Menuju konten utama

SpaceX Ingin Luncurkan 1 Juta Satelit, Apa Dampaknya?

SpaceX memiliki misi untuk mengirimkan satu juta satelit untuk mengorbit Bumi. Simak potensi dampaknya berikut ini.

SpaceX Ingin Luncurkan 1 Juta Satelit, Apa Dampaknya?
Peluncuran satelit Starlink. (FOTO/starlink.com)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perusahaan milik miliarder Elon Musk, SpaceX, belum lama ini membuat proposal untuk meluncurkan satu juta satelit ke orbit Bumi. Jika disetujui, hal ini dapat membuat konektivitas internet menjangkau seluruh dunia. Namun dampak darinya mungkin lebih besar dari manfaatnya.

Ide ini diungkap SpaceX sejak akhir Januari 2026 lalu. Perusahaan itu kini telah mengajukan proposal peluncuran satu juta satelit tersebut ke Komisi Komunikasi Federal AS (FCC).

Seturut CBC, proposal tersebut baru saja melalui tahap dengar pendapat publik dan proses itu baru saja ditutup pada Jumat (6/3).

SpaceX mengungkapkan dalam proposal mereka bahwa ide peluncuran satelit secara masif akan membawa banyak manfaat untuk publik. Salah satunya adalah konektivitas internet yang mendunia, bahkan hingga tempat paling terpencil sekalipun.

Manfaat lain, SpaceX mengklaim bahwa ide tersebut juga akan membuat pusat data mereka tak akan menghasilkan emisi di Bumi. Menjadikan satelit di orbit sebagai pusat data membuat SpaceX tak memerlukan air sebagai pendingin. Energi yang digunakan juga tak berasal dari Bumi, melainkan sinar Matahari yang hampir selalu konstan di luar angkasa.

Akan tetapi, ketika sesi dengar pendapat publik ditutup FCC, ada lebih dari 1.000 pendapat yang meminta FCC menolak ide SpaceX. Mayoritas penolakan itu berisi kekhawatiran akan dampak buruk yang mungkin terjadi akibat adanya jutaan satelit di orbit Bumi.

Dampak Jutaan Satelit Buatan bagi Bumi

Pelepasan satu juta satelit SpaceX ke orbit Bumi dinilai banyak pihak memiliki banyak dampak buruk jangka panjang. Kebanyakan khawatir akan dampak lingkungan yang akan terjadi.

Dampak pertama adalah emisi dari proses peluncuran satelit, juga kembalinya satelit ke atmosfer Bumi setelah habis masa pakai. Profesor University College London, Eloise Marais, merupakan salah satu yang menyorotinya.

Menurut profesor bidang kimia atmosfer dan kualitas udara itu, proses peluncuran satelit merupakan tahapan padat polusi. Mengirim satelit ke luar angkasa, katanya, dapat merusak lapisan ozon lewat pelepasan hitam atau jelaga ke udara.

"Sebenarnya campuran polutan inilah yang memengaruhi atmosfer," kata Eloise Marais.

Polusi dari proses peluncuran satelit ini dinilai lebih berbahaya dari pelepasan polusi dari permukaan Bumi karena akan secara langsung dilepas ke atmosfer.

Pun ketika satelit mencapai batas masa pakainya, proses ia kembali ke Bumi dan terbakar di atmosfer juga akan membuat lapisan atmosfer tercemar secara langsung dengan polusi berupa logam, seperti aluminium dan litium.

Meskipun konsekuensi akibat hal tersebut belum diketahui secara saintifik, namun para ilmuwan khawatir hal itu dapat berakibat buruk terhadap atmosfer Bumi.

"Ini menakutkan karena kita melakukan eksperimen semacam ini dengan atmosfer tanpa benar-benar tahu apa hasilnya," tutur Eloise Marais.

SpaceX sendiri menyebut bahwa ide mereka juga meliputi upaya "meminimalkan dampak atmosfer apa pun yang diakibatkan oleh deorbit sejumlah besar pesawat luar angkasa". Namun, upaya itu tak dilengkapi dengan detail teknis yang memadai.

Perusahaan pengelola layanan Starlink itu hanya menjelaskan bahwa upaya itu termasuk memindahkan sejumlah satelitnya ke orbit heliosentris (mengelilingi Matahari) ketika masa pakainya habis.

Akan tetapi, hal itu dinilai masih belum meyakinkan. Jumlah satu juta satelit yang ingin diorbitkan SpaceX adalah jumlah yang sangat besar.

Selain potensi polusi pada proses peluncuran dan kembalinya satelit, ide SpaceX juga mengancam akses manusia ke luar angkasa. Salah satu hal yang paling mungkin terjadi adalah berkurangnya kemampuan observatorium, baik di permukaan Bumi maupun yang berada di luar angkasa seperti Hubble.

Banyaknya satelit di orbit Bumi dapat membuat upaya pengamatan objek luar angkasa terganggu. Hal ini karena satelit adalah objek berpendar cahaya sementara observasi luar angkasa membutuhkan situasi langit gelap tanpa pengganggu.

"Kami memiliki beberapa simulasi yang lebih detail yang akan kami sertakan dalam komentar FCC kami yang menunjukkan bahwa mungkin ada ribuan satelit yang menyala setiap saat, terlihat di langit malam, yang cukup terang untuk dilihat semua orang," kata Pendiri Dark Sky Consulting, John Barentine.

Risiko penurunan kemampuan observasi luar angkasa juga disoroti oleh Boley, salah satu direktur Outer Space Institute. Menurutnya, penambahan satelit di orbit secara eksesif akan membuat langit tak segelap seharusnya.

"Bahkan ketika Anda pergi ke tempat-tempat gelap di sekitar Bumi, jauh dari lingkungan perkotaan atau pinggiran kota Anda, langit tidak akan segelap sebelumnya," kata Boley.

Kondisi langit yang tak segelap biasanya juga dinilai akan mengubah persepsi manusia akan langit. Dalam sejarah peradaban manusia, gelapnya langit malam telah memengaruhi budaya, agama, dan cara kerja sains.

Dampak-dampak tersebut juga belum termasuk risiko kecelakaan yang terjadi di orbit. Secara sederhana, semakin banyak satelit di luar angkasa, semakin besar risiko satelit saling bertabrakan.

SpaceX sendiri merupakan salah satu perusahaan pemilik satelit terbanyak di luar angkasa. Saat ini, terdapat sekitar 16.000 satelit yang telah mengorbit Bumi, 14.000 di antaranya aktif. SpaceX bertanggung jawab atas lebih dari 8.000 di antaranya.

Baca juga artikel terkait SPACEX atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar