosiasi ini berukuran besar. Netflix menutup 2024 dengan 301 juta pelanggan global. Indonesia mencatat 26,9 juta akun berbayar pada 2025 dan proporsi jam tayang terbesar di Asia Tenggara menurut laporan Media Partners Asia yang dikutip Variety.
Angka-angka ini penting dicatat bukan untuk menempatkan satu platform OTT mengungguli yang lain. Yang perlu direnungkan, data ini menunjukkan semakin banyak film yang kini pertama kali bertemu penontonnya melalui layar yang berada dalam genggaman.

Setiap kali sebuah film berhasil di dalam sebuah sistem, saya selalu bertanya lebih dari apa yang dimenangkannya, tetapi juga aturan main banal apa saja yang sedang dipatuhi. Semakin banyak layar, semakin luas distribusi, dan itu tentu bukan kabar buruk. The Elixir tidak bersaing dengan jadwal bioskop. Ia bertempur habis-habisan dengan seluruh isi internet, notifikasi, medsos, atau ribuan judul lain yang hanya berjarak satu sentuhan.
Dalam kondisi itu, tantangan terbesar film bukan lagi membuat penonton mau membeli tiket. Ada tugas berat lain: membuat penonton bertahan untuk terus menonton. Dan saya yakin, perubahan ini akan melahirkan persoalan atau kemungkinan baru, terutama untuk perkembangan sinema Indonesia.
The Elixir lahir di tengah logika platform dan ambisi artistik sineas yang bertemu, bernegosiasi, dan kadang-kadang terbaca saling melemahkan.
Empat Logika yang Menggeser dan Menekan Bahasa Sinema
Proses negosiasi yang Kimo gambarkan sebagai ‘konsep yang diperbesar, dikembangkan, dielevasi’ adalah cara platform ikut mendefinisikan dominasinya. Empat logika yang akan saya jabarkan adalah bagaimana dominasi itu terbaca dalam teks filmnya. Serta bagaimana, pada akhirnya, melemahkan filmnya sendiri.
Dalam The Elixir, saya melihat setidaknya ada empat gejala: retensi, universalitas, logika layar kecil, dan logika suara. Keempatnya tidak berdiri sendiri. Mereka bekerja pada ritme, mise-en-scène, sinematografi, editing, suara, desain zombie, hingga cara film mempertahankan perhatian penonton. Dan secara kumulatif, keputusan-keputusan tersebut justru mengerdilkan kemungkinan sinematik filmnya.
Logika Retensi: Film Takut Memberi Jeda
Perbedaan terbesar antara bioskop dan OTT adalah soal kontrol. Di bioskop, penonton sudah terlanjur berkomitmen: tiket dibayar, kursi diduduki, lampu dipadamkan, tak ada jalan keluar yang sopan sebelum kredit bergulung. Di OTT, komitmen itu nyaris tidak ada. Penonton bisa pergi kapan saja.The Elixir merespons kondisi ini dengan lima menit pertama film yang agresif. Kimo langsung melempar penonton ke hajatan warga, ranah komunal tempat orang-orang berkumpul tanpa pandang kelas. Tenda hajatan khitanan, kursi plastik, bapak-bapak ngudud, dan anak-anak yang berlarian meriuhkan adegan awal.
Musik pun langsung tegang, sebuah mobil melaju dari arah yang salah, kekacauan meledak. Sebelum penonton sempat berpikir “ini film apa?” zombie pertama sudah muncul di sana, di pinggir sawah, menyerbu hajatan.
Secara dramatik, pembukaan ini efektif. Tetapi efektivitas itulah yang patut dicurigai. Dalam bahasa konten, lima menit pertama yang heroik itu disebut hook. Kail yang bertugas menangkap penonton sebelum mereka memutuskan untuk pergi bergeser ke konten lain. Sementara itu, dalam industri OTT, seberapa lama penonton bertahan di menit-menit pertama sebelum beralih ke konten lain ini diistilahkan sebagai retention rate.
