tirto.id - Sebuah bom rakitan meledak di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang awal pekan ini. Selasa (14/7/2026) menjelang jam makan siang, satu dari empat bom rakitan meledak dan membuat seisi sekolah panik.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri bersama Polda Sumatra Barat mengamankan tas gelap berisi kotak hitam serta tiga bom rakitan yang belum diledakkan. Barang-barang berbahaya itu diduga milik seorang siswa sekolah tersebut berinisial R (17). Selain itu, mereka mengamankan barang lain seperti ponsel hingga pisau.
Meski tidak diketahui target serangan, R diketahui terinspirasi oleh insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta pada November 2025 lalu. Kala itu, siswa kelas XII di sekolah tersebut berinisial F juga melakukan aksi serupa dengan meletakkan 7 bom rakitan. Hanya empat yang meledak, di masjid serta di area kantin sekolah. Insiden itu membuat 96 orang terluka, mayoritas para siswa, termasuk F sendiri.
Namun, polisi masih mendalami pengakuan R yang terinspirasi aksi F di Jakarta tahun lalu.
“Pelaku mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh Tim Penyelidik,” ungkap Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, sebagaimana diberitakan Tirto, Selasa (14/7/2026) lalu.

Ia juga memastikan tidak ada korban jiwa serta korban luka dalam peristiwa bom di MAN 3 Padang. Seluruh barang bukti telah disita untuk kepentingan penyelidikan. Berdasarkan keterangan awal dari R, bom rakitan tersebut diduga dirakit sendiri menggunakan bahan-bahan yang diperoleh secara daring. R juga diduga merakitnya di rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Serupa dengan kasus di SMAN 72 Jakarta, R juga disebut tergabung dalam grup-grup daring yang diduga mengajarkan dan memaparkan konten-konten ekstremisme berbalut kekerasan, termasuk cara merakit bom secara otodidak. Namun, pengakuan masih dalam pendalaman.
Kapolresta Padang, Kombes Apri Wibowo, mengatakan ledakan terjadi di area depan ruang kelas XII. Berdasarkan penyelidikan awal, benda yang meledak diduga bom rakitan berdaya ledak rendah (low explosive). Ledakan terjadi di luar kelas dan di dalam laci sebuah meja. Berdasarkan pemeriksaan, aksi R diduga dipicu rasa dendam dan tekanan psikologis yang dialaminya.
Menurut Apri, R mengaku mengalami perundungan sejak duduk di kelas II. Selain itu, ia juga bercerita pernah mengalami perlakuan serupa sejak masih kecil. R pun akan diproses dengan hukum anak meski juga berstatus korban.
"Setelah dicek dan diselidiki, karena rasa dendam, rasa tertekan, karena sering di-bully oleh temannya, sehingga yang bersangkutan ingin mengeluarkan emosinya dengan melakukan hal tersebut," ujar Apri.

Ekstremisme Mulai Merambah Generasi Muda dan Sekolah
Adanya irisan antara peristiwa bom rakitan yang diledakkan pelajar di MAN 3 Padang dan di SMAN 72 Jakarta menunjukkan bahwa paparan ideologi ekstremisme berbasis kekerasan telah menyentuh ruang daring yang dikonsumsi remaja Indonesia sehari-hari. Konten-konten dan ideologi ekstrem berbalut teror tersebut menyebar secara senyap dalam grup dan forum di dunia maya.Pengamat terorisme sekaligus Visiting Fellow Nanyang Technological University Singapura, Noor Huda Ismail, menilai aksi ekstremisme berbalut teror kekerasan yang belakangan terjadi di Indonesia memiliki pola serupa dengan aksi teror yang banyak terjadi di Barat seperti aksi penembakan massal hingga penikaman di Eropa dan Amerika Serikat.
Pola ekstremisme dengan teror ini diwanti-wanti tengah tumbuh di kawasan Asia Tenggara, salah satunya di kalangan anak muda Indonesia. Tidak seperti serangan terorisme klasik yang didasari radikalisasi ideologi ekstremisme agama, saat ini paparan dari dunia maya membuat anak-anak muda di belahan benua mana saja dapat terpapar ideologi kekerasan berbalut teror secara campur-baur.
"Kami melihat adanya fenomena Composite Violent Extremism. Artinya, ideologinya sudah bercampur. Tidak murni agama, tidak murni politik. Dunia maya menyuburkan, ruang online hari ini jadi 'pasar ide' di mana narasi kebencian, konspirasi, neo-Nazi, incel, sampai narasi kekerasan dipaketkan jadi satu," jelas Noor Huda kepada wartawan Tirto, Rabu (15/7/2025).
Kemudahan Internet, kata Noor Huda, memang menjadi jembatan paparan konten ekstrem terhadap anak-anak muda di Indonesia. Tidak seperti pola rekrutmen terorisme terdahulu, ini membuat anak muda teradikalisasi secara individu lewat layar gawai mereka, tanpa jaringan organisasi secara fisik.

Noor Huda juga menilai krisis identitas dan keterasingan berperan dalam menyuburkan fenomena ekstrem di kalangan anak muda, apalagi pelaku teror di kedua sekolah sama-sama korban perisakan.
"Usia pelajar adalah masa pencarian jati diri. Ketika mereka merasa tidak didengar di rumah dan sekolah, narasi "heroik" dari paparan daring bisa masuk," ungkap Noor Huda.
Heroisme itulah yang ditangkap secara salah kaprah di kepala anak-anak muda yang setuju dan mendukung, bahkan hendak meniru atau copycat, para pelaku ekstremisme berbasis kekerasan yang telah membantai orang-orang dengan melakukan penembakan massal, pengeboman, serta penikaman acak.
Sebagai contoh, kasus F di SMAN 72 Jakarta mencantumkan 14 Words, semboyan rasialis kulit putih yang berbunyi we must secure the existence of our people and a future for white children; menulis angka "1189" yang merujuk tahun Perang Salib Ketiga; frasa "For Agartha" yang merujuk kerajaan mitos populer di lingkaran neo-Nazi daring. Hal itu menjadi contoh peniruan anak muda dengan gerakan heroisme tersebut.
"Karena itu literasi digital dan counter-narrative harus jadi prioritas, bukan hanya debunking ideologi tertentu," ungkap Noor Huda.
Sementara itu, Peneliti dari Pusat Riset Agama dan Kepercayaan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rudy Harisyah Alam, menyatakan bahwa anak-anak yang sudah terpapar ideologi kekerasan memerlukan pendekatan khusus, bukan sekadar penindakan hukum.
Kasus bom rakitan oleh siswa di MAN 3 Padang dan SMAN 72 Jakarta menjadi alarm keras mengenai ancaman radikalisme ideologi ekstrem di lingkungan pelajar. Rudy menjelaskan, motivasi anak muda menyerap ideologi ekstrem saat ini semakin beragam, tidak lagi tunggal karena didasari nuansa ideologi agama.
"Jadi, yang hampir kita bisa pastikan itu adalah faktor pengawasan atau guardianship dari keluarga yang yang agak lemah di antara anak-anak itu," ujar Rudy kepada wartawan Tirto, Rabu (15/7).
Menurut Rudy, keluarga memegang peran sentral sebagai lingkungan pendidikan pertama yang dapat mampu membentengi anak dari pengaruh buruk. Hal ini bukan soal kemampuan finansial orang tua, melainkan kualitas pola asuh dan keharmonisan keluarga.
Setelahnya, sekolah punya tanggung jawab besar mengembangkan literasi digital memadai. Kurikulum sekolah saat ini, dinilai Rudy, masih terjebak pada penguasaan teknis operasional perangkat teknologi, belum menyentuh aspek kritis melawan tantangan digital kiwari seperti teknologi deepfake, disinformasi, konten ekstremisme dan berita hoaks.
Lebih lanjut, Rudy menegaskan bahwa aparat penegak hukum seharusnya menjadi pilihan terakhir dalam menangani anak-anak yang terpapar ideologi ekstrem. Selama mereka tidak atau belum melakukan tindakan kekerasan secara langsung, mereka dikategorikan sebagai Anak yang Memerlukan Perhatian Khusus (AMPK). Namun, kolaborasi untuk mencegah hal itu masih dinilai belum optimal.

Bagaimana Cara Merespons Fenomena Ini?
Sejak peristiwa SMAN 72 Jakarta, aparatur penegak hukum dan satuan antiteror sebenarnya telah memetakan fenomena paparan ekstremisme berbasis kekerasan yang saat ini sudah banyak diakses dan terpapar di kalangan anak muda.Pada Januari 2026 lalu, Densus 88 Antiteror Polri menemukan setidaknya 70 anak berusia 11-18 tahun yang terpapar paham kekerasan melalui komunitas di dunia maya yang dikenal sebagai "True Crime Community" (TCC). Saat itu Densus 88 menyatakan, komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri organisasi maupun institusi, namun bertumbuh sporadis seiring perkembangan media digital yang mempertemukan minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital transnasional. Dalam grup ini ditemukan beragam konten propaganda yang memicu ekstremisme. Pada kasus teror SMAN 72 Jakarta, pelaku F adalah anggota TCC.
Namun, aparat penegak hukum Indonesia enggan mengategorikan aksi ekstremisme berbasis kekerasan di MAN 3 Padang atau SMAN 72 Jakarta sebagai aksi terorisme. Alasannya, aksi itu dilakukan oleh terduga pelaku secara mandiri akibat adanya tekanan mental serta paparan konten ekstrem, bukan berkaitan dengan jaringan organisasi terorisme.
"Sampai saat ini motifnya bullying dan ini perlu kami tegaskan juga, tidak ada hubungannya dengan jaringan terorisme. Ini murni karena korban bullying dari teman-teman sekelasnya," ujar Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Susmelawati Rosya, dalam keterangannya soal kasus MAN 3 Padang, diterima pada Kamis (16/7/2026).
Dalam kasus SMAN 72 Jakarta, Densus 88 juga lebih menyebut aksi ekstremisme tersebut sebagai memetic violence. Terma yang belakangan ini banyak diteliti dalam kajian kontraterorisme untuk menjelaskan kekerasan yang meniru gaya, kostum, dan tata cara para pelaku pembantaian berpaham ekstrem populer tanpa penirunya benar-benar memahami atau meyakini ideologi di baliknya.
Tirto juga sudah menghubungi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal (Purn) Eddy Hartono, soal kasus-kasus ekstremisme yang berbalut teror di kalangan pelajar Indonesia seperti kasus MAN 3 Padang dan SMAN 72 Jakarta. Ia awalnya bersedia bakal menyampaikan pandangan, namun Eddy belum merespons lagi permintaan wawancara Tirto hingga artikel ini ditulis.

Bukan Lagi Lone Wolf seperti Dulu
Meskipun tidak terorganisasi secara fisik sebagaimana jaringan teroris bernuansa ekstremisme agama terdahulu, menyimpulkan bahwa penetrasi ekstremisme berbasis kekerasan yang subur di forum-forum internet dan kalangan remaja Indonesia ini tidak saling berjejaring dan terhubung, tampaknya justru kesimpulan yang terburu-buru.Chevy Atha, peneliti Think First Institute dan Marketing Research Indonesia yang menelusuri detail forensik digital pelaku SMA 72 dalam tulisannya di GNET, The Jakarta Bombing: Youth Digital Radicalisation and the Urgent Need for Adaptive PCVE Responses (7 Januari 2026), mencatat bahwa ukiran di senapan mainan pelaku "meniru pendekatan yang dipakai Tarrant dalam serangan Christchurch 2019". Ia mengubah senjata menjadi semacam kanvas untuk memamerkan simpati ideologis sang pelaku.
Rekaman arsip akun TikTok pelaku SMAN 72 Jakarta yang telah dihapus platform, menurut penelusuran dari Global Project Against Hate and Extremism serta The Soufan Center yang dirujuk Atha, turut memperlihatkan remaja itu berpose membawa senjata hitam sembari lagu "Highway to Hell" kepunyaan AC/DC diputar sebagai latar belakang. Sebuah adegan yang meniru gaya foto pra-serangan yang lazim beredar di kalangan pelaku penembakan sekolah di Barat.
Ia juga tercatat aktif dalam grup Telegram yang memuliakan serangan supremasi kulit putih, dan kerap membubuhkan tagar #TCC dan #TEECEECEE pada unggahan TikToknya.
Julie Chernov Hwang, profesor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Goucher College sekaligus Senior Research Fellow The Soufan Center, menjelaskan dalam laporan berjudul Nihilistic Violent Extremism in Southeast Asia(Desember 2025), anggota TCC "berpakaian seperti pelaku penembakan sekolah masa lalu, membuat konten daring terinspirasi mereka, dan menulis fiksi penggemar tentang pelaku penembakan massal".
Hwang memetakan pola yang konsisten pada kasus di empat negara, termasuk Indonesia. Sebagai contoh, di Bangkok, Oktober 2023, seorang remaja 14 tahun menembak mati tiga orang di pusat perbelanjaan Siam Paragon menggunakan pistol Glock 19 yang dibeli secara daring. Satu tahun sebelum serangan, dia sudah membicarakan rencana penembakan di sekolah dalam obrolan Instagram dengan seseorang asal Turki.
Yasmine Wong, Associate Research Fellow dari Centre of Excellence for National Security (CENS), RSIS Nanyang Technological University, dalam laporan analisisnya Violence for Violence's Sake: The Rise of Nihilistic Violent Extremism (Januari 2026), meletakkan seluruh fenomena ini dalam payung yang lebih luas: nihilistic violent extremism (NVE), atau ekstremisme kekerasan nihilistik. Berbeda dari terorisme berideologi klasik yang punya tujuan politik atau agama, kelompok NVE mencomot sepotong-sepotong berbagai ideologi kekerasan, seperti paham ekstrem kanan-jauh, neo-Nazisme, konspirasi antisemit, gagasan pro-ISIS, misogini, budaya incel, hingga sentimen anti-LGBT.
Wong juga mencatat fenomena salad bar extremism—istilah yang menggambarkan cara radikalisasi generasi baru ini menyerupai orang mengambil makanan di meja prasmanan: sedikit dari sini, sedikit dari sana, tanpa komitmen penuh pada satu ideologi utuh.
Terpisah, peneliti psikologi sosial Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menilai bahwa melabeli pelaku ekstremisme berbasis kekerasan ini sebagai 'lone wolf' memang bisa keliru. Meskipun pelaku beraksi sendirian, perlu dipahami bahwa mereka dibesarkan oleh jejaring komunitas daring, tidak serta-merta oleh kehendak murni individu.
"'Naskah' kekerasan sekolah yang lahir di AS kini menjadi skrip budaya global yang bisa diunduh siapa saja, di Indonesia tinggal bahan bakarnya: yakni luka personal seperti perundungan. Ini bukan penularan misterius dari Barat; ini konvergensi luka lokal dengan templat global, di tengah absennya orang tua dan guru dari ruang digital," ujar Wawan kepada Tirto, Rabu (15/7/2026).
Oleh karena itu, Wawan menilai mengatasi dan mencegah fenomena ini perlu tindakan khusus. Perangkat kontraterorisme saat ini masih dirancang untuk jaringan ideologis dewasa, bukan anak-anak serta remaja yang mengalami luka psikologis. Pendekatan yang salah bisa berdampak kontraproduktif, termasuk pelabelan teroris. Alih-alih pemidanaan, rehabilitasi dan reintegrasi yang menangani akar luka batin menjadi penting, bukan hanya mengadili perbuatan pelaku secara hukum.

Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































