Menuju konten utama

BI Ramal Fed akan Kerek Lagi Suku Bunga, Ungkap Dampaknya ke RI

BI memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026. Kondisi ini berpotensi menekan arus modal ke negara berkembang.

BI Ramal Fed akan Kerek Lagi Suku Bunga, Ungkap Dampaknya ke RI
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan keterangan pers usai mengikuti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). Rapat tersebut membahas keterlibatan Danantara dalam KSSK untuk memperkuat koordinasi kebijakan dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dan dunia usaha secara lebih menyeluruh. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV 2026.

Perkiraan tersebut didasarkan pada kondisi kebijakan moneter global yang masih ketat di tengah tekanan terhadap perekonomian dunia.

"Seperti kita ketahui, belum lama ini, the Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan [suku bunga] satu kali lagi di triwulan IV," ucapnya dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

Destry mengatakan kebijakan tersebut turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Indeks dolar AS atau DXY tercatat mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar AS terhadap mata uang negara-negara Asia berada di level 96,26.

Penguatan dolar tersebut juga diikuti perpindahan arus modal dari negara-negara emerging market ke negara maju, terutama Amerika Serikat.

"Akhirnya ini mendorong penguatan pada dolar terhadap mata uang kuat lainnya dimana DXY mencapai 101,11 dan untuk negara Asia mencapai 96,26," ujarnya.

"Yang terasa adalah pelarian arus modal dari emerging market kembali kepada developed countries khususnya terhadap di Amerika Serikat," lanjut dia.

Menurut Destry, kondisi tersebut menunjukkan dunia tengah menghadapi fenomena "higher for longer", yakni periode suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Situasi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama dari sisi aliran modal.

"Jadi, kesimpulannya, di global ini kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer. Yang pada akhirnya, ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market termasuk Indonesia," tutur Destry.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana