Menuju konten utama

Mengapa AS Ingin Caplok Greenland hingga PM Denmark Marah?

PM Denmark ingin Trump sudahi ancaman Amerika Serikat (AS) untuk mencaplok Greenland yang menjadi wilayahnya. Apa tujuan AS inginkan Greenland?

Mengapa AS Ingin Caplok Greenland hingga PM Denmark Marah?
Greenland AS. akun X/Katie Miller
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen marah dengan keinginan Amerika Serikat (AS) untuk mencaplok Greenland. Pulau luas di Arktik tersebut dianggap memiliki nilai strategis. Mengapa AS sangat menginginkannya?

Presiden AS Donald Trump kerap menyatakan kemungkinan Greenland dikuasai AS terkait isu keamanan nasional dan kekayaan mineral. Salah satunya, Trump menyampaikannya ketika berpidato di hadapan Kongres AS pada Maret 2025.

Trump menyebut penguasaan atas Greenland sangat penting "untuk keamanan nasional dan keamanan internasional". Ia pun memberikan dukungan bagi rakyat Greenland untuk menentukan masa depannya sendiri, termasuk bergabung dengan AS.

"Jika Anda memilih, kami menyambut Anda di Amerika Serikat," kata Trump.

PM Denmark Minta Trump Hentikan Ancaman Mencaplok Greenland

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen meminta Presiden AS Donald Trump menghentikan rencana Washington untuk mencaplok Greenland.

"AS tidak berhak untuk mencaplok salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark," kata Frederiksen dikutip BBC, Senin (5/1/2026).

Kekesalan Frederiksen disampaikan usai aksi istri dari Stephen Miller (ajudan Trump), Katie Miller, yang mengunggah gambar peta Greenland di akun X miliknya pada Minggu (4/1/2026). Peta tersebut telah disunting dengan menambahkan bendera AS di seluruh wilayah Greenland dan menyematkan pesan "SEGERA".

Frederiksen menambahkan, Denmark telah menjadi menjadi bagian dari anggota NATO. Dengan demikian, negaranya termasuk Greenland mendapatkan jaminan perlindungan dari aliansi militer ini. Apalagi, AS juga bagian di dalamnya sehingga masih sekutu Denmark.

"Oleh karena itu, saya mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan ancaman terhadap sekutu yang memiliki hubungan historis dekat," tutur Frederiksen.

Namun, beberapa jam kemudian, Trump menegaskan kembali rencananya. Trump sangat menginginkan wilayah itu dengan menyebut bahwa "AS membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional dan Denmark tidak akan mampu melakukannya."

Trump Bukan Presiden AS Pertama yang Inginkan Greenland

Upaya AS mencaplok Greenland tidak hanya datang di masa pemerintahan Trump. Pasalnya, sejumlah presiden AS berusaha mendapatkan Greenland sudah lebih dari satu abad.

Lukas Wahden, penulis buletin keamanan Arktik "66° North", menyebut AS sudah berkali-kali ingin mengusir Denmark sebagai pemilik Greenland. AS sangat ingin menjadikan Greenland bagian dari negaranya.

"Setidaknya untuk memiliki kendali keamanan penuh atas Greenland," kata Wahden.

AS pernah membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867. Namun, negosiasi yang dilakukan Menteri Luar Negeri AS saat itu, William H. Seward, gagal untuk mendapatkan Greenland dari Denmark. Tidak ada kesepakatan apa pun dari proses negosiasi.

Greenland pernah ditawar AS senilai 100 juta dolar pada 1946. AS meyakini wilayah ini sangat penting bagi keamanan nasional. Denmark memilih bergeming dan menolak tawaran itu.

Di masa pemerintahan Trump yang pertama pun pun pula mengajukan penawaran untuk membeli Greenland pada tahun 2019. Lagi-lagi, Denmark mengatakan bahwa Greenland tidak untuk dijual.

Greenland secara geografis terletak di Amerika Utara. Pulau tersebut menjadi area koloni sampai pertengahan abad ke-20 yang terisolasi dan miskin.

Wilayah Greenland lantas menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan penduduknya juga menjadi warga negara Denmark pada tahun 1953.

Sebuah referendum lalu diadakan pada tahun 1979. Greenland memiliki kendali atas sebagian besar kebijakan di wilayahnya , namun urusan luar negeri dan pertahanan tetap dipegang oleh Denmark.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Ilham Choirul Anwar

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Yantina Debora