Menuju konten utama
Mozaik

Inovasi Pertanian ala Fukuoka Menggugat Keserakahan Manusia

Keserakahan manusia membuat keseimbangan alam terganggu dan rusak. Di titik itu, Fukuoka menawarkan gagasan lama: menyerahkan semuanya ke alam.

Inovasi Pertanian ala Fukuoka Menggugat Keserakahan Manusia
Header Mozaik Masanobu Fukuoka. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Alam adalah pencipta manusia sekaligus gurunya yang paling agung. Pertimbangan dan kriteria soal benar dan salah, kebajikan dan kejahatan, keunggulan dan kesemenjanaan, keindahan dan keburukan, hingga cinta dan benci, semuanya tak lagi berlaku jika manusia melangkah keluar dari Jalan Besar yang telah ditunjukkan alam. Tak pernah ada jalan yang benar bagi manusia selain mempelajari segala hal dari alam dan hidup bergantung kepadanya."

Perkataan di atas tampak seperti petuah seorang petapa. Namun, faktanya tidaklah demikian. Masanobu Fukuoka, sang pencetus gagasan tersebut, justru memulai hidupnya di laboratorium.

Fukuoka merangkai refleksi tersebut dalam esainya bertajuk "Nature Creates God", sebuah fragmen pemikiran yang termaktub dalam buku The Road Back to Nature: Regaining the Paradise Lost (1989:302-303). Melalui esai tersebut, ia tidak sekadar bicara soal teknis bercocok tanam gayanya yang disebut shizen noho (pertanian alami), melainkan juga menggugat masalah eksistensial manusia modern.

Bagi Fukuoka, manusia modern telah kehilangan kompas karena terlalu sibuk membangun jarak dengan semesta demi menobatkan diri sebagai tuan atas segalanya. Pertanian industrial, yang dipersenjatai pestisida, pupuk kimia, dan mesin-mesin berat, dilihatnya tak lebih dari upaya sistematis menundukkan alam demi memenuhi ambisi produksi.

Melihat kerusakan yang lahir dari keangkuhan tersebut, Fukuoka memilih memunggungi arus utama peradaban. Ia menanggalkan jabatannya sebagai peneliti di laboratorium mikrobiologi, lalu memutuskan untuk menyelaraskan diri kembali dengan ritme alam di kebunnya. Bagi Fukuoka, hanya dengan mengakui superioritas alam, manusia bisa menemukan kembali "surga yang hilang".

Momen Eureka di Bukit Yokohama: Ilmuwan yang Memilih Menjadi "Tiada"

Sebelum memutuskan hijrah menjadi petani dan memegang teguh prinsip natural farming, Fukuoka adalah ilmuwan patologi tumbuhan. Sejak 1934, ia mengabdi di Divisi Inspeksi Tanaman, Kantor Bea Cukai Yokohama. Di sana, ia mengamati kultur jamur hingga melakukan persilangan varietas penyakit tanaman dengan penuh dedikasi.

Suatu waktu, Fukuoka terpukau melihat dunia mikroskopis yang ditelitinya ternyata mencerminkan keluasan alam semesta. Namun, kepuasan intelektual itu terasa semu dan hanya sementara.

Titik balik eksistensial Fukuoka baru terjadi pada 1937, saat berusia 25 tahun. Kelelahan akibat kerja keras di laboratorium serta gaya hidup perkotaan, membuat Fukuoka tumbang. Ia terserang pneumonia akut. Harus diisolasi di rumah sakit dan dihantui keraguan akan hakikat hidup dan mati, jiwanya terguncang.

Meski kemudian tubuhnya bugar kembali, kegundahan batin Fukuoka tak kunjung reda.

Pada masa-masa itulah, suatu malam, menjelang 15 Mei, Fukuoka ambruk di sebuah bukit di bawah pohon besar. Saat terjaga kala fajar menyingsing, ia menemukan momen eureka-nya, kesadaran bahwa "di dunia ini tidak ada apa pun."

Dalam bukunya, The One-Straw Revolution (2001:4), ia merangkum realisasi itu: “Umat manusia tidak tahu apa-apa sama sekali. Tidak ada nilai intrinsik dalam apa pun, dan setiap tindakan adalah upaya yang sia-sia dan tidak berarti.”

Kesadaran akan ketiadaan itulah yang menjadi awal kebenaran versi Fukuoka; ia meruntuhkan dinding antara dirinya dan alam.

Jika segala tindakan manusia untuk menaklukkan dunia adalah kesia-siaan, jalan pulang satu-satunya adalah berhenti berambisi. Baginya, bertani bukanlah bentuk kerja fisik memeras hasil bumi, melainkan laku spiritual. Dari kesadaran itu, ia mulai merumuskan cara bertani yang meminimalkan campur tangan manusia.

Selang sehari setelah pencerahan itu, ia mengundurkan diri dari kantornya, lantas secara bertahap beralih menjadi petani di Pulau Shikoku.

Di kebun sang ayah, ia memulai eksperimen yang kelak dikenal sebagai "Do-Nothing Farming": membiarkan pohon tumbuh liar tanpa intervensi manusia sedikit pun.

Percobaan pertama Fukuoka gagal total: cabang-cabang pohon saling melilit, hama menyerang tanpa kendali, dan pohon-pohon jeruk warisan keluarga meranggas. Hal itu membuat sang ayah mengusirnya dari rumah.

Fukuoka lantas mengasingkan diri ke sebuah bukit, melanjutkan eksperimennya sendirian. Di titik inilah ia sadar: mengembalikan kemurnian alam bukan cuma “tidak melakukan apa-apa” secara pasif, melainkan proses sabar untuk memulihkan insting alami tanah yang telah lama dirusak manusia. Ia kelak merefleksikan pengalaman tersebut dengan kalimat, “Alam secara biologis dan ekologis telah ada jauh sebelum kemunculan manusia, dan diasumsikan akan tetap ada setelah manusia menghilang.” (1989:293)

Saat Manusia Terobsesi Menjadi Tuan Semesta

Tahun demi tahun, Fukuoka terus berupaya menyempurnakan metodenya. Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil: ia tidak hanya menyelamatkan kebun jeruk warisan keluarganya, tetapi juga berhasil membangun ekosistem polikultur produktif.

Fukuoka mempraktikkan ritme tanam tanpa jeda di bidang tanah yang sama: menanam padi di musim panas, lalu gandum dan jelai di musim dingin. Tekniknya adalah menebar benih gandum dan semanggi putih justru saat bulir padi masih menguning di batang. Setelah padi dipanen, jeraminya dikembalikan ke tanah sebagai mulsa untuk melindungi tunas gandum yang mulai tumbuh. Di sela-sela barisan tersebut, ia juga menebar benih sayuran lain, seperti lobak, sawi, dan umbi-umbian, yang dibiarkan tumbuh setengah liar, tanpa sedikit pun pupuk kimia. (2001:1)

Puncaknya, Fukuoka berhasil memanen sekitar 22 gantang gandum (setara sekitar 600 kg) dari setiap seperempat ekar tanah (setara sekira 4.000 meter persegi), setara dengan 5,8 ton per hektar. Ia menyebut, capaian ini setara dengan hasil panen tertinggi di Prefektur Ehime, wilayah yang saat itu merupakan kiblat pertanian paling produktif di Jepang. Meski skalanya tidak dapat dibandingkan dengan pertanian industri global, hasil itu menunjukkan bahwa metode Fukuoka layak diperhatikan.

Masanobu Fukuoka

Masanobu Fukuoka. foto/Dok. https://f-masanobu.jp/en/

Sementara Fukuoka membuktikan "kelimpahan" melalui penyerahan diri pada alam, dunia pertanian global justru bergerak ke arah sebaliknya. Tak puas dengan jumlah produksi terbatas, pada 1950-an, peradaban manusia memunculkan gagasan Revolusi Hijau. Itu adalah bentuk transformasi pertanian besar-besaran yang mengandalkan pilar-pilar eksternal, seperti bibit rekayasa laboratorium (High-Yielding Varieties), pupuk sintetis, pestisida, serta mekanisasi mesin berat.

Secara statistik, Revolusi hijau sangat produktif: produksi gandum global melonjak dari 1,09 ton per hektar pada 1961 menjadi lebih dari 3,52 ton per hektar pada 2022. Pencetus gagasan revolusi itu, Norman Borlaug, disebut sebagai "penyelamat satu miliar nyawa" sekaligus mendapatkan Nobel pada 1970. Riset Gollin dkk. dalamJournal of Political Economy (2021) bahkan mencatat, benih unggul mendongkrak hasil panen hingga 44 persen dan memberikan keuntungan ekonomi kumulatif sebesar 83 triliun dolar AS.

Namun, di balik statistik yang melimpah, "keberhasilan" Revolusi Hijau menyisakan luka ekologis mendalam. Model pertanian intensif itu berkontribusi besar terhadap tekanan ekologis global. Per 2022, 40 persen lahan di dunia dilaporkan mengalami degradasi dalam berbagai bentuk, dari penurunan kesuburan tanah, hilangnya vegetasi alami, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati.

“Pertanian modern telah mengubah wajah planet ini, lebih dari aktivitas manusia lainnya. Kita perlu segera memikirkan kembali sistem pangan global kita, yang bertanggung jawab atas 80 persen deforestasi, 70 persen penggunaan air tawar, dan penyebab tunggal terbesar hilangnya keanekaragaman hayati darat," tukas Ibrahim Thiaw, sekretaris eksekutif United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD).

Di dalam paradoks antara kelimpahan panen dan kemiskinan ekologis itulah gagasan Fukuoka menemukan relevansinya.

Shizen Noho: Mencari Manusia di Balik Tanaman

Kontras dengan Revolusi Hijau, Fukuoka menawarkan paradigma yang sama sekali berbeda. Jika Revolusi Hijau bertanya "Apa lagi yang bisa kita tambahkan ke tanah agar hasilnya melimpah?", Fukuoka justru bertanya "Apa lagi yang bisa saya hentikan agar alam bekerja secara mandiri?"

Revolusi Hijau berfokus pada penambahan sesuatu, seperti zat kimia, peran mesin, dan intervensi lain. Sebaliknya, jalan Fukuoka didasarkan pada pengurangan. Ia menawarkan empat prinsip "tanpa" dalam shizen noho, yaitu tanpa pembajakan, pupuk kimia, pestisida, dan penyiangan. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa manusia bukanlah tuan atas segala; bahwa keterbatasan intelektual manusia sering kali merusak mekanisme canggih alam yang sudah sempurna selama jutaan tahun.

Tidak seperti Revolusi Hijau yang mengutamakan hasil di atas segalanya, tujuan utama pertanian alami ala Fukuoka bukanlah menanam tanaman, melainkan membudidayakan dan menyempurnakan manusia.

Fukuoka ingin membuktikan bahwa dengan mengakui manusia tidak tahu apa-apa, alam berpotensi memberikan kelimpahan. Baginya, ketiadaan intelek manusia adalah pintu masuk menuju keberadaan alam yang sejati. Ketertinggalan teknologi bukanlah bencana, melainkan peluang bagi tanah untuk bernapas kembali.

Tentu, pendekatan Fukuoka bukan tanpa kritik, terutama soal skala shizen noho dan kecocokannya untuk berbagai kondisi. Namun, nilai utamanya bukanlah pada resep teknis, melainkan pada cara pandang.

Pada akhirnya, bagi Fukuoka, manusia bukanlah pusat dari segalanya. Dalam The Road Back to Nature: Regaining the Paradise Lost (1989:287), ia menuliskan refleksi yang menampar keangkuhan Revolusi Hijau dan mereka yang mengira manusia pusat segala: "Burung gereja itu, anjing itu, dan pohon ginkgo itu tidak memiliki alasan untuk memandang tinggi kepada manusia. Sebaliknya, manusia sendirilah yang sesekali harus membungkuk hormat, karena pada kenyataannya, merekalah yang jauh lebih unggul."

Baca juga artikel terkait PERTANIAN atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Mozaik
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Fadli Nasrudin