Menuju konten utama

Prancis Kirim Kapal Induk ke Atlantik Utara, Jaga Greenland?

Prancis mengirim kapal induk bertenaga nuklir menuju perairan di Atalantik Utara. Untuk apa kapal induk tersebut ditempatkan di sana?

Prancis Kirim Kapal Induk ke Atlantik Utara, Jaga Greenland?
Kapal Perang Prancis atau Kapal Induk Charles de Gaulle (R91) bersandar di Pelabuhan Gili Mas, Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, NTB, Jumat (31/1/2025). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Prancis dilaporkan telah mengirimkan kapal induk bertenaga nuklir ke Atlantik Utara. Pengerahan armada perang ini dilakukan di tengah gejolak geopolitik antara Eropa-Amerika Serikat (AS) terkait wilayah Greenland.

Seturut kantor berita AFP, Kementerian Pertahanan Prancis telah mengonfirmasi pengerahan kapal induk bertenagaa nuklir andalan mereka, Charles de Gaulle. Kapal ini disebut telah berlayar menuju Atlantik Utara sejak Selasa (27/1/2026).

Kementerian pertahanan Prancis tak menyebut secara spesifik lokasi penempatan Charles de Gaulle di Atlantik. Namun, armada perang Prancis ini meliputi kapal induk dan pesawatnya, juga kapal pendukung seperti fregat pertahanan udara, kapal pasokan, dan kapal selam serang.

Melansir Eurasian Times, Charles de Gaulle merupakan satu-satunya kapal induk di Angkatan Laut Prancis. Kapal ini mulai berlayar pada 2001 dan memiliki bobot 42.000 ton, jauh lebih kecil dari kapal induk AS yang memiliki bobot 100.000 ton.

Kapal tersebut biasanya beroperasi dengan 40 pesawat, termasuk jet Rafale-Marine, EW E-2C Hawkeye, dan helikopter macam NH90. Charles de Gaulle sebelumnya terlibat dalam beberapa operasi militer, seperti Operasi Enduring Freedom pasca peristiwa 9/11, operasi lepas pantai Libya pada 2011, hingga operasi penyerangan ISIS di Irak dan Suriah.

Tujuan Pengiriman Kapal Induk Prancis

Pengerahan armada perang ini juga diproyeksikan bakal diikuti oleh negara-negara sekutu Prancis lainnya.

Menurut sumber anonim AFP, armada perang Prancis yang dipimpin kapal Charles de Gaulle ini akan berada di Atlantik Utara untuk mengikuti latihan militer Orion 26. Latihan ini disebut sebagai "latihan gabungan dan sekutu berskala besar".

"Latihan ini, yang akan dilakukan dalam beberapa minggu mendatang di zona Atlantik — wilayah strategis untuk pertahanan kepentingan Eropa — akan menyatukan pasukan Prancis bersama sekutu dan mitra regional mereka," kata sumber tersebut.

Sementara itu, ketegangan kawasan Euro-Atlantik masih terus terjadi. Meskipun Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa ia mengesampingkan invasi militer ke Greenland, namun ancaman pemberian tarif impor kepada negara Eropa yang menolak upaya AS mencaplok Greenland masih berlaku.

Di Eropa, seruan untuk mengakhiri kerja sama militer dengan AS mulai berkembang. Sejumlah pihak juga mulai menganjurkan agar Uni Eropa mengambil sikap yang lebih keras terhadap Trump.

Akan tetapi, pada Senin (26/1), Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan bahwa Eropa tak dapat membela diri jika kesepakatan NATO dibubarkan atau kerja sama militer Uni Eropa dan AS diakhiri.

"Jika ada yang berpikir bahwa Uni Eropa atau Eropa secara keseluruhan dapat membela diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Anda tidak bisa," kata Rutte di Parlemen Eropa.

Dalam pernyataan itu, Uni Eropa kini tak punya fasilitas yang memadai untuk menjaga wilayahnya dari potensi senjata nuklir. Jika kerja sama militer dengan AS diakhiri, Rutte menyebut Uni Eropa harus mengeluarkan "miliaran dan miliaran" euro untuk membangun senjata nuklir sendiri.

"Anda akan kehilangan penjamin utama kebebasan kita, yaitu payung nuklir AS," kata mantan Perdana Menteri Belanda itu.

Meski begitu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot membalas pernyataan pemimpin NATO itu. Melalui akun X pribadinya, Barrot menyatakan bahwa "orang Eropa dapat dan harus bertanggung jawab atas keamanan mereka sendiri".

Prancis sejauh ini menjadi salah satu aktor yang paling gencar mengkampanyekan seruan bagi Uni Eropa untuk bersatu melawan ancaman Trump. Pada Rabu (28/1) ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron memiliki agenda temu dengan pemimpin Denmark dan Greenland di Paris.

Menurut Kantor Kepresidenan Paris, Macron disebut akan "menegaskan kembali solidaritas Eropa dan dukungan Prancis untuk Denmark, Greenland, kedaulatan mereka, dan integritas teritorial mereka".

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar