tirto.id - "Satu langkah kecil bagi seorang manusia, satu lompatan besar untuk umat manusia."
Begitulah kata-kata yang terlontar dari mulut Neil Armstrong persis sebelum kakinya menginjak permukaan Bulan, sekaligus menjadi manusia pertama yang bisa mewujudkan hal tersebut.
Armstrong tidak sendirian. Ia bersama Edwin "Buzz" Aldrin, yang juga turut menginjakkan kaki di Bulan, serta Michael Collins, yang tinggal di dalam modul.
Sebenarnya, setelah keberhasilan Armstrong, NASA masih terus menjalankan misi untuk meneliti Bulan, bahkan sampai sekarang. Akan tetapi, misi berawak manusia praktis terhenti pada 1972. Selanjutnya, misi selalu dilakukan dengan mesin-mesin canggih, yang secara khusus didesain untuk menjelajahi satelit Bumi tersebut.
Namun, semuanya berubah pada 2026. Untuk kali pertama sejak 1972, NASA kembali mengirimkan astronot ke Bulan. Misinya memang tidak seperti 50-an tahun silam, ketika para astronot benar-benar mendarat di permukaan Bulan. Para astronot hanya akan terbang di atas permukaannya. Namun, tetap saja, ini adalah misi Bulan pertama yang melibatkan astronot manusia, sejak Gene Cernan jadi manusia terakhir yang menginjakkan kakinya di sana.
Pertanyaannya, apa yang membuat NASA menunggu begitu lama dan apa tujuannya kali ini?
"Jawaban singkatnya adalah kemauan politik," kata Teasel Muir-Harmony, sejarawan sains dan teknologi sekaligus kurator Koleksi Apollo di Smithsonian National Air and Space Museum. "Sebab, ini adalah investasi nasional yang sangat kompleks dan mahal."
Selepas Perang Dingin, perlombaan antariksa memang tak lagi seketat dulu. Selain itu, saban kali rezim berganti, prioritas NASA turut berubah, dari program penjelajahan Bulan menjadi stasiun luar angkasa, berganti lagi jadi misi asteroid, dan terus begitu. Sampai akhirnya, rezim Joe Biden mengubah segalanya.
Pertama Kalinya Setelah Puluhan Tahun
Program Bulan kali ini, yang disebut Program Artemis, pertama kali dicanangkan Donald Trump pada masa pemerintahan pertamanya. Namun, yang berjasa besar adalah Biden karena, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada presiden yang tidak mengubah prioritas NASA. Itulah alasan persiapan bisa terus dilakukan hingga akhirnya bisa dieksekusi pada masa pemerintahan Trump kedua.

Misi peluncuran astronot yang jadi bagian dari Program Artemis ini diberi kode nama Artemis II. Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen (perwakilan Canadian Space Agency), menaiki kapsul bernama Integrity yang ditopang oleh roket terkuat saat ini, Space Launch System (SLS).
Mereka dijadwalkan meluncur pada 1 April 2026 pukul 18:24 waktu Florida, atau 2 April 2026 sekitar pukul 05:24 waktu Indonesia bagian barat. Misinya ditargetkan berlangsung selama sepuluh hari, dengan lokasi pendaratan di Samudra Pasifik, di lepas pantai San Diego, California.
Dalam misi Artemis II, Glover akan menjadi orang kulit berwarna pertama yang melakukan perjalanan ke sekitar Bulan; Koch menjadi perempuan pertama; dan Hansen menjadi orang pertama yang bukan warga negara AS yang bertualang sampai sejauh itu. Sementara itu, Wiseman, di usia 50 tahun, akan menjadi orang tertua yang pernah meninggalkan orbit rendah Bumi.
Seperti disebutkan sebelumnya, Artemis II bukan misi pendaratan. Para astronot tidak akan menginjakkan kaki di permukaan Bulan, melainkan hanya terbang mengitarinya.
Mereka menggunakan jalur free-return trajectory, lintasan yang memanfaatkan gravitasi Bulan untuk melontarkan kapsul kembali ke Bumi tanpa perlu menyalakan mesin berenergi besar. Artinya, bahkan jika sistem propulsi mengalami kegagalan, kapsul tetap dapat kembali ke Bumi dengan selamat. Prinsip sama pernah digunakan dalam misi Apollo 13 pada 1970.
