tirto.id - Sejumlah wilayah di Jawa Barat mengalami mati lampu pada Rabu (10/6/2026). Masyarakat di Bogor, Bekasi hingga Bandung ramai mengeluhkan hal tersebut di media sosial. Hal ini mengingatkan tentang insiden mati listrik se-Jawa atau dikenal dengan Blackout Jawa 2019 lalu.
Pemadaman listrik yang terjadi pada Rabu tersebut berdampak pada 14 wilayah di Jawa Barat. Mati listrik Cikarang, Bandung, Garut, Bogor, Majalaya, Sukabumi, Cirebon hingga Bekasi tidak terhindarkan.
Melalui akun media sosial resminya, PLN menyebut bahwa pemadaman listrik itu terjadi karena “pemeliharaan sistem kelistrikan”. Perusahaan pelat merah itu juga memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibatnya.
Apa yang disebut PLN sebagai “pemeliharaan sistem kelistrikan” itu rupanya merupakan gangguan pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa I di Karawang. Adanya gangguan ini diungkap oleh Manajer PLN ULP Kota Bogor Andis Verindra Putra.
Andis menyebut gangguan telah membuat PLN melakukan manajemen beban. Oleh karenanya, pemadaman listrik dilakukan untuk mengalokasikan beban dan mencegah blackout atau pemadaman total terjadi.
"Gangguan pembangkit PLTGU Jawa 1, sehingga PLN melakukan manajemen beban untuk menjaga keandalan pasokan listrik kepada pelanggan," kata Andis dikutip Warta Ekonomi, Kamis (11/6).
Meski begitu, PT Jawa Satu Power (JSP) selaku pengelola PLTGU Jawa I menjelaskan, pembangkit listrik masih beroperasi normal dan melayani beban sekitar 700 MW. Namun, Corporate Secretary PT JSP Haidar F mengonfirmasi bahwa salah satu unit PLTGU sempat dilakukan pemeliharaan.
Pemadaman yang terjadi pada Rabu sempat mengkhawatirkan publik Jawa Barat. Hal ini lantaran sebelumnya telah terjadi insiden blackout Sumatra pada akhir pekan lalu yang membuat 1,5 juta pelanggan PLN terdampak mati lampu.
Rentetan peristiwa pemadaman listrik ini juga mengingatkan publik akan insiden blackout Jawa yang pernah terjadi pada 2019.
Apa Itu Blackout Jawa 2019?
Blackout Jawa 2019 merupakan insiden mati listrik total yang terjadi di Pulau Jawa. Pemadaman listrik kala itu terjadi secara luas di Jakarta, Banten, Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah dan sekitarnya.
Insiden ini terjadi pada 4 hingga 5 Agustus 2019. Luasnya cakupan pemadaman listrik membuat total kerugian akibat insiden ini mencapai ratusan miliar rupiah.
Pemadaman terjadi karena aliran listrik di Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Ungaran-Pemalang 500 KV tiba-tiba turun secara drastis. Hal ini kemudian turut memengaruhi sirkuit Depok-Tasikmalaya yang berakibat pada gangguan di tiga SUTET secara bersamaan.
Insiden ini sempat membikin banyak orang khawatir. Banyak isu beredar, termasuk isu liar, bahwa pemadaman listrik akibat sabotase pihak tertentu.
Seturut laman resmi Ombudsman RI, pihak PLN semula menyebut mati lampu di Jawa ini terjadi akibat faktor alam, tepatnya pohon sengon. Pohon itu disebut PLN memiliki dahan dan daun yang lebat yang telah mengganggu aliran listrik.
Akan tetapi, investigasi Ombudsman RI menemukan, sebab utama insiden Blackout Jawa 2019 adalah kelalaian PLN dalam pemeliharaan infrastruktur yang mereka miliki. PLN disebut Ombudsman mengetahui potensi gangguan akibat faktor alam seperti pepohonan, namun tidak bekerja untuk mengantisipasinya.
Ombudsman menilai PLN lalai karena tidak menganggarkan biaya pemangkasan pohon di sekitar kabel listrik bertegangan tinggi. Padahal, hal itu disebut sebagai hal krusial.
Selain itu, Ombudsman juga menemukan, PLN telah melakukan penyimpangan prosedur ketika blackout terjadi. Hal itu terjadi pada pengoperasian gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) 500 kV Pemalang.
Menurut Ombudsman kala itu, GITET 500 kV Pemalang belum mengantongi sertifikat laik operasi (SLO). Legalitasnya juga belum resmi karena belum adanya serah terima antara perusahaan pengembang GITET dengan PLN. Namun, infrastruktur itu ternyata telah dioperasikan.
Akibat insiden ini, PLN sampai harus menyiapkan dana kompensasi sebesar Rp840 miliar untuk para pelanggan yang terdampak. Kompensasi diberikan PLN lewat potongan harga listrik dan penambahan daya bagi para pelanggan terdampak.
5.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































