Menuju konten utama

1 Tubuh Tak Halangi Asa Kembar Siam di Subang Kejar Cita-Cita

Nur Hidayah dan Nur Syafaat, anak dengan kondisi kembar siam di Subang, mengikuti MPLS di hari pertama masuk sekolah dengan ceria.

1 Tubuh Tak Halangi Asa Kembar Siam di Subang Kejar Cita-Cita
Perjuangan Bocah Kembar Siam Nurhidayah dan Nursyafaat Raih Pendidikan di SLB Trituna Subang. foto/Subanginfo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keterbatasan fisik tak membuat dua bocah kembar siam asal Subang, Jawa Barat, Muhammad Nur Hidayah dan Muhammad Nur Syafaat, menyerah. Keduanya lahir pada 2018 lalu, membuktikan bahwa keterbatasan tubuh tidak membatasi impian untuk mengenyam pendidikan seperti anak normal pada umumnya.

Pagi ini, Rabu (15/7/2026), menjadi hari pertama Nur Hidayah dan Nur Syafaat masuk sekolah di SLB Negeri Trituna. Keceriaan terpancar di raut wajah mereka, lantaran mimpinya terwujud bisa sekolah dan punya banyak teman.

Kehadiran anak kembar siam tersebut tentu jadi pusat perhatian di sekolah. Hal ini karena mereka menumpangi satu kursi roda, dengan tubuhnya menyatu di bagian pinggul dan hanya memiliki dua kaki.

Di hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), keduanya duduk di satu kursi khusus. Terlihat kekompakan mereka begitu sabar, tak pernah mengeluh sehingga bikin kagum siapa saja yang melihatnya, begitupun dengan kesabaran kedua orang tuanya yang begitu tegar.

Nur Hidayah dan Nur Syafaat mengikuti MPLS dengan ceria. Menyanyi bersama rekan-rekannya yang sama-sama memiliki keterbatasan fisik. Nur Hidayah mengaku senang bisa sekolah karena punya banyak teman bermain bersama.

"Biasanya di rumah tidak kemana-mana, hanya, sekarang di sekolah asyik punya banyak teman, bapak ibu gurunya juga baik dan perhatian," kata Nur Hidayah.

"Kegiatannya masih nyanyi-nyanyi, senang seru banget," lanjutnya.

Ketulusan Sang Ibu Rawat Anak Kembar Siam

Menurut Wini Pertiwi (42), ibunda dari kedua bocah kembar siam tersebut, mengatakan bahwa kondisi buah hatinya saat ini dalam keadaan sehat dan selalu terlihat ceria saat bermain di rumah.

"Alhamdulillah walaupun memiliki keterbatasan fisik dengan tubuh menempel dan hanya memiliki dua kaki tapi kedua buah hati saya ini sehari-harinya sangat ceria seperti bocah pada umumnya," ujar Wini.

Perasaan haru bercampur bangga dirasakan Wini kala melihat dua buah hatinya mulai bersekolah hari ini di SLB Negeri Trituna.

"Saya bangga sekali, Syafaat dan Hidayah sudah ingin sekolah. Bahkan hari ini pertama masuk sekolah, mereka berdua terlihat ceria, berbaur dengan teman sekelas walaupun hanya duduk di kursi roda. Mungkin," katanya.

Wini lantas menceritakan sejak mengandung tak merasa memiliki kelainan apapun. Bahkan, saat menjalani pemeriksaan kandungan dan dilakukan tes USG pada usia kehamilan 7 bulan, terlihat bayi normal berjenis kelamin perempuan.

"Tak ada tanda-tanda kembar siam, di USG normal terlihat berkelamin perempuan, detak jantung juga ada 1. Namun rencananya di usia 9 bulan mau di USG lagi tapi di usia masih 8 bulan sudah lahir prematur dan persalinan juga normal," jelasnya.