Selama enam jam, ketika kapsul melintas di sekitar sisi jauh Bulan, keempat astronot akan menempel di jendela-jendela kecil kapsul untuk mengamati dan memotret bagian permukaan Bulan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia sebelumnya.
Sebagai perbandingan, misi-misi Apollo terdahulu selalu melintas jauh lebih dekat ke permukaan Bulan sehingga sudut pandang mereka terhadap sisi jauh Bulan sangat terbatas. Pengamatan langsung oleh mata manusia diyakini jauh lebih efektif daripada foto-foto satelit. Sebab, mata manusia mampu menangkap perbedaan warna dan kecerahan yang halus secara instan.
Pada titik terjauhnya dari Bumi, kapsul Artemis II akan berada sekitar 5.000 mil atau 8.000 kilometer di balik Bulan, melampaui rekor jarak yang pernah dicatatkan oleh Apollo 13. Dengan demikian, keempat astronot tersebut akan mencatatkan rekor sebagai manusia-manusia yang pernah melakukan perjalanan terjauh dari Bumi.
Sebagai bagian dari konsekuensi misi, saat melintas di balik Bulan, sinyal komunikasi dengan Bumi akan terputus selama 30 hingga 50 menit. Para astronot akan betul-betul sendirian di ruang angkasa.
Selain pengamatan visual, misi ini juga membawa sejumlah eksperimen ilmiah. Salah satunya percobaan organ-on-a-chip. Sel-sel dari sumsum tulang masing-masing astronot ditempatkan di atas cip seukuran diska lepas, lalu dibawa terbang ke luar angkasa. Setelah misi selesai, para ilmuwan akan membandingkan cip yang ikut dibawa terbang dengan cip yang tetap di Bumi, untuk melihat seberapa besar radiasi luar angkasa memengaruhi sel-sel tersebut.
Ini adalah pertama kalinya eksperimen semacam itu dilakukan di luar orbit rendah Bumi dan sabuk radiasi Van Allen, yang selama ini menjadi pelindung alami tubuh manusia dari paparan radiasi kosmik.
Semuanya dilakukan dalam rangka persiapan yang jauh lebih besar. NASA kini berambisi lebih besar dari sekadar terbang melintas Bulan. Pada Maret 2026, Administrator NASA Jared Isaacman mengumumkan rencana pembangunan pangkalan permanen di permukaan Bulan. Nilai investasinya sekitar 20 miliar dolar AS selama tujuh tahun untuk dua fase pertama pembangunan. Pada 2028, direncanakan akan ada pendaratan kembali astronot ke permukaan Bulan dalam misi Artemis IV.

Perang Dingin Baru
Namun, di balik segala ambisi ilmiah tersebut, sebenarnya ada "Perang Dingin" baru yang menggerakkan political will pemerintah AS untuk kembali ke Bulan. Jika dulu rivalnya adalah Uni Soviet, kini yang dianggap sebagai ancaman adalah Cina.
Negeri Tirai Bambu sudah menyatakan keinginannya melakukan pendaratan di Bulan sebelum 2030. Selain itu, badan antariksa mereka, CASC, tengah mengembangkan wisata antariksa suborbital untuk beberapa tahun ke depan.
"Perbedaan antara sukses dan gagal akan diukur dalam hitungan bulan, bukan tahun. Mereka mungkin lebih cepat, dan catatan belakangan ini menunjukkan bahwa kita mungkin terlambat," kata Isaacman, soal persaingan ketat dengan Cina, dikutip dari New York Times.
Meski begitu, para astronot Artemis II tidak begitu ambil pusing dengan adanya tensi geopolitik tersebut. Bagi mereka, seperti halnya bagi Armstrong dulu, ini adalah misi besar umat manusia, bukan cuma AS dan Kanada atau negara-negara Barat.
"Saya berharap kami bisa memberikan dampak besar dalam menyatukan dunia, meskipun hanya sesaat," kata Wiseman dengan bijak, sesuai namanya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































