Menuju konten utama
Gearbox

Kisah Singkat Suzuki RGR 150 di Indonesia yang Dijegal Krismon

Sejak diluncurkan pada 1990, penjualan Suzuki RGR 150 di Indonesia berhenti pada 1997. Rencana melahirkan penerusnya pun gagal sebab keburu krisis moneter.

Kisah Singkat Suzuki RGR 150 di Indonesia yang Dijegal Krismon
Suzuki RGR 150. instagram/rgr150sprinter

tirto.id - Tak semua harus bertahan lama untuk dikenang sepanjang masa. Kadang, yang terpenting bukan soal seberapa sering sesuatu hadir, tetapi seberapa besar dampaknya saat ia hadir. Beginilah kira-kira garis hidup Suzuki RGR 150, sebuah motor balap ringan yang pernah dipasarkan di Indonesia pada dekade 1990-an. Ia bukan sepeda motor paling laris, bukan yang paling lama dipasarkan, tetapi mampu meninggalkan citra harum nyaris tiga dasawarsa setelah unit terakhirnya terjual di Tanah Air.

Jauh sebelum namanya melambung sebagai vokalis Peterpan dan NOAH, jauh sebelum dikenal dengan nama panggung Ariel, Nazril Irham muda sudah menjadi salah satu anak muda era 1990-an yang beruntung bisa menunggangi RGR 150. Pasalnya, sepeda motor ini bukan cuma keren, tetapi juga harganya terbilang sangat mahal untuk ukuran waktu itu lantaran semua unitnya didatangkan secara completely built up (CBU) dari Thailand. Bisa dibilang, sebelum Kawasaki hadir dengan seri Ninja-nya mulai 1996, Suzuki RG-R adalah motor sport paling diidamkan kawula muda Indonesia.

Tentu, ada sejumlah alasan yang membuat RGR begitu didamba. Dari segi desain, motor ini mengadopsi dua gaya yang cukup bertolak belakang tetapi terlihat sangat cocok. Di bagian depan, generasi motor ini tampak seperti moge balap Suzuki Katana edisi 1989 dan menjadi salah satu model moge sport milik Suzuki terpopuler pada masa itu. Di bagian belakang, desain yang digunakan adalah desain yang familier bagi pasar Asia Tenggara, yaitu milik Suzuki RC Sprinter.

Secara resmi, RGR, yang aslinya bernama RGV 150-S itu mulai beredar di Indonesia pada 1990 ketika PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengimpornya dari Negeri Gajah Putih. Meski demikian, menurut Robby Chow, penasihat serta pembina dari RGRC (RG Rider Community), motor tersebut sejatinya sudah diam-diam diedarkan pada 1989. "Namun pada saat 1989, itu hanya pesanan khusus kalangan internal Suzuki saja. Publik umum hanya sedikit yang mengetahuinya," jelasnya.

Selama masa peredarannya, RGR 150 hadir dalam tiga generasi besar yang masing-masing punya karakter tersendiri. Generasi pertama adalah RGR Sprinter yang beredar antara 1990 hingga 1992. Ciri khasnya adalah half-fairing, yakni fairing yang hanya menutup separuh badan motor, dilengkapi pelindung mesin di bagian bawah yang disebut under cowl. Nama "Sprinter" sendiri muncul tak lain karena lampu belakangnya identik dengan lampu motor bebek Suzuki RC Sprinter.

Generasi kedua, RGR Crystal, hadir pada 1993 dengan perubahan paling mencolok. Fairing kini menutup seluruh badan motor alias full fairing, sehingga tampilannya terasa lebih aerodinamis dan modern. Lampu belakangnya juga berganti, kali ini mengadopsi desain milik motor bebek Suzuki Crystal. Varian ini dipasarkan hingga 1995 dan hadir dalam dua versi bodi: versi pertama dengan panel belakang yang masih terpisah, dan versi kedua dengan bodi yang sudah menyatu dari bawah tangki hingga lampu belakang.

Generasi ketiga sekaligus terakhir adalah RGR Tornado atau RGR Jumbo, yang muncul pada 1996. Penampilannya paling gempal dan membulat di antara semua generasi RGR, dengan lampu belakang berbentuk kapsul yang mirip milik Suzuki Tornado atau Shogun.

Generasi ini juga membawa lompatan teknologi yang signifikan. Sistem pendingin mesin menggunakan radiator, karburatornya diganti dengan Mikuni TM28SS yang lebih besar, dan mesin sudah dilengkapi AETC atau Automatic Exhaust Timing Control. Sistem AETC bekerja dengan mengatur bukaan katup knalpot secara otomatis, menutup sebagian di putaran rendah agar torsi terjaga, lalu membuka penuh di atas 7.000 rpm agar gas buang mengalir bebas dan tenaga mesin meledak maksimal.

Namun, di balik semua perubahan antargenerasi itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Yakni, mesin 2-tak berkapasitas 147 cc dengan bore x stroke 59 x 54 mm yang begitu liar dan bertenaga.

Suzuki RGR 150

Suzuki RGR 150. instagram/rgr150sprinter

Pada generasi pertama, mesin ini mampu menghasilkan tenaga 24,2 hp pada 10.000 rpm dengan torsi 17,2 Nm pada 8.500 rpm. Angka itu melonjak pada generasi berikutnya menjadi 26,1 hp pada 9.500 rpm dan torsi 20,5 Nm pada 8.000 rpm, dengan kecepatan tertinggi yang diklaim bisa menyentuh 160 km/jam. Generasi terakhir, Tornado, bahkan diklaim bisa menembus 180 km/jam sebelum limiter aktif di 12.500 rpm.

Dua teknologi andalan yang digunakan RGR sejak generasi pertama adalah SIPC dan SSS. SIPC atau Suzuki Intake Pulse Control merupakan teknologi karburator yang bertugas mengontrol pasokan campuran bahan bakar dan udara sesuai kebutuhan mesin. Sementara, SSS atau Suzuki Super Scavenging System bekerja lewat selang melingkar yang menghubungkan lubang di blok mesin ke ruang penyimpanan udara, kemudian menyemburkan udara ekstra saat mesin berputar tinggi. Kombinasi keduanya membuat tenaga RGR terasa responsif dan merata di semua rentang putaran mesin.

Keunggulan lain yang kerap luput dari perhatian adalah sektor kaki-kaki. Saat kompetitornya masih mengandalkan suspensi ganda di roda belakang, RGR 150 sudah menggunakan monoshock dengan teknologiExcentric Full Floater Suspension System atau EFFSS. Ini merupakan sistem link berbantalan bearing yang menghubungkan sokbreker ke lengan ayun (swingarm). Teknologi ini membuat motor tetap stabil di tikungan maupun lintasan lurus.

Berkat semua keunggulan ini, RGR 150 pun menjadi langganan podium di berbagai ajang road race tanah air sepanjang era 1990-an. Bobotnya yang hanya sekitar 100 kg, jauh lebih ringan dari Honda NSR 150 atau Yamaha TZM 150 yang masing-masing melewati angka 115 kg, menjadi senjata utama di sirkuit. Tenaga besar, bobot ringan, dan handling yang presisi adalah formula klasik yang sulit ditandingi.

Meski demikian, ada satu kelemahan yang tidak bisa disembunyikan. Konsumsi bahan bakar motor ini bakal membuat penggunanya lebih sering berkunjung ke SPBU. Pada generasi pertama, RGR 150 hanya sanggup menempuh 5 hingga 6 km per liter bensin. Di generasi berikutnya, rasionya membaik jadi 10 km per liter, tetapi ini juga masih masuk dalam kategori boros.

Masa edar RGR 150 di Indonesia sendiri terbilang singkat. Penjualan resminya berhenti pada 1997, meski sejumlah stok berlebih dari main dealer kabarnya masih terjual hingga awal 2000-an. Rencana menghadirkan penerusnya, Suzuki RG 150 Gamma II, sudah sempat masuk tahap soft launching, namun akhirnya kandas karena krisis moneter 1998 melumpuhkan daya beli masyarakat Indonesia.

Kini, RGR 150 menjadi barang langka yang kian sulit ditemukan di pasaran motor bekas. Suku cadang aslinya pun sudah sangat terbatas, meski para pemilik yang setia biasanya sudah hafal komponen motor lain yang bisa dikawinkan sebagai penggantinya.

Harga pasarannya kini sangat bervariasi. Unit biasa bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp3 jutaan, sementara unit yang kondisinya utuh dan terawat bisa menembus Rp18 jutaan. Untuk model generasi kedua seperti yang pernah dikendarai Duta Sheila On 7, banderolnya bahkan bisa menyentuh Rp23 hingga 27 jutaan karena dianggap sebagai generasi RGR terbaik.

Pada akhirnya, kisah RGR 150 adalah kisah tentang sebuah motor yang terlalu canggih untuk zamannya, dan harus pergi terlalu cepat karena keadaan. Tapi justru itulah yang membuatnya abadi di benak mereka yang pernah mendengar raungan mesin 2-taknya di jalanan Indonesia era 1990-an. Tak semua harus bertahan lama untuk dikenang sepanjang masa dan begitulah jalan nasib RGR 150.

Baca juga artikel terkait SUZUKI atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi