tirto.id - Senin (4/5/2026). Sore itu deru mesin kendaraan membelah kepadatan jalanan di Kota Yogyakarta. Raungan sirene dari palang kereta perlintasan di Jalan Mojo, Baciro, tak kalah nyaring.
Subambang, petugas palang kereta, sudah memulai rutinitasnya di dalam pos penjagaan. Mengenakan jaket oranye dan topi KAI yang sudah menemaninya sejak 2013, ia mengambil posisi duduk di depan meja kerja.
Jemarinya lincah di atas panel kontrol, menekan tombol demi tombol untuk mengatur lalu lintas besi tua yang akan melintas. Pria itu fokus dan lekat mengoperasikan perangkat di hadapannya, memastikan setiap sinyal dan palang pintu merespons perintahnya dengan presisi.
Syahdan, pria berinisial RS (23), warga Kasihan, Bantul, tiba-tiba muncul di ambang pintu pos penjagaan. Saat itu, tangan Subambang baru saja hendak meraih tuas untuk menutup palang pintu kereta. Dengan nada tak biasa, RS
melontarkan pertanyaan yang sama hingga tiga kali dalam bahasa Jawa, mempertanyakan kapan kereta akan melintas.
Subambang yang belum menaruh curiga, lantas hanya menjawab singkat sambil menunjuk ke arah rel: Lha kae (itu keretanya). Ia menjawab tanpa menyadari bahwa respons singkat itu adalah awal dari sebuah drama penyelamatan nyawa.
"Saya lagi bertugas menjaga perlintasan KA di Baciro. Waktu itu saya mau menutup pintu palang kereta. Tiba-tiba ada orang datang di depan pos ini," kata Subambang, Kamis (7/5/2026).
***
Sinyal kedatangan KRL di JPL 350 Baciro baru saja diterima Subambang. Tanpa menunda, ia lekas menurunkan palang pintu perlintasan dan bersiap memberikan Semboyan 91—sebuah isyarat visual bagi masinis bahwa jalur telah aman untuk dilalui. Rutinitas teknis itu, seketika berubah menjadi drama yang mencekam.
Sebab, pemuda yang sedari tadi duduk di depan pos dan bertanya ihwal jadwal kereta tiba-tiba berdiri. Alih-alih pergi, ia justru mendekat dan menyodorkan selembar sobekan kertas ke atas meja Subambang.

Sore itu, maut seakan tidak datang lewat kecerobohan pengendara. Namun, lewat secarik kertas tertulis nama seorang wanita dan 12 digit nomor WhatsApp. "Pak, ini saya titip nomor WA istri saya," kata Subambang mengulang kalimat pemuda itu.
Dalam hitungan detik setelah meletakkan "wasiat", si pemuda berlari kencang menuju rel, tepat ke arah KRL yang mulai mendekat: "Aku wes ra kuat!" teriaknya, mencoba menantang maut.
Melihat aksi nekat itu, insting Subambang meledak. Ia meloncat dari posnya, berlari secepat kilat mengejar pemuda tersebut. Beruntung, sebelum maut menjemput, Subambang berhasil menyergap tubuh pemuda itu dan menariknya paksa menjauh dari rel besi.
Perawakan pemuda itu memang lebih tinggi dan besar dari Subambang. Namun, Subambang layaknyamendapat kekuatan misterius saat membopongnya keluar dari zona bahaya.
"Waktu itu saya tidak tahu dapat kekuatan dari mana, badannya terasa ringan sekali. Mungkin karena saya panik," kenang pria asal Nanggulan, Kulon Progo, itu.
***
Drama belum usai di dekat palang pintu kereta api. Pemuda itu terus meronta dalam dekapan Subambang, seraya berteriak histeris: "Pak, aku sudah tidak kuat hidup!".

Subambang yang kewalahan, lantas berteriak meminta bantuan para pengendara yang sedang menunggu kereta. Suasana sempat membingungkan warga, hingga mereka sadar bahwa Subambang sedang menyelamatkan seseorang dari upaya bunuh diri.
Walakin, Subambang menyerahkan penanganan pemuda itu, ke petugas Mako Brimob yang berada tak jauh dari lokasi. Subambang seakan tak punya waktu mengatur napas dan menenangkan diri, ia kemudian kembali ke pos jaganya.
Tugasnya masih menanti, ia harus segera berdiri tegak di pinggir rel untuk memberikan Semboyan 91 kepada masinis KRL yang melintas tepat waktu.
Bagi Subambang, momen itu adalah pengalaman paling emosional sejak ia melakoni tugasnya sejak 2013. Pasca-kereta berlalu dan pemuda itu, diamankan, ia kembali fokus pada panel-panel kontrolnya, menjaga perlintasan. Seakan tak terjadi drama pertaruhan nyawa: "Baru kali ini ada kejadian seperti itu," pungkasnya lirih.
Penulis: Cahyo PE
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































