Menuju konten utama

Tim Investigasi Kemenkes Ungkap Riwayat Kesehatan Jiwa SZM

Riwayat ini sudah ada saat SZM menjalani program magang, tapi tak terekam dalam proses skrining awal.

Tim Investigasi Kemenkes Ungkap Riwayat Kesehatan Jiwa SZM
Konferensi pers tim investigasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) soal kematian dr. SZM, Rabu (29/7/2026). FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tim investigasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan fakta baru soal kematian dr. SZM yang meninggal pada 26 Juli 2026 lalu. Dr. SZM disebut memiliki riwayat masalah kesehatan jiwa serta kerap kali menjalani terapi obat secara rutin.

Inspektur Investigasi Kemenkes, Hendra Teja, menjabarkan dr. SZM sebelum mulai bertugas sempat menjalani pemeriksaan kesehatan (MCU) dan hasilnya dinyatakan sehat.

“Jadi, di sini beliau melakukan kegiatan MCU dan hasilnya dinyatakan sehat jasmani. Jadi, secara fisik beliau dinyatakan sehat untuk melakukan kegiatan internship,” ungkap Heru dalam konferensi pers, di Gedung Kemenkes, Rabu (29/7/2026).

Tim investigasi menguji lima aspek dalam kasus ini. Empat di antara 5 aspek tersebut—yaitu jam kerja, beban kerja, izin sakit dan cuti, serta lingkungan kerja—didapati tidak bermasalah.

"Kami mendapatkan informasi dari hasil kegiatan investigasi kami bahwa saudara SZM ini memiliki permasalahan kesehatan jiwa dan diberikan terapi obat secara teratur," tutur Heru.

Riwayat itu, menurutnya, sudah ada sejak sebelum dr. SZM menjalani internship, tapi tidak tertangkap dalam proses skrining awal.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes, Yuli Farianti, menilai persoalan ini bukan tidak hanya berdiri sebagai kasus tunggal, melainkan terdapat pola berulang di beberapa kasus kematian peserta internship.

Menurutnya, hasil MCU semestinya dapat menjadi pegangan pendamping untuk memantau kondisi peserta setiap hari, tapi dalam praktiknya sering tidak ditindaklanjuti.

"Kami menyarankan hasil MCU dilihat wahana, bukan disimpan di laci. Kalau disimpan di laci, padahal ada catatan khusus yang terlupakan, harusnya itulah yang saya bilang bahwa MCU itu diserahkan ke pendamping. Pendamping harusnya melihat," ujar Yuli.

Dia menambahkan, secara umum, pendamping semestinya bisa mengenali perubahan sikap peserta sejak awal karena berinteraksi langsung setiap hari.

"Pendamping kan melihat sehari-hari dari peserta intensif, kelihatan dong kalau ada perilaku atau hal-hal yang, oh ini anak sepertinya ada hal khusus yang harus saya perdalam," katanya.

"Kalau memangnya tidak bisa, laporkan ke provinsi, provinsi tidak bisa naik ke atas, sehingga saya melihat ada hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari kalau ada awareness dari semua pihak.” tuturnya tegas.

Baca juga artikel terkait KASUS KEMATIAN atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Fadrik Aziz Firdausi