Menuju konten utama
Mozaik

Kejayaan, Pengkhianatan, dan Runtuhnya Dinasti Pahlavi di Iran

Setelah kematian Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, Reza Pahlavi menyatakan siap memimpin masa transisi Iran. Siapa dia sebenarnya? Begini riwayatnya.

Kejayaan, Pengkhianatan, dan Runtuhnya Dinasti Pahlavi di Iran
Header Mozaik Mohammad Reza Shah Pahlavi. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Angin musim dingin menusuk Teheran pada 16 Januari 1979. Di Bandar Udara Mehrabad, Mohammad Reza Shah Pahlavi, naik gontai ke tangga pesawat jet Boeing 707. Wajahnya pucat, tubuhnya digerogoti kanker limfatik yang lama disembunyikan.

“Di bandara Teheran, dua petugas penjaga kerajaan berlutut sambil menangis untuk mencoba dan mencium kaki Shah saat dia mendekati jalan pesawat,” tulis Robert H. Reid dari Associated Press. Pesawat itu membawanya menuju pengasingan panjang, dari Mesir, Maroko, Bahama, Meksiko, hingga Amerika Serikat.

Sementara di Teheran dan kota-kota besar lain di Iran meledak dalam euforia. Jutaan rakyat turun ke jalan, bernyanyi, menari, membunyikan klakson, membagikan permen, dan melambaikan potret Ayatollah Ruhollah Khomeini.

“Aku telah terpenjara, wahai kekasih, oleh tahi lalat di bibirmu! Aku melihat matamu yang sakit dan menjadi sakit karena cinta... Bukalah pintu kedai minuman dan biarkan kita pergi ke sana siang dan malam, karena aku muak dan lelah dengan masjid dan seminari, ” begitu tulis Khomeini, dikutip The New York Time, 14 Agustus 1989.

Khomeini yang dikenal keras dan anti-Barat, memancing daya tarik sastra berpadu dengan retorika keagamaan, membius rakyat yang merasa identitas mereka dirampas modernisasi paksa. Dua minggu setelah Shah pergi, ia kembali dari pengasingan di Prancis, lalu mendirikan Republik Islam Iran, dan mengubah wajah geopolitik dunia hingga kini.

Reza Khan, Sang Pendiri

Dinasti Pahlavi lahir dari desa terpencil di Pergunungan Mazandaran. Reza Khan, pendirinya, lahir pada 15 Maret 1878 di Alasht. Ia anak keluarga militer kelas menengah bawah dari klan Palani. Ayahnya, Abbas Ali Khan, seorang mayor resimen Mazandaran, pernah bertempur dalam Perang Herat Kedua. Ibunya, Noushafarin Ayromlou, berasal dari keluarga Muslim Georgia yang melarikan diri ke Iran setelah Kaukasus dicaplok Rusia.

Tragedi menimpa keluarga ini ketika Abbas Ali meninggal mendadak, meninggalkan Reza yang baru berusia delapan bulan. Ibunya membawa Reza kecil ke Teheran, menempuh perjalanan berat di tengah cuaca ekstrem.

Hidup miskin dan keras di ibu kota, Reza tumbuh tanpa kasih ayah, diasuh oleh kerabat, dan ditempa menjadi pribadi mandiri, tertutup, dan keras. Ketika remaja, ia bergabung sebagai prajurit infanteri di Brigade Cossack Persia, unit elite yang dilatih dan dipimpin perwira Rusia.

Karakternya pendiam, namun memiliki naluri politik melemahkan lawan. Warsa 1921, ia naik pangkat dari sersan meriam hingga brigadir jenderal. Persia kala itu berada di ambang kehancuran. Dinasti Qajar lemah, korup, dan gagal menghadapi modernisasi. Negara terpecah oleh panglima perang, ekonomi hancur, dan kedaulatan diinjak oleh Inggris serta Rusia yang membagi wilayah Iran demi jalur logistik dan minyak.

Melihat kehancuran ini, Reza Khan yang telah menjadi perwira paling berpengaruh di Brigade Cossack memutuskan bertindak. Pada 21 Februari 1921, ia memimpin 1.200 pasukan setia menuju Teheran, melancarkan kudeta hampir tanpa darah.

Pasukannya merebut posisi strategis, menggulingkan kabinet, dan membentuk pemerintahan baru bersama jurnalis reformis, Seyyed Zia od-Din Tabataba’i. Reza segera mengambil alih komando penuh angkatan bersenjata dan diangkat sebagai Menteri Perang, membuka jalan bagi lahirnya Dinasti Pahlavi.

“Sejak kudeta pada bulan Februari 1921, Reza Khan telah mencurahkan energinya untuk membangun tentara nasional yang modern, disiplin, dan koheren,” tulis Touraj Atabaki dalam bukunya Iran and The First World War: Battleground of the Great Powers (2006:90).

Reza Khan juga menunjukkan kelihaian politik yang dingin dan penuh perhitungan. Ia menyingkirkan lawan satu per satu, bahkan rekan kudetanya sendiri. Sebagai Menteri Perang, ia mengumpulkan pajak darurat, menyita aset pemberontak, lalu menggunakannya untuk memperkuat militer dan menundukkan suku-suku dan kelompok separatis.

