tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump makin serius dengan rencananya untuk mencaplok Greenland sebagai bagian dari negaranya. Trump dengan para penasihatnya bahkan telah mempertimbangkan beberapa opsi dalam upaya mendapatkan pulau besar di Arktik itu. Mungkinkan untuk Greenland Trump juga menerapkan operasi militer?
Trump kembali menyerukan niatnya mencaplok Greenland setelah insiden penculikan Nicolas Maduro, presiden Venezuela, pada Sabtu (3/1/2025) dini hari. Keesokannya, ia mengatakan sangat memerlukan Greenland. Hal ini telah menimbulkan ketegangan politik antara AS dengan Denmark dan berbagai negara di Eropa.
Rakyat Greenland mayoritas tidak setuju untuk menjadi bagian dari AS. Sebuah jajak pendapat di AS menunjukkan, hanya 7 persen warga Amerika Serikat yang menyetujui pengambilalihan Greenland menggunakan operasi militer.
Operasi Militer Tetap Masuk sebagai Opsi Caplok Greenland
Presiden AS Donald Trump dan para penasihatnya mempertimbangkan penggunaan militer sebagai bagian dari opsi untuk mendapatkan Greenland. Meski demikian, Gedung Putih juga menetapkan pilihan lain sebagai jalan lebih "damai".
"Penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima tertinggi,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, dikutip The Guardian, Selasa (6/1/2026).
Presiden Trump menyatakan bahwa penguasaan Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat. Menurut Leavitt, penguasaan atas Greenland sangat penting untuk mencegah musuh di wilayah Arktik.
Komentar Leavitt tersebut diutarakan setelah para pemimpin negara di Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Polandia, Spanyol, dan Denmark menuliskan pernyataan bersama untuk mendesak AS menghormati kedaulatan Denmark.
“Greenland adalah milik rakyatnya,” demikian isi pernyataan tersebut. “Hanya Denmark dan Greenland yang dapat memutuskan hal-hal yang menyangkut Denmark dan Greenland."
Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan keamanan wilayah Arktik menjadi prioritas utama bagi aliansi pertahanan NATO. Hal itu juga mencakup jaminan keamanan bagi AS dan Greenland.
Frederiksen mengungkapkan serangan terhadap sekutu NATO berarti menjadi akhir dari aliansi militer dan keamanan setelah Perang Dunia II. Hal itu juga menjadi akhir dari segalanya.
AS Tawarkan Opsi Pembelian Greenland
Seorang pejabat senior AS yang namanya tidak disebutkan telah mengatakan pada Reuters bahwa AS memiliki opsi di luar operasi militer. Opsi meliputi pembelian Greenland atau membentuk Pakta Asosiasi Bebas dengan wilayah tersebut.
Mengutip BBC, juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut ingin membangun hubungan komersial jangka panjang antara warga Amerika dan rakyat Greenland yang menguntungkan.
"Musuh bersama kita semakin aktif di Arktik. Itu adalah kekhawatiran yang sama-sama dirasakan oleh Amerika Serikat, Kerajaan Denmark, dan Sekutu NATO," kata juru bicara itu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan di depan para anggota parlemen dalam sebuah pengarahan rahasia di Capitol Hill, Senin, bahwa pemerintahan Trump tidak berencana untuk menyerang Greenland. Sebagai gantinya, pemerintah kemungkinan membelinya dari Denmark.
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id





























