Bagaimana Penguasaan Minyak Tentukan Kemenangan di Perang Dunia I

Pasukan AS dari Divisi 1, pasukan Amerika pertama yang mendarat di tanah Prancis, berparade di St. Nazaire, Prancis, 26 Juni 1917 selama Perang Dunia I. FOTO/AP
Reporter: Anton Sugiharto - 13 Oktober 2020
Dibaca Normal 6 menit
Perang Dunia I membawa terobosan dalam sejarah perang: penggunaan teknologi canggih dan minyak bumi.
Pada permulaan Perang Dunia I, dunia sedang menikmati keberlimpahan minyak bumi yang didominasi oleh produksi dari ladang-ladang minyak milik Rusia dan Amerika (termasuk Meksiko). Namun, sebagian besar manusia saat itu belum mengetahui kegunaan minyak bumi selain sebagai bahan baku lampu penerangan atau hal-hal praktis sejenisnya. Pada saat bersamaan, mesin industri dan kendaraan bermesin di Eropa sudah mulai berevolusi dan ditenagai produk minyak bumi hasil pengembangan penemuan mesin pembakaran internal oleh Karl Benz (1886) sebagaimana dijelaskan Oliver Gliech dalam “Petroleum” yang dimuat dalam International Encyclopedia of The World War I (2015).

Dengan koloni-koloninya di Timur Tengah, Inggris sudah mengetahui pentingnya nilai minyak bumi. Mereka berhasil mengontrol sebuah lapangan minyak raksasa yang pertama kali ditemukan di Persia (Iran) yaitu Mesjid Sulaiman (1908). Di sana mereka menemukan minyak menyembur (gusher) setinggi 15 meter di atas menara rig melalui perusahaan minyak Anglo-Persian (APOC). Namun para ahli strategi militer Inggris tetap menginginkan cadangan minyak yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan kerajaan di masa depan, mengingat cadangan Inggris yang sangat terbatas. Walhasil, mereka melirik daerah Mesopotamia (kini Irak) yang serupa secara geologis dengan tetangganya, Persia. Namun, catat Gliech, wilayah incaran itu berada di bawah kekuasaan Turki Usmani yang sebenarnya kurang menaruh perhatian serius terhadap pengembangan sumberdaya alam strategis ini.


Sebelum PD I pecah, tepatnya pada 1912, berdirilah perusahaan patungan Inggris-Jerman bernama Turkish Petroleum Company (TPC). Perusahaan ini awalnya bertugas mensurvei daerah-daerah yang berpotensi ditambang di Irak. Namun, pecahnya perang besar langsung mengakhiri kerjasama pencarian minyak kedua belah pihak. Sejumlah wilayah Turki Usmani malah menjadi target sasaran pihak Inggris dan sekutunya.

Perang Dunia I yang pecah pada musim panas 1914 melibatkan kekaisaran Jerman, Austro-Hungaria, Turki, dan Bulgaria di satu kubu disebut kubu (“Poros”), serta Britania Raya, Rusia—kemudian Amerika dan beberapa negara Eropa lain jelang penghujung perang—dalam kubu “Triple Entente”. Mandala peperangan terutama terjadi di teater front Eropa (wilayah Eropa Barat dan Timur). Sebagian lainnya di Timur Tengah dan Afrika yang tak lain adalah koloni negeri-negeri yang berseteru.

Dibanding konflik peperangan berskala lebih kecil sebelumnya, PD I mulai melibatkan mesin (kendaraan) sebagai alat perang mekanis hasil revolusi industri yang terjadi di abad ke-19. Mesin-mesin perang digerakkan oleh tenaga uap, listrik (baterai) dan minyak bumi. Namun, dari semua itu, minyak bumi memiliki banyak keunggulan sebagai sumber penggerak kendaraan perang karena kecepatan, jarak, dan daya angkutnya.

Alat transportasi massal di darat saat itu umumnya masih mengandalkan kuda dan kereta api bermesin uap, walaupun kendaraan dengan mesin pembakaran internal sudah dikenal secara eksklusif menggunakan bahan bakar produk minyak bumi. Namun, mesin-mesin perang yang diproduksi massal untuk keperluan transportasi dan komunikasi dalam PD I masih mengandalkan tenaga uap, batubara, atau kuda.

Di medan perang itu setiap tiga tentara memerlukan bantuan satu ekor kuda (keledai). Diperkirakan terdapat sekitar 16 juta ekor kuda yang dilibatkan dalam PD I ini. Dengan jumlah tersebut dapat dibayangkan kebutuhan logistik yang sangat besar untuk memenuhi penyediaan pakan harian, belum termasuk penyiapan konsumsi berjuta-juta personil pasukannya. Dalam urusan makanan, seekor kuda membutuhkan setara sepuluh porsi makanan dibanding satu porsi untuk seorang tentara, sedangkan satu divisi pasukan (setara 12.000 prajurit) setiap harinya memerlukan 1.000 ton makanan. Sungguh persiapan logistik berskala raksasa.

Kuda memang masih memegang peranan penting sebagai alat angkut dan transportasi utama peperangan. Namun rapuhnya kuda dalam kondisi yang keras di lapangan mengakibatkannya rawan terkena berbagai penyakit, ditambah ancaman kelaparan, kelelahan akut dan juga terkena tembakan. Kebutuhan logistik besar membuat kuda kurang andal dalam peperangan model parit dan duel artileri seperti di front Barat pada PD I. Akibatnya, sekitar delapan juta kuda mati dalam perang ini.

Di perang inilah tank sebagai mesin perang modern pertama kalinya dihadirkan oleh tentara Inggris pada ofensif Somme di Perancis pada 1920. Kehadiran kendaraan berlapis baja sebagai cikal bakal kavaleri bermotor modern memiliki beberapa kelebihan, misalnya daya tembak, daya gerak, daya tahan dan daya kejut. Kelebihan tank menjadi sebuah revolusi baru yang merubah gaya peperangan tradisional yang dipraktikkan kedua belah pihak di awal peperangan.

Gaya perang di Front Eropa Barat ditandai dengan adanya serangan masal secara mendadak setelah usainya rentetan pemboman artileri (artillery barrage) berkaliber besar untuk memborbardir posisi parit lawan dan garis pertahanan belakangnya. Lalu muncul ribuan pasukan infantri yang menyerang melalui wilayah tak bertuan ke garis lawan, begitu pula sebaliknya. Sebelum penggunaan tank, peperangan cenderung statis dan berlarut-larut. Sistem yang digunakan adalah sistem pertahanan parit (trench war) untuk mempertahankan jengkal demi jengkal daerah yang baru dikuasai.

Penggunaan tenaga mekanis berupa mesin bermotor berbahan bakar minyak menggantikan fungsi kuda atau lembu semakin ekstensif terutama pada tahun-tahun terakhir perang dan berhasil mengubah ritme pertempuran. Ini tak hanya terjadi di daratan, namun juga di lautan yang semakin dipenuhi kapal-kapal perang besar (dreadnought class) dan kapal selam—sebagian masih menggunakan tenaga mesin uap.

Pada akhir perang, Jerman hanya membuat 20 tank A7V. Bandingkan dengan Perancis yang mampu memproduksi masal tank FT yang berukuran kecil hingga 1.000 buah dan Inggris yang sudah membuat 150 tank berukuran besar (Mark I – Mark X).

Perang di angkasa pun telah diramaikan oleh balon-balon gas udara ‘Zeppelin’ terutama untuk mengamati posisi musuh, menyokong pengamatan tembakan artileri, serta sebagai wahana pengebom udara. Langit Eropa juga ramai dengan ribuan pesawat tempur sayap ganda (bi-plane). Saat itu terdapat 195 tipe berbeda dari bi-plane yang diproduksi secara massal. Umumnya mereka terbuat dari bahan kayu dan kanvas. Pesawat-pesawat tempur bermesin radial atau ‘rotary’ yang menggunakan bahan bakar bensin ini merupakan hasil kelanjutan penemuan Oliver dan Wilbur Wright pada awal abad ke-20.

E.P. Mawn dalam Oil and War(2018) menyebutkan, pada awal perang Angkatan Darat Inggris (BEF) hanya memiliki 250 pesawat, 26.000 mobil, dan 827 sepeda motor. Pada penghujung perang tercatat kekuatan bermotor mereka berkali-kali lipatnya, yaitu 56.000 truk, 23.000 mobil dan 34.000 motor. Pada saat bersamaan, walaupun industri penerbangan masih berstatus sangat belia, namun jumlah pesawat tempur klasik yang dibuat pabrikan secara masal oleh semua pihak berseteru dalam PD I mencapai 200.000 unit. Sebagian besar menggunakan mesin yang ditenagai bensin. Kebutuhan akan suplai bahan bakar pun semakin mendesak sehingga sumber dan fasilitas pengolahan minyak bumi menjadi aset vital bagi semua pihak.

Penguasaan Sumber Daya Alam adalah Kunci Kemenangan

Minyak bumi akhirnya menjadi incaran pihak-pihak yang bertikai. Dalam sebuah episode pertempuran di Timur Tengah pada musim gugur 1914, Turki dan Jerman beraliansi menyerang kilang minyak terbesar di dunia, tepatnya di Abadan, Irak, yang berada dalam penguasaan pihak Sekutu. Namun, serangan dapat dipatahkan. Sebaliknya, kota Basra di sekitar kilang malah jatuh ke tangan Sekutu dan kontrol keamanannya kemudian diserahkan kepada Emir Kuwait di pihak Sekutu. Inggris kemudian berupaya menguasai ibu kota Irak, Baghdad, namun dapat dikalahkan oleh tentara Turki Usmani. Baghdad jatuh ke tangan Inggris pada 1917.

Kedua kubu mencoba memengaruhi Rumania yang awalnya netral untuk bergabung ke dalam aliansi masing-masing. Pasalnya, ladang minyak historis Ploesti di Rumania dipandang penting bagi kedua belah pihak. Rumania memang dikenal sebagai salah satu pionir industri perminyakan modern dunia (1857), bahkan mendahului Amerika Serikat (1859). Di front Eropa Timur pasukan Rusia tidak terlalu memperhatikan satu-satunya sumber dan fasilitas perminyakan Austria-Hongaria ketika menaklukkan Galicia di dekat Ukraina dan Polandia, yang akhirnya dapat direbut kembali oleh Austria-Hongaria.

Upaya kekuatan kubu Sentral merebut kendali atas ladang minyak terbesar Rusia di Baku (Azerbaijan)—yang memproduksi lebih dari 200.000 barel minyak per hari—untuk melumpuhkan monopoli sumber minyak Sekutu terlambat dilakukan sehingga gagal mempengaruhi alur dan hasil PD I.

Perang besar yang mengakibatkan jatuhnya korban personil militer sampai 17 juta orang itu akhirnya dimenangkan oleh pihak Sekutu pada akhir 1918. Oliver Gliech dalam “Petroleum” (2015) menyebut kunci kemenangan perang sebenarnya terletak pada keunggulan mobilitas truk yang ditenagai produk minyak bumi milik Sekutu. Strategi ini melawan strategi mobilisasi pasukan melalui kereta api uap berdasarkan konsep “Schlieffen Plan” pihak Jerman.

“Schlieffen Plan” mulai dikerjakan pada periode 1897 hingga 1905 setelah muncul ancaman dari aliansi militer baru Rusia dan Perancis pada 1891. Dengan Schlieffen Plan diharapkan Jerman mampu menghadapi perang di dua front sekaligus, seperti yang ditulis oleh Amanda Onion dalam “Was Germany Doomed in World War I by the Schlieffen Plan?” (2018).

Alfred Von Schlieffen, kepala staf angkatan bersenjata kerajaan Jerman periode 1891-1906, merancang strategi ofensif menggunakan asumsi bahwa kekuatan militer Perancis lebih lemah sedangkan kemampuan mobilisasi militer Rusia dinilai memerlukan waktu lama. Maka ofensif Jerman terhadap musuh di Front Barat harus dilakukan dengan membuat konsentrasi pasukan, yang diangkut oleh kereta api secara cepat via jaringan rel yang dibuat seperti memutar sepanjang garis perbatasan Belgia dan Luxemburg di sebelah Barat dan Timur. Mobilisasi ini kemudian melewati bagian utara Perancis untuk menguasai kota Paris dalam waktu enam minggu dan berlanjut ke Rusia di Front Timur.



Kenyataannya, Schlieffen plan memiliki banyak kelemahan. Salah satunya adalah celah mobilitas antara dropping zone di stasiun kereta api pengangkut pasukan terdekat dan front terdepan pertempuran.

Walaupun terencana dengan baik, cara-cara tradisional tidak berhasil mendorong kesuksesan Jerman di PD I karena lawan ternyata lebih unggul dalam hal kecepatan mobilisasi pasukan di medan tempur. Kubu Triple Entente memiliki kelebihan dengan mengintegrasikan mobilisasi via kereta api dan penggunaan kendaraan bermotor berupa truk atau taksi yang dimodifikasi. Kendaraan-kendaraan bermotor ini diubah menjadi pengangkut pasukan berikut logistiknya yang dinamakan taxis (taksi) dan lorries (lori) yang bisa mendekati titik pertempuran dalam waktu singkat.

Penggunaan taksi ini menjadi simbol patriotik bagi Perancis dalam pertempuran Marne pada 6 september 1914. Bantuan armada taksi turut mencegah kejatuhan kota Paris yang tinggal selangkah. Mobilisasi 6.000 pasukan Perancis yang cepat ke front terdepan menggunakan 1.300 taksi—dengan bayaran, tentunya, sebagaimana dilaporkan Jamey Keaten untuk Associated Press.

Hal yang mungkin menjadi keunggulan Sekutu atas Jerman atau pihak Sentralnya adalah penguasaan dan akses terhadap sumber-sumber minyak. Pihak Sekutu sudah lebih jauh menggunakan kendaraan perang menggunakan mesin pembakaran minyak yang lebih efektif dan efisien digunakan dalam peperangan dibanding kendaraan tradisional. Di sisi lain, kubu Sentral yang mengandalkan produksi minyak dari Galicia—dan impor dari Rumania sejak 1916—masih menggunakan transportasi tradisional seperti kuda atau mesin uap (berbahan bakar batubara) seperti yang dipaparkan Timothy Winegard dalam “Of Blood and Oil—How the Fight for Petroleum in WWI Changed Warfare Forever” (2016).

Alih-alih melakukan transformasi penggunaan produk minyak bumi untuk bahan bakar transportasi militer, Jerman secara ekstensif lebih fokus memproduksi senjata penyembur api (flammenwerfer) untuk membakar parit-parit garis depan pertahanan musuh. Bahan baku senjata tersebut merupakan campuran minyak bumi (fuel oil) yang ditekan oleh propelan berupa gas nitrogen di dalam tabung portabel.

The Local edisi Jerman menyebutkan salah satu faktor kekalahan Jerman adalah ketidaksiapan manajemen sumber daya domestik yang mengandalkan impor bahan baku dan makanan dari luar. Walhasil, kondisi domestik Jerman di ambang kehancuran akibat blokade Inggris dan sekutunya. Dalam strategi militer mereka juga mengabaikan fungsi minyak bumi sebagai sumber bahan bakar hasil inovasi baru untuk kendaraan perang. Padahal, penemuan kendaraan berbahan bakar produk minyak bumi justru lahir di Jerman. Dalam PD I, Jerman masih menekankan pergerakan dan penggelaran pasukan mengikuti konsep “Schlieffen Plan”, mencoba mengulang kemenangan mereka di perang-perang Eropa sebelumnya.

Tak heran memang minyak bumi menjadi kunci inovasi utama kemenangan. Sebagian besar cadangan minyak bumi saat itu berada dalam kekuasaan Sekutu yang memiliki akses terhadap lebih 90% dari produksi minyak bumi dunia. Hanya tersisa sedikit saja akses terhadap minyak bumi di wilayah kekuasaan pihak Sentral.

Peristiwa PD I turut membawa perubahan teknologi abad ke-20 secara dramatis, terutama dalam hal penggunaan sumber energi yang mulai bergeser dari kayu atau tenaga air ke batubara. Perubahan ini juga membawa ide-ide dan teknologi modern di mana minyak bumi akhirnya menjadi kebutuhan yang sangat penting dan tak tergantikan hingga hari ini sampai ditemukan sumber energi massal baru yang efisien dan lebih layak.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA I atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)

Reporter: Anton Sugiharto
Editor: Windu Jusuf
DarkLight