Menuju konten utama
Penggusuran SDN Pondok Cina 1

Menolak Lupa SDN Pondok Cina 1: Sekolah Rakyat Kini Jadi Puing

Sekolah SDN Pondok Cina 1 dulunya merupakan sekolah rakyat. Kini, dibangun Rumah Kreatif--proyek senilai Rp15,7 miliar yang dibangun Pemkot Depok.

Menolak Lupa SDN Pondok Cina 1: Sekolah Rakyat Kini Jadi Puing
SDN PONDOK CINA 1, Selasa, 14, Juli 2026. tirto.id/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Suara ekskavator terdengar paling keras, Selasa (14/7/2026) pagi. Ember besinya perlahan mengeruk tumpukan beton, sementara debu beterbangan mengikuti setiap ayunan alat berat. Saya berdiri di bekas halaman SDN Pondok Cina 1, Depok, memandang hamparan puing yang kini menggantikan ruang-ruang kelas tempat anak-anak pernah belajar membaca, berhitung, dan bercita-cita.

Di sisi kanan lahan, rangka-rangka besi mulai berdiri. Beberapa pekerja tampak mengelas konstruksi yang kelak menjadi bagian dari Rumah Kreatif, proyek senilai Rp15,7 miliar yang dibangun Pemerintah Kota Depok. Tepat di sebelahnya, bangunan Gramedia berdiri kokoh. Kontras dengan sekolah yang kini tinggal reruntuhan.

Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini dipenuhi batu bata pecah dan besi-besi bekas itu dahulu merupakan sekolah dasar pertama di kawasan Pondok Cina. Sejarah sekolah yang berlokasi di Jalan Margonda, Depok, itu, bermula pada 1946, saat kegiatannya masih menumpang di gedung milik seorang tuan tanah bernama Tuan Baer.

Sayangnya, masa-masa itu tidak bertahan lama. Memasuki tahun 1960-an, aktivitas persekolahan terpaksa mati suri setelah ahli waris Tuan Baer meminta kembali bangunan tersebut. Tak mau menyerah, para siswa kemudian dipindahkan ke sebuah lahan garapan kosong. Berkat iuran dan inisiatif tokoh masyarakat Pondok Cina, sebuah sekolah baru pun mulai dibangun. Menariknya, proses pembangunan ini menggerakkan seluruh gotong royong warga setempat, bahkan anak-anak didik pun turun tangan langsung demi tegaknya tempat belajar mereka.

Saya menyusuri gang belakang sekolah, saya melihat seorang perempuan tengah duduk menjaga warung miliknya. Ibu Fitri, pernah menjadi wali murid, saat konflik berlangsung.

"Sebenarnya itu sudah jadi legenda di sini. Dulu sebelum jadi SD Pondok Cina 1, itu sekolah rakyat. Orang tua, kakek-kakek kami juga sekolah di situ," kata Fitri kepada saya, Selasa.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa yang hilang bukan hanya bangunan, melainkan juga sepotong sejarah warga Pondok Cina.

Polemik Penggusuran SDN Pondok Cina 1 Kota Depok

Kondisi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Cina 1, Kota Depok pada Kamis (15/12/2022). (Tirto.id/Farid Nurhakim)

Sekitar 2016, warga mulai mendengar kabar bahwa sekolah akan direnovasi. Murid-murid dipindahkan ke sekolah lain dengan alasan perbaikan bangunan. Tak lama kemudian muncul wacana baru.

Lahan sekolah disebut-sebut akan dijadikan masjid. Setelah itu, rencana kembali berubah. Pemerintah menetapkan lokasi tersebut sebagai tempat pembangunan Rumah Kreatif. Perubahan rencana yang berulang membuat warga kebingungan.

"Jadinya simpang siur. Mau jadi masjid, enggak jadi. Mau jadi ini, mau jadi itu," tutur Ibu Fitri.

Ketidakjelasan itu memuncak ketika sejumlah bangku sekolah mulai diangkut, padahal surat resmi pengosongan belum diterima orang tua murid.

"Belum ada surat pengosongan, tapi bangku-bangku sudah diangkut," kenangnya.

Peristiwa itu menjadi pemicu gelombang penolakan. Orang tua murid mendatangi Balai Kota Depok, menggelar aksi, hingga mempertanyakan keputusan pemerintah yang dianggap mengorbankan sekolah yang masih aktif digunakan.

Di tengah tarik-ulur itu, anak-anak justru menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Guru berada dalam posisi serba sulit karena harus mengikuti kebijakan Dinas Pendidikan, sementara para orang tua bersikeras mempertahankan sekolah.

"Kasihan kan anak muridnya enggak ada yang ngajar. Ada yang ngajar, tapi terbatas dibantu sama anak Universitas Indonesia," kata wali murid itu.

SDN PONDOK CINA 1

SDN PONDOK CINA 1, Selasa, 14, Juli 2026. tirto.id/Putri Az zahra

Potret anak-anak belajar tanpa pendampingan guru menjadi salah satu momen paling memilukan dalam konflik tersebut. Pendidikan yang semestinya menjadi ruang aman justru terseret dalam tarik-menarik kebijakan.

Meski demikian, proses pembangunan tetap berjalan. Murid-murid dipindahkan ke sekolah lain. Sebagian bahkan sempat tersebar di tiga sekolah berbeda.

Perpindahan itu ternyata meninggalkan luka bagi sebagian anak. "Anak-anak merasa numpang. Psikis mereka pasti kena," ujar Ibu Fitri.

Kini, anak-anak yang dulu diperjuangkan sebagian besar telah lulus. Aksi demonstrasi pun perlahan menghilang. Bukan karena seluruh persoalan selesai, melainkan karena waktu memaksa mereka melangkah.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Depok menegaskan pembangunan Rumah Kreatif Anak Istimewa dilakukan untuk menghadirkan ruang pembelajaran dan pengembangan bakat bagi anak berkebutuhan khusus.

Lurah Pondok Cina, Nurman Hakim, mengatakan terkait rencana pembongkaran gedung eksisting, masyarakat sekitar tidak keberatan, dengan catatan pelaksana bertanggung jawab apabila masyarakat terkena dampak dari pembongkaran tersebut.

“Semoga pada waktunya nanti kegiatan pembongkatan eksisting gedung dan pembangunan gedung RKAI berjalan lancar, serta diberikan kemudahan oleh Allah SWT,” kata Nurman Hakim, dilansir dari website resmi Pemkot Depok, Selasa.

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Ibu Fitri. "Kalau memang buat anak-anak SLB, kita ikhlas saja. Tapi kalau jadi apartemen atau yang lain, pasti marah," ujar Ibu Fitri.

SDN PONDOK CINA 1

SDN PONDOK CINA 1, Selasa, 14, Juli 2026. tirto.id/Putri Az zahra

Namun penerimaan itu tidak menghapus rasa kehilangan.

Saya kembali memandang lahan yang kini dipenuhi puing. Di bawah terik matahari, ekskavator terus bekerja tanpa henti. Debu terus beterbangan, menutupi bekas ruang kelas yang dulu dipenuhi suara anak-anak.

Di atas tanah yang sama, sejarah lama telah berakhir, tetapi pertanyaan tentang bagaimana seharusnya pembangunan menghormati ruang pendidikan dan suara masyarakat akan terus hidup dalam ingatan mereka.

Baca juga artikel terkait PENGGUSURAN SDN 1 POCIN atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama