tirto.id - Rencana pemerintah Amerika Serikat menutup Konsulat AS di Medan mencuat setelah Departemen Luar Negeri AS secara resmi memberi pemberitahuan kepada Kongres mengenai penutupan lima misi diplomatik di sejumlah negara.
Kebijakan menutup sejumlah konsulat AS ini merupakan bagian dari upaya efisiensi jaringan diplomatik luar negeri yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump melalui agenda "America First".
Selain Medan, konsulat AS yang masuk dalam daftar penutupan adalah Kedutaan Besar AS di St George's, Grenada; Konsulat AS di Nagoya, Jepang; Kantor Cabang Kedutaan AS di Douala, Kamerun; serta Konsulat AS di Winnipeg, Kanada.
Kenapa AS Tutup 5 Konsulat Termasuk di Medan?
Rencana penutupan lima kantor perwakilan diplomatik Amerika Serikat (AS) di luar negeri bermula dari upaya efisiensi yang dijalankan pemerintahan Presiden Donald Trump sejak awal masa jabatannya pada 2025.
Saat itu, Kementerian Luar Negeri AS (US State Department) mulai menyusun rencana untuk merampingkan jaringan diplomatik di berbagai negara sebagai bagian dari kebijakan "America First", yang bertujuan menekan pengeluaran pemerintah dan menyederhanakan birokrasi federal.
Di saat yang sama, White House Office of Management and Budget (OMB) mendorong langkah yang lebih agresif. Lembaga tersebut bahkan mengusulkan agar hingga 30 kantor diplomatik AS ditutup, seperti dilaporkan The Straits Times mengutip Reuters, Selasa(4/8/2026).
Sejumlah pejabat pemerintahan secara internal berpendapat bahwa beberapa kedutaan maupun konsulat yang berukuran kecil dinilai tidak lagi memiliki fungsi strategis yang sebanding dengan biaya operasionalnya. Karena itu, mereka menilai pengurangan jumlah kantor perwakilan dapat membuat diplomasi AS lebih efisien.
Meski demikian, sepanjang 2025 Kementerian Luar Negeri AS belum menutup satu pun kantor diplomatik. Reformasi yang dilakukan saat itu lebih berfokus pada restrukturisasi organisasi internal, termasuk memangkas puluhan biro serta mengurangi ratusan pegawai.
Memasuki 2026, rencana tersebut kembali bergerak. Pada akhir pekan lalu, Kementerian Luar Negeri AS mengirimkan pemberitahuan resmi kepada sejumlah komite di Kongres mengenai rencana penutupan lima kantor diplomatik di luar negeri.
Dalam pemberitahuan itu, pemerintah AS menyatakan berencana menutup lima kantor perwakilan, yaitu Kedutaan Besar AS di St George's, Grenada, Konsulat AS di Nagoya, Jepang, Konsulat AS di Medan, Indonesia, Kantor Cabang Kedutaan AS di Douala, Kamerun, serta Konsulat AS di Winnipeg, Kanada.
Penutupan ini dinilai sebagai langkah yang tidak biasa karena melibatkan beberapa misi diplomatik sekaligus dan tidak dipicu oleh kondisi geopolitik tertentu, seperti perang, konflik, atau putusnya hubungan diplomatik dengan negara tuan rumah.
Keputusan tersebut kemudian memicu perhatian karena dianggap sebagai salah satu pengurangan terbesar terhadap jejak diplomatik Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.
Berbeda dengan penutupan kantor diplomatik yang biasanya terjadi akibat situasi keamanan atau konflik, kali ini alasan utamanya lebih berkaitan dengan efisiensi organisasi dan penghematan anggaran.
Pada 2 Agustus 2026, ketika dimintai tanggapan mengenai laporan tersebut, Kementerian Luar Negeri AS tidak secara langsung membenarkan maupun membantah rencana penutupan lima kantor itu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menjelaskan bahwa berbagai langkah penghematan dan restrukturisasi dilakukan untuk menyesuaikan ukuran organisasi dengan kebutuhan saat ini.
Menurutnya, sebagian kalangan konservatif menilai birokrasi Kementerian Luar Negeri selama ini terlalu besar sehingga perlu dirampingkan agar penggunaan anggaran negara menjadi lebih efisien.
Di sisi lain, rencana tersebut menuai kritik dari karena berpotensi mengurangi pengaruh Amerika Serikat di dunia.
Sorotan terhadap penutupan lima kantor tersebut juga muncul karena sebagian lokasi yang terdampak merupakan wilayah yang telah memiliki kehadiran diplomatik Cina. Berdasarkan informasi yang tersedia, Cina memiliki perwakilan diplomatik di St George's (Grenada), Nagoya (Jepang), dan Medan (Indonesia).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