Hook hajatan ini bisa dibaca melalui dua kemungkinan. Pertama, Kimo memilih cold open tersebut karena kebutuhan retensi: konflik harus segera hadir sebelum perhatian penonton berpindah ke tempat lain. Kedua, karena ia memang menganggap hajatan sebagai pintu masuk paling organik untuk memperkenalkan dunia Wanirejo.
Kedua kemungkinan itu sama-sama valid. Namun efek yang terbaca adalah The Elixir nyaris tidak memberi banyak jeda penonton. Sejak menit pertama, film ini terus bergerak untuk memastikan perhatian penonton tetap tertambat pada layar.
Bandingkan dengan Train to Busan (2016). Sutradara Yeon Sang-ho memberi hampir 20 menit bagi penonton untuk mengenal Seok-woo (Gong Yoo) sebelum wabah zombie benar-benar pecah. Penonton melihatnya bekerja, mengabaikan anaknya, membelikan hadiah ulang tahun yang salah, dan perlahan memahami seperti apa dirinya tanpa perlu ada karakter lain yang menjelaskannya. Film memberi ruang bagi penonton untuk mengamati dan menyimpulkan sendiri.
Namun Yeon Sang-ho membuat film untuk bioskop, yang mana penonton sudah terlanjur duduk dalam gelap. The Elixir tidak punya asuransi semacam itu. Adegan tidak boleh terlalu lama berhenti. Ketegangan keluarga harus segera disambung aksi.
Masalahnya bukan karena setiap adegannya buruk. Justru persoalannya ada pada ketidakpercayaan film untuk membiarkan sebuah adegan bekerja lebih lama daripada kebutuhan alurnya.

Begitu satu emosi muncul, film buru-buru menjelaskan atau mengalihkannya. Begitu ketegangan terbentuk, film segera membayarnya dengan aksi. Tidak banyak ruang bagi tatapan, keheningan, atau situasi untuk mengendap dan menghasilkan makna setelah adegan berakhir. Di titik inilah tekanan retensi mulai terasa bukan sekadar sebagai persoalan distribusi.
Inilah bentuk nyata tekanan terhadap bahasa sinema: film seolah terus bertanya apakah penonton masih menonton, alih-alih memberi kesempatan kepada penonton untuk benar-benar mengalami apa yang sedang ditonton.
Sinema akhirnya tidak hanya kehilangan waktu untuk merenung. Filmnya kehilangan kepercayaan bahwa sebuah gambar dapat menahan perhatian tanpa terus-menerus menawarkan sesuatu yang baru.
Logika Universalitas: Film Mengimani Kata-Kata
Masalah berikutnya muncul dari ambisi The Elixir menjadi film lokal yang dapat dikonsumsi global. Jamu adalah pilihan yang cerdik sebagai pusat cerita. Namun untuk penonton Seoul atau Berlin yang tidak pernah mendengar jamu, semuanya harus dijelaskan dalam dialog, berkali-kali.Ketika satu budaya lokal diarahkan untuk menjangkau audiens internasional, tantangan (dan tekanannya) adalah lokalitas paling spesifik seringkali harus dijelaskan dengan sangat eksplisit hingga kadang kehilangan kedalaman implisitnya. Tekanan inilah yang membuat The Elixir lebih mengimani kata-kata daripada gambar. Efek lanjutannya terbaca di seluruh struktur narasi.
Karakterisasi dibangun melalui dialog yang terus berisik, alih-alih melalui ruang yang diberikan untuk tiap tokohnya bergerak dan diamati. Film tampak terlalu khawatir penonton tidak memahami apa yang sedang terjadi. Karakter-karakternya banyak berbicara tentang karakter lain. Ambisi Sadimin dijelaskan. Hubungan keluarga dijelaskan. Konflik Kenes dan Karina dijelaskan. Motivasi tokoh berulang kali diterangkan melalui percakapan dan pertengkaran.
Padahal film memiliki medium yang jauh lebih kaya daripada dialog. Sebuah tatapan dapat menyimpan sejarah hubungan. Sebuah ruang makan dapat menunjukkan siapa yang berkuasa. Jarak tubuh dapat memperlihatkan siapa yang sedang menghindari siapa. Sebuah benda yang terus muncul dapat mengungkap trauma tanpa seorang pun harus mengucapkannya. Di sinilah The Elixir kehilangan sebagian kekuatan mise-en-scène-nya.
Ini bisa dibaca sebagai kelemahan naskah, bisa juga sebagai respons terhadap penonton OTT yang menonton sambil membalas pesan atau membuka medsos.
Tekanan OTT mulai lagi terasa pada level bahasa sinema. Apa yang sebenarnya dapat disampaikan melalui satu adegan hening, di film OTT ini didorong habis-habisan. Para lakonnya jadi lebih cerewet dan rewel untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Di titik ini, tekanan untuk "bisa diikuti" oleh penonton global telah mengorbankan kedalaman yang bisa dicapai melalui gambar dan keheningan visual. Saya sendiri percaya, yang universal dalam sinema seharusnya bukan penjelasannya, melainkan pengalaman yang mampu ditimbulkan oleh gambar.
Logika Layar Kecil: Film Berkompromi dengan Ukuran Layar

Patrick Tashadian, sinematografer The Elixir, mengerjakan banyak adegan dengan cara yang sesungguhnya sinematik: sudut rendah pada adegan-adegan aksi, pencahayaan remang pada malam yang berhasil menciptakan tekstur kuat. Namun color grading pada adegan-adegan siang yang justru perlu dicermati secara khusus: desa Wanirejo divisualkan dengan cahaya terang, hijau daun yang hampir bersinar, udara yang tampak bersih seperti dalam iklan pariwisata.
Pilihan estetika sineas ini nyatanya bekerja baik di layar ponsel. Warna-warna jenuh terlihat vivid, memberikan kesan produksi yang mahal, mengundang, dan bisa membuat penonton bertahan. Namun pilihan ini juga punya efek lain yang nyatanya dirasakan: visual kehancuran yang mencekam jadi benar-benar berjarak dari penontonnya.
Inilah harga estetis yang harus dibayar. Film zombie seharusnya memungkinkan dunia tempat manusia hidup ikut terasa sakit. Bandingkan kondisi ini dengan visual di Zona Merah (Sidharta Tata, 2024) yang membiarkan pembusukan meresap ke dalam tekstur gambar itu sendiri. Sineas lebih memilih warna-warna eksterior yang berat, atmosfer yang lembap. Seolah lingkungan sudah sakit sebelum mayit (istilah zombie di semesta film ini) pertama bangkit. Penonton Zona Merah dipaksa masuk ke dalam pembusukan, bukan menikmatinya dari kejauhan seperti di The Elixir.

Horor bukan hanya perkara apa yang muncul di depan kamera, tapi juga bagaimana dunia sebelum kemunculan itu sudah membuat kita merasa tidak nyaman. The Elixir memilih keindahan. Dan keindahan itu, disadari atau tidak, adalah jaminan implisit bahwa dunia dalam film bisa dipulihkan pada akhirnya. Sebuah janji yang sangat sesuai dengan logika kepuasan platform.
Layar kecil mungkin saja mencabut kekuatan wide shot, hanya saja layar ponsel juga memberikan satu hadiah yang tidak kecil: detail permukaan sebagai kekuatan naratif. Di sinilah keputusan tata rias The Elixir yang katanya mengesankan itu harus dibaca bukan hanya sebagai pencapaian artistik, melainkan sebagai keputusan sinematik yang sadar terhadap medium distribusinya.

Tim tata rias Astrid Sambudiono mengerjakan lebih dari 200 aktor zombie dengan prostetik kantong semar: kulit yang melepuh dengan pola konsisten, pembuluh darah menonjol dan menggelap, cairan yang meresap ke dalam lipatan tubuh. Koreografer Boby Ari Setiawan menambahkan dimensi gerakan: tremor dari kerusakan saraf, olah vokal yang merepresentasikan sensasi terbakar dalam tenggorokan, kepala yang memiringkan diri pada sudut tidak wajar.
Hasilnya adalah zombie yang pada layar ponsel 6 inci, terasa mengisi seluruh bidang pandang, detail tekstur kulit yang tidak akan terbaca dari kursi baris ke-15 bioskop menjadi sepenuhnya kasat mata, bahkan terasa terlalu dekat untuk diabaikan.
Ini adalah perbedaan mendasar dari cara zombie dirancang untuk bioskop. Zombie dalam Night of the Living Dead (Romero, 1968) atau bahkan Train to Busan dirancang untuk dibaca dari jarak, yakni sebagai massa yang bergerak yang datang dari kejauhan. Detail tata rias hadir, namun fungsinya mendukung pergerakan dan postur, bukan menjadi aspek utama yang ditonjolkan.
Zombie The Elixir dirancang sebaliknya: mereka adalah kreatur yang paling menakutkan justru ketika kamera mendekat, ketika close-up memperlihatkan detail yang tidak bisa kita hindari. Ini adalah zombie yang didesain untuk layar kecil. Dalam close-up, zombie berubah menjadi semacam objek pameran efek khusus.
Di satu sisi, ini adalah pencapaian makeup. Di sisi lain, ini memperlihatkan perubahan fungsi tubuh monster dalam sinema OTT: tubuh zombie tidak hanya harus menakutkan dalam ruang cerita, tetapi juga harus menjual dirinya sebagai gambar.
Logika Suara yang Kehilangan Ruang
Pergeseran lain yang justru tidak terlihat dan memengaruhi kelahiran zombie di OTT adalah suara.Zombie yang lahir di bioskop mampu menciptakan ‘ketakutan bersama’ satu ruangan melalui sound. Suara tubuh zombie yang berubah, bunyi tulang yang bergeser pada sudut yang salah, dan sound penting lainnya yang bekerja dengan kekuatan penuh dalam sistem surround yang memenuhi ruangan. Efeknya diciptakan untuk dirasakan bersama-sama, sebagai ancaman yang hadir dalam dimensi ruang.
Penonton bioskop yang duduk dalam kegelapan bersama ratusan orang asing lainnya dipaksa untuk ikut berdiam diri. Ketakutan yang dialami secara komunal ini efektif melipatgandakan ketakutan individual.
Pengalaman komunal inilah bahan bakar yang hilang ketika horor pindah ke layar ponsel di kamar tidur yang ditonton sambil rebahan, sendirian pula. Di layar ponsel, separuh kekuatan itu hilang. Speaker ponsel atau televisi cenderung meratakan kedalaman spasial suara. Efeknya, horor yang bekerja sebagian besar melalui pendengaran kehilangan senjatanya. Ini tentu bukan semata-mata perkara speaker belaka. Ini persoalan ruang sinema.
Mesin Promosi sebagai Perpanjangan Bahasa Sinema OTT
Pergeseran bahasa sinema di era OTT juga penting dibaca dari mesin promosinya.
Film OTT harus menjemput penonton di dalam ekosistem medsos yang sudah mereka huni. Panji Mukadis tahu betul cara kerja ekosistem ini. Panji yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di SBM ITB dengan fokus riset perilaku konsumen film Indonesia mengamati bagaimana konten promosi film bermigrasi dari format satu arah ke ekosistem percakapan yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.
"Bioskop itu barang mahal, orang pasti memilih film dengan hati-hati," katanya. "Bahkan yang udah punya Netflix pun dia juga masih pilih-pilih." Dalam kondisi seperti itu, para "clipper" (orang yang menggunting potongan film untuk medsos) menjadi mesin referensi yang tidak bisa diabaikan.
"Makanya ada BTS fotografer. BTS makeup jadi satu konten sendiri. Proses perjuangan artisnya ada sendiri. Itu bikin orang penasaran," kata Panji. Ini adalah cara film OTT memperpanjang eksistensinya ke dalam ekosistem konten yang lebih luas.

Keragaman format promosi berupa potongan singkat Instagram Story, reels, youtube short, dan video BTS ini memanfaatkan estetika yang sudah dikenali oleh penonton muda dari konten keseharian mereka.
Konten BTS The Elixir memperlihatkan proses tata rias zombie secara rinci: bagaimana prostetik ditempelkan lapis demi lapis atau bagaimana aktor dilatih kelonjotan dan trengginas sebagai zombie Indonesia.
Ini bekerja dengan logika yang cerdik: memperlihatkan kerja keras di balik layar dan membangun apresiasi terhadap kualitas produksi, yang mengonversi apresiasi itu menjadi keputusan untuk menonton.
Deretan konten promosi ini bekerja dalam logika viral. Film OTT menjual konten yang bisa dipotong-potong pada semua titiknya. Inilah cara film OTT memahami bahwa setiap frame bisa menjadi pintu masuk dan undangan untuk menonton versi utuhnya.
Zombie Mengerdil, Lalu Kenapa?

Zombie The Elixir punya tugas yang nyatanya berat, yakni menjemput penonton di mana mereka berada, di kasur, di ruang tamu, di perjalanan commuter line, dan terus-menerus memberikan konfirmasi, ada alasan untuk tetap bertahan menonton. Di sinilah zombie The Elixir mengerdil.
Saya sendiri percaya, film yang baik tidak selalu harus segera menarik, karakter tidak selalu harus lekas dipahami. Horor tidak selalu harus segera memperlihatkan monster. Dialog tidak selalu harus menjelaskan konflik. Sebuah adegan bahkan tidak selalu harus membawa cerita maju. Justru dari ketidakefisienan semacam itulah bahasa sinema sering lahir. The Elixir memperlihatkan paradoks tersebut dengan sangat jelas.
The Elixir merupakan salah satu film zombie Indonesia dengan produksi ambisius. Tata riasnya mengesankan. Aksi dirancang serius. Distribusinya mencapai penonton global. Tetapi semakin film ini berhasil memenuhi tuntutan sebagai produk tontonan global, semakin terasa bahwa ia kehilangan sebagian kemungkinan untuk menjadi pengalaman sinematik yang aneh, lambat, tidak nyaman, atau sulit dipasarkan.
Ironisnya, zombie sendiri adalah genre yang sejak awal sangat dekat dengan kritik sosial. Zombie dapat menjadi tubuh kapitalisme. Tubuh konsumerisme, tubuh wabah, atau juga tubuh masyarakat yang kehilangan individualitas. Tetapi ketika zombie itu sendiri harus tunduk pada logika konten (harus cepat, terlihat jelas, mudah dipotong, mudah dipromosikan) monster yang seharusnya menjadi kritik terhadap sistem justru ikut menjadi produknya.
Zombie The Elixir akhirnya bukan hanya mayat yang bangkit karena jamu. Ia juga menjadi tubuh yang bangkit untuk memenuhi kebutuhan platform: terlihat, bergerak, mengejutkan, dan terus mempertahankan perhatian. Di situlah ironi terbesar film ini.
Jika bahasa OTT menjadi satu-satunya bahasa yang kita tahu cara berbicara, kita kehilangan sesuatu yang tidak mudah diukur dalam angka penonton: kemampuan untuk membuat film yang tidak menyelesaikan sesuatu, yang membiarkan penonton pergi dalam keadaan terguncang, yang mempercayai kekuatan visual, keheningan, dan ambiguitas sebagai instrumen naratif yang sah.
Pada akhirnya, yang paling penting adalah apakah para pembuat film masih memiliki cukup ruang untuk memilih bagaimana mereka ingin bercerita. Sebab begitu pilihan itu hilang, yang tersisa bukan lagi bahasa sinema, melainkan standar produksi belaka.
**
Saya mendedah film The Elixir atau Abadi Nan Jaya dalam dua pembacaan tentang bagaimana bahasa sinema yang dibentuk oleh algoritma Netflix di artikel ini, dan bagaimana bahasa kekuasaan yang dibentuk oleh dinasti di tulisan Kerja-Kerja Sineas Mengekalkan Politik Dinasti di Abadi Nan Jaya.
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































