tirto.id - Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran dalam operasi militer bernama Operation Epic Fury. Di antara bom, rudal, dan pesawat tempur canggih yang dikerahkan, ada satu senjata udara baru yang debutnya diam-diam mengubah sejarah militer negara tersebut. Dialah drone kamikaze murah meriah bernama LUCAS.
LUCAS adalah singkatan dari Low-cost Unmanned Combat Attack System. Ia merupakan drone-serang-satu-arah yang dikembangkan oleh perusahaan asal negara bagian Arizona, SpektreWorks. Namun, drone tersebut bukan produk teknologi mutakhir yang lahir dari laboratorium militer rahasia atau semacamnya, melainkan hasil menjiplak teknologi "sederhana" yang selama ini digunakan oleh Iran dalam wujud drone kamikaze Shahed-136.
Dalam bahasa Farsi, shahed atau shahid berarti saksi, sama seperti dalam bahasa Arab, karena drone-drone tersebut memang didesain untuk "mati syahid". Ia dirancang untuk sekali pakai. Begitu diluncurkan, Shahed-136 akan terbang mencari sasaran, lalu menukik dan meledak bersama hulu ledaknya.
Panjang drone tersebut sekitar 3 meter dan lebarnya 2,5 meter. Daya jelajahnya mencapai 2.000 kilometer, dengan waktu terbang hingga 12 jam. Ia dapat terbang rendah di ketinggian 20–30 meter untuk menghindari radar, tetapi juga mampu melesat di ketinggian 5,2 kilometer apabila diperlukan.
Semua kemampuan itu mungkin tidak akan terbayangkan jika melihat wujudnya secara langsung. Ditenagai mesin bensin 2-tak sederhana dan baling-baling kayu, Shahed-136 memang terlihat "cemen". Apalagi, ia tidak punya roda pendarat, desain aerodinamis futuristik, ataupun mekanisme kemudi. Akan tetapi, segala kekurangan itu malah membuatnya istimewa. Sebagaimana fungsi utamanya adalah untuk diledakkan. Maka, fungsi-fungsi non-esensial pun dipreteli sehingga biaya produksinya murah. Harganya diperkirakan berkisar antara 25.000—50.000 dolar AS per unit, relatif murah untuk ukuran alutsista.
Shahed-136 pertama kali digunakan pada September 2019 dalam serangan ke kilang minyak Arab Saudi. Dari sana, drone tersebut menyebar ke tangan proksi Iran, seperti Houthi di Yaman dan Rusia, yang memakainya secara masif dalam perang melawan Ukraina. Laporan Angkatan Bersenjata Ukraina menunjukkan, lebih dari 4.600 unit Shahed-136 telah diluncurkan sejak 2022 hingga awal 2024. Dalam satu gelombang serangan, Rusia bisa meluncurkan hingga 130 unit sekaligus.
Menyaksikan efektivitas drone murah tersebut di medan perang Ukraina, AS kemudian mengambil langkah tak terduga. Mereka diam-diam mempelajari Shahed-136 lalu melakukan rekayasa balik (reverse engineering). Mulanya, mereka hanya menciptakan replika untuk keperluan latihan pertahanan anti-drone. Namun, replika tersebut kemudian berkembang menjadi LUCAS.

Lalu apa bedanya LUCAS dengan Shahed-136 yang jadi inspirasinya?
Menurut Defense and Security Monitor, LUCAS dan Shahed-136 cenderung mirip, tetapi tetap berbeda di beberapa bagian.
Pertama, jangkauan LUCAS lebih pendek, yaitu hanya 650 kilometer. Begitu pula muatannya yang hanya kurang dari setengah kapasitas Shahed-136. Akan tetapi, LUCAS dilengkapi kemampuan jaringan yang lebih canggih.
Kedua, berdasarkan spesifikasi model terkait yang dikenal sebagai FLM 136, LUCAS berkapasitas muatan 40 pon dan kecepatan jelajah sekitar 74 knot. Dengan berat lepas landas maksimum 180 pon, ia jauh lebih ringan dari Shahed-136.
Namun, harganya kurang lebih sama dengan Shahed-136, sekitar 35.000 dolar AS per unit. Karenanya, militer AS pun jatuh cinta pada drone tersebut. Saat ditanya oleh The War Zone soal seberapa efektif LUCAS, Panglima CENTCOM Laksamana Brad Cooper menjawab singkat, "LUCAS, tak tergantikan."
Kecintaan AS pada LUCAS menunjukkan fenomena baru dalam militer modern. Jika dulu teknologi selalu diturunkan dari negara maju ke negara berkembang, saat ini situasinya bisa berbalik begitu saja. Steve Feldstein, peneliti senior dari Carnegie Endowment for International Peace, menjelaskan bahwa inovasi bisa datang dari berbagai sumber. Desain Iran sudah terbukti efektif, khususnya dalam invasi Rusia ke Ukraina. Hasilnya, selain LUCAS, Rusia pun memiliki drone bernama Geran-2 yang juga terinspirasi dari Shahed-136.
Bagi AS, LUCAS tampaknya bakal jadi tumpuan peperangan di masa depan. Meneruskan inisiatif Replicator yang dimulai di era Joe Biden, rezim Donald Trump secara khusus menargetkan kepemilikan 300 ribu unit drone sejenis LUCAS. Proyek ini telah dimulai pada awal 2026. Dengan melibatkan 20 vendor, pemerintah AS berharap harga produksi per unit bisa ditekan hingga 5.000 dolar AS per unit.
Sebelum digunakan dalam Operation Epic Fury, LUCAS sempat melewati serangkaian uji coba. Pada Desember 2025, LUCAS berhasil diluncurkan dari kapal untuk pertama kalinya dari kapal tempur USS Santa Barbara di Teluk Arab. Hanya dua bulan setelah uji coba itu, drone yang sama sudah dipakai dalam pertempuran nyata.
Dalam ofensif ke Iran, LUCAS diluncurkan sebagai bagian dari Task Force Scorpion Strike, eskadron drone-serang-satu-arah pertama dalam sejarah AS, yang dipimpin oleh personel U.S. Special Operations Command-Central. Task Force itu dibentuk sebagai respons langsung terhadap Executive Order Donald Trump bertajuk "Unleashing U.S. Military Drone Dominance".
Harga bukanlah faktor yang mendasari penggunaan LUCAS oleh militer AS. Seorang pakar aeronautika dari French Institute of International Relations menjelaskan konsep "high-low mix", yakni sebuah kombinasi drone berteknologi rendah, rudal balistik, dan rudal jelajah, yang memungkinkan serangan menembus dan melumpuhkan pertahanan udara musuh secara bersamaan. Inilah yang membuat drone murah seperti LUCAS menjadi komponen strategis, bukan sekadar senjata kelas dua.

Di sisi Iran, Teheran telah melancarkan ratusan drone Shahed sebagai pendamping rudal balistik untuk menyerang Israel serta sekutu-sekutu AS di Timur Tengah. Tidak semua berhasil, memang. Namun, upaya pencegatan drone-drone tersebut membutuhkan sumber daya sangat besar, misalnya dengan patroli udara terus-menerus dan utilisasi sistem pertahanan darat yang sebetulnya dibutuhkan untuk menghadapi rudal balistik Iran.
Di sinilah asimetri biaya menjadi faktor penentu. Peneliti dari Stimson Center bernama Kelly Grieco menghitung, untuk setiap 1 dolar AS yang dihabiskan Iran untuk memproduksi drone Shahed, Uni Emirat Arab mengeluarkan biaya 20–28 dolar AS untuk mencegatnya. Dengan LUCAS, AS mencoba membalik persamaan itu.
Pada akhirnya, yang ditampilkan Iran dan AS dalam konflik di Asia Barat kali ini makin menegaskan peran krusial drone dalam pertempuran kiwari. Setelah Ukraina, kini drone-drone itu digunakan secara masif di Timur Tengah. Korban senjata ini pun tak main-main. Pada 2025, ada 58.272 serangan drone yang menewaskan 32.769 orang.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





























