tirto.id - Khawatir tanaman padinya mati atau gagal panen akibat kekurangan air di musim kemarau saat ini, para petani di Subang memodifikasi mesin pompa air berbahan bakar bensin (Pertalite) menjadi bahan bakar gas (BBG) LPG.
Para petani memanfaatkan kit konversi khusus yang dipasang pada karburator mesin, sehingga mesin pompa bisa menyala dengan menggunakan gas elpiji subsidi 3 kilogram (kg) atau gas melon.
Langkah ini dinilai sangat efektif untuk menekan biaya operasional harian hingga lebih dari 50% dibandingkan menggunakan BBM.
Kreativitas ini muncul lantaran petani dihadapkan dengan situasi sulit mendapat pasokan air dari sungai maupun irigasi, mengingat debit air di sungai berkurang, sementara tanaman padi butuh air setelah ditabur pupuk.
Raskani petani asal Cipunagara menyampaikan penggunaan gas 3 kg sangat bisa menghematkan biaya, dibandingkan menggunakan BBM jenis Pertalite pada mesin pompa air.
"Petani terpaksa memakai gas 3 kg sebagai pengganti bahan bakar pada mesin pompa air agar bisa mengairi sawah, hal tersebut untuk menekan biaya operasional harian," ucap Raskani, Senin(13/7/2026)
Hemat Biaya Operasional Jutaan Rupiah
Raskani menyebut penggunaan gas 3 kg pada mesin pompa sebagai pengganti pertalite sangat hemat, makanya petani ramai menggunakan gas 3 kg, saat mengairi air untuk tanaman padi.
Untuk sekali mengaliri lahan sawah, dibutuhkan sekitar 10 liter bensin yang rata-rata harganya Rp12 per liter.
"Sementara jika menggunakan LPG 3 kg, untuk sekali penyiraman hanya membutuhkan 1 tabung seharga Rp18.000-22.000 per tabung," ucapnya.
Bagi petani satu kali musim tanam di musim kemarau ini dibutuhkan biaya sekitar Rp10 juta untuk menyedot air dari irigasi. Namun dengan menggunakan LPG 3 kg, biaya bahan bakar dapat ditekan menjadi sekitar Rp6 juta.
“Jadi ada penghematan Rp4 juta per hektar atau Rp2 juta per 0,5 hektar untuk satu kali musim tanam gadu [musim kemarau], jadi ada penghematan biaya Rp4 juta per hektar," katanya
Sisi Lain Dampak Inovasi

Di balik efisiensi biaya yang dinikmati para petani, masifnya peralihan bahan bakar pompa air ini memicu efek domino yang tidak terduga di sektor domestik. Tingginya konsumsi gas melon di sektor pertanian membuat pasokan komoditas subsidi tersebut di tingkat pangkalan mendadak menyusut tajam.
Para ibu rumah tangga di sejumlah wilayah kini harus berjuang ekstra dan berebut stok demi bisa memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari. Salah satu ibu IRT yang kesulitan memasok gas 3 kg adalah Fitria.
"Sampai hari ini kita, masih sulit mendapatkan gas melon untuk keperluan memasak,"kata Fitria di kediamannya, Pamanukan, Kabupaten Subang.
Menurutnya, saat ini banyak petani yang nyedot air gunakan mesin pompa untuk mengairi sawah di musim kemarau menggunakan gas melon.
"Kita harus berebut dengan petani untuk dapatkan gas melon, karena petani juga saat ini butuh buat pompa air untuk nyedot air ke pesawahan," ucapnya.
Fitri berharap, pemerintah bisa menormalkan kembali stok gas melon agar masyarakat tidak kesulitan mencari gas untuk warga miskin tersebut.
Penulis: Subang Info
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































