tirto.id - Kota Yogyakarta dikenal dengan julukan Kota Pendidikan sejak dulu kala. Julukan ini tak lepas dari bagaimana kompetitifnya sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta dalam persaingan sekolah hingga tingkat nasional.
Saking kompetitifnya, ada pameo di Kota Yogyakarta jika ingin flexing bukan dengan pamer harta, mobil, rumah atau kekayaan lainnya, melainkan dengan riwayat pendidikan. Bagi masyarakat Kota Yogyakarta, riwayat pendidikan di sekolah favorit adalah kebanggaan dan prestise tersendiri.
Fenomena ini membuat sejumlah sekolah-sekolah favorit di Kota Yogyakarta kebanjiran pendaftar sejak dini. Di SD Muhammadiyah Sapen, yang merupakan salah satu sekolah favorit, sampai inden siswa baru. Penerimaan siswa sudah penuh hingga tahun 2032 mendatang. Saking favoritnya, ada orangtua yang anaknya baru lahir sudah didaftarkan ke SD Muhammadiyah Sapen.
Meski demikian, ada ironi tersendiri di dunia pendidikan Kota Yogyakarta. Jika sekolah-sekolah dasar swasta di Kota Yogyakarta siswanya harus mengantri untuk diterima, hal itu berbanding 180 derajat di SD Negeri Kota Yogyakarta.
Jumlah daya tampung SD Negeri di Kota Yogyakarta pada tahun ajaran 2026/2027 mencapai 3.600 hingga 3.700 siswa. Namun, dari kapasitas ini, hanya terisi 2700 siswa atau ada kekosongan 1000 kursi siswa di seluruh SD Negeri Kota Yogyakarta.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Jogja) memberi perhatian serius pada fenomena banyaknya kursi kosong siswa di SD Negeri Kota Yogyakarta. Untuk mengatasi permasalahan ini, Hasto secara khusus meminta kepada para kepala sekolah SD Negeri di Kota Yogyakarta untuk memperbaiki manajemen dan mutu agar menarik orang tua menyekolahkan anaknya di SD Negeri.
"Minat masyarakat untuk SD Negeri (di Kota Yogyakarta) kurang. Manajemen SD (negeri) kurang bagus, harus kita tingkatkan lagi," kata Hasto, Selasa (14/7/2026).

Terkait masalah kekurangan siswa SD di Kota Yogyakarta, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyajikan data makro. Data ini menjelaskan faktor penyebab kekurangan siswa SD di Kota Yogyakarta ditahun ajaran 2026/2027.
Dari pemetaan, tingkat keterisian bangku di seluruh SD negeri se-Kota Yogyakarta menyentuh angka 79 persen dari total sekitar 3.700 daya tampung tersedia. Sebanyak 2.845 kursi SD negeri terisi dengan komposisi warga dalam kota sebanyak 2.100 siswa (74 persen) dan 745 siswa (26 persen) merupakan warga luar kota.
Sedangkan siswa yang mendaftar ke SD swasta ada 1.575 anak. Total penduduk usia sekolah dasar yang tertampung di Kota Yogyakarta pun mencapai 3.675 siswa.
Dalam pemetaan tersebut ditemukan pula fakta mengenai penyusutan populasi anak usia 7 tahun yang pada tahun ajaran baru ini berada di kisaran 4.300-an anak. Kondisi ini dipengaruhi langsung oleh faktor demografis ekstrem, yakni angka fertilitas (Total Fertility Rate/TFR) Kota Yogyakarta yang kini berada di angka 1,66.
Sementara itu, selisih sekitar 700 anak dari estimasi total populasi usia 7 tahun disinyalir akibat pergeseran domisili orang tua ke wilayah penyangga seperti Sleman dan Bantul, meski secara administrasi kependudukan masih tercatat sebagai warga kota.
Kata Pengelola Sekolah Dasar soal Kurangnya Siswa
Salah satu SD yang mengalami kekurangan siswa di Kota Yogyakarta adalah SD Negeri Kintelan 2. Tahun ajaran ini, SD yang berlokasi di Keprakan, Mergangsan ini hanya mendapatkan 6 siswa baru, sedangkan tahun sebelumnya hanya ada 3 siswa baru.Kepala SD Negeri Kintelan 2 Yogyakarta, Kuswanto, menerangkan, pihaknya saat ini terus berfokus untuk melakukan promosi untuk menggaet siswa baru agar mengalami peningkatan di tahun ajaran 2027/2028.
Kuswanto menerangkan, kekurangan siswa ini terjadi karena minimnya lulusan TK di sekitar sekolahnya. Selain itu, jarak SD dengan SD negeri lain yang terlalu dekat juga dianggapnya sebagai salah satu penyebab sekolah minim murid baru. Kuswanto menuturkan ada tiga SD negeri di Kalurahan yang sama.
"Di Kalurahan ini ada tiga SD negeri. Kondisinya juga rata-rata sama (kurang murid)," ucap Kuswanto, Selasa (14/7/2026).
Nasib serupa juga dialami di SD Negeri Pingit. SD ini awalnya membuka pendaftaran siswa baru dengan kuota 28 siswa, namun hingga pendaftaran ditutup hanya 11 siswa yang mendaftar dan diterima.
Plt. Kepala Sekolah SD Negeri Pingit, Sri Puji Hariyanti, membenarkan kondisi ini.
"Tahun ini ada 11 siswa dari kuota 28 siswa baru. Kami di bawah sudah berusaha dan berjuang dengan segala macam cara tapi memang hanya segitu yang mendaftar," tutur Sri.
Manuver Sekolah Negeri Cari Siswa dan Alasan Orangtua Masukkan Anak di SD Swasta
Kuswanto mengaku sudah beragam cara dilakukan sekolah untuk menggaet siswa baru. Tahun ini, sejumlah kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan nonakademik akan coba digenjot untuk menarik minat siswa."Kami tawarkan beberapa ekstrakulikuler seperti di bidang olahraga ada karate dan futsal. Yang non-olahraga ada membatik dan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi," ungkap Kuswanto.
"Kami juga membangun panggung kreativitas di halaman sekolah untuk menggali potensi anak. Setiap akhir bulan, anak-anak diberi kesempatan tampil berdasarkan bakatnya," imbuh Kuswanto.
Kuswanto ingin membuktikan bahwa kekurangan siswa saat ini bisa menjadi kelebihan di SD yang berada di tengah Kampung Keparakan ini. Dengan jumlah siswa yang sedikit, guru bisa lebih memaksimalkan potensi siswa.
"Dengan siswa yang efisien ini, bimbingan dan perhatian pada anak justru bisa lebih maksimal," tegas Kuswanto.

