tirto.id - Ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta Utara menjadi topik hangat di sebuah bengkel sepeda dekat rumah lama terduga pelaku di daerah Kelapa Gading. Bukan hanya karena ledakan terjadi mendadak saat salat Jumat (7/11/2025), tetapi karena pelakunya merupakan salah satu siswa di sekolah tersebut.
Saat Tirto menyambangi kediaman lama terduga pelaku, Minggu (9/11/2025) sekitar pukul 10.20 WIB, percakapan soal peristiwa itu masih terdengar di mana-mana. Mulai dari bengkel sepeda hingga pos ronda, warga kompak membicarakan sosok siswa yang disebut-sebut menjadi dalang di balik ledakan itu.
Mereka menyebutnya sebagai 'anak yang tumbuh dari keluarga broken home'. Sebelum dikenal sebagai pribadi yang pendiam, remaja kelas 12 SMA itu dikenal sebagai bocah berusia enam tahun yang ceria dan aktif.
Rumah lamanya tak jauh dari SMAN 72. Di sanalah keluarganya dulu tinggal bersama sebelum memutuskan untuk pindah di daerah Cilincing, Jakarta Utara.
Obrolan mengalir halus, di antara canda dan tanya, kehidupan pribadi keluarga terduga pelaku mulai terkuak.
Menurut para tetangga, ayah dan ibu remaja itu bekerja sama untuk memasok kue di sejumlah restoran. Namun keharmonisan yang tampak di permukaan tak bertahan lama, semuanya berubah sejak rilisnya surat percerain.
"Jualan kue, untuk ngirim-ngirim ke restoran. Tapi mereka gak lama pisah (cerai) ibunya kerja ke luar negeri," kata wanita berusia 60-an, tetangga lama yang enggan menyebutkan namanya pada Tirto.
Lebih jauh, sambil mengingat kejadian dua hari lalu, seorang pria paruh baya menuturkan bahwa dia masih mengingat bunyi dentuman keras akibat ledakan tersebut. Sekilas, ia sempat mengira suara itu berasal dari hal sepele.
"Kedengeran (ledakannya) sampai sini (komplek warga) kirain ban mobil (pecah) atau gas (meledak)," ujarnya.
Sementara itu, tempat bernaungnya sekarang di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, terdeteksi sepi saat Tirto mendatangi lokasi tersebut sekitar pukul 12.25 WIB. Rumah bercat putih itu berdiri di antara deretan bangunan yang tak kalah besar di sekitar kanan kirinya.
Jika dilihat sekilas, rumah itu memiliki bangunan dua lantai dan dihuni tujuh orang. Bukan sebagai pemilik, ayah dan terduga pelaku hanya menumpang di kediaman itu.
“Di dalam rumah ada tujuh orang. Satu pemilik rumah sama yang lain, pegawai dengan anak-anaknya. Jadi (ayah dan terduga pelaku) cuma numpang tinggal aja, tapi sudah cukup lama,” kata Ketua RT setempat, Danny Rumondor kepada Tirto.
Ayahnya dikenal sebagai juru masak di rumah tersebut, bekerja pada pemilik restoran, yang juga mengelola kedai di depan Indomaret. “Bapaknya pegawai di sini, juru masak,” jelas Danny.
Namun, berbeda dengan ayahnya yang masih sesekali tampak, anaknya hampir tak pernah terlihat, kecuali saat berang dan pulang sekolah. Dalam tujuh tahun menetap, nyaris tak ada warga yang mengenal sosoknya.
“Setelah saya cek sama anak-anak yang lain juga di sini, yang sebaya dengan dia, nggak ada yang kenal,” ujarnya.
Hari-harinya, kata Danny, pemuda itu menghabiskannya di dalam kamar. Ia jarang keluar, jarang berinteraksi.
“Kerjaannya cuma sekolah, pulang, sekolah, pulang. Main handphone, main laptop, di kamar seharian,” tutur Danny.
“Kalau keluar mungkin ada tugas sekolah. Katanya security, kalau ketemu sama ayahnya dibonceng atau ke tempat untuk kopi, pulang lagi. Ya begitu," tambahnya.
Bagi lingkungan yang terbiasa ramai oleh pemuda yang bermain basket dan berteriak di jalan, kehadirannya nyaris tak pernah ada. Danny masih ingat, di sore hari, para remaja sekitar bisa berjumlah belasan orang bermain basket tak jauh dari rumah itu. Tapi ia tak pernah sekalipun terlihat.
“Anak-anak tiap sore main basket, bisa sepuluh sampai 20 orang. Tapi dia nggak pernah muncul, bahkan untuk lihat-lihat aja nggak,” ujar Danny.
Bagi sebagian orang, rutinitas itu mungkin tampak biasa. Tapi bagi lingkungannya, terduga pelaku adalah bayangan yang nyaris tak pernah menampakkan diri. Tak ada sapaan, tak ada tawa, bahkan tak ada jejak pertemanan. Ia hidup di antara banyak orang, tapi seolah tak pernah benar-benar hadir.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































