tirto.id - Pertengahan Desember 2021, dalam sebuah Muktamar Nasional Petani India di Gujarat, melalui perantara telekonferensi, Perdana Menteri Narendra Modi mengingatkan soal pentingnya metode pertanian alami di negaranya.
“Kita harus mengeluarkan pertanian kita dari laboratorium kimia, lalu menghubungkannya dengan laboratorium alam,” ucapnya.
Orang nomor satu di pemerintahan India itu percaya bahwa jalan keluar masalah pertanian di negaranya adalah dengan tipe pertanian alami. Bagi Modi, model natural farming dapat memperkuat negara.
"Natural farming dapat menurunkan beban biaya,” akunya, ketika pidato Hari Kemerdekaan.
India sejatinya sudah memiliki konsep pertanian yang berjalan seiring dengan alam. Era 1990-an di negara itu muncul sistem pertanian yang dikenal sebagai Zero Budget Natural Farming (ZBNF) alias Pertanian Alami Berbiaya Nol.
ZBNF adalah metode pertanian bermodal minim—tentu saja bukan berarti nol sama sekali seperti namanya—tanpa intervensi pupuk kimia, juga penangkal hama yang mahal. Sebagai gantinya, petani memanfaatkan semua hal yang tersedia di alam untuk mengoptimalkan lahan pertaniannya.
Lahir sebagai Imbas Revolusi Hijau
Kembali ke era 1960-an, wilayah India dilanda krisis pangan akibat populasi besar ditambah dampak kekeringan. Kondisi ini memaksa mereka hanya bisa mengandalkan program bantuan pangan dari luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Namun, bergantung pada negara lain tak bisa diandalkan sebagai solusi jangka panjang. Apalagi, negara-negara berkembang lainnya juga merasakan krisis serupa.
Kondisi serba terbatas itulah yang melahirkan ide Revolusi Hijau di Meksiko, yang kemudian diadaptasi oleh India. Tujuannya adalah memaksimalkan produksi pertanian sehingga India bisa berdaulat pangan.
Seiring masifnya Revolusi Hijau, bermacam teknologi modern mulai masuk ke lahan pertanian India. Mereka menanam bibit unggul gandum dan padi hasil rekayasa genetika. Sistem irigasi juga diatur secara luas. Pupuk kimia, pestisida, dan herbisida sintetis, mulai digunakan secara masif. Hasilnya, produksi pertanian India meningkat.
Revolusi Hijau berhasil menyelamatkan India dari krisis pangan dan bencana kelaparan parah. Akan tetapi, bak pedang bermata dua, metode pertanian tersebut sejatinya menimbulkan konsekuensi masalah baru.
Pemakaian bahan kimia secara masif mulai merusak ekosistem. Tingkat kesuburan tanah berangsur memburuk. Sisa bahan kimia pertanian terbawa aliran sungai, meresap ke dalam tanah, lalu menyebabkan polusi air konsumsi.
Bibit rekayasa genetika menyebabkan kepunahan tanaman varietas lokal, yang perlahan mulai ditinggalkan petani. Penanaman varietas bibit yang terlalu seragam juga rentan terkena serangan hama atau penyakit baru.
Di samping itu, ketergantungan para petani kecil terhadap metode Revolusi Hijau turut menjerumuskan mereka ke dalam persoalan ekonomi.
Petani kecil kerap terbentur masalah modal. Revolusi Hijau menuntut biaya besar untuk membeli bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, juga bahan bakar mesin.
Petani menanggung risiko besar. Jika sampai tanaman mereka gagal panen, bisa dipastikan mereka bakal terjerat hutang. Di sisi lain, margin keuntungannya juga tipis karena penghasilan panen sudah terbebani biaya produksi besar.
Di bawah bayang-bayang keresahan itulah muncul alternatif gagasan dari Subhash Palekar, ahli pertanian asal Maharashtra. Ia menawarkan jalan keluar dengan sebuah metode pertanian baru yang disebut Zero Budget Natural Farming.
ZBNF hanya memerlukan biaya minim. Sebab, mayoritas proses berjalan alamiah, "memanfaatkan" semua unsur yang tersedia di alam untuk mendukung aktivitas pertanian.
Metode Pertanian Alami Berbiaya Nol berupaya mereduksi segala unsur destruktif terhadap alam, pupuk kimia, bibit rekayasa, pestisida, dan sebagainya. Bisa dibilang, pemantik pertama gagasan ini adalah bebas dari hal-hal yang merusak alam.
Untuk menghormati dedikasi serta jasa sang penemu, belakangan di negara asalnya metode pertanian ZBNF juga dikenal dengan sebutan Subhash Palekar Krishi (SPK) atau metode pertanian Subhash Palekar.
Bebas Intervensi Luar, Hanya Mengandalkan Alam
Subhash Palekar berpendapat, semua hal yang dibutuhkan dalam pertanian sebenarnya sudah tersedia di alam. Para petani hanya tinggal meramunya saja.
“Saya menyadari praktik pertanian kita, dari pengolahan lahan, budidaya, pengelolaan tanaman, dan pemanenan, sudah sangat jauh dari alam,” katanya, saat diwawancarai The Hindu.
Secara garis besar metode pertanian ZBNF ala Subhash Palekar memiliki empat pilar, yakni: beejamrut (perawatan benih), jeevamrut (pengembangan mikroorganisme), mulching (penutup permukaan tanah), serta waaphasa (aerasi atau tanah gembur).
“Beejamrut mensterilkan benih dan mendorong perkecambahan yang sehat. Jeevamrut adalah katalisator untuk fermentasi dan pengembangan mikroba. Keduanya dapat disiapkan menggunakan kotoran dan urine sapi,” jelas agrikulturis kelahiran 1 Juli 1949 tersebut.

Mengacu pada tinjauan ilmiah dari Institute of Organic Farming University of Agricultural Science, beejamrutha merupakan ramuan khusus yang dikembangkan Subhash Palekar. Ia berfungsi sebagai pelapis atau pelindung benih tanaman dari penyakit, juga bagus untuk merangsang proses perkecambahan.
Beejamrutha mengandung fosfat, bakteri pengikat nitrogen, serta bakteri pendorong hormon pertumbuhan bibit. Bahan pembuat beejamruthaterdiri dari kotoran sapi, urine sapi, air, kapur (chunna), serta tanah pertanian biasa.
Petani biasanya merendam benih tanaman ke dalam beejamrutha selama 15-30 menit sebelum ditebar atau disemai. Hal tersebut diklaim dapat melindungi benih dari penyakit serta membantu perkecambahan.
Sementara itu, jeevamrut berguna meningkatkan kesuburan tanah dengan membiarkan mikroorganisme bekerja. Ramuan yang terdiri dari urine sapi, gula merah (jaggery), tepung kacang (chickpea flour), serta tanah pertanian, itu biasanya dicampurkan ke dalam air irigasi.
Sebelum proses menanam, pertanian alami ala Subhash Palekar menutup permukaan tanah dengan mulsa untuk menjaga kelembapan serta menciptakan humus. Ia menyebutnya sebagai mulching.
Mulsa bisa diperoleh dengan menanam tanaman tumpang sari atau tanaman penutup tanah yang tumbuh rendah di permukaan, misalnya kacang-kacangan, atau dengan menyebarkan sisa tanaman kering di permukaan tanah, seperti jerami padi, batang jagung, dan dedaunan kering.
Dedaunan yang jatuh di tanah atau bekas panen tidak disingkirkan. Permukaan tanah yang tertutup alami secara otomatis menciptakan kelembapan, lalu menjadi ekosistem hidup bagi cacing tanah yang membantu penggemburan dan penutrisian tanah. Sementara itu, dedaunan busuk jadi sumber unsur nitrogen alami di tanah.
Proses mulching berkaitan erat dengan pilar keempat, yakni whaapasha alias penggemburan tanah. Prinsip ini menekankan bahwa tanaman bakal tumbuh lebih baik jika tanahnya gembur dengan kelembapan pas. Sementara itu, kondisi tanah yang terlalu jenuh air perlu dihindari.
Kondisi tanah gembur yang lembap bisa tercipta secara alami dengan menerapkan metode mulching dan jeevamrut untuk air penyiraman secukupnya. Dengan begitu, air dari hasil penyiraman bakal tertahan oleh lapisan mulsa dedaunan di permukaan tanah.
Meski terbilang minim intervensi lahan jika dibanding aktivitas pertanian modern, Subhash Palekar tetap menganggap ZBNF butuh kerja keras dan pengawasan. Baginya metode pertanian seperti ini bakal membawa ketenangan spiritual bagi petani.
“Ini bukan berarti pertanian tanpa pengelola (zero management). Metode ini butuh kerja keras, tapi juga menenangkan dan membebaskan secara spiritual,” jelasnya.
Mendongkrak Keuntungan Bersih Petani
Salah satu efek positif yang langsung dapat dirasakan para petani ketika menerapkan Zero Budget Natural Farming adalah keuntungan ekonomi. Menerapkan sistem pertanian dengan modal sangat minim jelas meningkatkan peluang mendapat margin keuntungan lebih besar.
Sistem pertanian ZBNF bersifat berkelanjutan dan jangka panjang. Metode tersebut bisa meningkatkan pendapatan bersih petani karena tidak membutuhkan biaya banyak.
Penelitian yang dilakukan Iris Berger, dkk. pada 2025 memperlihatkan, tingkat produktivitas ZBNF hanya tertinggal sedikit dari metode pertanian kimiawi.
Meski begitu, penelitian tersebut juga memberikan rekomendasi kehati-hatian, apalagi ketika menerapkan program ZBNF di wilayah yang sudah memiliki jumlah produksi panen tinggi.
Tanaman Keuntungan bersih ZBNF (Rupee/Hektare) Keuntungan bersih Non-ZBNF (Rupee/Hektare) Padi 39034 27243 Kacang Hitam 60743 40335 Kacang Tanah Kering 41820 17791 Kacang Tanah Irigasi 97383 60303 Katun 63522 34036 Cabai 241390 157337
Bukti tingginya rasio keuntungan ZBNF juga diperkuat oleh temuan Hari Ram Prajapati, peneliti dari Banaras Hindu University. Ia menemukan, keuntungan bersih cukup tinggi diperoleh saat menggunakan metode ZBNF, untuk tiap hektar lahan pertanian di negara bagian Andhra Pradesh.
Berkat keuntungan yang lebih tinggi itu, banyak petani mulai berbondong-bondong menerapkannya. Bahkan, pemerintah Andhra Pradesh kini tengah mengarahkan enam juga petani dan delapan juta hektare lahan ke metode pertanian 100 persen bebas bahan kimia.
Dari awalnya hanya diterapkan oleh Subhash Palekar seorang, metode pertanian ini seiring waktu menularkan pengaruh baiknya terhadap jutaan orang.
“Saya menerapkan ZBNF di lahan pertanian pribadi. Ketika merasa hal tersebut bermanfaat, saya mulai mengajarkan kepada orang lain. Saat ini setidaknya ada 7 juta petani yang sudah memanfaatkan ZBNF,” ujar Palekar.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