Di sisi lain, Sri mengaku terus menambah fasilitas di SD Negeri Pingit untuk menarik minat siswa baru. Mereka memperbaiki atap sekolah dan kamar mandi untuk menarik minat orangtua menyekolahkan di tempat mereka. Selain itu, sejumlah fasilitas seperti laptop dan chromebook juga akan ditambah.
Semangat para guru untuk memajukan sekolah juga dianggap Sri terus ditingkatkan, bahkan para guru bersedia patungan apabila dana kegiatan ada kekurangan. Kekurangan dana ini terjadi disebabkan anggaran bantuan operasional sekolah minim karena minimnya jumlah siswa. Sebagaimana diketahui, bantuan operasional ini berbasiskan pada jumlah siswa di sekolah.
"Di SD Pingit ini gotong royongnya bagus. Kalau ada kegiatan siswa yang kurang anggaran, wes ayo urunan (patungan). Ini jadi penguat kita untuk bertahan," urai Sri.
Salah satu orangtua siswa, Mahadevi (39), menceritakan alasan menyekolahkan anaknya di sekolah swasta daripada sekolah negeri.
Permasalahan fasilitas dan pilihan ekstrakulikuler ini diakui sebagai pertimbangannya untuk menyekolahkan anaknya di SD Muhammadiyah Karangkajen, salah satu SD swasta di daerah Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Selain itu, masalah pendidikan agama dan karakter juga jadi pertimbangan Mahadevi memilih sekolah swasta berbasis yayasan agama untuk anaknya.
"Alasan saya menyekolahkan anak di sekolah swasta karena pendidikan agamanya. Menurut saya, ini basic bagi anak di usia sekolah dasar. Menurut saya pendidikan karakter di sekolah swasta itu bagus karena enggak semata-mata pelajaran agama saja, tapi menerapkannya secara perilaku dan konstektual," tutur Mahadevi kepada Tirto.
SD Negeri Minim Siswa, SMP Negeri Malah Kebanjiran Peminat
Fenomena unik soal pendidikan di Kota Yogyakarta adalah jika SD Negeri mengalami kesusahan mencari murid namun berbeda dengan jenjang SMP Negeri. SMP Negeri di Kota Yogyakarta justru harus menambah kuota siswa dan ruang kelas karena tingginya animo orang tua menyekolahkan anaknya di SMP Negeri."Animo masuk SMP Negeri tinggi. Kami harus tambah daya tampung karena diakui masih kurang," tutur Hasto.

Dalam dua tahun ini, Hasto membeberkan, penambahan kuota siswa dilakukan diantaranya di SMP Negeri 10, 9 dan 1 Kota Yogyakarta. Selain itu, penambahan kuota siswa ini akan dilakukan di Kelas Khusus Olahraga (KKO) di SMP Negeri 13.
Total lulusan SD di Kota Yogyakarta, lanjut Hasto, ada 6.100 siswa. Padahal, kuota total kursi SMP negeri di Kota Yogyakarta tahun ini hanya 3.584 kursi, termasuk 64 kursi kelas khusus olahraga (KKO).
Persaingan penerimaan siswa SMP di Kota Yogyakarta semakin sengit lantaran belum ditambah dengan siswa dari luar Kota Yogyakarta seperti dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul yang orang tuanya ingin menyekolahkan anaknya di SMP Negeri di Kota Yogyakarta.
Sebagai orangtua, Mahadevi mengakui anaknya menjadi satu dari ribuan anak lulusan SD swasta yang berusaha mendaftarkan anaknya ke SMP negeri. Dia mendaftarkan anaknya masuk ke SMP Negeri 16 Kota Yogyakarta.
Salah satu pertimbangan menyekolahkan anak di SMP Negeri disebut Mahadevi karena kualitas SMP Negeri di Kota Yogyakarta bagus.
Mahadevi mengakui untuk bisa tembus diterima di SMP Negeri di Kota Yogyakarta cukuplah ketat. Persaingan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi salah satu penyebab ketatnya persaingan masuk.
"Alasan dari SD swasta masuk ke SMP Negeri itu normatif. Selain karena gratis saya melihat siswa-siswa yang masuk ke SMP Negeri ini jelas hasil pilihan dengan rangking nilai yang bagus. Mereka sudah terskrining dan dipastikan anak-anak dengan nilai yang baik," tutur Mahadevi.
"Harapannya itu bisa membantu anak untuk termotivasi supaya dapat lingkungan dengan teman-teman yang standar nilainya sama-sama baik jadi anak bisa termotivasi dengan secara akademis. Secara pendidikan karakter sudah terbentuk ya di SD. Di SMP ini harapannya bisa sedikit mulai mengejar akademisnya karena bisa mengejar SMA Negeri dan Perguruan Tinggi Negeri," tutup Mahadevi.

Penulis: Cahyo PE
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































