tirto.id - Kecelakaan kereta api terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026). Insiden ini menelan korban jiwa hingga belasan nyawa. Berikut fakta-fakta seputar kecelakaan tersebut.
Kecelakaan kereta api tersebut terjadi ketika KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya menabrak satu unit KRL (Commuter Line) di emplasemen Stasiun Bekasi Timur. Insiden ini terjadi pada Senin malam, sekira pukul 20.52 WIB.
Akibat benturan itu, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek merangsek masuk ke gerbong KRL yang ia tabrak. Sejumlah korban terhimpit material gerbong dan lokomotif karenanya.
Belasan korban tewas telah terkonfirmasi hingga Selasa (28/4) siang, sementara puluhan lain mengalami luka-luka.
Menurut Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, penyebab kecelakaan hingga kini belum dapat dipastikan seiring proses evakuasi yang masih berlangsung hingga Selasa siang. Proses investigasi penyebab insiden, kata Duddy, akan dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Kami menyerahkannya kepada KNKT agar dapat ditelusuri secara lebih mendalam,” ujar Dudy.
Fakta-fakta KRL Ditabrak Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
Berdasarkan perkembangan informasi yang dihimpun, ada sejumlah fakta yang melatari insiden kecelakaan tersebut. Fakta-fakta ini berkisar dari kronologi kecelakaan, bagaimana tabrakan terjadi, hingga apa yang terjadi pada para korban.
Berikut fakta-fakta seputar insiden KRL yang ditabrak Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada Senin malam.
1. Kecelakaan Diawali dari Mobil Taksi Tertemper KRL
Berdasarkan kronologi peristiwanya, kecelakaan antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek terjadi setelah sesaat sebelumnya ada kecelakaan yang melibatkan mobil taksi.Menurut penjelasan penumpang KRL yang selamat, Munir, KRL yang ia tumpangi sempat berhenti lebih lama dari jadwal di Stasiun Bekasi Timur. Sebabnya, ada KRL lain di dekat stasiun yang menemper taksi.
"Commuter Line yang berhenti lantaran Commuter Line yang berlawanan arah menabrak satu unit mobil taksi," kata Munir pada Senin, dikutip dari Antara.
Hal telah dikonfirmasi Humas Daop 1 PT KAI Franoto Wibowo. Menurutnya, ada KRL lain yang terlibat tabrakan dengan taksi berwarna hijau di Jalur Perlintasan Langsung (JPL) dekat stasiun.
“Itu ada taksi yang menabrak KRL di JPL lintasan dekat Bulak Kapal ya yang membuat KRL-nya [yang ditabrak KA Argo Bromo] terhenti [di stasiun],” kata Fratono.
2. KA Argo Bromo Anggrek Menabrak KRL dari Belakang
Masih menurut Munir, KRL yang ia tumpangi di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur dan sedang berhenti, tiba-tiba ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang. Lokomotif kereta merangsek gerbong belakang KRL."Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai menembus gerbong paling belakang Commuter Line," tutur Munir.
3. Banyak Korban Terjebak dan Terhimpit
Munir menyebut bahwa benturan yang terjadi dalam kecelakaan kereta api itu membuat banyak penumpang KRL terhimpit dan terjebak di antara material gerbong KRL dan lokomotif KA Argo Bromo Anggrek.Menurut salah satu penumpang yang selamat itu, gerbong paling belakang KRL jadi gerbong yang paling terdampak. Munir menyebut banyak penumpang di gerbong tersebut yang terhimpit dan terjebak.
"Banyak itu ada korban di dalam terjebak, kalau saya pas kejadian langsung ke luar gerbong," katanya.
4. Korban Tewas Mencapai 14 Orang dan Puluhan Lainnya Terluka
Jumlah korban tewas dalam kecelakaan ini bertambah seiring proses evakuasi yang berlangsung. Semula, jumlah korban tewas dilaporkan sebanyak empat orang.Selang beberapa jam, jumlah tersebut meningkat jadi tujuh orang. Kini, berdasar update per Selasa pukul 08.45 WIB, jumlah korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur kembali meningkat.
VP Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut bahwa kini terdapat 14 korban tewas dan 84 korban luka.
“Update 08.45 WIB, 14 meninggal dunia, 84 korban luka, proses penanganan masih berlangsung,” ujar Anne dalam keterangan tertulis pada Selasa.
Dalam keterangannya, Anne menyebut bahwa PT KAI akan bertanggung jawab dengan menanggung seluruh biaya pengobatan korban luka dan biaya pemakaman korban tewas.
“KAI memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan maksimal. Seluruh biaya pengobatan bagi korban luka serta biaya pemakaman bagi korban meninggal dunia ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan KAI,” ucap Anne.
5. Seluruh Korban Dapat Kompensasi dari Pemerintah
Pemerintah telah memastikan bahwa para korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur akan mendapatkan kompensasi atas insiden yang menimpa mereka. Kompensasi ini disebutkan berupa pembiayaan pengobatan secara penuh dan santunan.Pemberian kompensasi ini telah dipastikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Menurutnya, pemerintah bertanggung jawab penuh atas hak-hak para korban.
"Ya, nanti ada semuanya ada, kompensasinya,” kata Prabowo setelah menjenguk para korban yang dirawat RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Bekasi pada Selasa.
Terlepas dari pernyataan Prabowo, para korban kecelakaan kereta memang memiliki hak menerima kompensasi berupa santunan melalui Jasa Marga. Hak ini telah tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15 Tahun 2017.
Besaran santunan yang tertuang dalam peraturan itu bervariasi tergantung kondisi korban. Korban selamat, misalnya, dapat menerima santunan hingga Rp20 juta. Korban cacat tetap dapat meminta hak santunan hingga Rp50 juta. Keluarga korban tewas juga dapat dapat menerima santunan hingga Rp50 juta.
6. Sejumlah Perjalanan Kereta Api Dibatalkan
Sejumlah perjalanan kereta api melalui Stasiun Bekasi Timur dibatalkan pada Selasa karena proses evakuasi yang berlangsung di jalur perlintasan kereta. Pembatalan jadwal perjalanan ini ditetapkan PT KAI untuk sejumlah KA jarak jauh dan KRL.Untuk kereta jarak jauh, perjalanan kereta yang dibatalkan imbas kecelakaan pada Senin tersebut adalah perjalanan dengan rute terkait Stasiun Gambir dan Pasarsenen via Stasiun Bekasi Timur.
Perjalanan kereta jarak jauh yang dibatalkan pada Selasa juga didominasi oleh kereta api dengan rute pemberangkatan dari Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah dengan tujuan Gambir dan Pasarsenen.
Total, ada 13 perjalanan kereta jarak jauh yang terpaksa dibatalkan imbas kecelakaan tersebut. Tiga belas perjalanan tersebut ialah:
- KA Gunungjati (Cirebon-Gambir)
- KA Purwojaya (Cilacap-Gambir)
- KA Purwojaya (Gambir-Cilacap)
- KA Madiun Jaya (Madiun-Pasarsenen)
- KA Argo Sindoro (Semarang Tawang-Gambir)
- KA Mataram (Solo Balapan-Pasarsenen)
- Gumarang (Surabaya Pasarturi-Pasarsenen)
- Singasari (Blitar-Pasarsenen)
- Jayabaya (Malang-Pasarsenen)
- Manahan (Solo Balapan-Gambir)
- Progo (Lempuyangan-Pasarsenen)
- Argo Anjasmoro (Surabaya Pasarturi-Gambir)
- Menoreh (Semarang Tawang-Pasarsenen)
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