Bocah Kembar Siam

Perjuangan Bocah Kembar Siam Nurhidayah dan Nursyafaat Raih Pendidikan di SLB Trituna Subang. foto/Subanginfo

Setelah lahir kata Wini, anaknya yang kembar siam tersebut dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

"Saat lahir kondisi anak saya memiliki 3 kaki, satu kaki tidak normal, kondisi jantung bocor dan sudah sembuh sekarang, saat lahir juga memiliki satu ginjal, namun kemudian tumbuh ginjal baru jadi masing-masing punya satu ginjal," ungkapnya.

"Bayi kembar tersebut juga pernah menjalani operasi pemotongan salah satu kaki yang tumbuh kecil, Alhamdulillah berhasil," imbuhnya.

Untuk tindakan operasi selanjutnya, kata Wini, belum bisa dilakukan, karena dokter mengatakan kalau operasi dilakukan sekarang terlalu banyak mudaratnya.

"Jadi kemungkinan operasi selanjutnya pemisahan tubuh kedua bocah kembar siam ini, anak saya ini, akan dilakukan setelah anak itu beranjak dewasa dan mengerti segala risikonya," ucapnya.

Wini berharap kedua anaknya yang kembar siam tersebut bisa hidup normal seperti anak sebayanya.

"Semoga selamanya Nur Syafaat dan Nurhidayah ini sehat dan bisa mengenyam pendidikan hingga dewasa seperti anak pada umumnya,' harapnya.

Bantuan Terus Mengalir

Hingga saat ini bantuan untuk Nur Hidayah dan Nur Syafaat masih terus mengalir dari berbagai yayasan. Mereka secara rutin memberikan bantuan kepada Wini demi kebahagian anak-anaknya.

Salah satu bantuan yang datang yaitu dari Yayasan Amal Baik Insani Bandung, yang memberikan modal usaha untuk kedua orang tua Nur Hidayah dan Nur Syafaat.

Sri Indriyani, relawan Yayasan Amal Baik Insani Bandung, mengatakan lembaganya sudah empat kali memberikan bantuan.

"Kami sudah bangunkan warung untuk berjualan beserta isinya, mudah-mudahan bisa membantu ekonomi keluarga kembar Siam," ucap Sri Indriyani, Rabu (15/7/2026).

Bantuan ini merupakan amanah dari para dermawan yang menitipkan rezekinya untuk membantu biaya kehidupan Nur Hidayah dan Nur Syafaat.

"Mudah-mudahan bisa bermanfaat, untuk membantu keluarga dan kehidupan bocah kembar Siam yang saat ini mulai tumbuh besar usia sudah 8 tahun," katanya.

Anak kembar siam tersebut saat ini tinggal bersama kedua orang tuanya di Duta Firdaus Residence, Desa Cibogo, Kabupaten Subang.

Untuk komunikasi, Syafaat dan Hidayah sangat lancar, bahkan terlihat begitu pintar saat berbicara dan tentunya membuat kedua orang tuanya, Wini dan Azis bahagia.

"Sekalipun memiliki keterbatasan fisik namun kedua anaknya yang kembar siam tersebut selalu ceria bahkan ingin sekolah seperti anak sebayanya,"ucapnya.

Bantuan juga datang dari Dokter Maxi, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, yang dikenal dermawan. Ia rutin memberikan bantuan untuk membantu kebutuhan keluarga anak kembar siam tersebut.

"Alhamdulillah, kita selalu rutin membantu kebutuhan hidup Nurhidayah dan Nursyafaat. Mudah-mudahan bisa bermanfaat," ucap Maxi.

Maxi mengaku senang, hari ini Nur Hidayah dan Nur Syafaat mulai bersekolah di SLB Trituna. Maxi berharap, dengan mulai sekolahnya bocah kembar Siam tersebut, bisa semakin sehat, ceria dan jadi anak yang pintar.

"Keterbatasan fisik tidak membuat bocah kembar Siam tersebut minder dan menyerah, mereka justru ingin sekali sekolah," katanya.

Baca juga artikel terkait HARI PERTAMA SEKOLAH atau tulisan lainnya dari Subang Info

tirto.id - News Plus
Kontributor: Subang Info
Penulis: Subang Info
Editor: Bayu Septianto