Kekuasaannya makin mutlak. Ia mengendalikan pergantian perdana menteri hingga akhirnya pada 1923 mengambil jabatan itu sendiri. Ahmad Shah Qajar yang muda dan sakit-sakitan merasa terancam, lalu pergi ke Eropa dengan alasan medis.

Awalnya, Reza Khan ingin menjadikan Iran republik sekuler, terinspirasi Mustafa Kemal Atatürk di Turki. Namun ide itu ditolak keras oleh ulama Syiah dan politisi tradisional, juga tidak disukai Inggris yang lebih percaya pada stabilitas monarki.

Menyadari arus besar penolakan, pada Oktober 1925, ia menekan Majlis (parlemen Iran) guna mencopot Ahmad Shah. Dua bulan kemudian Reza Khan dilantik sebagai raja baru bergelar Reza Shah. Dinasti Pahlavi resmi lahir, menggantikan Dinasti Qajar yang telah memerintah sejak 1789.

Memasuki April 1926, ia menggelar penobatan dengan mahkota bergaya Sassania, sekaligus menetapkan putra sulungnya, Mohammad Reza, sebagai Putra Mahkota. Ia juga menginstruksikan dunia internasional untuk menyebut negaranya “Iran”, Tanah Bangsa Arya, bukan lagi Persia.

Duduk di singgasana, Reza Shah meluncurkan program modernisasi dan sentralisasi ambisius. Jalur Kereta Api Trans-Iran selesai tahun 1938, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Kaspia. Proyek ini dibiayai tanpa utang luar negeri, tetapi dengan pajak ketat atas kebutuhan pokok seperti teh dan gula, membebani rakyat kecil.

Namun kebijakan sosialnya dijalankan dengan tangan besi. Ulama, suku adat, dan tradisi konservatif dianggap penghalang modernitas. Kebijakan paling kontroversialnya adalah Kashf-e Hijab pada 7 Januari 1936. Ia melarang chador (jubah Persia), cadar, dan kerudung tradisional. Polisi memaksa wanita melepas hijab di jalan, memukuli yang menolak, menahan yang bertahan.

“Beberapa perempuan lanjut usia di antara mereka, bagaimanapun, tampak sangat terpukul karena kehilangan penutup wajah; mereka berdiri hampir sepanjang waktu, menghadap ke dinding dan berkeringat karena rasa malu,” tulis Farzaneh Milani dalam Veils and Words: The Emerging Voices of Iranian Women Writers (1992:34).

Kekuasaan Reza Shah akhirnya runtuh akibat Perang Dunia II. Meski Iran menyatakan netral, kedekatannya dengan Jerman Nazi membuat Sekutu khawatir. Inggris dan Uni Soviet membutuhkan Iran sebagai koridor logistik dan pengaman ladang minyak.

Pada 16 September 1941, Reza Shah dipaksa turun takhta. Demi mencegah Iran jatuh ke tangan pro-Soviet, Inggris menyerahkan mahkota kepada putranya, Mohammad Reza. Sang pendiri dinasti diasingkan ke Mauritius, lalu Johannesburg, Afrika Selatan. Di sana ia meninggal akibat komplikasi jantung pada 26 Juli 1944.

Shah Muda dan Revolusi Putih

Takhta akhirnya jatuh ke pundak Mohammad Reza Pahlavi yang masih berusia 21 tahun. Berbeda dari ayahnya yang karismatik dan militeristik, ia tumbuh pemalu, peragu, dan selalu hidup dalam bayang-bayang otoriter sang ayah.

Di tengah atmosfer pasca-perang yang lebih demokratis, muncul sosok Mohammad Mosaddeq, aristokrat nasionalis sekuler. Dikutip dokumen Badan Intelijen Pusat AS (CIA), pada 1951 ia terpilih sebagai Perdana Menteri dan segera menasionalisasi Anglo-Iranian Oil Company.

Langkahnya itu memicu krisis internasional. Inggris memboikot minyak Iran, membekukan aset, dan merancang kudeta dengan bantuan CIA. Operasi Ajax pada Agustus 1953 melibatkan intrik, suap, propaganda, hingga pembunuhan Kepala Polisi Teheran, Mahmoud Afshartous.

Kudeta pertama gagal, Shah sempat melarikan diri ke Roma, namun CIA kembali menggerakkan preman jalanan dan faksi militer. Pada 19 Agustus, Mosaddeq ditangkap, rezim nasionalis runtuh, dan Shah kembali berkuasa.

Dari raja muda yang ragu-ragu, Mohammad Reza menjelma megalomania yang merasa ditakdirkan Tuhan. Demi mempertahankan kekuasaan, ia mendirikan Organisasi Intelijen dan Keamanan Nasional (SAVAK) pada 1957, badan intelijen yang dilatih CIA, FBI, dan Mossad. SAVAK menyusup ke setiap lapisan masyarakat, menyensor media, menyiksa tahanan di penjara, dan menebar ketakutan hingga ke mahasiswa Iran di luar negeri.

Memasuki 1960-an, Shah meluncurkan Revolusi Putih dengan reformasi agraria, hak pilih perempuan, program literasi desa, dan pembangunan bendungan. Secara statistik, program ini tampak progresif, tetapi secara sosial memicu urbanisasi massal, kemiskinan kota, dan keterasingan rakyat religius dari gaya hidup elite kebarat-baratan. Reformasi politik perempuan dan penghapusan sumpah atas Al-Qur’an dianggap melecehkan otoritas Islam.

Dari Qom, Iran, Ayatollah Khomeini muncul sebagai oposisi, mengecam Revolusi Putih dan menuduh Shah menghancurkan Islam demi imperialisme Amerika Serikat.

“Rakyat tidak akan beristirahat sampai pemerintahan Pahlavi telah tersapu dan semua jejak tirani telah hilang,” tutur Khomeini, dilansir majalah Time¸18 September 1978.

Ketegangan memuncak pada 1964 ketika Iran memberi kekebalan penuh bagi personel militer AS dan keluarganya.

"Mereka telah menjual kita, mereka telah menjual kemerdekaan kita... Jika seseorang menabrak anjing Amerika, ia akan dituntut. Tetapi jika seorang koki Amerika menabrak Shah Iran, tidak akan ada yang memintanya bertanggung jawab!" ujar Khomeini.

Pidato Khomeini yang menohok itu berujung pada penangkapan dan pengasingannya ke Turki lalu ke Najaf. Dari pengasingan, suara Khomeini menyebar lewat kaset-kaset selundupan, membakar semangat perlawanan sepanjang 1970-an.

Sementara itu, kehidupan pribadi Shah penuh drama. Pernikahan politik dengan Putri Fawzia dari Mesir berakhir dingin. Cinta sejatinya dengan Soraya Esfandiary kandas karena ketiadaan ahli waris laki-laki. Baru dengan Farah Diba, Shah memperoleh putra mahkota.

Di balik itu, masyarakat mulai melirik gaya hidup mewah keluarga kerajaan. Skandal proyek negara yang melibatkan Putri Ashraf memperburuk citra istana. Perayaan 2.500 Tahun Kekaisaran Persia di Persepolis yang mewah pada 1971, dianggap ejekan terhadap rakyat miskin. Petrodolar dari lonjakan harga minyak melahirkan inflasi, korupsi, dan kelas kaya baru.

Ketika gelombang protes mahasiswa, pedagang bazaar, dan ulama konservatif meledak pada 1978, kekuasaan Shah runtuh. Sakit kanker, kehilangan insting politik, Mohammad Reza tak mampu lagi menahan revolusi.

Januari 1979, ia melarikan diri, berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, lalu menulis memoar Answer to History yang menyalahkan konspirasi asing dan mullah ortodoks.

Pangeran Buangan dan "Iran Baru"

Kematian Mohammad Reza Pahlavi di Kairo pada Juli 1980 memang menutup babak panjang monarki di Iran, tetapi tidak menghapus ambisi Dinasti Pahlavi. Mahkota yang tak kasat mata itu beralih ke putra sulungnya, Reza Pahlavi, yang saat itu baru berusia dua puluh tahun.

Ia mengangkat sumpah suksesi di hadapan segelintir loyalis dalam suasana pengasingan, lalu menetap di Bethesda, Maryland, dan sejak itu hidup lebih dari empat dekade sebagai pangeran buangan.

Berbeda dari ayahnya yang bertumpu pada aparat rahasia dan dekret militer, Reza Pahlavi mengusung narasi demokrasi parlementer, sekularisme, dan hak asasi manusia. Momentum politik muncul kembali pasca kematian Mahsa Amini pada 2022 yang memicu protes besar, inflasi menghancurkan kelas pekerja, dan runtuhnya legitimasi moral rezim.

Ketika serangan udara gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026 menewaskan pucuk pimpinan Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Reza Pahlavi menyatakan kesiapannya memimpin transisi menuju "Iran Baru".

"Mereka memercayai saya sebagai pemimpin transisi. Bukan sebagai calon raja atau calon presiden atau masa depan apa pun," ujarnya dalam wawancara terbaru dengan CBS News.

Dalam visinya, rakyat Iran kelak menentukan sendiri bentuk pemerintahan melalui referendum bebas, apakah republik sekuler atau monarki konstitusional simbolis. Ia juga menjanjikan integrasi penuh ke ekonomi global, normalisasi diplomasi, dan bahkan wacana Cyrus Accord dengan Israel sebagai simbol toleransi kuno Persia.

"Bantuan yang dijanjikan Presiden Amerika Serikat kepada rakyat Iran yang berani kini telah tiba. Ini adalah sebuah intervensi kemanusiaan; dan sasarannya adalah Republik Islam, aparat represifnya, serta mesin pembantaiannya, bukan negara dan bangsa besar Iran," serunya.

Kedekatannya dengan AS dan Israel justru menjadi hambatan baginya mendapat dukungan penuh dari rakyat Iran dan komunitas internasional yang simpati pada genosida di Palestina.

Baca juga artikel terkait KONFLIK IRAN ISRAEL atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi