tirto.id - Amerika Serikat (AS) melalui Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) baru saja melakukan misi pengiriman astronot (NASA Artemis rocket launch) ke Bulan. Misi eksplorasi ruang angkasa itu diberi nama Artemis II dan para astronot telah lepas landas dari Bumi pada Kamis (2/4/2026) waktu Indonesia.
Seturut laman resmi NASA, peluncuran para astronot dalam misi Artemis II (Artemis 2 mission) ini dilakukan dengan roket SLS NASA yang diluncurkan dari Kennedy Space Center, Florida pada Rabu (1/4) pukul 18.35 waktu setempat atau Kamis sekitar pukul 05.35 WIB. Roket SLS merupakan komponen peluncur yang membawa pesawat Orion berisi empat astronot.
Menurut Administrator NASA Jared Isaacman, misi Artemis II ini akan menandai pencapaian baru dalam perkembangan eksplorasi manusia di ruang angkasa. Isaacman menyebut ini akan menjadi awal bagi terbentuknya "Pangkalan Bulan".
"Artemis II adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari misi apa pun. Ini menandai kembalinya kita ke Bulan, tidak hanya untuk berkunjung, namun pada akhirnya tetap berada di Pangkalan Bulan, dan meletakkan dasar bagi lompatan besar berikutnya ke depan," katanya.
Seturut Mashable, perjalanan ini merupakan bagian dari visi perjalanan manusia ke Mars yang mungkin akan mulai dijalankan pada 2030-an oleh NASA. Selain itu, misi Artemis II juga menandai misi eksplorasi ruang angkasa berawak NASA terbaru setelah Apollo dengan pendaratan terakhir pada Desember 1972, lebih dari 50 tahun yang lalu.
Fakta-fakta Seputar Misi Artemis II NASA
Di balik peluncuran pesawat Orion untuk misi Artemis II NASA, ada sejumlah fakta di baliknya. Salah satunya adalah astronot perempuan pertama yang ikut dalam misi eksplorasi Bulan.
Melansir AP, berikut sejumlah fakta dari peluncuran misi eksplorasi Bulan berawak NASA, Artemis II, yang baru lepas landas pada Kamis.
1. Astronot Tidak Turun ke Permukaan Bulan
Meskipun misi penjelajahan ini bertajuk misi eksplorasi Bulan, namun para astronot Artemis II tak akan benar-benar menuju Bulan. Mereka tidak akan menginjakkan kaki ke Bulan.Alih-alih mendarat ke permukaan Bulan, Artemis II kali ini memiliki target untuk menguji apakah sistem pendukung kehidupan pesawat ruang angkasa telah optimal. Selain itu, Artemis II juga akan melakukan pengamatan pada sisi Bulan yang membelakangi Bumi, area yang sebelumnya belum pernah diamati oleh NASA.
Jika misi Artemis II kali ini sukses, barulah pada misi-misi berikutnya para astronot kemungkinan akan menapakkan kaki ke permukaan Bulan. Kini, misi berdurasi 10 hari itu akan lebih berfokus pada pengamatan dan uji coba seberapa siap teknologi membawa manusia melintasi Bulan.
2. Para Astronot dari Latar Belakang yang Beragam
Misi Artemis II juga menandai terjadi beberapa rekor pencapaian pertama di sejumlah sektor. Hal ini terutama pada latar belakang para astronotnya.Pesawat Orion dalam misi ini membawa empat astronot dengan latar belakang yang beragam. Mereka adalah Christina Koch, Victor Glover, Reid Wiseman, dan Jeremy Hansen.
Christina Koch adalah astronot perempuan pertama yang terlibat dalam misi eksplorasi luar angkasa ke Bulan. Meskipun tidak benar-benar mendarat di Bulan, namun Koch akan jadi perempuan pertama yang begitu dekat dengan Bulan.
Koch merupakan pemegang rekor penerbangan luar angkasa tunggal terlama oleh perempuan. Rekor itu terjadi ketika ia melakukan misi selama 328 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2019-2020.
Senada dengan Koch, Victor Glover adalah astronot kulit hitam pertama yang ikut dalam misi eksplorasi Bulan. Glover merupakan seorang pilot uji dari Angkatan Laut.
Sementara itu, Jeremy Hansen bukan lah warga negara AS, melainkan Kanada. Ia adalah astronot Badan Antariksa Kanada. Artemis II menandai kolaborasi pengiriman astronot lintas negara pertama dalam satu misi oleh NASA.
Sedangkan Reid Wiseman adalah komandan para astronot tersebut. Ia adalah pensiunan kapten Angkatan Laut dan kini jadi pemimpin korps astronot NASA.
3. Sistem Peluncur Luar Angkasa Lebih Kuat
Pesawat Orion yang ditumpangi para astronot bertolak dari Bumi menggunakan roket Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS) baru. Roket ini memiliki tinggi 98 meter.Roket SLS ini lebih pendek daripada roket Saturn V yang digunakan dalam program penjelajahan Apollo. Namun, daya dorong untuk lepas landas roket SLS lebih kuat.
Roket SLS ini berbahan bakar hidrogen cair, bahan bakar yang juga digunakan untuk roket-roket lain. Namun, roket ini sempat mengalami beberapa kali perbaikan desain karena terus mengalami kebocoran hidrogen cair.
Pada 2022 uji coba tanpa awak roket ini gagal karena alasan tersebut. Pada 2025, terjadi kebocoran hidrogen yang sama selama uji coba pengisian bahan bakar. Masalah aliran helium yang berulang juga membuat misi Artemis ditunda hingga akhirnya terlaksana pada April.
4. Alur Perjalanan Setelah Keluar Orbit Bumi
Setelah roket SLS meluncurkan para astronot ke luar angkasa, para penjelajah ini akan menghabiskan 25 jam pertama di orbit Bumi. Lalu, para astronot akan mulai bergerak ke arah Bulan setelahnya.Mesin pesawat Orion akan melontarkan para astronot melewati jarak sekitar 244.000 mil (393.000 km) antara orbit Bumi dan Bulan. Perjalanan ini diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari.
Setelah itu, pada hari keenam penerbangan, Orion akan melewati Bulan. Pesawat ini direncanakan akan melewati Bulan hingga jarak 5.000 mil (8.000 km) dari Bulan. Hal ini akan membuat para astronot jadi manusia yang menjelajah ruang angkasa paling jauh dari Bumi dengan perkiraan jarak 249.700 mil.
Pada saat itulah para astronot akan bekerja mengamati sisi Bulan yang membelakangi Bumi. Setelah itu, awak pesawat Orion akan kembali ke arah Bumi. Mereka dijadwalkan akan melakukan pendaratan pada hari ke-10 penerbangan di sekitar Samudera Pasifik.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































