Menuju konten utama

Khamenei Tewas, Reza Pahlavi Siap Pimpin Masa Transisi Iran

Putra Mahkota Shah Iran itu kembali menyerukan kepada rakyat Iran agar tetap fokus pada tujuan utama, yakni merebut kembali Iran.

Khamenei Tewas, Reza Pahlavi Siap Pimpin Masa Transisi Iran
Mantan putra mahkota Iran dan kini tokoh oposisi utama, Reza Pahlavi, berpose dalam sesi foto setelah konferensi pers di Paris pada 23 Juni 2025. (Photo by JOEL SAGET / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi, menyerukan kepada rakyat Iran untuk bersiap menghadapi fase krusial perubahan politik, di tengah klaim negara tengah melemah.

Hal ini dinyatakannya buntut adanya ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Iran juga turut melakukan serangan balasan kepada Israel.

Serangan Israel dan AS ini menewaskan pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Tragisnya, gempuran udara tersebut turut merenggut nyawa anggota keluarga inti sang pemimpin spiritual tertinggi itu.

“Saudara-saudari sebangsaku, saat-saat penentuan nasib kini ada di hadapan kita,” kata Reza Pahlavi dalam unggahan media sosial X pribadinya, dikutip Minggu (1/3/2026).

Ia mengklaim bantuan yang dijanjikan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kepada rakyat Iran telah tiba. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan intervensi kemanusiaan yang tidak ditujukan kepada bangsa Iran, melainkan kepada rezim yang berkuasa.

“Bantuan yang dijanjikan Presiden Amerika Serikat kepada rakyat Iran yang berani kini telah tiba. Ini adalah sebuah intervensi kemanusiaan; dan sasarannya adalah Republik Islam, aparat represifnya, serta mesin pembantaiannya, bukan negara dan bangsa besar Iran,” ujarnya.

Meski demikian, Reza menegaskan kemenangan akhir tidak akan ditentukan oleh bantuan asing. Ia menyebut rakyat Iran sebagai aktor utama dalam pertempuran terakhir melawan rezim.

“Namun, bahkan dengan datangnya bantuan ini, kemenangan akhir tetap akan ditempa oleh tangan kita sendiri. Kitalah, rakyat Iran, yang akan menyelesaikan tugas ini dalam pertempuran terakhir. Waktu untuk kembali ke jalan-jalan makin dekat,” katanya.

Reza juga menyampaikan pesan langsung kepada militer, polisi, dan aparat keamanan Iran. Ia menegaskan sumpah mereka adalah melindungi rakyat dan negara, bukan mempertahankan rezim. “Kini ketika Republik Islam sedang runtuh, pesan saya kepada militer, polisi, dan aparat keamanan negara ini jelas: Kalian telah bersumpah untuk melindungi Iran dan rakyat Iran—bukan Republik Islam dan para pemimpinnya,”

Reza berpesan bahwa tugas para aparat keamanan adalah membela rakyat, bukan sebuah rezim yang telah menyandera tanah air Iran melalui penindasan dan kejahatan.

Serangan AS Israel Ke Iran

Cuplikan gambar ini, yang diambil dari siaran televisi pemerintah Iran pada 28 Februari 2026, menunjukkan lokasi yang diklaim sebagai tempat serangan mematikan AS dan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, provinsi Hormozgan di selatan Iran. (Photo by IRIB TV / AFP)

“Bergabunglah dengan rakyat dan bantulah mewujudkan transisi yang stabil dan aman. Jika tidak, kalian akan tenggelam bersama kapal Khamenei dan rezimnya,” tegasnya.

Reza juga menyampaikan pesan khusus kepada Donald Trump dengan meminta kehati-hatian agar tidak menimbulkan korban sipil. Dalam pesannya, dia meminta Trump agar menunjukkan kehati-hatian tertinggi demi melindungi nyawa warga sipil Iran.

“Rakyat Iran adalah sekutu alami Anda dan dunia bebas, dan mereka tidak akan pernah melupakan dukungan Anda pada masa paling sulit dalam sejarah kontemporer Iran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Reza kembali menyerukan kepada rakyat Iran agar tetap fokus pada tujuan utama, yakni merebut kembali Iran. Ia meminta masyarakat tetap berada di rumah demi keselamatan, sembari bersiap menunggu instruksi lanjutan darinya.

“Dan kepada kalian, saudara-saudari sebangsaku di Iran: Di jam-jam dan hari-hari yang sensitif ini, lebih dari sebelumnya, kita harus tetap fokus pada tujuan utama kita: merebut kembali Iran. Saya meminta kalian untuk tetap berada di rumah untuk sementara waktu dan menjaga keselamatan serta keamanan kalian,” kata Reza.

Ia juga memastikan akan terus berkomunikasi dengan rakyat Iran melalui berbagai saluran, termasuk media sosial, media satelit, dan radio jika terjadi gangguan jaringan.

