Menuju konten utama

Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda, MUI: Jangan Ada Perpecahan

MUI mengajak agar masyarakat dapat menyikapi dengan dewasa dan meminta untuk menjauhi perpecahan.

Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda, MUI: Jangan Ada Perpecahan
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis saat ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (13/7/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Majelis Ulama Indonesia memprediksi adanya perbedaan awal Ramadhan 2026 di antara umat Islam di Indonesia. Sebab, ada yang telah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari sesuai kalander global.

"Jadi bisa dipastikan awal Ramadhan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," kata Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, dalam keterangan tertulisnya dikutip melalui laman MUI Digital, Selasa (17/2/2026).

Ia pun mengajak agar masyarakat dapat menyikapi dengan dewasa dan meminta untuk menjauhi perpecahan.

"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran. Tidak perlu dibawa-bawa (jangan ada) pada perpecahan, tetapi dijadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," ucap Cholil.

Menurut Cholil, potensi perbedaan ini terlihat dari adanya pihak yang menggunakan hisab sekaligus kalender global dan menggunakan hisab sekaligus metode imkan rukyat yang kemungkinan bisa dilihat dari terbenamnya matahari. Menurut imkan rukyat, kata Cholil, kemungkinan hilal bisa dilihat ini tak mungkin dapat diamati.

Dia menyebut kemungkinan posisi derajat hilal masih yang berada di bawah 3 derajat. Sementara ketentuan Mabims, yakni ulama-ulama yang tergabung dalam forum ulama Asia Tenggara yakni Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darusalam menyepakati bahwa hilal bisa dilihat kalau sudah berada di atas 3 derajat.

Ulama yang akrab disapa Kiai Choli ini mengatakan pembelajaran itu seperti kajian tentang wihdatul mathali’ dan sa’atul mathali’, yakni bagaimana melihat bulan itu berdasarkan pada lokasi masing-masing. Sehingga, perbedaan seharusnya dapat dijadikan bahan motivasi dan pembelajaran.

"Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang dilihat bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa," terangnya.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama