Menuju konten utama

5 Fakta soal Dugaan Femas Yani Arianto Kabur Saat Tur di Korsel

Banyak keganjilan yang ditemukan terkait hilangnya Femas saat tur wisata di Korsel. Ada dugaan Femas sengaja keluar dari rombongan. Ini beberapa faktanya.

5 Fakta soal Dugaan Femas Yani Arianto Kabur Saat Tur di Korsel
Ilustrasi backpacker. Getty Images/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Seorang pria asal Madiun bernama Femas Yani Arianto jadi perhatian publik setelah menghilang di Korea Selatan (Korsel). Ia dilaporkan hilang ketika mengikuti perjalanan wisata ke Negeri Ginseng tersebut. Belakangan, terungkap Femas diduga tak hilang, melainkan melarikan diri. Berikut fakta-fakta terkait kasus ini.

Kasus hilangnya Femas Yani Arianto mendadak viral di media sosial. Warganet Indonesia kini turut menyoroti sosok Femas dan kasus hilangnya pria itu secara misterius di Korea Selatan.

Kasus ini terjadi pada akhir Juni 2026 lalu. Kala itu, Femas melakukan perjalanan ke Korea Selatan untuk berlibur melalui agen perjalanan Berani Backpacker. Femas merupakan salah satu dari 27 peserta perjalanan wisata tersebut.

Akan tetapi, setiba di Korea Selatan, Femas justru hilang. Keberadaannya tidak diketahui. Seluruh jalur komunikasi juga tidak ditanggapi.

Seiring waktu berlalu, peristiwa itu justru tampak seperti telah direncanakan oleh Femas. Hal itu, lalu memicu berbagai spekulasi, termasuk dugaan bahwa Femas ikut tur wisata Korea sebagai kedok untuk mengakali sistem imigrasi.

Fakta-fakta Hilangnya Femas Saat Tur di Korea Selatan

Keberadaan Femas hingga kini belum diketahui. Alasan Femas menghilang juga belum terungkap. Namun, sejumlah fakta yang terungkap terkait kasus ini telah memicu berbagai spekulasi publik.

Dari kronologi sampai kejanggalan kasus ini, berikut sejumlah fakta terkait hilangnya Femas Yani Arianto saat tur wisata di Korea Selatan.

1. Femas Diduga Sengaja Memisahkan Diri dari Rombongan

Kasus ini bermula setelah Femas dan rombongan tur Berani Backpacker sampai di Korea Selatan pada akhir Juni 2026. Kala itu, ada 28 peserta termasuk Femas yang ikut dalam tur wisata tersebut.

Kemudian, pada hari pertama, perjalanan tampak berjalan normal. Namun, hari itu jadi hari terakhir bagi peserta maupun staf Berani Backpacker berjumpa dengan Femas.

Pada malam hari, Femas terakhir kali terlihat bersama rombongan wisata. Kala itu, Femas pamit hendak melihat-lihat sepatu di kawasan Myeongdong kepada staf agen travel itu. Ia pun pergi sendirian.

Keanehan lalu muncul setelah Femas tak kunjung kembali ke hotel. Ketika dihubungi melalui telepon maupun pesan singkat, Femas tak menanggapi. Femas diduga telah memisahkan diri dari rombongan.

Pihak agen travel kemudian melaporkan peristiwa ini ke kepolisian setempat, meski tak bisa diproses lantaran prosedur hukum yang rumit. Hingga rombongan pulang ke Indonesia, Femas tak kunjung diketahui rimbanya.

2. Agen Travel Temukan Keganjilan

Sekembalinya ke Indonesia, pihak Berani Backpacker lalu berusaha mengusut peristiwa yang terjadi. Mereka turut mencari tempat tinggal Femas di Madiun untuk mencari keterangan pihak keluarga.

Seiring proses pencarian informasi itu, pihak agen travel menemukan keganjilan. Femas rupanya sempat mengikuti les bahasa Korea sebelum berangkat berwisata.

Les yang diikuti Femas itu juga tak dilakukan di lembaga kursus umum. Lelaki asal Madiun itu rupanya mengikuti les di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) khusus tujuan Korea.

Hal ini, kemudian memperkuat dugaan pihak agen travel bahwa Femas sengaja kabur dari rombongan ketika berada di Korea Selatan. Meski begitu, kalaupun dugaan itu benar, masih belum jelas apa motivasi Femas melakukannya.

3. Keluarga Diduga Tutupi Keberadaan dan Rencana Femas

Biro perjalanan juga kemudian menaruh curiga pada keluarga Femas. Menurut pihak Berani Backpacker, keluarga Femas tampaknya telah menutup-nutupi informasi terkait Femas.

Dugaan itu mencuat setelah pihak biro perjalanan mendatangi ibu kandung Femas yang tercatat sebagai sponsor atau penjamin pria yang hilang itu. Ibu Femas ditemui pihak Berani Backpacker di Wungu, Madiun, Jawa Timur.

Semula, sang ibu mengaku tak tahu menahu tentang apa yang dilakukan anaknya. Ia mengklaim bahwa dokumen-dokumen perjalanan yang digunakan untuk pemberangkatan ke Korea dibuat sendiri oleh Femas tanpa sepengetahuannya.

Akan tetapi, hal itu rupanya berlainan dengan apa yang terjadi. Beberapa hal menunjukkan dugaan bahwa ibu Femas tidak mengungkapkan informasi yang sebenarnya ketika dimintai keterangan oleh pihak agen travel..

Beberapa hal itu seperti ibu Femas menyebut tak tahu menahu tentang dokumen. Padahal, ia telah mencetak rekening koran di bank secara pribadi, mengindikasikan bahwa ia sebenarnya tahu.

Ibu Femas juga telah menghapus jejak percakapan teks dan telepon dengan Femas. Ia mengaku melakukannya karena kesal.

Ibu Femas juga menyebut anaknya itu sudah tak pulang selama sebulan. Namun, hal ini berseberangan dengan keterangan tetangga yang sempat melihat Femas salat Jumat di rumahnya sebelum berangkat ke Korea.

4. Keluarga Femas Dilaporkan ke Kepolisian

Keterangan yang tidak meyakinkan dari pihak keluarga Femas itu kemudian membuat Berani Backpacker melaporkan penjamin Femas alias ibunya ke polisi. Laporan ini didasari pada dugaan bahwa ibunya telah menutupi informasi terkait anaknya yang mendadak hilang.

5. Agen Travel Kena Denda Rp125 juta

Pihak agen travel Berani Backpacker menyebut bahwa kasus ini telah membuat mereka merugi. Rentetan peristiwa hilangnya Femas telah membuat Berani Backpacker terancam sanksi dari otoritas terkait, termasuk otoritas Korea Selatan.

Biro perjalanan itu menyebut bahwa mereka telah dikenakan denda sebesar Rp125 juta akibat kasus ini. Mereka juga menyebut tengah menghadapi risiko kendala memberangkatkan peserta wisata di kemudian hari.

Menurut pihak Berani Backpacker, kasus ini dapat memicu risiko turunnya kepercayaan otoritas Korea Selatan terhadap biro perjalanan tersebut. Jika terjadi, hal itu akan mengganggu operasional perusahaan tersebut.

Baca juga artikel terkait BACKPACKER atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar