Menuju konten utama
Edusains

Kentang Darah Daging Tomat

Setelah bertahun-tahun hidup tanpa identitas jelas, peneliti akhirnya menemukan nenek moyang kentang. Dia lahir dari kawin silang tomat, jutaan tahun silam.

Kentang Darah Daging Tomat
Ilustrasi Kentang. foto/pexel

tirto.id - Di dominasi padi/nasi sebagai makanan pokok dan sumber karbohidrat utama, kentang terus mengalami peningkatan popularitas di Indonesia. Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik, kentang merupakan umbi-umbian terpopuler keempat setelah gaplek, singkong, dan talas.

Jika dihitung rata-ratanya, setiap tahun, satu orang Indonesia bisa mengonsumsi 2 kilogram kentang. Tentu, ini tidak bisa dibandingkan dengan konsumsi beras yang mencapai 90,6 kilogram per kapita. Sebab, meski sama-sama merupakan sumber karbohidrat, kentang di Indonesia masih dianggap sebagai alternatif. Bahkan, tak jarang, kentang diposisikan sebagai lauk, seperti dalam wujud perkedel dan pelengkap masakan sayur sop buntut.

Kentang sejatinya bukan produk tanaman asli Indonesia. Periode masuknya ke Nusantara memang tidak diketahui persis. Yang jelas, tanaman ini pertama kali dibawa oleh orang Belanda dan, pada 1794, diketahui sudah dibudidayakan di Cisarua, Jawa Barat. Wilayah dataran tinggi seperti Cisarua memang cocok sebagai tempat budidaya kentang lantaran, aslinya, tanaman tersebut berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Penyebaran kentang ke seluruh dunia tak bisa dilepaskan dari kolonialisme. Adalah para conquistador Spanyol yang ketika itu, pada pertengahan abad ke-16, menemukan kentang di wilayah Pegunungan Andes Peru, lalu membawanya pulang ke Eropa. Kentang yang dibawa orang-orang Spanyol itu merupakan hasil budidaya penduduk asli yang mendiami wilayah dekat Danau Titicaca sejak 6.000-7.000 tahun silam.

Dengan segera, kentang pun menyebar jadi makanan penting di Benua Biru. Tak cuma mudah dibudidayakan, ia juga mudah disimpan dan kaya nutrisi. Meski awalnya dipandang aneh, perlahan-lahan kentang jadi tanaman budidaya populer. Selain dimakan, bunga tanaman kentang juga kerap dijadikan perhiasan oleh bangsawan Eropa untuk membujuk supaya rakyat jelata mau mengonsumsinya. Hal ini berlangsung selama kurang lebih dua abad. Akhirnya, pada abad ke-18, kentang pun dibawa ke Nusantara oleh orang Belanda.

Nenek Moyang Kentang

Jika sejarah kentang sebagai bahan pangan penting di dunia bisa dilacak lewat berbagai catatan sejarah, asal muasal kentang sebagai sebuah tumbuhan itu sendiri tidak pernah diketahui. Ilmuwan bahkan menyebut garis keturunan kentang tidak bisa dilacak. Well, setidaknya begitulah kenyataannya sampai 2025.

Pertengahan September 2025, sekelompok peneliti lintas negara, yang dipimpin Sanwen Huang asal Cina, menerbitkan artikel penelitian dalam jurnal Cell untuk menjawab teka-teki muasal kentang.

Para peneliti menganalisis 450 genom dari kentang budidaya dan 56 genom dari kentang liar dengan menggunakan metode analisis filogenetik. Metode ini sama persis dengan yang digunakan untuk, misalnya, menentukan hubungan darah pada manusia secara genetis.

Dari sana, mereka menemukan dua gen yang berperan dalam pembentukan umbi pada kentang. Satu gen, SP6A, berasal dari tomat, sementara gen lainnya, IT1, ditemukan dalam sebuah tumbuhan bernama Etuberosum.

Dua gen tersebut tidak berkemampuan membentuk umbi secara langsung. Akan tetapi, ketika bertemu, gen SELF-PRUNING 6A (SP6A) tomat "memerintahkan" Etuberosum menciptakan umbi yang pertumbuhannya dikontrol oleh gen Identity of Tuber 1 (IT1). Pertemuan kedua gen itu pertama kali terjadi kurang lebih sembilan juta tahun silam.

Tomat dan Etuberosum sebenarnya memiliki moyang yang sama. Mereka berdua sama-sama berada dalam genus Solanum--terung juga termasuk dalam genus ini. Akan tetapi, seiring evolusi berjalan, keduanya memisahkan diri dari garis keturunan tersebut. Lalu, lewat kawin silang yang tak disengaja pada sembilan juta tahun silam, kedua tumbuhan akhirnya bertemu dan membentuk sebuah spesies baru.

Bisa dibilang, dalam kawin silang itu, tomat adalah spesies jantannya, sementara Etuberosum menjadi betina. Sebab, tomatlah yang membuahi Etuberosum sehingga lahirlah tumbuhan mirip Etuberosum bernama kentang.

Ilustrasi Solanum Etuberosum

Ilustrasi Solanum Etuberosum. wikimedia/Flickr/Internet Archive Book Images

Sepintas, dilihat dari permukaan tanah, kentang dan Etuberosum terlihat mirip. Bentuk daun, bunga, dan batangnya, serupa. Akan tetapi, begitu dicerabut, terlihat jelas perbedaannya. Jika tumbuhan kentang memiliki umbi, Etuberosum hanya punya akar serabut. Bisa dikatakan, gen SP6A milik tomat tadilah yang mengubah serabut Etuberosum menjadi umbi kentang.

Bedanya lagi, kentang dan Etuberosum menyukai jenis lingkungan berbeda. Tomat tumbuh subur di kawasan kering dan panas, sedangkan Etuberosum menyukai kawasan dingin dan lembap.

Tanaman kentang seolah menyempurnakan karakter dua leluhurnya (tomat dan Etuberosum). Ia mampu bertahan hidup dan tumbuh subur di wilayah pegunungan yang dingin dan kering, seperti di Andes.

"Kentang menggabungkan kualitas terbaik dari kedua tumbuhan, lalu menyebar luas di kawasan Andes," ujar salah satu anggota tim penelitian, Sandra Knapp, kepada NPR.

Kebetulan sekali, menurut para peneliti, lahirnya kentang pada sembilan juta tahun silam berbarengan dengan perubahan topografi Pegunungan Andes yang makin meninggi. Artinya, pegunungan tersebut makin dingin dan kering, dan itu cocok sekali dengan fungsi umbi pada kentang.

Untuk menguji keabsahan hipotesis mengenai tomat dan Etuberosum menghasilkan kentang, para peneliti melakukan eksperimen tambahan. Mereka mencoba menghilangkan gen SP6A dan IT1 dari kentang modern. Hasilnya, kentang tersebut gagal menghasilkan umbi. Artinya, produksi umbi memang benar-benar bergantung pada interaksi dua gen tersebut.

Riset yang dilakukan Huang dan koleganya punya dua maksud. Pertama, mengetahui asal muasal kentang yang selama ini dianggap misterius. Kedua, memahami kombinasi gen SP6A dan IT1 sehingga dapat dimodifikasi guna memperbaiki ketahanan tanaman terhadap perubahan iklim, serta menciptakan varietas baru yang lebih tangguh di masa depan.

Salah satu arah penelitian yang kini tengah dieksplorasi adalah merekayasa kentang supaya bisa berkembang biak dengan biji. Kepada CNN, Knapp mengatakan, "Kentang berbiji jadi opsi menarik karena mereka bisa saja lebih variatif secara genetis dan tahan penyakit serta tantangan agrikultur lainnya."

Selama ini, budidaya kentang dilakukan dengan menanam kembali potongan umbi yang, secara genetis, identik satu sama lain. Meski efisien, cara tersebut membuat tanaman rentan terhadap hama dan wabah. Kasus itu pernah terjadi di Irlandia pada abad ke-19 dan menyebabkan kelaparan massal.

Pada akhirnya, penelitian terhadap asal usul kentang adalah tentang pengelolaan pangan di masa depan. Perubahan iklim, degradasi kualitas tanah, evolusi wabah dan hama, dan tantangan-tantangan lain, telah menanti peradaban manusia. Namun, sebelum menjawab tantangan dari masa depan itu, para peneliti harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari masa lampau.

Baca juga artikel terkait INOVASI PERTANIAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin