tirto.id - Yuda berlari cepat, sepatunya mengentak jalanan. Matanya tajam, memindai gang yang penuh rintangan: tumpukan kardus, balok kayu, dan sampah lainnya yang berserakan.
Di belakangnya, deru Yamaha RX-King mengguncang, suara mesin dua tak yang khas—kasar, liar—seperti raungan raja jalanan. Motor itu, dengan bodi hitam mengilap melaju kencang, dikendarai oleh sosok bertubuh tegap, sorot matanya penuh amarah, helmnya setengah terbuka.
Ia sempat melawan, namun tersungkur dan kembali lari. Sementara gang makin menyempit, tembok beton di kedua sisi penuh coretan grafiti warna-warni. Yuda mempercepat langkah, lalu dengan gerakan akrobatik, ia melompat, kakinya mendarat di dinding untuk mendorong tubuhnya ke sisi lain gang, menghindari tumpukan sampah.
Sosok itu tak menyerah, memiringkan RX-King dalam tikungan tajam, sesekali berakrobat, bannya menggores aspal, meninggalkan jejak hitam. Motor itu nyaris menyenggol tembok, tapi tetap melaju, mesinnya meraung seperti binatang yang lapar.
Yuda tahu ia harus bertindak. Di ujung gang, ia melihat peluang: seseorang melintas menuju kamar mandi. Dengan napas tersengal, ia mengambil handuk orang tersebut. Sementara si pemilik menahan handuknya dengan refleks.
Sosok itu terbawa nafsu, menekan gas, tak menyadari jebakan. Handuk yang membentang menghantam tubuhnya. RX-King oleng, motor jatuh menghantam gerobak, bodi hitamnya tergores aspal, knalpotnya memekik sebelum mesin mati.
Ia berguling di tanah sembari memegang pinggangnya yang kesakitan. Yuda mengangkatnya sejenak sebelum melemparkannya kembali ke gerobak.
Salah satu adegan film Merantau (2009) tersebut menggambarkan bagaimana performa Yamaha RX-King, motor 2-tak 135cc yang kerap disebut "motor jambret" karena kecepatannya yang memungkinkan pelaku kejahatan mengejar atau kabur dengan cepat, terutama pada era 1990-an.
Film lainnya, Serigala Terakhir (2009) juga menampilkan aksi kejar-kejaran antara RX-King dengan mobil Toyota Corolla merah di jalanan ibu kota.
Kedua film itu membuktikan bagaimana kualitas sepeda motor dengan kecepatan maksimal 150 km/jam itu dapat diterima dalam budaya populer. Kini, RX-King lebih dikenal sebagai koleksi nostalgia dengan basis penggemar besar.
Fondasi Sebuah Legenda
Sebelum kemunculan RX-King, Escorts Group, yang sebelumnya dikenal dengan traktor dan mesin pertanian di India, menjalin kerja sama dengan Yamaha untuk memproduksi sepeda motor.
Escorts kemudian memproduksi motor-motornya dengan nama Rajdoot seperti Rajdoot 175, yang diproduksi dengan lisensi dari merek Eropa.
Kolaborasi Escorts-Yamaha dengan Rajdoot 350 menjadi langkah awal masuknya Yamaha ke pasar India, yang kemudian diperkuat dengan kesuksesan RX 100. Nama "RX" merujuk pada "Rajdoot × Yamaha".
Yamaha lantas memperkenalkan beberapa model dalam seri RX ke pasar Indonesia, dimulai dengan RX100 pada tahun 1977. Di beberapa negara seperti Inggris dan AS, seri ini kadang dikenal dengan RS100.
Dengan mesin 2-tak 100cc, dianggap paling ngebut pada masanya selain irit bahan bakar. Satu liter bensin bisa menjangkau 40 km.
"Perbedaan dari generasi pertama tidak banyak. Cuma lampu dan spidometer serta striping. Karena di RX-King memang desainnya dari pertama sampai terakhir begitu saja," tutur Muchrodin Didiet, Ketua Yamaha RX-King Indonesia (YRKI), seperti dikutip tabloid Motor Plus edisi 1032 tahun 2018.
Model-model ini, terutama RX-K dengan kapasitas mesin dan performa lebih besar, kemudian mendefinisikan RX-King. Perkembangan kapasitas mesin pada seri RX awal, dari 100cc hingga 135cc, menunjukkan ekspansi Yamaha yang meningkat di pasar Indonesia.
Strategi Yamaha dalam memperkenalkan model dengan kapasitas mesin yang terus bertambah mengisyaratkan bahwa mereka sedang menguji selera pasar yang lebih tinggi. Peralihan selanjutnya ke produksi lokal untuk RX-King menunjukkan kepercayaan yang tumbuh pada pasar Indonesia.

Lahirnya Sang Raja
Yamaha RX-King 135 secara resmi diluncurkan di Indonesia pada tahun 1983, diproduksi oleh Yamaha Indonesia Motor Manufacturing. Generasi pertama RX-King menampilkan tangki bensin yang diubah bentuknya dan jok yang diperbarui. Stangnya lebih tinggi, sehingga sering dijuluki “Kobra”.
Model awal ini sangat dicari karena dilengkapi dengan mesin impor buatan Jepang. Ia memiliki kode mesin Y1 dan Y2 yang dikenal menghasilkan 18,2 tenaga kuda (ps) atau setara dengan 13,4 kilowatt (kW). Sedangkan torsi atau kemampuan mesinnya menghasilkan tarikan 15,1 Newton-meter (Nm) menunjukkan mesin ini memiliki akselerasi yang baik dan gesit.
Fitur teknologi utamanya adalah Yamaha Energy Induction System (YEIS), yang dikembangkan berdasarkan survei pelanggan. Ada tiga ahli Jepang yang khusus keliling Indonesia untuk mengerjakan survei ini.
Motor ini sangat populer di kalangan anak muda karena karakteristiknya yang tangguh, irit, jago ngebut, dan mudah dimodifikasi.
Setelah tahun 1991, mesin impor Jepang digantikan dengan mesin yang diproduksi secara lokal. Model baru ini dijuluki RX-King “Master”. Tenaga maksimum sedikit meningkat menjadi 18,5 ps (13,6 kW) pada 9.000 revolution per minute (rpm).
“Master” menerima sedikit perubahan tampilan pada tahun 1997 dan diproduksi hingga tahun 2001. Kode blok mesin berubah menjadi Y1-74 yang diproduksi di pabrik Yamaha Pulogadung, Jakarta. Model ini juga mengadopsi Yamaha Computerized Lubrication System (YCLS).
Pada tahun 2002, “New RX-King” diperkenalkan, menampilkan lampu depan bulat menggantikan lampu persegi sebelumnya. Lampu belakang dan panel instrumen juga didesain ulang.
Persyaratan emisi yang lebih ketat menyebabkan diperkenalkannya catalytic converter pada tahun 2006, memungkinkan RX-King harus memenuhi regulasi Euro 2. Ini adalah perubahan penampilan terakhir untuk model ini. Produksi RX-King di Indonesia berlangsung dari tahun 1980 hingga 2009, mencakup empat generasi.
Peralihan dari produksi mesin impor ke lokal mencerminkan perkembangan tipikal manufaktur otomotif di pasar dalam negeri. Seiring pertumbuhan keahlian dan infrastruktur lokal, produsen sering mengalihkan produksi untuk mengurangi biaya dan penyesuaian dengan tren lokal.

Jantung Mekanis dan Performa RX-King
RX-King dikenal dengan mesin 2-tak 132-135cc berpendingin udara yang bertenaga. Bobotnya yang relatif ringan (sekitar 99-100 kg) membawanya pada kelincahan di jalanan.
Transmisi lima kecepatan constant mesh memungkinkan pengendara untuk memanfaatkan rentang tenaga mesin secara efektif. Yamaha RX-King Kobra (kode mesin Y1/Y2, 1983-1991) memiliki kapasitas 135 cc, tenaga 18,2 ps pada 8.000 rpm, dan torsi 15,1 Nm pada 8.000 rpm.
Kapasitas tangki bahan bakarnya adalah 9,5 liter. RX-King Master (1996-2001) memiliki mesin 135 cc buatan lokal yang menghasilkan tenaga 18,5 ps pada 9.000 rpm. New RX-King (2002-2009) mempertahankan mesin 135 cc dengan lampu depannya yang bulat.
Peningkatan tenaga yang sedikit pada versi “Master” menunjukkan performa berkelanjutan, meskipun halus. Penyertaan angka torsi dan tenaga kuda yang spesifik dalam materi penelitian menggarisbawahi pentingnya performa sebagai faktor kunci dalam daya tarik RX-King.
Angka-angka ini, meskipun tampak sederhana menurut standar modern, cukup signifikan pada masanya, sehingga reputasinya terkenal sebagai motor kebut-kebutan. Penekanan pada metrik seperti tenaga kuda dan torsi menunjukkan pentingnya posisi pasar RX-King.
Desainnya yang khas dan ikonik, terutama bentuk stang dan tangki bensin kobra, memancing daya tarik visual penikmatnya. Gayanya yang “gagah” beresonansi dengan zaman.
Bagi banyak orang Indonesia, RX-King membangkitkan rasa nostalgia yang kuat, mewakili bagian penting dari masa muda mereka dan sejarah sepeda motor Indonesia.Motor ini menjadi simbol kebebasan dan gaya hidup di masa jayanya.
Penghentian Produksi
Alasan utama penghentian produksi Yamaha RX-King pada tahun 2009 adalah kegagalannya dalam memenuhi standar emisi Euro yang semakin ketat di Indonesia. Teknologi mesin dua langkah, meskipun bertenaga, secara inheren menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mesin empat langkah, sehingga sulit dan mahal untuk mematuhi standar Euro.
Versi terakhir menyertakan catalytic converter (CC) untuk memenuhi regulasi Euro 2, tetapi pengetatan standar lebih lanjut terbukti menjadi rintangan utama. Sebuah penelitian yang diterbitkan Universitas Sriwijaya menghasilkan penggunaan CC pada motor Yamaha RX-King tahun 2006 terbukti efektif dalam menurunkan emisi gas buang.
Pengujian dilakukan pada mesin Yamaha RX-King 135cc menggunakan bahan bakar premium. Tiga konfigurasi knalpot diuji: knalpot standar tanpa CC, knalpot standar dengan CC tipe pipe catalyst, dan knalpot standar dengan CC tipe monolith. Emisi diuji menggunakan alat Exhaust Gas Analyzer Stargas 898.
Sementara itu, General Manager Marketing YIMM (Yamaha Indonesia Motor Manufacturing), Eddy Ang, menyatakan bahwa regulasi emisi Euro III membuat kelanjutan produksi RX-King 2-tak sangat sulit.
RX-King tidak sendirian, sepeda motor dua langkah populer lainnya dari era itu juga menghadapi penghentian produksi karena regulasi ini.
Penghentian produksi RX-King karena regulasi emisi global menyiratkan perhatian yang semakin besar pada masalah lingkungan dan kebutuhan industri otomotif untuk beradaptasi dengan standar yang lebih ketat.
Peristiwa ini menandai akhir era sepeda motor dua langkah di Indonesia, yang bergeser menuju teknologi empat langkah yang lebih ramah lingkungan.
Sejak dihentikan produksinya, Yamaha RX-King telah menjadi sepeda motor klasik yang sangat dicari, dengan harga untuk model yang terawat baik atau orisinal sering kali melebihi harga jual aslinya. Versi langka seperti “Kobra” berwarna putih harganya bisa mencapai hampir Rp200 juta.
Banyaknya komunitas pemilik RX-King semakin memopulerkan dan warisannya hingga kini. Mereka menyelenggarakan pertemuan, acara, dan kegiatan sosial.Komunitas ini berperan penting dalam melestarikan RX-King.
Bahkan ada rumor dan spekulasi tentang potensi versi “reborn” dari RX-King, kemungkinan menampilkan mesin empat langkah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Beberapa berspekulasi tentang mesin 155cc atau bahkan mesin 250cc dua silinder.
Kini, RX-King tetap menjadi legenda di hati penggemarnya dengan nilai sejarah dan kenangan yang kuat, menandai perjalanan panjangnya di jalanan Indonesia.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































