tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV 2026.
Perkiraan tersebut didasarkan pada kondisi kebijakan moneter global yang masih ketat di tengah tekanan terhadap perekonomian dunia.
"Seperti kita ketahui, belum lama ini, the Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan [suku bunga] satu kali lagi di triwulan IV," ucapnya dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
Destry mengatakan kebijakan tersebut turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Indeks dolar AS atau DXY tercatat mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar AS terhadap mata uang negara-negara Asia berada di level 96,26.
Penguatan dolar tersebut juga diikuti perpindahan arus modal dari negara-negara emerging market ke negara maju, terutama Amerika Serikat.
"Akhirnya ini mendorong penguatan pada dolar terhadap mata uang kuat lainnya dimana DXY mencapai 101,11 dan untuk negara Asia mencapai 96,26," ujarnya.
"Yang terasa adalah pelarian arus modal dari emerging market kembali kepada developed countries khususnya terhadap di Amerika Serikat," lanjut dia.
Menurut Destry, kondisi tersebut menunjukkan dunia tengah menghadapi fenomena "higher for longer", yakni periode suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Situasi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama dari sisi aliran modal.
"Jadi, kesimpulannya, di global ini kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer. Yang pada akhirnya, ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market termasuk Indonesia," tutur Destry.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