“Ikuti pesan-pesan saya melalui media sosial dan media satelit. Jika terjadi gangguan pada internet dan siaran satelit, saya akan tetap berhubungan dengan kalian melalui gelombang radio,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Reza menyatakan keyakinannya bahwa kemenangan sudah makin dekat dan menegaskan keinginannya untuk segera berada di tengah rakyat Iran.

“Kita sangat dekat dengan kemenangan akhir. Saya ingin segera berada di sisi kalian agar bersama-sama kita dapat merebut kembali dan membangun kembali Iran. Hidup Iran,” tutup Reza.

Siapa Reza Pahlavi

Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960. Ia merupakan putra tertua dari Mohammad Reza Shah Pahlavi yang kala itu menjabat sebagai pemimpin monarki Iran.

Terlahir sebagai anak laki-laki seorang Shah, Pahlavi dibesarkan sejak kecil sebagai penerus ayahnya. Ia mendapatkan gelar putra mahkota Iran sejak usia 7 tahun.

Akan tetapi, takhta yang diwariskan kepadanya itu tak sempat ia rasakan. Ketika Pahlavi remaja, monarki yang dipimpin ayahnya ramai ditentang rakyatnya sendiri karena dinilai otoriter dan represif.

Puncaknya, pada 1979, pecah Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini. Ayah Pahlavi lalu digulingkan dan struktur negara Iran berubah dari monarki jadi Republik Islam Iran hingga kini.

Ketika revolusi terjadi, Pahlavi berusia 17 tahun dan sedang menempuh pelatihan jadi pilot pesawat tempur di Pangkalan Angkatan Udara Reese di Texas, AS. Runtuhnya sistem pemerintahan monarki membuatnya tak bisa kembali ke Iran.

Oleh karenanya, ketika ia selesai menempuh pelatihan jadi pilot, Pahlavi melanjutkan pendidikan ilmu politik di University of Southern California.

Meskipun tempat kelahirannya sudah sepenuhnya berubah, Pahlavi sejak muda ingin kembali ke Iran. Ia sempat mengajukan diri untuk bertempur untuk negaranya dalam perang Iran-Irak pada dekade 80-an, namun ditolak otoritas di Teheran.

Sejak itu, Pahlavi kemudian tinggal menetap di AS. Di sana, ia hidup bersama istrinya, Yasmine Pahlavi, dan tiga anak perempuan mereka.

Akan tetapi, Pahlavi tak lantas diam di pengasingan. Selama lebih dari 40 tahun, Pahlavi rajin mempromosikan ide referendum dan perubahan kekuasaan kepada masyarakat Iran.

Ia juga rajin mempromosikan demokrasi sebagai ganti sistem teokrasi Iran yang berlangsung kini. Dalam perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, Pahlavi juga menawarkan diri sebagai pemimpin sementara Iran jika otoritas teokrasi runtuh.

"Saya hadir untuk menyerahkan diri kepada sesama warga saya untuk memimpin mereka menuju jalur perdamaian dan transisi demokratis," tuturnya dalam konferensi pers di Prancis.

Dalam sebuah konferensi pers, Pahlavi menyebut bahwa ia mengaku tak mencari kekuasaan politik melalui pernyataan itu. Ia menyebut bahwa ia hanya menginginkan Iran bertransisi jadi negara demokratis dengan prinsip "integritas wilayah, kebebasan individu, dan kesetaraan warga negara, serta pemisahan agama dan negara".

Kala itu, Pahlavi membayangkan pemerintahan demokratis yang dikelola pemimpin terpilih. Meskipun, ia tak meninggalkan kemungkinan menjadikan Iran sebagai monarki konstitusional dengan raja dan perdana menteri.

Kini, di tengah situasi karut marut yang meluas di Iran, Pahlavi hilir mudik di media massa dan media sosial sebagai salah satu corong pendukung demonstrasi. Ia bahkan membuat pernyataan publik bahwa ia siap kembali ke Iran setelah pemerintahan teokratis Khomeini runtuh.

"Saya juga bersiap untuk kembali ke tanah air, sehingga ketika revolusi nasional kita menang, saya bisa berada di samping Anda," tulis pernyataan Pahlavi untuk masyarakat Iran.

Akan tetapi, meskipun popularitas Pahlavi terlihat terdongkrak selama aksi protes di jalan raya Iran, tak sedikit yang melihat Pahlavi secara skeptis.

Hal itu terjadi lantaran kedekatan Pahlavi dengan AS dan Israel. Pada 2023 lalu, Pahlavi melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel.

Usai berjumpa perdana menteri Israel itu, Pahlavi menyebut pertemuan itu dalam akun media sosialnya sebagai cara untuk "menyebar pesan persahabatan dari orang Iran dan memberikan penghormatan kepada para korban Holocaust pada hari Yom HaShoah".

Kedekatan ini, dipandang banyak pihak, berpotensi jadi batu pengganjal Pahlevi untuk kembali terlibat dalam politik dalam negeri Iran yang punya sentimen negatif ke Israel.

Baca juga artikel terkait KONFLIK IRAN AS atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama